Mr Billioneire Wife

Mr Billioneire Wife
Belle and Keenan 3 (Revisi)


__ADS_3

Lucas memperbolehkan Grace pulang setelah infus yang terpasang habis. Kini tampak tiga orang duduk dengan kebisuan yang sama. Tidak ada yang berniat membuka suara.


Ketiganya sama-sama sibuk dengan kegiatan masing-masing. "Atur jadwal pertemuan dengan CEO perusahaan GG. Aku tertarik dengan produk yang mereka tawarkan!"


Suara Damian memecah keheningan yang menyelimuti mobil tersebut. Pria itu melirik Grace sekilas sebelum akhirnya kembali fokus ke layar tablet.


"Baik sir!"


"Bagaimana dengan klien yang ku tinggal tadi, apa mereka membatalkan kerja samanya?"


Tidak masalah jika Damian kehilangan satu proyek. Lagi pula masih banyak perusahaan swasta ataupun negeri yang mau berkolaborasi dengan perusahannya. Kerugian sekecil itu tidak berarti apa-apa.


"Tidak Sir, mereka memaklumi kekhawatiran anda. Mereka mengajukan janji rapat lagi Sir!" jawab Adam. Menatap Damian lewat kaca spion. Damian mengangguk mengerti.


"Persiapkan semuanya dan hubungi mereka untuk datang ke perusahaan besok tepat setelah jam makan siang!" titah Damian.


"Baik, saya akan mengabari mereka nanti!"


Lagi-lagi Damian melirik ke arah Grace. Kebisuan wanita itu membuatnya frustrasi. Dia berharap wanitanya itu mau berbicara.


Hingga mereka tiba di mansion pun Grace masih diam. Bahkan Grace masuk terlebih dulu tanpa menunggu Damian.


"Grace!" sapa Ara begitu melihat saudari iparnya masuk dengan mata sembab.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Ara khawatir. Merasa bersalah sudah mengajak Grace pergi sampai-sampai membuat wanita itu kelelahan.


"Aku baik-baik saja Ara!" jawab Grace singkat. Matanya menelusuri ruangan mencari keberadaan Belle. Namun, matanya hanya mengunci sosok bidadari mungil yang bermain bersama putra dan keponakannya.


"Kak Belle belum pulang?" tanya Grace gugup. Dia menggosok jari jemarinya dengan kencang. Raut kecemasan terlihat sekali di sorot mata indahnya.


"Seharusnya aku yang menanyakan itu padamu Grace. Sejak kau bicara empat mata dengannya, Belle masih belum kembali sampai sekarang!"


jantung Grace yang tadinya berdetak normal sekarang terasa ingin copot dari sarangnya. Apa Belle masih berada di kediaman Keenan.


Aku harus menelponnya, namun baru saja dia menempelkan ponsel ditelinga. Damian lebih dulu menyahut dan mematikan panggilan tersebut. Wajahnya terlihat geram bercampur muak. Damian tidak senang melihat Grace mencampuri urusan orang lain.


"Kau harus istirahat!" tegas Damian tidak terbantahkan. Matanya menatap Grace lekat membuat wanita itu merasa terintimidasi. Tidak punya pilihan akhirnya Grace menuruti kemauan suaminya dari pada harus menerima hukuman.

__ADS_1


Ara menatap kepergian kedua orang tersebut dengan tatapan penuh tanda tanya. Sebenarnya gerangan apa yang membuat pasangan itu terjebak dalam perang dingin.


...🦋🦋🦋🦋...


Dikamar utama Grace duduk dipinggiran kasur seraya melamun. Pikirannya tertuju pada keadaan kakaknya sekarang.


Berbeda dengan Damian, pria itu berdiri di balkon kamar. Mematik sebatang rokok dan menikmati secangkir kopi. Sudah lama Damian tidak menghisap bahan nikotin itu.


"Ef!" panggil Grace lemah.


Damian menoleh, lalu tersenyum sumringah saat mendengar Grace memanggil namanya. Ia menghembuskan pelan asap rokok untuk yang terakhir kali. Sebelum akhirnya menginjak batang rokok yang masih panjang itu.


"Kau butuh sesuatu?" tanya Damian seraya kembali masuk ke dalam kamar.


"Tidak, aku tidak membutuhkan apapun. Aku hanya ingin bicara sebentar dengan mu!" lirihnya. Mengelak tubrukan mata abu Damian.


"Katakan!"


