Mr Billioneire Wife

Mr Billioneire Wife
Kehilangan seorang putri(Revisi)


__ADS_3

Damian berlari dengan kencang. Menembak tangan kanan John yang mau melarikan diri. Dengan kasar Damian membuka pintu mobil. Wajahnya pucat pasi dengan air mata berlinang. Kala melihat Grace duduk tidak berdaya dengan perut berlumuran darah.


Rintihan demi rintihan terdengar ironi di telinga Damian. Jelas sekali wanita itu tengah menahan rasa sakit yang luar biasa.


"Sakit...anak kita Ef. Hiks...hiks...hiks selamatkan dia." rengek Grace dengan derai air mata. Tubuhnya menggeliat ke sana-kemari menahan rasa sakit.


Pikiran Damian sempat kosong sesaat. Pria itu tidak menyangkal Grace di serang. Dan kali ini luka Grace sangat dalam. "Kita ke rumah sakit sekarang. Kau tahan sebentar ya." Damian menghapus air matanya.


Berlari mengitari mobil dan bergegas duduk di kursi pengemudi. "Dam! aku ingin kau membunuh dan membakar jasadnya. Rekam dan tunjukkan pada ku nanti!" perintah Damian sebelum menginjak pedal gas.


Bak orang kesetanan Damian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kakinya tidak berhenti menekan pedal gas. Melihat Grace semakin lemah dengan mata menyipit Damian semakin bertambah khawatir.


"Jangan pejamkan matamu sayang, kita akan segera sampai!" katanya terus memberikan semangat. Melihat Grace seperti ini Damian seakan juga merasakan luka yang sama.


"Sakit Ef...anak kita..... selamatkan diaah!" terus memohon hal yang sama. Grace tidak ingin buah hatinya kenapa-kenapa.


"Semua akan baik-baik saja sayang. Jangan khawatir kau ataupun anak kita pasti selamat!" meyakinkan meskipun hatinya ragu dengan ucapannya sendiri.


Sampai tibalah mobil mereka di rumah sakit. Damian membopong Grace masuk ke dalam. Wanita itu tak sadarkan diri.


"Ef, bawa kakak ipar ke ruang operasi!" teriak Lucas baru tiba setelah Adam menghubungi beberapa saat lalu.


Damian mengangguk meletakkan Grace ke atas bangsal kamar dengan perlahan. "Kau keluarlah, aku akan melakukan yang terbaik untuk istrimu." usir Lucas seraya memakai pakaian khusus.


"Tidak, aku akan menemaninya!" tolak Damian, masih setia menggenggam erat jari jemari Grace.


"Ef kau juga terluka, temui perawat dan suruh mereka mengobati mu!" bujuk Lucas. Damian menggelengkan kepala. Rasa sakit yang ia alami tidak sebanding dengan melihat belahan jiwanya terbaring lemah. Berusaha mempertahankan hidup.


"Jangan keras kepala, kau bisa mengganggu konsentrasi kami. Cepat keluar atau kakak ipar tidak akan bisa kami selamatkan!" marah Lucas mendorong Damian keluar. Tidak peduli pria itu marah padanya nanti.


Tidak ada pilihan lain selain menurut. Damian berdiri diambang pintu, menatap lingkaran kaca yang ada di tengah-tengah pintu ruang operasi. Sorot mata itu tak henti-hentinya melihat dokter yang menangani wanitanya. Air mata terus bercucuran keluar, sedih, marah semuanya bercampur aduk membentuk rasa takut.


Semua ini kesalahannya, andai ia tidak mengajak Grace berbulan madu. Penyerangan ini tidak mungkin akan terjadi. John tidak akan membuat anak dan istrinya dalam bahaya.


Damn! aku bersumpah akan menghabisi seluruh keluarganya jika terjadi sesuatu yang buruk pada istri dan anak ku.


...🦋🦋🦋🦋...


Pagi itu,


Damian masih setia berdiri di ambang pintu. Kedua kakinya mungkin mati rasa sekarang. Semalam penuh Damian terjaga tanpa memejamkan mata. Bahkan rasa sakit di tengkuknya menghilang setelah mendengar jerit tangis Grace semalam.


Penampilan Damian terlihat kacau. Mata suntuk, wajah pucat, dan kemeja kusut yang terkancing sebagian dengan noda darah bercampur tanah. Berulang kali Lucas menyuruh Damian pergi istirahat. Namun, pria itu bergeming dan mengabaikan sarannya.


Batinnya merasa bersalah karena gagal menjadi seorang suami. Bodoh sekali dia karena meninggalkan Grace sendiri di dalam mobil tanpa penjagaan apapun.


Tap! tap! tap!


