Mr Billioneire Wife

Mr Billioneire Wife
Takut hantu(Revisi)


__ADS_3

Keheningan menyelimuti alam, suara hembusan angin terdengar kencang. Gorden-gorden yang tergantung di jendela berterbangan seiring dengan arah hembusan angin.


Malam semakin larut dan Grace terbangun karena tenggorokannya terasa kering. Haus, dia ingin menegak segelas air dingin. Tapi ternyata teko kaca yang terletak di atas meja kosong melompong.


Pelayan mansion lupa mengisi air di kamar utama. terpaksa Grace beranjak dari tempat tidur,memakai sandal dan berlalu melewati pintu. malas, tapi dahaganya butuh di tuntaskan.


Untung saja mansion ini di fasilitasi lift. Grace tidak usah bersusah payah menuruni tangga. Jika dia melewati tangga sudah pasti dia kelelahan nanti.


Ting! begitu pintu terbuka. Grace di suguhkan dengan hingar-bingar pemandangan lantai bawah terlihat sepi dan gelap. Hanya ada satu pencahayaan saja di sudut ruangan.


Damian tidak menempatkan satu bodyguard pun di dalam mansion. Tapi di luar, jangan ditanyakan lagi. Sudah pasti Damian menempatkan satu orang di setiap sudut, dan mereka berjaga dengan menerapkan sistem pergantian shift.


Dengan langkah panjang Grace berjalan kearah dapur, sebenarnya ia sedikit merinding berada sendirian di ruangan sebesar ini. Apa kalian percaya hantu? jika iya maka kalian sama seperti Grace, wanita itu juga mempercayai makhluk tak kasat mata.


Secepat kilat Grace mengisi tekonya, entah kenapa semakin lama dia semakin merinding seperti ada sepasang mata yang mengamatinya saat ini.


Baru teko terisi setengah, sebuah tangan melingkar di pinggangnya dan tentu itu membuat Grace terkejut setengah mati. Refleks mulutnya berteriak kencang dan Grace menangis memanggil nama suaminya.


"Akhh! Ef aku takut hantu, ada hantu Ef!" jerit Grace seperti orang gila. Tak sengaja tangannya menyenggol teko itu dan membuatnya pecah berceceran di lantai.


"Ini aku Grace!" suara serak Damian langsung menenangkan hati Grace yang diselimuti rasa takut. Grace mendongak memandang dalam mata abu Damian yang begitu terang dan indah. Setelah itu dia a langsung melompat masuk kedalam pelukan Damian dan tidak mau diturunkan karena takut dibawa pergi oleh hantu.


Terpaksa Damian membawa Grace dan mencari saklar lampu. Setelah semua lampu menyala Grace baru mau turun dari pelukan sang suami.


"Kalau kau takut, kenapa tidak menyalakan lampunya?" tanya Damian heran. Mana sempat, Grace ingin segera kembali ke kamar. Lagi pula Grace tidak tahu dimana letak saklarnya.


"Aku tidak tahu dimana letak saklar nya," dalih Grace yang masih menyembunyikan wajahnya dibalik cerucuk leher Damian.


"Tunggu disini aku akan membersihkan pecahan kacanya. Jangan kemana-mana atau nanti kakimu terluka!" Grace mengangguk patuh, lalu duduk diam di atas meja. Memperhatikan suaminya yang memunguti pecahan kaca.


"Apa kau takut hantu Grace?" tanya Damian, ekspresi mengejek terlihat jelas diwajahnya.


"Tidak-tidak aku hanya terkejut tadi!" Grace berdalih. Malu mengakui jika dia memang takut dengan makhluk ghaib.


"Ah jadi cuma terkejut, baiklah aku akan mematikan lampunya lagi!"


"Jangan, iya aku takut hantu!" teriak Grace membuat Damian Seketika tertawa terbahak-bahak. Baru kali ini Grace melihat Damian tertawa selepas itu. Bahkan mata pria itu sampai menangis karena kebanyakan tertawa.

__ADS_1


"Apa ada yang lucu?" sinis Grace tidak terima ditertawakan.


"Tidak, hanya saja kau sangat imut saat ketakutan seperti tadi!" Grace menunduk, bibirnya mengerucut dan pipinya bersemu merah, malu dengan semua perkataan Damian.


"Sekarang ayo kembali ke kamar, aku akan membawakan air untukmu!" ajak Damian setelah selesai membuang pecahan kacanya kedalam tempat sampah.


"Tidak mau, tiba-tiba saja aku ingin makan Grilled chicken. Masakan itu untukku yah!" bujuk Grace, sambil menciumi bibir suaminya supaya mau menuruti keinginannya.


"Ini sudah malam Grace, kita harus tidur. Kau bisa meminta apapun pada Ellie besok!"


"Menyebalkan sekali, tadi kau bilang ingin merasakan rasanya menuruti ngidam ku tapi ternyata semua itu hanya omong kosong saja ya!" sindir Grace.


Seketika Damian langsung mengenakan celemek dan berkutat dengan dapur. Sedangkan disisi lain dapur Grace tersenyum penuh kemenangan.


