
Grace bersendawa keras, sesekali mengusap perut buncitnya yang kenyang. Damian sendiri hanya diam memperhatikan. Dia tidak malu dengan sikap Grace sama sekali.
"Sudah puas?" Grace tersenyum secerah mentari dan mengangguk malu. Damian hendak mengajak Grace pulang, tapi tiba-tiba seorang pemuda tampan menghampiri meja mereka, lebih tepatnya menghampiri Grace.
"Nona bisa aku bicara denganmu sebentar?" tanya pemuda itu ragu, Grace yang berkepribadian ramah dan hangat tersenyum, lalu mengangguk setuju.
"Silahkan?" jawab Grace, Damian menatap datar keduanya. Jika saja dia sedang tidak menggendong Xavier sekarang, sudah pasti pemuda itu akan babak belur dihajarnya.
"Boleh aku kenalan denganmu, kurasa aku tertarik padamu sejak tadi." Grace melirik sekilas ke samping, terlihat Damian menatapnya datar dan penuh ancaman.
"Maafkan aku tapi aku sudah mempunyai suami, dia adalah suami sekaligus ayah anakku!" seru Grace mencoba tersenyum dan menolak selembut mungkin, supaya pria asing itu tidak tersinggung.
Pemuda itu hanya diam dan pergi dengan raut muka kecewa. Padahal dia berharap bisa bersanding dengan wanita cantik itu, tapi ternyata dia masih kalah jauh dengan suaminya.
Mulut Damian masih membisu, pria itu berdiri dari tempat duduknya pergi meninggalkan Grace yang masih duduk mengedipkan matanya beberapa kali mencerna sikap Damian barusan.
Bayi besar ku merajuk! wajar sih aku tersenyum pada pemuda tadi.
"Ef tunggu aku!" berlari menyamakan langkahnya dengan langkah suaminya.
"Ef aku tidak berniat menggodanya, aku kira dia ingin membicarakan hal yang penting!" menjelaskan berharap Damian tidak salah paham padanya.
Adam hanya diam di kursi pengemudi, tidak tertarik menyimak pembicaraan tuan dan nyonya mudanya. Adam menduga jika wanita liar itu membuat masalah yang sepele, namun di anggap serius oleh bosnya.
"Daddy! aku hanya mencintai mu, tidak akan ada yang bisa menggantikan mu di sisiku!" Damian memandang dalam Grace. Terlihat tenang namun tersirat kemarahan dan kecemburuan.
"Hm!" berdehem singkat, tidak memperlihatkan sikap acuh. Namun memeluk Grace erat.
"Aku menyayangimu daddy!" goda Grace. Senang melihat Damian salah tingkah karena panggilan Daddy.
"Berhentilah memanggil ku Daddy Grace. Kau ingin aku meniduri mu disini. Didalam mobil?" tubuh Grace membeku, wanita itu bergidik ngeri saat membayangkan jika kejadian itu benar-benar terjadi.
"Kita bisa mencobanya lain kali, daddy!" bisik Grace tepat di samping telinga suaminya. tidak takut dengan tatapan lapar Damian.
"Kenapa semakin hari kau semakin panas Grace. Membuatku ingin mengurung mu di dalam kamar saja!" suara serak nan khas Damian begitu membuat Grace terpesona.
"Lain kali, saat kau keluar dari mansion pakailah masker. Aku tidak ingin mereka terpesona dengan kecantikan mu dan mengajakmu berkenalan seperti pemuda sialan tadi!" sungut Damian.
Damian merasa kecantikan Grace adalah masalah untuknya, karena wajah itu secara tidak langsung mengundang perhatian para pria di luar sana.
__ADS_1
"Okey, aku akan memakainya!" pasrah Grace, lagi pula dia tidak mau menjadi pusat perhatian para pria.
...🦋🦋🦋🦋...
Sementara itu, di belahan bumi yang lain. Dentuman musik meramaikan sebuah tempat dengan pencahayaan remang. Gemerlap lampu berkelap-kelip ikut mengiringi. Seluruh pengunjung berjoget kesana-kemari menikmati alunan musik yang ada.
Seorang pria berambut coklat terang dengan sorot mata dingin dan tajam tengah bercumbu dengan seorang pelacur berambut pirang. erangan dan ******* saling bersahutan hingga keduanya mencapai kenikmatan yang luar biasa.
"Kau mengingatkan ku pada wanita jahat itu!" gumamnya seraya bangkit dan memunguti pakaian yang teronggok begitu saja di bawah lantai.
"Siapa tuan?"
"Aku tidak tahu namanya, tapi wajah dan suaranya aku masih ingat dengan jelas. wanita itu ingin menjebak seseorang tapi malah dia yang terperangkap dalam jebakannya sendiri!" Jelasnya.