Seperti mulai mengerti arah pembicaraan Grace. Damian memberikan Grace kesempatan untuk berbicara.


"Ef!"


Helaan napas berat terdengar ditelinga Grace. Lagi-lagi Damian terpancing emosi. Namun, kali ini mencoba bersabar sembari menasihati Grace dengan cara baik-baik.


"Grace dengarkan aku, jangan memikirkan hal-hal yang tidak perlu. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Keenan tidak sekejam itu sampai-sampai menyakiti wanita yang melahirkan anaknya. Sama seperti ku mungkin Keenan juga akan luluh setelah melihat putrinya!"


"Asal kau tahu anak dan pernikahan tidak pernah terbesit dalam pikiran ku. Aku menggunakan Xavier hanya untuk mengikatmu disisi ku untuk selamanya."


"Namun semua berubah setelah aku menatap wajah Xavier, hatiku menghangat ada rasa kebanggaan tersendiri karena aku sudah menjadi seorang ayah. Sejahat jahatnya seorang laki-laki mereka akan luluh jika sudah berhadapan dengan seorang wanita Grace."


"Yakinlah, Keenan dan Belle akan bahagia. Jadi jangan khawatirkan apapun, itu tidak baik untuk kesehatan mu dan juga kesehatan calon anak kita!"


Mendadak Grace membeku, tenggelam dalam lamunannya sendiri. Sampai akhirnya Damian menjentikkan jari, menyadarkan wanitanya itu dari bawah alam sadar.


"Kau benar Ef! mungkin kecemasan ku tidak beralasan. Seharusnya aku yakin dengan rencana tuhan, sama sepertiku Belle akan merasakan indahnya kehidupan nanti setelah waktunya tiba. Kenapa aku tidak bisa mengubah pola pikir ku, kau selalu mengalah sedangkan aku gemar membantah semua perkataan mu!"


Damian tersenyum menawan, "kau tidak akan pernah menjadi dewasa Grace. Karena bagiku kau akan selalu menjadi bayi nakal ku yang suka memberontak dan bersikap kekanak-kanakan!"

__ADS_1


"Sekarang tidurlah, aku akan menemanimu disini!" kecupan-kecupan lembut Damian hadiahkan disekitar wajah wanitanya. Ia menarik selimut sampai ke dagu Grace. Mengelus kepala Grace sampai wanita itu benar-benar tertidur.


"Selamat malam my wife!"


...🦋🦋🦋🦋...


Bercinta selama berjam-jam membuat Belle tertidur dengan sangat lama. Wanita itu terbangun dari tidurnya pada jam 7 malam.


"Jam berapa sekarang?" gumam Belle bertanya-tanya.


"Jam 7 malam! kau bisa tidur lagi jika mau!" sahut Keenan.


Sontak Belle melebarkan matanya. Bergegas wanita itu beranjak dari tempat tidur. Meraih bajunya yang teronggok begitu saja di bawah lantai dan memakainya dengan cepat.


"Antar aku pulang!"


"Kenapa tidak tinggal sampai esok hari?"


"Kau lupa, aku punya anak yang harus di urus!" jawab Belle ketus. Untuk kesekian kali, Belle kembali terpesona dengan ketampanan Keenan.


Keenan memang tidak sekaya Damian ataupun Peter. Tapi wajah Keenan lebih tampan dari dua pebisnis tersebut.


"Puas memandangi ku? aku tahu aku memang sangat tampan!" Belle terlonjak kaget. Segera ia mengalihkan pandangan kearah lain.


“Siapa yang memandangi mu, jangan terlalu percaya diri itu tidak baik!" elak Belle. Pipinya memerah, malu karena kepergok menatap Keenan tanpa izin.


Keenan tidak menanggapi. Sedikit kecewa mendengar Belle tidak mau mengaku. "Aku akan mengantarmu setelah aku mandi!"


Kepergian Keenan membuat batin Belle bersorak Bahagia. Belle kembali merapikan rambut dan make up-nya. Jangan sampai dia terlihat menyedihkan di mata keluarganya nanti.


"Maaf nak, ibu tidak bisa memberikan mu kasih sayang seorang ayah. Pria itu menolak kehadiran mu. Tapi tidak masalah, ibu ada disini. Ibu akan memberikan mu kebahagiaan, bahkan tanpa kehadiran sosok seorang ayah."


TBC


warning!


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. 🙏!!!!!!

__ADS_1


__ADS_2