
Damian berdecak kesal, lalu membuang pisau lipat ke sembarang arah. Dengan perasaan kesal Damian menapakkan kakinya keluar dari gudang usang itu. Gagal sudah rencananya untuk bersenang-senang. Penghianat memilih membunuh dirinya sendiri dari pada di siksa.
"Cari tau siapa dalang di balik kejadian ini. Aku tidak mau tau bagaimanapun caranya, kau harus membawanya ke hadapan ku dalam keadaan hidup-hidup!"
"Baik sir!"
"Pergi dan temui semua pegawai yang terkena imbas, besok. Sampaikan permintaan maaf ku dan berikan mereka asuransi sesuai dengan yang tertulis di kontrak kerja!" lanjut Damian sebelum akhirnya masuk kedalam mobil sport keluaran terbaru.
"Baik, semua yang anda perintahkan akan segera saya laksanakan!" balas Adam sopan. Setelah mendengar jawaban sekertaris, Damian langsung menginjak pedal gas.
Malam ini, Damian ingin bersenang-senang. Kekacauan yang terjadi sudah cukup membuatnya depresi. Damian butuh hiburan, karena itu dia pergi menuju klub terdekat untuk minum-minum
Sudah lama Damian tidak menginjakkan kakinya di tempat haram ini. Sejak Grace kembali masuk kedalam hidupnya, Damian jarang datang ke klub malam. Waktunya habis di pakai bermesraan bersama dengan Grace di mansion.
Suasana klub terasa begitu asing bagi Damian setelah sekian lama tidak menampakkan diri di klub malam. Dentuman musik terdengar begitu keras di tambah orang-orang asik berjoget di lantai dansa. Tanpa sadar Damian menyunggingkan senyum tipis, rasa rindunya akan Dunia malam sudah terpenuhi kini.
Damian memesan ruang VIP, tidak ingin di ganggu kupu-kupu malam yang sudah siap mengeluarkan pesona untuk memikat mangsa. Sudah menjadi tradisi di keluarga Wilson, seorang pria harus setia pada satu wanita.
Karena itu Damian memesan ruangan pribadi. Ingin menghilangkan rasa lelah dengan mabuk-mabukan dan merokok sendirian. Dua kebiasaan buruk itu sangat sulit di hilangkan. Seolah Damian sudah sangat kecanduan.
Sesuai dengan permintaannya, seorang bartender datang membawa nampan berisi sebotol sampanye dan beberapa butir es batu. Tidak ada wanita sewaan ataupun tamu VIP lainnya. Satu ruangan full Damian sewa untuk semalam penuh.
Setelah bartender pergi, Damian langsung menikmati sampanye tersebut. Meneguknya sedikit demi sedikit dan menikmati setiap resapan.
Sesekali Damian memeriksa ponselnya. Melihat banyak notifikasi masuk, bibirnya tersungging ke atas. Apalagi notifikasi itu berisi panggilan tidak terjawab dari Grace.
Damian mencoba menghubungi Grace kembali. Namun, nomornya sudah tidak aktif kini. Damian melirik jam tangannya sejenak, melihat jarum jam sama-sama berhenti di angka dua belas membuatnya paham. Grace mungkin sudah tertidur sekarang. Hilang sudah kesempatan untuk mengobati rasa rindunya.
Tidak ingin kepikiran, Damian mengirim pesan singkat ke nomor Ellie. Menanyakan keadaan Grace di sana. Setelah Ellie membalas pesan dan berkata jika Grace baik-baik saja Damian baru merasa tenang. Handphonenya kembali tergeletak begitu saja di atas meja.
Damian kembali menikmati Sampanye, tak lupa juga mematik rokok. Dua kegiatan itu Damian lakukan secara berulang-ulang. Bahkan setelah mabuk Damian masih memesan minuman. Pokoknya malam ini dia harus minum sampai pingsan. Kesempatan tidak datang dua kali. Karena itu Damian tidak ingin menyia-nyiakannya.
...🦋🦋🦋🦋...
__ADS_1
Malam telah berakhir, matahari kembali menaiki tahta. Menebarkan cahayanya ke seluruh dunia. Bias cahaya masuk ke dalam sela-sela jendela. Menerpa wajah cantik Grace. Membangunkan wanita itu dari mimpi indahnya.
Grace merubah posisinya menjadi duduk. Matanya terarah pada Xavier kini. Anak kecil itu sudah bangun dan berusaha turun dari ranjang.
Hari ini Grace sendiri yang akan memandikan Xavier. Sebelum itu, Grace merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Terkadang juga menguap karena masih mengantuk.
Dia tidak bisa tidur kembali, Xavier harus segera mandi. Grace mengumpulkan nyawanya secara paksa. Lalu, menggendong Xavier menuju kamar mandi.
Dengan Hati-hati meletakkan Xavier kedalam bathub, mengatur suhu air menjadi lebih hangat dan menyalakan keran. Xavier terlihat senang berendam di dalam bathub. Apalagi setelah Grace memasukan dua mainan berbetuk bebek. Xavier tidak ingin keluar dan ingin menetap.