"Karena aku sudah memberi mu kepuasan, apa aku bisa melayani mu lagi tuan?"
"Ambil ini dan pergilah. Jangan sampai aku melihat wajah mu lagi!" alih-alih menjawab, Keenan malah mengusir dan melontarkan ancaman.
Karena takut dengan wajah dingin Keenan, pelacur itu lari terbirit-birit meninggalkan kamar VIP yang menjadi saksi bisu pergumulan mereka.
Melihat itu Keenan mengulum senyum tipis. Lalu duduk di sofa panjang yang terletak di pojok ruangan. Mematik sebatang rokok, dan menghempaskan kepulan asap rokok ke atas udara.
Namun tidak berniat mencari keberadaan Belle. Sebab Keenan memiliki prinsip tidak akan bertahan pada satu wanita saja.
"Wanita jahat, kau wanita pertama yang membuat ku merindukan sentuhan mu!"
...🦋🦋🦋🦋...
Tiba di mansion, Damian membawa Xavier ke kamarnya terlebih dulu. Agar anak kecil itu bisa tidur dengan nyaman. Tak lupa Damian juga meminta Ellie agar menjaga kamarnya.
Sedangkan di lantai dasar mansion Grace dan Adam duduk menikmati secangkir minuman yang dibuatkan oleh salah satu maid mansion.
"Dam apa kau sudah punya pacar?" kumat lagi. Adam hanya diam dan menikmati kopinya.
"Kalau belum punya, aku punya banyak kenalan wanita di sosial media. Bagaimana kalau ku kenalkan satu untuk mu?" tawar Grace.
"Hidupmu tidak ada warnanya sama sekali, apa kau ingin sendirian sampai tua? kau tidak ingin punya anak seperti ku? lihat aku, bahkan sudah mau punya dua anak!" Adam memasang ekspresi tenang dan mengabaikan celetukan dari istri bosnya itu.
Aku yang belum menikah, kenapa situ yang repot. Berhentilah mencampuri kehidupan saya nyonya, cukup suami anda saja yang merepotkan saya. Tidak dengan anda.
__ADS_1
"Baiklah berhenti membicarakan tentang pacar, Kita bahas keluarga mu. Dimana mereka tinggal, kau tidak pernah mengunjunginya?" sesaat raut wajah Adam berubah, Grace menyadari hal itu.
"Saya hidup sebatang kara nyonya!" jawab Adam singkat, Grace menutup mulutnya rapat-rapat. Sadar secara tidak langsung dirinya mengingatkan Adam akan lukanya.
Mata coklat Grace menatap iba kearah Adam, "Jangan melihat saya seperti itu." seru Adam tanpa menoleh kearah Grace, bagaimana bisa Adam tahu jika Grace melihatnya iba. Padahal pria itu terfokus pada kopinya.
"Maafkan aku tidak tahu jika-"
"Saya mengerti nyonya," potong Adam singkat, lagi pula Adam sudah terbiasa dengan hidupnya yang seperti ini.
"Kita bahas yang lain, aku akan menunjukkan beberapa teman online ku. Mungkin kau tertarik pada salah satunya!" cicit Grace mengalihkan pembicaraan. Ia mendekati Adam dan duduk disampingnya.
Grace menunjukkan beberapa foto, serta mengatakan kelebihan gadis-gadis itu. Adam hanya diam tidak tertarik melihat layar ponsel Grace.
Byur! secara tidak sengaja Grace menumpahkan segelas air ke Adam dan membuat kemeja pria itu basah.
"Maafkan aku, aku tidak sengaja menyenggolnya." Grace berdiri menjauhi Adam, mengambil sekotak tisu. Damian yang baru turun melihat kejadian itu dan langsung mendekat.
"Pulanglah lebih awal, hari ini cukup sampai disini!" seru Damian dingin, telapak tangannya menutupi mata indah Grace, tidak ingin Grace melihat kemeja Adam yang mencetak perut kotaknya.
Adam menunduk hormat kemudian meninggalkan Grace yang masih membeku ditempat. Damian membuka telapak tangannya, lalu memandang lekat mata coklat istrinya.
"Ef ada apa denganmu Kenapa menutup mataku!" Grace jingkrak-jingkrak, matanya gelap tidak bisa melihat apapun.
"Aku tidak ingin kau melihat tubuh Adam yang tercetak jelas akibat tumpahan air!" Grace menyipitkan matanya, tidak mengerti apa yang dikatakan suaminya.
"Ck meskipun aku penyuka pria tampan, tetap saja aku hanya ingin melihat perut kotak milik mu saja!"
"Kalau begitu lihat punyaku saja, ayo!"
"kemana?"
"Ke kamar!" jawabnya kemudian menarik pergelangan tangan Grace masuk kedalam kamar.
TBC
warning!
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius🙏
__ADS_1