Dua orang paruh baya berjalan mendekat. Hans dan Agatha langsung datang begitu mendengar kabar Grace di serang dari sekertaris Adam. Saat itu juga mereka terbang dari Milan ke Swiss hanya untuk melihat kondisi menantu kesayangannya.


"Ef bagaimana keadaan menantu mommy?" tanya Agatha dengan napas menggebu.


Tidak kunjung mendapat jawaban, Agatha pun menepuk pundak Damian berulang kali. Damian bak patung, dia bernapas tapi tidak bisa mendengar ataupun berbicara.


"Ef!" teriak Agatha lagi. Memanggil nama Damian. Berusaha menyadarkan pria itu dari lamunannya.


"Kalian di sini?" alih-alih menjawab, Damian malah bertanya balik. Agatha menangis melihat keadaan anaknya yang sama seperti orang tolol. Apalagi melihat penampilannya yang berantakan semakin membuat relung hatinya teriris.


“Sayang!” Agatha memeluk erat Damian. Tangan keriputnya mengusap pelan rambut hitam Damian. Sedikit bingung saat tangannya terasa lembab. Apa ini? Ini darah, Damian terluka.


"Ef kau terluka?” tanya Agatha heboh. Dia melepaskan pelukan. Lalu menatap dalam mata suram Damian.


"Ini hanya luka kecil mom, aku tak apa. Grace yang terluka!" jawab Damian dengan suara lirih. Terdengar nada kesedihan yang ketara di kalimatnya itu.


Tangis Agatha semakin pecah, tidak tega melihat Damian seperti ini. Semua percakapan dan interaksi keduanya tak luput dari pendengaran dan penglihatan Hans. Pria paruh baya itu menepuk lembut pundak istrinya seakan menyuruhnya mundur.


"Di Di!" Xavier mengambil sebagian kemeja yang dikenakan Damian dan mencengkeramnya erat.

__ADS_1


"Ef, jika kau tidak ingin mengobati lukamu tidak masalah. Tapi bersihkan dirimu. Lihat, Xavier ingin di gendong!" bujuk Hans dengan suara khas kebapakan. Damian menoleh, menatap Xavier sendu.


"Tidak dad, aku akan tetap disini menemani istri ku!" tolaknya halus. Merasa tidak pantas menjadi ayah Xavier. Hans pun kembali duduk menemani sang istri, tak kuasa melihat putranya hancur.


Ceklek! pintu terbuka membuat ketiga orang tersebut terperanjat kaget. Lucas menatap mereka singkat. Sebelum membuang muka ke arah lain sebab tak kuasa melihat bias kesedihan di wajah mereka bertiga.


Melihat Lucas menunduk, hati Damian semakin gelisah. Damian berusaha menyerobot masuk. Namun, Lucas merentangkan kedua tangan. Menghalangi jalan Damian.


"Menyingkir dari hadapan ku! jangan halangi jalan ku, sialan!" teriak Damian mendorong tubuh Lucas. Tidak peduli jika pria itu terhempas kebelakang.


"Ef dengarkan aku, mandilah! aku akan mengobati lukamu nanti. Sebelum kau bersih, kau tidak boleh menemui kakak ipar."


“Apa hak mu melarang ku menemui istriku?”


"Kau bisa membuat kakak ipar terkontaminasi kuman. Jadi bersihkan dirimu Ef, selagi itu aku akan memindahkan kakak ipar ke kamar VVIP!" kata Lucas sembari mengatupkan kedua tangan. Memohon pada Damian untuk mendengarkannya kali ini saja.


Bruk! Damian memukul dinding, sebelum pergi menuruti perintah Lucas. Sementara itu Agatha memberanikan dirinya mendekat dan bertanya.


"Bagaimana keadaan putriku nak?" Lucas termangu. Bibirnya membisu tak berani menatap mereka.


"Jelaskan! jangan diam saja!" Hans ikut menyahut, membuat Lucas tersentak kaget.


"Paman, Bibi! kakak ipar keguguran!" Agatha mundur beberapa langkah. Tidak percaya dengan apa yang dikatakan Lucas barusan.


"Tusukan pisaunya terlalu tajam sampai mengenai plasenta! kakak ipar juga kehilangan banyak darah, beruntungnya rumah sakit ini memiliki sampel darah yang sama dengan golongan darah kakak ipar." lanjut Lucas membuat kedua orang itu shock berat.


"Lalu apa sekarang dia baik-baik saja?" Lucas menggeleng.


"Aku harus terus memantau perkembangannya selama dua puluh empat jam. Aku berharap selama dua puluh empat jam ini kalian berdoa. Semoga saja kakak ipar bisa melalui masa kritisnya!" Agatha meremat bahu suaminya. Tidak kuasa menahan tangis.