Melihat Xavier anteng, Grace mulai mengambil sabun mandi. Menggosok kulit sensitif Xavier dengan Hati-hati. Merasa sudah bersih, Grace membawa Xavier keluar.
Membalutnya dengan handuk khusus. Kemudian meletakkannya di atas ranjang. Grace hendak mengambil bedak, minyak kayu putih dan pakaian untuk Xavier.
"Nyonya, boleh saya masuk?" tanya Ellie di luar sana. Grace mengiyakan tanpa menolehkan pandangan. Matanya sibuk memilih baju untuk Xavier.
"Sarapan sudah siap nyonya," katanya memberitahu.
"Sebentar, aku masih belum mandi!"
"Aku tidak ingin merepotkan mu!" sahut Grace.
"Saya tidak merasa direpotkan nyonya. Sudah menjadi tugas saya untuk melayani nyonya rumah ini!" mendengar jawaban Ellie, Grace tersenyum malu. Sedikit senang mendengar Ellie menyebutnya sebagai nyonya rumah. Itu berarti statusnya sebagai istri Damian tidak bisa di ganggu gugat.
"Kalau begitu aku serahkan Xavier pada mu. Aku akan membersihkan diri dan segera turun untuk sarapan!" ucap Grace. Menyerahkan satu setel pakaian mini ke tangan Ellie.
"Baik nyonya!" Setelah itu Grace bergegas mengambil handuk dan pergi mandi.
...🦋🦋🦋🦋...
Setengah jam berlalu, Grace sudah siap dengan pakaian rumahannya. Aroma cherry blossom mendominasi ruang makan. Entah berapa banyak Grace menyemprotkan parfum pada pakaiannya. Sampai-sampai aromanya begitu menyeruak di Indra penciuman.
Para pelayan mansion berdiri menyambut kedatangannya. Sepi, kali ini Grace tidak mungkin bisa menikmati sarapannya. Damian tidak ada, hanya ada Xavier saja. Biasanya Damian duduk di ujung sana, menikmati sarapan sembari menatap wajahnya.
__ADS_1
"Anda ingin makan apa nyonya?" Ellie terpaksa bertanya kala melihat Grace diam tanpa berniat menyentuh makanan sedikitpun. Hidangan yang tersaji tidak bisa menggugah rasa laparnya.
"Aku tidak berselera Ellie. Tolong potongkan buah untuk ku. Juga buatkan bubur dan susu untuk Putra ku. Aku menunggu mu di kamar ku!" ucapnya. Beranjak dari tempat duduk, menggendong Xavier hendak membawanya ke kamar.
"Nyonya, setidaknya makanlah sedikit. Mr Wilson akan memarahi kami jika anda tidak memakan sarapan anda!" berusaha membujuk. Berharap Grace kasihan dan kembali duduk di ruang makan.
"Baiklah, aku akan memakan steak ini. Selebihnya bagikan saja pada pelayan mansion. Jangan di buang, karena semua itu masih belum ku sentuh." perintah Grace. Seketika Ellie menampilkan wajah ceria.
"Hari ini saya membuat pancake kesukaan anda. Apa anda yakin ingin makan steak saja?" langkah Grace terhenti. Lalu, menoleh kebelakang menatap Ellie dengan penuh minat.
"Kalau begitu bawakan satu untuk ku!" malu-malu Grace menjawab. Ellie semakin menampakkan senyum sumringah. Senang mendengarkan Grace mau mencicipi pancake buatannya.
"Baik nyonya, saya akan segera menyiapkan pesanan anda!" setelah mendengar Jawa Ellie. Grace kembali melanjutkan langkah. Menggendong Xavier ke lantai paling atas dimana kamarnya berada.
Tepat setelah pintu terbuka, handphonenya berdering kencang. Damian menelpon, Selamat pagi babe, kau merindukan ku?" tanya Grace manja.
".... " Tidak ada jawaban. Sepertinya Damian terkejut mendengar kata-katanya barusan.
"Kenapa diam, sariawan kah?" ketus Grace kesal. Asal menebak membuat Damian tergelak di seberang sana.
"Maaf baby, aku ingin mendengar kata-kata pedas mu tadi!"
"Andai kau ada di hadapan ku sekarang. Aku pasti melenyapkan mu!" Damian semakin mengeraskan tawa. Kekesalan Grace semakin bertambah, tetapi wanita itu tidak berniat mengakhiri panggilan.
"Aku akan segerakan pulang. Apa kau ingin sesuatu? aku akan membawakannya nanti!"
"Aku tidak menginginkan apapun Ef. Kau pulang dalam keadaan selamat sudah cukup membuat ku senang!" tutur Grace, mengatakan isi hatinya. Tidak tahu bahwa perkataannya itu benar-benar meluluhkan hati Damian.
"Aku akan segera pulang Grace. bersabarlah sedikit lagi. Aku akan membawakan mu banyak coklat nanti!"
"Baiklah, terserah kau saja. Intinya kau harus cepat pulang ya. Asal kau tahu aku sudah sangat merindukanmu!"
"Hm, kalau begitu tunggu aku pulang. Aku akan memberi mu servis terbaik nanti!"
__ADS_1
TBC