
"Grace ayo pergi bulan madu!" ajak Damian. Asik membuat tanda kepemilikan di cerucuk leher Grace. Masih kurang setelah berhubungan badan dengan wanitanya.
"Sekarang?" tanya Grace memastikan.
Pasalnya pernikahan mereka berjalan sudah cukup lama. Dan sekarang anak kedua mereka akan segera lahir.
"Iya, apa kau keberatan?" tanya Damian menghentikan aksi gilanya.
"Tidak, hanya saja aku merasa aneh. Kita bukan lagi pengantin baru." Setiap Damian mengajak Grace bulan madu. Alasan yang sama selalu saja terlontar dari bibirnya.
"Selama ini aku selalu menuruti semua keinginan mu. Baru satu kali aku meminta sesuatu dan kau langsung menolaknya." sungut Damian kecewa.
Grace kelabakan, bergeming dalam pelukan Damian. Ia bingung harus menjawab apa. Yang dikatakan Damian benar adanya, selama ini Damian selalu memenuhi semua kebutuhan dan keinginannya.
"Tapi kandungan ku bagaimana? apa aku masih boleh bepergian jauh?" tanya Grace
"Tentu saja, aku bahkan sudah berkonsultasi dengan Lucas beberapa hari yang lalu tanpa sepengetahuan mu!" sebenarnya Lucas melarang Grace bepergian tapi Damian bersikeras mengajak istrinya bulan madu.
Alhasil Lucas menyetujui permintaan Damian dengan syarat dia harus ikut bersama mereka untuk berjaga-jaga. "Lalu Xavier?"
Masih berusaha mencari celah untuk membatalkan rencana Damian. Lagi pula ini sudah sangat terlambat bagi mereka untuk pergi bulan madu.
"Aku menghubungi mommy kemarin. Dia setuju merawat Xavier saat kita pergi. Apa kau masih punya alasan untuk menolak?" tanya Damian, suaranya mulai meninggi, menahan amarah.
Bungkam, Grace terdiam di tempat. Memikirkan permintaan Damian. Melihat wanitanya tidak menyahut, Damian melepaskan pelukannya dan memunggungi Grace.
Katanya mau nurut, tapi sepertinya itu hanya omong kosong.
"Baiklah kita pergi, tapi cium aku dulu!" menarik lengan Damian, menyuruh untuk berbalik menghadapnya.
"Kau yakin?" raut wajah suramnya berubah ceria penuh dengan semangat kini.
"Iya, tapi cium aku!" berusaha menyenangkan suaminya yang merajuk.
Tanpa menunggu waktu lama Damian langsung meraup bibir Grace. Namun, pautan bibir mereka terputus setelah Grace mendorong tubuh kekar Damian.
"Jangan melewati batas. Bisa-bisa kau menyerang ku lagi nanti!" seru Grace.
Damian tertawa kecil, "Terimakasih Grace, kau yang terbaik!" mengacak-acak rambut kecoklatan milik wanitanya.
"Puas?" Damian mengangguk.
__ADS_1
"Kalau begitu biarkan aku tidur. Aku lelah setelah melayani mu tadi." sungut Grace dengan tatapan datarnya.
"Baiklah, semoga mimpi indah babe!" mencium dahi Grace singkat. Lalu menepuk-nepuk punggung Grace, mencoba menenangkan dan memberi rasa aman. Tidak lama setelah itu rasa kantuk mulai menyerang dan Grace memejamkan matanya erat-erat.
...π¦π¦π¦π¦...
"Hoam!" menguap panjang sebelum keluar kamar. Baru selangkah Grace melewati pintu, suara Husky seseorang menghentikan langkahnya.
"Kau mau kemana, babe?" Damian duduk bersandar menikmati secangkir kopi dengan selembar koran.
"Aku mau memandikan Xavier. Kenapa? apa kau butuh sesuatu Ef?" Damian menggelengkan kepala. Meletakkan koran itu di atas meja. Kemudian berjalan mendekat seraya menarik kedua ujung bibirnya.
"Kau yakin Ingin keluar?" Grace mengangguk mantap. Memang apa yang ditakutkan keluar dari kamar tidur.
"Jika kau keluar, aku pastikan kau menghadap yang maha kuasa Grace."
"Maksudnya? aku tidak mengerti." menatap Damian bingung, meminta penjelasan secara rinci.
"Kita ada di jet pribadi ku Grace!" Grace membelalakkan mata. Terkejut mendengar pernyataan Damian barusan. Grace baru sadar kamar yang di tempati sangat berbeda dengan kamar utama mansion.
"Kau ingin mengajak ku kemana Ef?" tanya Grace kebingungan.
