Mr Billioneire Wife

Mr Billioneire Wife
pertunangan Steven dan Ara(Revisi)


__ADS_3

Akhirnya hari yang di tunggu-tunggu telah tiba. Hari di mana Steven dan Ara akan menyematkan cincin di jari satu sama lain.


Acara di adakan di belakang halaman rumah Steven. Tidak menyewa gedung, sebab Ara merasa halaman belakang rumah sudah cukup luas.


Kedua calon pengantin duduk berdampingan disisipi Alessio di tengah-tengah mereka. Bias kebahagiaan terlihat di wajah masing-masing. Tapi tidak dengan sosok wanita dewasa yang duduk sendiri di pojok ruangan.


Grace menyerahkan Xavier pada Damian. Lalu menghampiri wanita itu. "Kau mau kemana Grace?" kebingungan tatkala mendapati sang istri berjalan ke arah pojok.


"Aku ingin menyapa kak Belle!" jawab Grace kemudian melanjutkan langkah.


Damian menjaga Xavier sembari menunggu Grace kembali. Sesekali matanya mengamati dekorasi. Dekorasi terlihat sederhana, namun terlihat elegan persis seperti selera adiknya.


Tamu yang datang juga tidak sebanyak yang Damian kira. Hanya terdiri dari dua keluarga besar dan beberapa rekan bisnis saja. tidak masalah, meskipun tidak meriah asal Ara bahagia.


Grace duduk mendampingi Belle. "Kak!" panggil Grace lirih.


Lantas Belle tersadar dari lamunan, menatap Grace senang dan mengulum senyum tipis. "Hai Grace!" menyapa balik.


Dari sini Grace bisa melihat kesedihan di mata Belle. Terlebih bias kelelahan terpancar dari raut mukanya, semakin membuat Grace kasihan.


"Kau baik-baik saja kak? kenapa duduk sendiri, ikutlah berkumpul bersama kami!" kata Grace membujuk. Namun, Belle menggelengkan kepala, menolak.


Belle tersenyum kecut, bohong jika dia mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Tapi apakah Belle berhak mengatakan semua rasa lelah dan sedihnya.


"Tidak usah memendam semua masalah mu sendiri kak. Bicaralah, aku akan mendengarkan." lanjut Grace lagi.


Belle tersenyum tipis, merasa beruntung memiliki adik sebaik Grace. Jujur saja perkataan Grace barusan benar-benar menghibur.


"Aku mulai lelah Grace, entah di mana ayah Abigail. Setiap kali Putri ku menanyakan keberadaannya, hati ku terasa sakit. Aku merasa gagal menjadi ibu. Aku tidak bisa memberi Abigail keluarga yang lengkap!" keluh Belle. Kedua kelopak matanya mulai berkaca-kaca.


"Jangan khawatir kak, aku sudah menyuruh Damian membantu menyelediki. Bersabarlah sedikit lagi, akan aku tanyakan hasilnya nanti!" balas Grace.

__ADS_1


Grace adalah harapan terakhir Belle. Jika Damian juga tidak bisa menemukan ayah Abigail, Belle mungkin menyerah.


"Terimakasih Grace, kau membuatku merasa lebih baik dari pada sebelumnya!" ucap Belle dengan mata berkaca-kaca. Lalu memeluk tubuh Grace singkat sebelum akhirnya membiarkan Grace pergi.


Grace bisa melihat Damian duduk dengan wajah masam. Terlihat sekali pria itu kesal karena menunggu terlalu lama.


"Sudah selesai?" tanya Damian, Grace mengangguk kecil dan mengambil alih Xavier dari pangkuan suaminya.


"Kenapa cepat sekali?" tanya Damian basa-basi. Padahal tadi dia sudah berencana menyeret Grace pergi.


“Aku tahu kau sedang menyindir. Maafkan aku, sekarang aku tidak akan meninggalkan mu lagi. Jika tidak percaya rangkul saja pinggang ku. Biar aku selalu bersama mu," Damian tersenyum nakal, hendak melakukan sesuatu.


Damian merangkul pinggang Grace dan mengajaknya menjumpai keluarga besar yang tengah berkumpul di depan panggung. Pertama Grace menyapa Daniel-ayahnya dan memeluknya erat.


"Apa kabarmu nak? kenapa kau tidak pernah mengunjungi Daddy mu lagi. apa kau masih marah pada dad?" tanya Daniel dengan suara berat.


Secepat kilat Grace menggelengkan kepala. Sebenarnya ingin sekali Grace berkunjung ke London. Tapi Damian tidak memperbolehkannya.