“Honey, bagaimana cara kita memberitahu Ef. Dia pasti hancur dan menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang terjadi.”


“Bibi, biar aku yang memberitahu Ef. Aku yakin perlahan dia akan menerima kenyataan. Ef pria kuat, tidak mungkin dia berlama-lama terlarut dalam kesedihan.” Hans mendongak, menatap Lucas dan mengangguk penuh harap.


Setelah berkata demikian, Lucas pun pamit pergi untuk mengobati sekaligus memberitahu keadaan Grace pada Damian.


...🦋🦋🦋🦋...


"Kau disini?" tanya Damian. Lucas berdiri dari tempatnya duduk. Mengeluarkan obat dari kotak P3K tanpa menjawab pertanyaan Damian.


"Hei aku bertanya!” ketus Damian kesal, menendang lemah kaki Lucas.


“Tentu saja mengobati mu bodoh, kau pikir aku sedang memancing ikan, konyol sekali kau!” Damian menatap datar Lucas.


“Kemari!” pinta Lucas, mau tidak mau Damian menurut. Lukanya perlu dibersihkan. Damian pun duduk manis di atas ranjang membiarkan Lucas memainkan alat kedokterannya.


“Ef ada sesuatu yang ingin aku katakan mengenai kakak ipar!” Damian langsung menoleh, memandang lucas serius.


“Ck, aku belum menyuruhmu berbalik!” seru Lucas kesal. Memelintir kepala Damian kembali dan menyelesaikan pekerjaannya.


“Selesai!” seru Lucas senang, kemudian merapikan peralatannya.


“Bagaimana keadaan istri dan anakku. Apa mereka baik-baik saja?” akhirnya pertanyaan yang membuat Lucas panik terlontar dari bibir Damian.


Dokter muda itu membisu, lidahnya terasa keluh. Takut Damian mengamuk setelah mendengar kabar buruk.


“Jawab aku sialan, kenapa kau diam?” bentaknya marah karena Lucas hanya diam menatap lantai marmer yang di pijak.


“Ef, mungkin yang akan aku katakan nanti tidak akan menyenangkan mu. Jadi aku mohon tenanglah, dan tahan amarah mu!" ujar Lucas dengan suara rendah. Damian semakin gugup, jantungnya berdetak tak karuan.


“Jangan bertele-tele, katakan bagaimana keadaanya bedebah!” Lucas menarik napas panjang. Merilekskan diri, sebelum duduk bersanding disebelah Damian.


"Ef kakak ipar, dia.. dia.. keguguran. Kami sudah berusaha melakukan yang terbaik, tapi takdir berkata lain. Putrimu tidak tertolong!" Damian membeku, tangannya terkepal.


Perih, nyeri semuanya bercampur menjadi satu. Jantung Damian seperti ditusuk-tusuk oleh ribuan jarum.


"Putri?"

__ADS_1


"Yah Ef, anak yang berada dalam kandungan kakak ipar berjenis kelamin perempuan."


"Kau bercanda, ini tidak lucu. Anakku tidak mungkin mati. Jangan permainkan aku, jika kau tidak ingin seluruh keluarga mu habis ditangan ku!" katanya sambil mencengkram jas putih yang dikenakan Lucas.


"Ef kau gila? tidak mungkin aku bercanda disaat-saat seperti ini!" sentak Lucas, tatapan matanya memandang Damian sendu.


Ia tahu sahabatnya shock sedang sekarang. Tidak mungkin tidak. Apalagi setelah mendengar calon anak mereka sudah meninggal dalam kandungan. Pasti amarah dalam dirinya berkobar sekarang.


"Maafkan kami Ef, kami sebagai dokter sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi sepertinya tuhan lebih menyayangi putrimu dan mengambilnya lebih awal."


"Lalu Grace, bagaimana dengan wanita ku. Dia baik-baik saja kan?"


"Aku tidak bisa memastikan keadaan kakak ipar, sekarang dia masih kritis. Dia terlalu kehilangan banyak darah, berdoa saja supaya kakak ipar sadar dalam waktu dua puluh empat jam ini." jelas Lucas, membuat Damian tertawa lalu menatapnya tajam.


"Kau sebut dirimu seorang dokter? kau tidak bisa menyelamatkan putriku bahkan kau tidak bisa memastikan keadaan istriku. Berhentilah menjadi dokter karena kau tidak layak." ucap Damian dingin, menghina Lucas.


Saat ini ia benar-benar sedih dan marah atas kematian anaknya. Juga sekarang istrinya berada diambang kematian. Lucas bisa mengerti itu.


Damian melepaskan cengkeramannya, bibir dan pupil matanya bergetar. Tes! setitik air jatuh dari kelopak mata Damian.


