Mr Billioneire Wife

Mr Billioneire Wife
Perjalanan (Revisi)


__ADS_3

Setelah menyelesaikan semua persiapan. Hari yang di nanti akan segera tiba. Dua hari lagi Steven dan Ara resmi di nyatakan menjadi pasangan suami istri.


"Ef, bangunlah. Bukankah kita harus pergi ke Milan sekarang. Dua hari lagi pernikahan Steven dan Ara di selenggarakan." Grace mengguncang tubuh Damian kuat. Mencoba membangunkan pria tampan itu.


"Satu jam lagi Grace. Aku lelah setelah bekerja semalam penuh!" rengek Damian bak anak berusia satu tahun. Grace sendiri heran, sebenarnya proyek apa yang Damian kerjakan sekarang sampai-sampai membuat pria itu sering bekerja lembur beberapa hari ini.


Pagi-pagi sekali Damian selalu berangkat kekantor tanpa pamit ataupun membangunkan dirinya. Begitu pula sebaliknya saat pulang Damian tidak pernah tepat waktu, selalu larut malam bahkan dini hari.


“Kalau begitu aku akan pergi bersama Adam, kau tidurlah dengan nyenyak. Aku akan menyuruh sekertaris mu mengantarku ke sana.” kesalnya meninggalkan Damian yang masih menyipitkan mata.


"Satu saja kau melangkah keluar dari kamar ini. Maka kita tidak akan pergi ke sana sekarang ataupun nanti!" langkah Grace terhenti begitu saja. Seolah ancaman Damian barusan benar-benar mengintimidasi dirinya.


"Selalu saja begini!" geram Grace. Mau tidak mau harus mengurungkan niatnya dan kembali duduk di pinggiran ranjang.


"Aku akan bersiap-siap sebentar. Jadi tunggu aku sebentar!" Damian menguap panjang, lalu merenggangkan otot-ototnya. Sebelum akhirnya masuk kedalam kamar mandi.


"Aku menunggu di lantai bawah ya!" teriak Grace. Keluar dari kamar tanpa menunggu jawaban Damian.


Sembari menunggu Damian selesai bersiap-siap. Grace membantu Ellie menyiapkan Xavier.


"Biarkan aku yang menyiapkan Xavier. Kau siapkan saja obat-obatan ku. Tolong ya!" kata Grace dengan senyum tipis.


"Baik nyonya, anda tidak usah sungkan meminta tolong pada saya!" balas Ellie sebelum menapakkan kakinya keluar dari kamar.


Grace sengaja menyuruh Ellie menyiapkan obat-obatan yang diresepkan Lucas tempo lalu. Jangan sampai kejadian terakhir kali terulang kembali dan membuat Damian marah sehingga enggan memperbolehkannya keluar mansion.


Tiga puluh menit berlalu. Damian turun dengan menggenakan pakaian kasual. Tanpa jas formal yang membuat mata Grace sakit karena bosan melihat penampilan formal Damian.


Aroma maskulin begitu menyeruak sampai-sampai tertangkap oleh indra penciuman Grace. Wanita itu sempat menoleh, mengulum senyum singkat sebelum membuang mukanya lagi.


"Kau mengabaikan ku, baby?" sungut Damian. Terdengar nada kesal yang ketara di suaranya.


"Aku tidak mengabaikan mu Ef. Lihatlah, aku masih sibuk memakaikan Xavier baju." jawab Grace tanpa menolehkan kepala.

__ADS_1


Hening, tidak ada jawaban yang terdengar. Damian duduk di pojok ruangan. Tatapan tajamnya mengamati setiap pergerakan Grace tanpa mengalihkan perhatiannya sedikit pun.


"Berhenti menatap ku Ef. Tatapan mu sangat menyeramkan!" tegur Grace kala mendapati sang suami menatapnya dengan tatapan tajam. Dan itu membuatnya merasa tidak nyaman.


"Salahkan dirimu karena membuat ku tergila-gila sampai ingin memakan mu saat ini juga, Grace." beranjak dari tempat duduk, lalu menghampiri Grace. Dan mendaratkan satu kecupan manis di ujung bibir Grace.


