Mr Billioneire Wife

Mr Billioneire Wife
Kehamilan ke2(Revisi)


__ADS_3

Semua orang menunggu di luar kamar dengan perasaan khawatir. Steven sendiri merasa bersalah sudah membuat Grace shock sampai pingsan. Agatha dan Ara ikut menunggu setelah di beritahu jika Grace jatuh pingsan.


Damian kesal, sudah 20 menit berlalu dan Lucas masih belum membuka pintu. Berulang kali Damian mengetuk pintu, menyuruh Lucas keluar. Namun, dokter muda itu tidak mau membuka dengan alasan pemeriksaan belum selesai.


"Kenapa Lucas lama sekali?" sungut Damian sebal.


"Sabar boy," Hans menepuk pundak Damian berulang kali. Menangkan putra kebanggaannya.


"Bagaimana aku bisa bersabar dad, Lucas bilang pemeriksaannya membutuhkan waktu tidak lebih dari 15 menit. Ini sudah dua puluh menit dan dokter sialan itu masih belum keluar!" geram Damian.


Hans dan Agatha menghela napas sabar. Damian begitu sensitif jika menyangkut Grace. "Di mana Xavier?" Damian selalu melupakan putra sulungnya itu.


"Mom menidurkannya di kamar mu. Jangan khawatir, mom menyuruh Ellie berjaga di sana!" sahut Agatha menjawab. Damian merasa tenang, setidaknya Xavier bisa tidur tanpa ibunya.


Ceklek! pintu terbuka, Lucas dam asistennya keluar dengan raut muka berbeda. Lucas terlihat santai, sedangkan asistennya terlihat gelisah. Jujur, asisten Lucas takut pada tatapan Damian.


Damian menghampiri Lucas, mencengkram kemeja putihnya. "Bagaimana keadaan istri ku, apa dia baik-baik saja?" Lucas memutar bola matanya malas. Mencoba melepaskan cengkeraman Damian dan merapikan kemejanya kembali.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kakak ipar baik-baik saja, pusing dan pingsan sudah biasa terjadi di awal kehamilan. Jangan membuat kakak ipar stres. Usia kandungannya masih sangat rentan." jelas Lucas.


Lantas semua orang saling berpelukan, berbagi kebahagiaan. Damian sendiri tercengang mendengar pernyataan Lucas. Namun, tidak lama setelah itu kedua sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.


"Aku ucapkan selamat karena kakak ipar dinyatakan hamil!" lanjut Lucas heboh. Ikut bahagia sebab sahabatnya akan menjadi ayah untuk yang kedua kali.


Hans dan Agatha saling berpelukan, "sayang, kita punya cucu lagi!" seru Agatha girang. Hans mengangguk dan tersenyum haru.

__ADS_1


"Lihat, adik kita bahagia hidup bersama Damian. Aku mohon, restui hubungan mereka!" bisik Belle pada Steven. Tetapi Steven tak menjawab, masih merenung dalam kebisuan.


Damian masuk ke dalam kamar. Duduk di pinggiran ranjang seraya menggenggam sebelah tangan wanitanya. Rasa terimakasih berulang kali terucap di iringi kecupan-kecupan singkat di punggung tangan Grace.


Harapannya menjadi ayah untuk kedua kali di wujudkan oleh Tuhan. Damian memang jarang ke gereja, tapi bukan berarti dia tidak memiliki agama. Damian percaya Tuhan itu ada dan mendengarkan setiap doa-doanya.


Gumaman-gumaman samar terdengar di telinga Damian. Melihat Grace menggerakkan mata, berusaha menyesuaikan bias cahaya bohlam dengan penglihatan.


Melihat Damian duduk dengan raut muka senang membuat Grace bertanya-tanya. Gerangan apa yang membuat suaminya ini bahagia. Grace berusaha merubah posisinya menjadi duduk. Namun, rasa pusing menyerang membuatnya menyerah dan berbaring kembali.


"Kau terlihat bahagia, apa kau baru saja mendapatkan kabar gembira?" tanya Grace dengan suara lemah.


"Ya, aku baru saja mendapat kabar gembira!" jawab Damian. Lagi-lagi. mencium punggung tangan Grace.


"Lucas bilang aku akan jadi seorang ayah lagi. Kau sedang mengandung anak kedua kita Grace!" balas Damian cepat. Reflek Grace menutup mulutnya. Terkejut.


"Apa!" pekik Grace kaget. Bagaimana bisa, seingatnya dia minum pil KB. Dan belum memeriksakan diri ke dokter kandungan.


"Kau tidak senang dengan kehamilan mu?" tanya Damian dingin Grace. Grace tertawa renyah, lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Tidak-tidak, aku senang mendengar kabar ini, Ef." Bukan tidak senang dengan kehamilannya ini. Grace hanya bingung memikirkan pil KB itu. Apakah dokter memberinya obat palsu. Bagaimana bisa Grace kecolongan.


"Aku haus, bisa tolong ambilkan aku minum?" ragu-ragu Grace menyuruh Damian mengambilkan segelas air.


"Tentu!" dengan sigap Damian menuangkan air dan menyodorkannya pada Grace.

__ADS_1


"Dimana Xavier?" tanya Grace setelah menelan segala air itu. Grace menyingkirkan selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Hendak mencari keberadaan putranya. Secepat kilat Damian menahan tubuhnya dan kembali menarik selimut sampai leher.


"Kau ini kenapa sih!" ketus Grace.


"Xavier sudah tidur dari tadi, mommy yang menjaganya!" dahi Grace berkerut.


"Lalu? apa aku tidak boleh menemui anak ku?" Damian menghembuskan nafasnya kasar. Ia harus bersabar menghadapi sikap istrinya yang sensitif karena dalam masa kehamilan.


"Grace, kau baru saja sadar dan mau menjaga putra kita. Ayolah, malam ini istirahat saja dulu. Aku tidak ingin kau sakit karena kelelahan. Biarkan mommy menemani Xavier, dia neneknya. Punya hak atas cucunya!" Damian menjelaskan dengan sabar. Berharap Grace mengerti dan menuruti semua perkataannya.


"Baiklah, tapi hanya malam ini. Lain kali biarkan aku tidur bersama Xavier. Dia masih kecih, Xavier membutuhkan aku Ef." kata Grace.


"Iya, hanya untuk malam ini. Setelah itu kau bebas melakukan semua hak yang kau inginkan!"


"Terimakasih!"


Setelah itu Grace berbaring nyaman di atas ranjang. Sesekali menepuk tempat kosong di sebelah, meminta Damian menemani dan memeluknya sepanjang malam.


...🦋🦋🦋🦋...


TBC


warning!


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. 🙏!!!!!!

__ADS_1


__ADS_2