Mr Billioneire Wife

Mr Billioneire Wife
Manisnya pagi hari(Revisi)


__ADS_3

"Sir Damian sudah bangun?" tanya Adam pada Ellie. Waktu bekerja sudah terlewat, mereka terlambat cukup lama.


"Berulang kali saya memeriksa dan mengetuk pintu. Tapi sepertinya mereka berdua masih belum bangun, tuan!" jawab Ellie sekenanya. Tidak menutup-nutupi ataupun menambah-tambahkan.


Helaan napas berat terdengar mengenaskan. Adam kembali mendaratkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Menyuruh Ellie membuatkan secangkir kopi. Kepalanya pusing, Adam penat menghadapi sikap semena-mena bos mudanya.


Untung saja Adam mengantisipasi resiko dengan menyuruh staf sekertaris menghubungi klien dan memberitahukan pada mereka bahwa rapat di undur sampai jam makan siang.


Jika Adam tidak melakukan itu. Sudah pasti reputasi Damian yang terkenal sebagai pebisnis disiplin dan tegas akan hancur dalam sepersekian detik.


Meski suka bersikap semena-mena dan mudah marah. Tidak bisa di pungkiri Damian memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Wilson crop bisa sebesar ini berkat usahanya.


Di usia 25 tahun Damian berhasil menguasai pasar Eropa dan meningkatkan penghasilan sampai 50% dari pendapatan sebelumnya. Tentu saja pencapaiannya itu membuat semua orang menggeleng tak percaya.


Sejak saat itu nama Damian selalu di kenal sebagai sosok inspiratif. Ya, walaupun terkenal kejam dan tegas. Namun, usahanya mampu membuat Wilson crop menjadi perusahaan terbesar di Amerika.


Uang, jangan ditanya lagi. Damian bahkan punya brangkas sebesar kamar yang berisi tumpukkan uang. Mobil, pesawat,kapal pesiar Damian punya segalanya. Kekayaannya tidak akan habis bahkan sampai tujuh turunan.


...🦋🦋🦋🦋...


Grace memandang wajah tampan Damian dengan sangat lama. Akhirnya setelah mengalami kejadian mengerikan itu Grace lupa dan fokus pada suaminya saja.


tampan sekali, rambut halus yang menyelimuti rahang tegas Damian seakan menambah kesan maskulin di mata Grace. Meskipun belum mandi bahkan sekedar mencuci muka Damian sudah terlihat tampan. Seolah-olah ketampanannya itu tidak pernah berkurang sedikitpun.


Entah apa yang dimakan Agatha saat mengandung Damian sampai-sampai menghasilkan manusia setampan dan sebaik ini. Grace senyum-senyum sendiri bak remaja kasmaran. Beberapa kali wanita itu mencuri ciuman dari bibir Damian. Tidak peduli jika Damian terganggu yang penting dia puas.


"Hentikan Grace, jangan membuat ku ingin menyerang mu seperti semalam!" ucap Damian dengan suara serak khas orang bangun tidur. Matanya menyipit, belum sepenuhnya sadar.


Grace tersenyum kecil, "kau tampan sekali." puji Grace membuat jantung Damian berdetak tidak karuan. Pipinya memanas mendengar pujian manis dari bibir wanitanya.


"Dan orang tampan ini adalah suami mu, babe. Berhentilah memancing ku!" tegur Damian dengan mata sayu. Tingkah Grace benar-benar membuat Damian gila.


"Fine! aku tidak akan mengganggu mu lagi!"


"Apa sebegitu sukanya kau padaku, sampai-sampai kau mencuri ciuman ku. Gadis nakal, ingin sekali aku memakan mu sekarang!" menarik Grace dalam pelukannya, mengendus aroma Cherry blossom yang begitu memikat.


"Yah aku sangat menyukai mu. Sangat-sangat suka. Bawakan aku es krim coklat ya." memuji karena ada maunya itulah Grace.


"Baiklah." Damian menggigit gemas hidung lancip Grace. Ternyata ada Udang dibalik batu. Grace memuji karena menginginkan sesuatu.


"Sekarang mandi sana. Aku yakin Adam menunggu mu di bawah. Aku jadi kasihan pada pria malang itu. Pasti dia sudah lama menunggu. Aku yakin berbagai macam umpatan dia lontarkan sekarang." cekikikan saat membayangkan wajah suntuk Adam yang di tambahi dengan emosi yang meluap-luap.

__ADS_1


"Kau memikirkan pria lain huh? lihat ini, bahkan kau tersenyum saat memikirkannya." seru Damian cemburu.