Grace memperhatikan suaminya yang memasak sambil memakan potongan buah. Terkadang Grace senyum-senyum sendiri melihat ketampanan sang suami, apalagi dengan adanya celemek itu seakan menambah nilai plus dimata Grace.


Dengan cekatan Damian memasukan bumbu ini itu seperti dia sudah ahli melakukan pekerjaan koki ini. Hanya mengandalkan resep yang di carinya di internet. Damian bisa melakukan segalanya dengan sempurna.


Grace beruntung memiliki suami secerdas Damian. Ya meskipun pria itu sedikit menakutkan, tapi tidak apalah yang terpenting dia banyak uang dan good looking.


"Okey!"


Dari segi penampilan, makanan ini terlihat sangat cantik dan meyakinkan. Grace sempat tidak mau merusaknya karena terlalu cantik. Tapi perutnya terus berbunyi. Grace sangat lapar. terpaksa dia menyendok makanan tersebut kedalam mulutnya.


Begitu lidahnya mulai merasakan rasa makanan buatan Damian. Tubuh Grace mematung seketika.


"Ada apa dengan mu Grace? apakah makanan ini tidak enak ?" tanya Damian khawatir. Hendak menyahut piring tersebut. Namun, Grace menahan tangannya dan menatap garang.


"Ini enak, jangan dibuang!" ketus Grace. Kemudian kembali memakan masakan suaminya dengan lahap.


Sungguh keturunan keluarga Wilson tidak bisa diragukan lagi kecerdasan dan ketelatenannya. Ini benar-benar lezat dan lembut. Grace bahkan tidak bisa memasak seenak ini.


"Pelan-pelan Grace, tidak ada yang merebut makanan mu!" tegur Damian lembut. Mengusap saos yang tertinggal di ujung bibir Grace dengan menggunakan ibu jari.


"Apa kau pernah belajar memasak Ef? kenapa masakan mu enak sekali!" puji Grace sedikit tidak jelas karena mulutnya tersumbat dengan makanan.


"jangan bicara saat sedang makan! sebenarnya ini pertama kalinya aku memasak, apa seenak itu?" jawab Damian dengan ekspresi tenang.

__ADS_1


Grace menjatuhkan sendok yang di genggam. Pertama kali? tapi masakan yang dibuat Damian sangat enak. Astaga seandainya Damian membuka usaha catering pasti sudah laku besar.


"Aku jadi makin mencintaimu Ef. Jika bisa buatkan makanan untukku setiap hari." cecar Grace membuat Damian tergelak. Baguslah jika Grace menikmati hidangannya.


"Kenyang sekali!" seru Grace setelah meminum airnya. Damian tersenyum dan mengusap lembut kepala Grace.


"Aku mengantuk ayo kita tidur," ajak Grace, kemudian menarik tangan suaminya. Satu hari penuh Grace menempel pada Damian tanpa mau lepas sedikit pun.


Entah ini keinginan bayi dalam kandungan Grace ataupun keinginan Grace sendiri tetap saja keduanya membuat Damian menang banyak karena Grace selalu mencari kesempatan untuk menggodanya.


"Ef apa yang membuat mu mengklaim diri ku menjadi milik mu? bukankah kita baru bertemu saat kau membawa ku pulang untuk yang pertama kali?" tanya Grace.


"Apa kau benar-benar berfikir kita tidak pernah bertemu?" tanya Damian di iringi satu senyuman tipis.


Grace terdiam, dia sudah lupa kejadian masa lalu. Lebih tepatnya Grace ingin melupakan semua kenangan pahit yang terjadi dalam hidupnya.


"Apa kita pernah bertemu? jika iya kapan, aku merasa tidak pernah melihat mu!" Damian terkekeh wajar jika Grace melupakan pertemuan pertama mereka. Mengingat kejadian itu terjadi saat Grace masih SMA.


"Kita bertemu saat aku meresmikan hotel baru di kota London. Waktu itu aku melihat mu duduk di sebuah cafe sendirian. Pandangan kita bertemu dan kau melemparkan senyum manis mu. Dan senyuman itu membuatku terobsesi pada mu Grace!" jelas Damian panjang lebar.


"Ternyata kau jatuh cinta padaku hanya karena sebuah senyuman biasa?"


"Bagimu itu memang hal biasa Grace, tapi bagiku itu sebuah hal berharga. Senyuman mu menggetarkan hati ku, kau menghangat kan hatiku yang sedingin es!" jelas Damian membuat Grace tersenyum malu-malu.


"Baiklah aku jadi mengerti kenapa kau tidak mau aku melemparkan senyuman pada pria lain. Sekarang peluk aku. Berikan kehangatan mu dan kenyamanan mu padaku!"


Damian terkekeh dan memeluk Grace bagaikan guling. Ia terus menciumi dan membelai kepala Grace.


"Tidurlah dan mimpikan aku!" bisik Damian. Grace tersenyum dan mulai memejamkan matanya.


Aku mencintaimu Ef segenap jiwa dan raga mu. Jangan pernah meninggalkan ku dalam keadaan apapun!


TBC


warning!


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius🙏

__ADS_1


__ADS_2