Sontak raut wajah Damian berubah masam. Melihat itu Grace jadi takut. "Padahal baru semalam kau menyetujui permintaan ku dan sekarang kau sudah melupakannya." cibir Damian menyindir.
"Bukan hanya kita, aku mengajak Lucas juga Adam untuk menyiapkan semua kebutuhan kita. Juga untuk berjaga-jaga jika kau sakit atau kenapa-kenapa!" Grace menepuk dahinya, tidak menduga rencana Damian semulus ini.
"Hai kakak ipar!" sapa Lucas seraya menyembulkan kepala. Melambaikan tangan menyapa istri sahabatnya.
"Hei beraninya kau membuka pintu tanpa izin dariku!" tegur Damian.
"Itu karena kalian terlalu lama. Aku takut kau mencari kesempatan dalam kesempitan!" ucap Lucas seraya memasukkan jari telunjuknya ke dalam lubang hidung, mengupil didepan pasangan abnormal itu.
"Jorok sekali kau, keluarlah dan mengupil diluar sana. Jangan dihadapan istri ku." bukan keluar, Lucas malah semakin gencar memasuk keluarkan telunjuknya. Kemudian menunjukkan upil garing nya.
Plak! Damian melemparkan satu gulungan koran ke wajah Lucas membuat pria lawak itu berlari menjauh. "Dasar bedebah sialan!" umpat Damian.
Grace tidak menanggapi hanya menggelengkan kepala. Tidak percaya melihat tingkah Damian dan Lucas yang kekanak-kanakan.
"Sekarang kau tidur saja lagi, aku akan menemanimu. Sampai di sana kita langsung jalan-jalan bagaimana?" tawar Damian.
"Aku setuju saja, tapi katakan padaku. Kita mau pergi kemana Ef?" bertanya dengan napas menggebu. Tidak sabaran.
__ADS_1
"Swiss!"
"Wah!! apa kau serius Ef? kau tahu aku ingin mengunjungi Swiss. Tetapi aku tidak punya uang dulu. Akhirnya impian ku terwujud karena mu. Terimakasih babe!" jelas Grace bergelayut manja di lengan sang suami.
"Hm!" Damian tersenyum singkat sebelum menarik Grace kedalam pelukannya.
"Sekarang tidurlah, aku tidak yakin akan membiarkanmu tidur dengan nyenyak begitu." ujar Damian sembari mengulum senyum nakal dan mengedipkan mata. Menggoda wanitanya.
"Aku ingin berjalan-jalan. Aku mohon jangan menghabiskan waktu terlalu lama didalam kamar ya!" pinta Grace dengan memajukan bibirnya imut.
"Tidak! kita akan menghabiskan waktu 90% dikamar dan sisinya kita keluar jalan-jalan. Ingat ini bulan madu bukan liburan baby!"
Decakan malas Grace lontarkan, kecewa dengan keputusan Damian. Padahal semangat yang Grace miliki begitu besar. Hasrat keinginannya untuk menjelajahi negara tersebut begitu tinggi
"Baiklah, 60% dikamar dan 40% berjalan-jalan. Bagaimana?" mencubit dagu panjang Grace, menyuruhnya menoleh menatap matanya.
"Setuju!" sahut Grace cepat, menaikkan pita suara lalu Menghujam Damian dengan kecupan-kecupan lembut.
Sempat terbuai, Damian menggelengkan kepala disela-sela ciuman Grace. Berusaha merendam hasrat, tidak ingin menyerang Grace sekarang.
Damian cukup kasihan melihat Grace kelelahan. Wajah sayunya masih terlihat sampai sekarang. Rasa bersalah menghampiri Damian. Menyesal sudah meminta jatah.
"Ef! coba usap perut ku." suara Grace menyadarkan Damian dari alam bawah sadar.
"Ada apa? apa kau sakit?" panik Damian mengira Grace merasa sakit di bagian perutnya.
"Tidak, tapi anak mu menendang-nendang. Kau tidak ingin merasakannya?" ragu-ragu Damian mengulurkan tangan. Membelai perut Grace dengan lembut. Tidak lama setelah usapan-usapan itu Damian bisa merasakan gerakan-gerakan samar.
"Ayo lakukan USG! aku ingin melihatnya Grace!" Grace mendongak menatap Damian dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Baiklah setelah pulang dari sini kita akan melakukan USG."
"Aku akan menyuruh Lucas untuk menyiapkan semuanya nanti. Sekarang fokus pada acara bulan madu kita."
Grace menganggukkan kepala. Menggeser posisi tubuhnya mengikis jarak yang tersisa. Posisi mereka sangat dekat sampai-sampai Damian bisa merasakan detak jantung Grace.
"Kau memancingku?"
TBC
warning!
__ADS_1
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap seriusπ