"Aku baik-baik saja dad, maaf karena aku tidak bisa mengunjungi mu!" seru Grace dalam pelukan hangat Daniel. Semakin lama kondisi Daniel semakin baik. Sekarang ini Daniel bisa berjalan walupun sedikit tertatih.


"Suami ku sibuk bekerja mom!" dalih Grace.


"Lain kali tinggalkan pekerjaan mu Ef. Adik mu bertunangan, seharusnya kau datang lebih awal!" marah Agatha, menceramahi Damian.


Sesaat Damian melirik Grace sekilas. Lalu mengangguk dan tersenyum kecut. "Maaf!" permintaan singkat yang terdiri dari satu kata itu terlontar begitu saja dari bibirnya.


Tanpa mendengar jawaban Agatha, Damian meraih pergelangan tangan Grace dan membawanya pergi menemui Steven dan Ara.


"Selamat atas pertunangan kalian!” seru Grace seraya memeluk wanita yang sebentar lagi menjadi kakak iparnya.


“Aku tidak menyangka kau mau menikah dengan Steven. Apa alasan mu menerima kakak ku Ara, kau tahu sejak undangan itu berada di tanganku ingin sekali aku menelpon mu dan menanyakan ini!" lanjut Grace.

__ADS_1


Ara tersenyum singkat, "aku ingin menjadi ibu Alessio Grace. Selain itu, aku sedikit terpikat oleh ketampanan kakak mu!" tutur Ara menjelaskan. Semburat kemerahan mulai muncul di kedua pipinya.


"Jadi itu alasan mu! haruskah aku memanggil mu dengan sebutan kakak ipar sekarang?" goda Grace. Menaik turunkan alisnya. Menggoda Ara.


"Sebutan itu memang terdengar sangat manis Grace. Tapi aku ingin kita memanggil satu sama lain dengan memanggil nama saja. Ingat kita adalah sahabat!" kata Ara. menyodorkan jari kelingkingnya dan secepat kilat Grace langsung menangkapnya dengan jari kelingkingnya juga.


Kejadian itu tidak luput dari penglihatan dua orang berwajah datar. Grace dan Ara terlalu kekanak-kanakan. Di tambah dengan Rachel, sungguh sifat mereka saling melengkapi satu sama lain.


"Kalian tidak mengundang Rachel? sejak tadi aku tidak melihat Rachel!"


"Aku mengirimkan undangan ke kediaman Abbey, tapi Peter menghubungi ku jika mereka tidak bisa datang karena sedang berbulan madu bersama dan mereka berjanji akan datang saat upacara pernikahan kami!" sahut Steven menjawab.


"Aku rasa benih-benih cinta mulai tumbuh di dalam hati Rachel. aku berharap Peter dan Rachel hidup bahagia selalu!" lanjut Steven. Grace hanya diam mendengarkan semua penjelasan kakaknya.


Awalnya keadaan sekitar masih tenang, Grace dan Ara masih betah berceloteh tanpa henti. Dua wanita itu memang satu frekuensi, jadi mereka punya banyak topik untuk di bicarakan.


Tapi tidak dengan dua pria tampan berbadan besar yang saling melemparkan tatapan tajam. Mendadak tempat acara berubah suram. Tatapan kebencian terlihat dari sorot mata masing-masing.


"Ara kenapa tiba-tiba aku merasa merinding?" seru Grace mengusap pelan belakang lehernya. Ara pun juga demikian merasakan apa yang dialami oleh Grace.


Serempak keduanya menoleh ke arah samping. Di lihatnya Damian dan Steven saling melotot. Pantas saja ruangan ini menjadi suram ternyata karena dua pria sialan ini.


"Selamat atas pertunangan mu. Sekarang aku menjadi kakak ipar mu, bersikaplah sopan padaku!" sinis Damian.


Steven menatap datar suami adiknya, "kau juga menikahi adik ku sialan, aku masih tetap kakak ipar mu. Jadi kau juga harus menghormati ku karena posisi kita sama!" balas Steven tak kalah tajam.


"Ara aku lelah, mungkin karena sudah malam jadi aku mengantuk. Aku akan beristirahat di kamar tamu ya!" pamit Grace, kemudian menarik lengan Damian. tidak ingin Damian membuat kekacauan.


Grace tidak mengerti apa alasan yang membuat mereka selalu bertengkar. Mereka seperti punya dendam tersendiri. Grace hanya berharap mereka bisa berbaikan dalam waktu dekat.


TBC

__ADS_1


warning!


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. 🙏!!!!!!


__ADS_2