Mr Billioneire Wife

Mr Billioneire Wife
Ajari aku cara mencintaimu(Revisi)


__ADS_3

"Mau ke kamar?" satu tangga baru saja Grace lewati. Namun, terhenti karena suara serak Damian menyeruak masuk kedalam telinga. Wanita itu menolehkan kepala, lalu mengangguk singkat sebagai jawaban.


"Kau tahu dimana letak kamar ku?" tanya Damian dengan satu alis terangkat. Seingatnya dia belum memberitahu Grace dimana letak kamar pribadinya. Mungkin Agatha memberitahu saat makan malam tadi, pikirnya.


"Aku tidak tahu!" jawab Grace cengengesan. Jari jemarinya bergerak ke belakang, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Melihat itu Damian mengulum senyum, sebelum akhirnya menawarkan diri untuk mengantar.


"Biar aku mengantar mu!" Damian berjalan melewati Grace tanpa berniat menggandeng tangan wanitanya. Takut Grace tidak nyaman dan marah-marah.


Grace sendiri acuh tak acuh dengan sikap dingin Damian, seolah sudah terbiasa dengan semua itu. Grace memilih mengekor di belakang. Sesekali membiarkan pandangannya bergerilya kemana-mana, mengamati seluruh sudut mansion utama.


Kamar pribadi Damian terletak di lantai dua. Entah sudah berapa lama kamar itu tak di huni. Mungkin terhitung 10 tahun sejak kepindahannya ke New York.


Begitu Damian membuka pintu, Grace disuguhkan dengan desain interior kamar yang begitu mewah dan elegan. Kamar yang di dominasi warna abu-abu dan putih. Juga sangat bersih dan rapi.


Desain interior kamar itu sangat estetik. Bagaimana tidak, tempat tidur di hadapkan langsung kearah jendela. Siapapun yang berbaring di sana akan disuguhi oleh indahnya pemandangan kota Milan.


Tatapan kagum selalu Grace perlihatkan. Tidak peduli dengan Damian yang menertawakan ekspresi wajahnya. Pria itu duduk di pinggiran ranjang sembari memperhatikan interaksi Grace.


"Kau sudah makan?" tanya Damian basa basi. Grace menghentikan kegiatannya dan menjawab, "Aku sudah makan tadi, bahkan perut ku serasa ingin meledak sekarang." mengusap perutnya yang membuncit karena kekenyangan.


Hening, percakapan mereka berakhir. Grace duduk di samping Damian kini. Keduanya saling diam dan fokus pada pikiran masing-masing. "Ef, aku ingin mengatakan sesuatu padamu!"


"Katakan saja, aku mendengarkan mu babe!" menyematkan panggilan sayang. Ingin melihat wajah malu-malu Grace. Namun, semua harapannya pupus saat melihat raut muka Grace serius.


"Aku ingin kita memulai semuanya dari awal dan aku mohon, ajari aku cara mencintaimu sayang!" dengan sekali tarikan napas Grace berhasil mengungkapkan keinginannya.


Bukannya senang kala mendengar ungkapan Grace. Damian malah menatap Grace dengan sorot mata penuh kecurigaan.


"Ini bukan siasat mu kan?"


Mendengar pertanyaan Damian, Grace terdiam beberapa saat. Lalu, menggelengkan kepala dan mengulum senyum tipis. "Aku tidak sedang merencanakan apa-apa sayang. Aku serius dengan semua ucapan ku!"


"Ada apa dengan mu, kenapa kau tiba-tiba ingin memulai semuanya dari awal?" masih curiga, takut dikelabui untuk yang kedua kali. Grace bisa mengerti, karena itu dia tidak marah sedikitpun.


"Aku tidak ingin hidup dalam keterpurukan Ef. Karena itu aku ingin mencobanya bersama mu," bisik Grace dengan tekad yang kuat. Damian sendiri terdiam di tempat, tidak tahu harus melakukan apa.

__ADS_1


Dalam sekejap pikirannya menghilang karena sangking terkejutnya. "Kau mau mencobanya kan?" tanya Grace memastikan. Mengulang pertanyaan karena tidak mendapat jawaban.


"Tentu saja babe!" Damian mencium bibir Grace dengan sangat lama dan menuntut. Ingin melakukan lebih, namun kali ini Damian tidak memaksa Grace melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.


Grace menyerahkan diri sendiri, kali ini tidak ada paksaan atau ancaman. Keduanya saling menyerahkan diri masing-masing. Menikmati setiap sentuhan hingga akhirnya mereka melampaui batas dan mencapai puncak kenikmatan yang berujung.


...🦋🦋🦋🦋...


Pagi itu..


Seluruh keluarga sarapan bersama di taman belakang mansion. Dominic dan Kanaya masih belum pulang, setelah sarapan barulah mereka kembali ke Las Vegas.


Grace tampak diam di tempat duduknya. Sesekali merespon sentuhan Damian. Kepalanya terus tertunduk ke bawah, Grace berusaha menyembunyikan rasa malu.


Hingga akhirnya suara berat seorang pria mengalihkan perhatian semua orang. "Maaf karena kami datang terlambat!" ujar pria itu dengan raut muka bersalah.


Karena penasaran Grace mendongakkan kepala. Sejenak Grace terlihat bengong, bibirnya sedikit terbuka dan matanya mulai membulat lebar. Melihat wanita yang datang dengan pria itu, Grace seakan dibuat terkejut. Wanita itu Rachel- sahabatnya.


