Mr Billioneire Wife

Mr Billioneire Wife
Belle and Keenan 1(Revisi)


__ADS_3

Suasana sepi dan tenang tampak membuat Grace nyaman. Sudah lima belas menit lamanya Grace menunggu. Namun, batang hidung Ara tidak kunjung terlihat.


Bosan, setelah berdiam diri cukup lama. Akhirnya Grace memutuskan untuk masuk kedalam dan mencoba beberapa pakaian yang tergantung rapi di rak pakaian. Pemilik butik sekaligus desainer tersebut senang atas kunjungan Grace.


Siapa yang tidak tahu jika Grace adalah istri dari penguasa bisnis yang ada di Amerika ini. Desainer itu merasa terhormat butik kecilnya di kunjungi oleh istri dari Damian Efrat Wilson.


"Nona, anda mau mencoba karya yang baru-baru ini saya buat?" tanya desainer itu. Lantas, Grace menoleh dan mengangguk sebagai jawaban.


"Mohon tunggu sebentar, saya akan mengambilnya!"


Setelah berkata demikian, desainer itu meninggalkan Grace sendiri. Dia masih asik memilah-milah pakaian. Hingga tatapannya tertuju pada gaun hitam pekat yang sederhana. Namun, di penuhi oleh gemerlap kristal yang terpasang di seluruh bagian.


Gaun ini akan sangat cocok jika di padukan dengan anting pemberian Belle. Hening, Grace berhenti memilah pakaian. Dalam sepersekian detik pikirannya melayang kemana-mana.


Entah bagaimana caranya agar dia bisa mengungkapkan kebenaran pada wanita malang yang berstatus sebagai kakaknya itu.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? aku tidak tega melihat Belle sedih!" gumamnya bertanya-tanya.


Grace kembali ke tempat duduknya tadi. Mengusap wajahnya kasar. Kegelisahan mulai menyeruak masuk kedalam hati.


"Grace!" teriak Ara menyapa. lamunan Grace buyar seketika. Mata sayu Grace terangkat, tatapannya terarah pada sosok gadis cantik berambut pirang.


"Kak Belle!" panggilnya lirih. Tubuhnya mematung di tempat, bibirnya tertutup rapat. Grace masih belum siap memberi tahukan kebenaran.


Belle tersenyum tipis, hendak menghampiri adik kesayangannya itu. Namun, gerakannya terhenti tatkala suara desainer Ara menyanggah.


"Nona, ini gaun yang saya bicarakan tadi!"


Grace menoleh, lalu mengambil gaun tersebut. "Aku akan mencobanya. Sambil menunggu, tolong bawa Ara bersama mu ya!"


"Oh baik nona!"


"Nona Ara, mari ikuti saya. Saya akan menunjukkan desain-desain yang saya buat khusus untuk anda saja!" ucap desainer itu.


Tatapan bingung sempat Ara perlihatkan pada adik kakak itu. Tetapi Ara tidak berani bertanya. "Kakak, ikut aku!"


Grace menarik pergelangan tangan Belle. Mengajak wanita itu menelusuri lorong yang di penuhi pilar-pilar tinggi berbahan marmer.


"Grace, kau mau membawa ku kemana?" kesal Belle. Mulai merasakan sakit pada pergelangan tangannya.


Grace mengumpat dalam hati. Lalu menghembuskan napas panjang. Sebelum akhirnya mengajak Belle duduk di kursi panjang yang terletak di halaman depan butik.


"Aku ingin memberi tahukan sesuatu. Dan Ara tidak perlu tahu, aku tidak ingin merusak moodnya!" ujar Grace mengaku.


“Tentang apa?" tangan yang sebelumnya tidak pernah bergetar, sekarang menampakkan tanda-tanda kegelisahan. Keringat dingin bercucuran dengan derasnya. Terlihat sekali Grace tengah gugup sekarang.

__ADS_1


“Tentang ayah Abigail kak, suamiku berhasil menemukannya!" jawab Grace.


Susana berubah serius, Belle membulatkan matanya lebar-lebar memegang kedua bahu Grace. Menyuruh wanita itu menatap matanya dalam-dalam.


“Si-siapa?” tanya Belle singkat, matanya mulai berkaca-kaca. Beranggapan usahanya tidak berakhir sia-sia. Terbukti bahwa Abigail mempunyai ayah yang jelas dan nyata.


“Dia asisten Peter, Keenan Demitrius!”


Tubuh Belle lemas seketika. Tidak menyangka bahwa ayah biologis Abigail adalah Keenan. Belle tidak pernah bertemu dengan Keenan, tapi setahunya Keenan itu sekertaris berdarah dingin.


"Aku ingin menemuinya Grace, berikan alamat rumahnya pada ku!" kata Belle.


Jantung Grace berdetak kencang. Takut Belle sedih setelah mendengar Keenan menolak bertanggung jawab.


"Aku senang, karena sebentar lagi Abigail punya ayah!" tersenyum tipis. Bayangan akan keluarga kecil yang bahagia mulai muncul di kepalanya.


Mendengar bagaimana tanggapan Belle. Grace semakin merasa bersalah, dadanya terasa sesak. Grace tak kuasa membicarakan kebenaran setelah melihat kebahagian yang terpancar jelas dimata kakaknya.