Hari ini Tuhan memberikan rasa sakit yang luar biasa. Putri yang diharapkannya pergi jauh, bahkan sebelum ia merasakan tendangan dan suara detak jantungnya.


Karma, apa ini hukuman atas dosa-dosa yang ku perbuat. Aku sering melayangkan nyawa orang dan sekarang tuhan melayangkan nyawa putri ku. Jika iya kenapa Tuhan tidak memberikan hukuman padaku saja, misal dengan menukar nyawaku


Kenapa harus penderitaan yang lebih sakit dari pada kematian. Grace maafkan aku, aku tidak bisa melindungi mu ataupun anak kita. Aku tak pantas disebut ayah ataupun suami yang baik. Maafkan aku Grace, apa yang harus kukatakan padamu nanti.


"John Emilius, aku akan melenyapkan seluruh keturunanmu tanpa sisa. Kau telah mencelakai istriku dan melenyapkan putriku. Kau bedebah sialan!"


Damian menghapus sisa air mata di pipi. Bangkit dari atas ranjang, keluar dari kamar dengan perasaan marah. Aura membunuh seakan mengitari dirinya membuat orang-orang yang dilewatinya merinding.


"Ef kau mau kemana?" Agatha menghentikan langkah Damian dengan menahan lengan putranya itu.


"Aku akan melenyapkan seluruh keturunan John, kenapa? apa mom akan menghentikan ku. Coba saja, aku tidak akan pernah mundur kali ini. Mereka semua harus membayar atas nyawa putriku!" dingin Damian.


"Mommy tidak akan mengentikan mu nak. Tapi, coba pikirkan bagaimana perasaan istri mu. Dia pasti tidak ingin kau membunuh orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian ini. Renungkan Ef, kau sudah kehilangan anak. Apa kau ingin kehilangan Grace juga?" bentak Agatha, tidak ingin Damian menambah musuh dan membuat kehidupan menantunya kembali terancam.


Cukup lama Damian terdiam, "lalu aku harus bagaimana mom. Aku tidak bisa melindungi mereka berdua. Aku ayah dan suami yang buruk!" Damian memeluk ibunya, menumpahkan tangis dalam pelukan sang ibu.


Tidak peduli jika mereka mengatainya pria lemah. Tapi hari ini Damian benar-benar terpuruk. Membutuhkan sandaran yang kuat. Hanya ibunya lah yang mampu menenangkan dirinya.


"Bersabarlah nak, mommy yakin tuhan akan memberikan ganti yang lebih baik. Jadi berhentilah menyalahkan dirimu, karena ini bukan kesalahan mu. Kau ayah dan suami yang baik. Mom yakin Grace juga sependapat dengan mommy!"


Hans hanya diam memeluk cucunya, sesekali menangis melihat putranya hancur karena kehilangan putri yang di nanti-nanti.


Ini pertama kalinya, Hans melihat Damian menangis dan selemah ini. Membuktikan sekali jika Grace adalah hidup dan matinya.


Semoga tuhan memberikan keajaiban dengan membuat Grace siuman. Jika tidak, mungkin Damian akan mati secara perlahan.


"Grace, dimana putriku?" Daniel datang, berjalan cepat menghampiri mereka.


"Dimana Grace, apa dia baik-baik saja?" tanya Daniel dengan suara kesal.


Tak dapat di pungkiri bahwa Daniel kecewa dengan Damian karena dia gagal melindungi putri malangnya.


"Grace kritis tuan, dia kehilangan bayinya karena insiden itu." Daniel terkejut, berpegang pada dinding rumah sakit. Kakinya melemah, Putri tercintanya koma. Padahal Daniel ingin memeluk Grace, begitu sampai disini. Ia begitu rindu pada putrinya.


Grace seandainya waktu bisa Daddy putar kembali. Daddy ingin membesarkan mu dan memberikanmu banyak cinta.


Perasaan bersalah ini, masih ada dalam hati Daddy. Hidup mu menjadi seperti ini karena keegoisan Daddy. Maafkan Daddy! karena Daddy tak bisa memberikan kebahagiaan dalam hidup mu nak.


TBC


Hai gaes maaf author baru up, tetap stay disini ya. Besok author up episode terakhir dan ekstra chapter nya ☺️☺️☺️☺️😭😭😭😭


Gimana Gaes seru nggak? komen ya dibawah 🙂🙂


Jika menurut kalian karya author bagus silahkan vote dan kasih hadiah, jika jelek gak usah author gak memaksa tapi like dan komen ya makasih! 🙂🙂🤗🤗🤗

__ADS_1


warning!


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius🙏


__ADS_2