"Cemburu hm?" goda Grace.


"Kalau sudah tahu kenapa bertanya?" ketus Damian menjawab.


"Ayolah babe, aku tidak memikirkan pria lain. Aku hanya kasihan pada sekertaris mu itu. Jadi sudahi kecemburuan mu itu. Karena itu tidak ada gunanya." tutur Grace menjelaskan.


"Cium aku dulu, baru aku akan memaafkan mu!" ucap Damian mengambil kesempatan.


Sialan! dia selalu saja mencari keuntungan!


Cup! meskipun pikirannya berkata tidak tapi hatinya selalu berkata iya. Grace tidak membantah Damian dan melakukan apa yang pria itu minta.


"Senang?" Damian mengusap bibirnya sendiri. Mengulum senyum seraya mengangguk tiga kali.


"Semakin hari kandungan ku semakin besar. Temani aku belanja keperluan anak kita ya!" pinta Grace.


"Kenapa tidak menyuruh Ellie saja. Aku tidak ingin kau kelelahan nanti!"


"Tidak, aku ingin mempersiapkannya sendiri. Jika kau tidak mau ya sudah, tapi izinkan aku ya. Entah firasat ku saja tapi sepertinya baby kita perempuan!" membelai lembut perut buncitnya.


“Hm...besok aku akan mengambil cuti, kita pergi belanja bagaimana?” mata Grace berbinar, segera mengangguk setuju dengan rencana Damian.


“Sekarang pergi mandi sana!” teriak Grace, menyuruh suaminya yang masih bersantai dibalik selimut.


Tok tok tok! lagi-lagi ketukan pintu berulang-ulang kembali terdengar.


“Nyonya muda boleh saya masuk?”


“Masuklah Ellie!” sahut Grace dari dalam. Kegiatan rutin Ellie yaitu mengantarkan susu untuk ibu hamil dan juga kopi untuk tuan muda setiap pagi.


"Nyonya ini susu anda!" Grace menerima gelas itu. Tak lupa mengucapkan terima kasih sebelum meneguk susu itu hingga tandas tak tersisa.


“Apa Adam dibawah?”


"Iya nyonya, tuan Adam menunggu dibawah." Grace manggut-manggut, lalu meletakkan gelas itu kembali. Merasa tidak diperlukan lagi, Ellie pun pamit undur diri.


...🦋🦋🦋🦋...


Selesai membersihkan diri Damian sibuk mempersiapkan diri kini. Mengancingkan kemeja dengan cepat. Tak lupa memakai jam rolex seharga miliaran.

__ADS_1


"Sayang pasangkan untuk ku." menyerahkan dasi berwarna senada dengan jas kantornya.


Grace meraih dasi itu kemudian memakaikannya di leher Damian dengan cekatan. "Sudah selesai!"


Cup!


"Aku berangkat dulu ya. Aku menyuruh Ellie menyiapkan sarapan. Jangan lupa untuk menghabiskannya." peringat Damian dengan wajah serius. Tidak ingin Grace melewatkan sarapan pagi.


Grace mengangguk, "Daddy pergi, jangan menyusahkan mommy mu nak!" mencium perut buncit Grace sebelum menegakkan tubuh.


"Hati-hati!" Damian mengangguk sebelum berlenggang keluar.


"Ellie Antar sarapannya ke kamar. Hari ini aku akan membawa Xavier bersama ku." ucap Damian membuat Adam membulatkan mata.


"Jangan khawatir aku tidak akan mengabaikan pekerjaan ku!" seolah tahu apa yang ada dalam pikiran Adam. Damian menyahut tanpa menatap sekretarisnya itu.


"Ayo berangkat!" menggandeng Xavier, menuntunnya masuk kedalam mobil.


"Dadi dadi!"


"Hm kenapa boy?"


"Cium!" beberapa kosa kata bisa ucapkan.


"Oh sini!" Damian mengangkat Xavier, mendudukkan anak kecil itu di pahanya.


"Xavi sayang Daddy?" Damian menciumi pipi gembul putranya yang semakin lama semakin membesar.


"Yahhh!" jawabnya, sambil memainkan dasi ayahnya. Damian tersenyum tipis. Adam hanya diam memperhatikan interaksi keduanya.


Beginilah yang Adam inginkan, dimana bosnya selalu tersenyum, bahagia dengan kehidupannya.


"Nanti saat pulang, berhenti di toko es krim terdekat. Grace ingin makan itu!"


"Baik Sir!"


TBC


warning!


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. 🙏

__ADS_1


__ADS_2