“Dengarkan aku kak! kau hanya mendengar separuh dari fakta yang ada."


"Maksud mu?"


“Sebenarnya aku sudah bertemu dan membicarakan masalah ini dengan Keenan kemarin!"


"Lalu apa jawabannya?" potong Belle cepat. Raut wajahnya berubah, Grace bisa melihat hal tersebut.


"Keenan, dia-"


"katakan Grace, jangan bertele-tele." sentak Belle tidak sabaran.


"Dia menolak bertanggung jawab kak. Keenan ingin memberikan kompensasi berupa uang sebagai gantinya." jelas Grace, ikut berteriak.


Belle melepaskan genggaman tangannya, tubuhnya melemah, tatapannya kosong, air mata mulai berjatuhan membasahi pipi tirusnya.


Penolakan Keenan membuat semua bayangan tentang kebahagiaan hancur berkeping-keping. Semua harapan, usahanya, waktunya, terbuang sia-sia. Kebahagiaan tidak ada dalam hidupnya, Tuhan hanya memberikan ujian tanpa mengizinkannya untuk beristirahat.


Tidak masalah jika kau memenuhi kehidupan ku dengan kesedihan. Tapi putriku, dia tidak bersalah. Bisakah kau mengampuninya Tuhan, jangan menghukumnya. Buat ini menjadi mimpi, bangunkan aku dan berikan aku kenyataan yang manis.


Tangis Belle pecah seketika, tangannya menarik kuat rambutnya. ingin mengurangi rasa sakit di kepala. Apa yang harus Belle lakukan sekarang, ayah kadung Abigail menolak kehadiran Abigail.


Pertanyaan-pertanyaannya yang diajukan Abigail setiap pagi hanya akan menjadi sebuah pertanyaan yang tidak akan pernah terjawab.


"Kak jangan diam saja, ucapkan sesuatu. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja." Grace memeluk erat kakaknya. Mencoba menghibur Belle dengan melontarkan kata-kata semangat.


Sebelum aku mendengarkan jawaban langsung dari mulutnya, aku tidak akan merasa tenang. Aku harus pergi menemuinya.

__ADS_1


"Berikan alamatnya padaku!"


Grace mendongak, terpaku pada raut wajah kak Belle. "Tapi kak pria itu mungkin akan mengusir mu pergi!"


Tidak masalah, asalkan Belle bisa melihat rupa pria sialan itu.


"Aku mohon Grace, biarkan aku mempertemukan Abigail dengan ayahnya untuk pertama dan terakhir kalinya. Pria itu harus melihat wajah malang anaknya!" jawaban hambar Belle membuat Grace semakin dirasuki rasa bersalah.


Terpaksa Grace menuliskan alamat disebuah kertas kecil dan memberikannya pada Belle. Biarkan mereka bertemu, mungkin setelah Keenan melihat wajah Abigail dia akan luluh.


"Ini kak!" Belle menerima lembaran tersebut dengan tangan dinginnya.


"Terimakasih Grace!" Belle mengusap kasar bekas air mata yang tertinggal di kedua pipi. Dia berdiri perlahan, lalu berjalan cepat meninggalkan Grace sendiri.


Belle berdiri di atas trotoar, lalu melambaikan tangan. Berusaha menghentikan salah satu mobil taksi yang berlalu lalang.


"Pak Antar saya ke alamat ini!" memberikan secarik kertas yang berisikan alamat rumah Keenan pada sopir taksi.


"Baik nona!"


...🦋🦋🦋🦋...


"Dimana Belle?" tanya Ara saat mendapati Grace kembali tanpa ibu satu anak itu. Hening, Grace tidak menjawab.


"Grace kenapa kau tidak menjawab pertanyaan ku?" tegur Ara sekali lagi, membuyarkan Grace dari lamunannya. Ia menatap sendu pada Ara, matanya memerah terlihat sekali wanita itu baru saja menangis.


"Ara bisakah kita pulang saja? ayo lakukan fitting bajunya besok. Aku lelah, perut ku mual, kepalaku pusing!" keluhnya dengan suara lirih.


Grace tidak berbohong pandangannya buram. Perutnya seperti di aduk-aduk. "Kau sakit? kenapa tidak bilang dari tadi."


"Ayo kita pulang!" ajak Ara. Mengambil tas selempang yang teronggok di sofa begitu saja. Bruk! baru saja Ara berbalik. Namun, Grace sudah lebih dulu terhempas ke bawah lantai. Ya, wanita itu pingsan.


"Grace!" Ara berlari membuang tas selempang miliknya ke sembarang arah. Dia meminta bantuan pegawai butik untuk mengangkat Grace ke sofa panjang.


"Bangunlah Grace, ada apa denganmu?" Ara memercikkan air ke muka Grace. Namun, wanita itu tidak kunjung membuka mata.


Bagaimana ini, apa yang harus ku katakan pada kakak, pasti dia akan memarahi ku habis-habisan.


"Kalian jaga dia, aku akan menghubungi kakakku!"


Habislah aku, pasti devil itu akan mengusir ku pergi setelah mendapati istrinya pingsan!


TBC


warning!

__ADS_1


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius 🙏


__ADS_2