"Tidak masalah nak, kami bisa mengerti. Pengantin baru memang membutuhkan banyak waktu untuk bersiap-siap!" kata Agatha memaklumi. Lantas, Grace yang mendengar jawaban Agatha semakin terkejut.


"Iya, pergilah istirahat sayang. Mom akan menghubungi dokter keluarga untuk memeriksa mu!" balas Agatha khawatir. Tidak ingin menantu kesayangannya itu kenapa-kenapa.


"Tidak perlu mom, aku rasa istirahat sebentar sudah lebih dari cukup!" tolak Grace, lalu berlalu pergi tanpa mendengar jawaban ibu mertuanya. Tidak sopan, namun Grace sudah tidak bisa menahan diri.


Kepergian Grace membuat semua orang bertanya-tanya."Aku akan menyusulnya, permisi!" pamit Rachel pada seluruh keluarga. Tidak ada yang menghentikan Rachel, semua orang tahu kedua wanita itu bersahabat.


Grace berlari ke arah kamar pribadi sang suami. Tidak mempedulikan Rachel yang berlari menyusul dari belakang.


"Grace, dengarkan penjelasan ku!" teriak Rachel dari belakang.


Hingga akhirnya Rachel berhasil menggapai pergelangan tangan Grace dan menghentikan langkah kaki sahabatnya. "Aku mohon dengarkan penjelasan ku!" pinta Rachel lagi. Memperlihatkan tatapan penuh permohonan. Berharap Grace iba dan mau mendengarkannya.


"Masuklah!" ajak Grace seraya membuka pintu kamar. Rachel melangkahkan kakinya masuk ke dalam dan memutuskan duduk di sofa kamar.


"Jelaskan!" seru Grace sembari menyodorkan segelas air. Rachel meraih gelas itu dan meneguk isinya sampai tandas tak tersisa.

__ADS_1


"Aku menikah karena di jodohkan Grace. Ibu ku dan ibu mertua ku membuat perjanjian perjodohan sejak aku kecil. Aku bukan tidak mau memberitahu mu, hanya saja aku melupakanmu Grace!" jelas Rachel. Haruskah Grace memukul Rachel sekarang. Bagaimana bisa Rachel melupakannya.


"Dan satu lagi, jangan pernah salahkan Damian. Aku akui, aku memang tidak menyukai pria itu. Tapi, dia tidak bersalah. Jadi jangan marah padanya Grace. Damian menyembunyikan masalah ini karena tidak ingin kau merasa bersalah!" lanjut Rachel, masih menjelaskan dengan suara tenang.


"Merasa bersalah? apa maksud mu Re?" Grace bertanya dengan dahi berkerut, kebingungan.


"Aku tidak tahu harus memulai dari mana. Intinya pernikahan ini terjadi bukan hanya karena perjodohan, tapi juga bayaran karena ayah mertua ku membuatkan kita identitas palsu!" Rachel sudah tidak bisa menahan diri. Alhasil ia mengungkapkan kebenaran.


Seketika Grace terdiam di tempat. Perasaan bersalah mulai menyelimuti hati. Jadi selama ini, Rachel harus membayar mahal atas bantuan identitas itu. Kenapa Rachel tidak pernah cerita, seandainya Grace tahu mengenai perjanjian itu. Sudah pasti Grace tidak akan meminta bantuan Rachel. Kebahagiaan Rachel jauh lebih penting dari pada kebahagiannya.


"Kenapa kau tidak pernah cerita padaku Re?"


"Karena aku tahu, kau akan menyalahkan dirimu sendiri atas kesalahan yang tidak kau lakukan. Jadi berhenti bersedih dan kembali bergabung bersama kami. Lagi pula aku bahagia dengan pernikahan ini Grace!"


Seakan tidak percaya Grace masih melemparkan tatapan intensif. Menatap ke dalam mata Rachel, berusaha mencari kebenaran. Tetapi, sepertinya Rachel berkata jujur. Wanita itu terlihat lebih berisi dari sebelumnya, menandakan Peter benar-benar merawat Rachel dengan baik.


"Dan aku punya kabar baik untuk mu!"


"Apa itu?"


"Aku dan Peter akan pindah ke NYC!"


Sepersekian detik kemudian, Grace memeluk Rachel erat. Ikut senang mendengar kabar menyenangkan itu. Ini berarti mereka akan lebih sering bertemu.


"Sekarang ayo kita kembali ke taman belakang. Lupakan masalah ini, lagi pula semuanya sudah berlalu. Kita harus membuka lembaran baru. Kita bukan gadis remaja lagi sekarang, tapi kita sudah menikah. Jadi berpikirlah dewasa Grace!" ujar Rachel memberi nasihat.


Bukan mau sok pintar, sebagai sahabat sudah seharusnya Rachel memberi Grace nasihat agar menjadi pribadi yang lebih baik. Lagi pula semua sudah baik-baik saja sekarang. Kebahagiaan perlahan mendekati mereka, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.


"Baiklah, ayo kita kembali ke sana. Aku harus meminta maaf pada ibu mertua ku karena berlaku tidak sopan tadi." Grace menggandeng tangan Rachel dan menariknya keluar kamar. Hendak kembali bergabung bersama dengan keluarga besar di halaman belakang Mansion.


TBC


warning!


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. 🙏!!!!!!

__ADS_1


__ADS_2