"Hentikan, apa kau tidak malu menjadi tontonan mereka semua?" sungut Grace kesal. Entah sudah Semerah apa pipinya sekarang. Sungguh perbuatan Damian benar-benar membuatnya malu.


"Apa kalian melihat ku mencium istri ku?" tanya Damian pada sekelompok maid yang berjajar rapi di belakang Grace.


"Tidak tuan!" jawab mereka serempak.


"Kau dengar? mereka tidak melihat apapun Grace. Jadi berhentilah bersikap malu-malu karena itu membuat ku ingin memakan mu!" sekali lagi Damian mengecup bibir Grace.


Grace semakin di buat kesal. Dahinya berkerut, pipinya sedikit menggembung. Bibirnya tidak terangkat sama sekali. Menandakan jika dia benar-benar marah pada Damian.


"Baiklah-baiklah maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi!"


"Bisa kita pergi sekarang?" tanya Damian.


Meraih Xavier dari tempat tidur. Menggendong anak berusia satu tahun itu dengan tangan kirinya.


"Ayo!" ajak Damian. Menggenggam jari jemari Grace dan mengajaknya pergi ke halaman belakang. Di mana pesawat pribadi mereka berada.


...🦋🦋🦋🦋...


Keheningan menyelimuti mengiringi perjalanan mereka. Grace masih memikirkan bekas lipstik yang ada di kerah kemeja Damian. "Grace!" panggil Damian.


"Ya!" sahut Grace lambat. Seolah tidak berniat mengobrol dengan Damian.


"Apa aku punya salah? kenapa mendiami ku?" tanya Damian pada akhirnya. Membiarkan Xavier duduk sendiri di kursi kosong yang ada di sampingnya.


"Boleh aku menanyakan sesuatu?" bukannya menjawab pertanyaan Damian. Grace malah balik mengajukan pertanyaan.

__ADS_1


"Tanyakan saja!"


"Apa kau tertarik pada wanita lain selain aku?"


Apa?


Damian di buat tidak percaya dengan pertanyaan Grace barusan. Apa-apaan ini, sejak kapan Damian bisa berpaling dari wanitanya.


"Kau meragukan kesetiaan ku huh?" dingin Damian. Grace mengedipkan matanya beberapa kali sebelum beringsut mundur, Takut.


“Bukan begitu Ef. Hanya saja sikap mu beberapa hari ini sangat aneh!"


"Aneh bagaimana Grace?" tanya Damian cepat. Faktanya seluruh waktu Damian di habiskan untuk bekerja dan bermesraan bersama Grace saja.


"Kau sering pulang terlambat dan berangkat terlalu cepat. Aku takut kau bermain gila di belakang ku, Ef." jawab Grace dengan raut wajah sedih.


"Aku mengerti kekhawatiran mu baby. Tapi percayalah aku tidak akan pernah menduakan ataupun mengkhianatimu. Jika perlu, ikut aku bekerja." ujar Damian.


"Aku tidak ingin membuat konsentrasi mu pecah Ef sama seperti Minggu-minggu lalu. Aku percaya kau tidak berselingkuh, tapi kabari aku saat kau pergi." memegang rahang tegas Damian dengan kedua telapak tangannya.


"Aku tidak bermaksud mengabaikan mu sebagai istriku Grace. Hanya saja, aku tidak ingin mengganggu waktu istirahat mu!" mengusap kepala Grace selembut mungkin.


"Kau adalah suami ku Ef. Aku tidak merasa terganggu karena mu. Lain kali kabari aku saat kau pergi!" Damian mengangguk lemah. Mengulum senyum tipis lalu mendaratkan ciuman di dahi Grace.


"Sesuai keinginan mu baby!"


Akhirnya kegelisahan yang memenuhi hati Grace menghilang dalam sekejap. Perjalanan yang tadinya terasa hambar. Kini mulai menunjukkan tanda-tanda kebahagiaan.


Setiap detik Damian dan Grace bermesraan. Kadang-kadang juga bermain bersama Xavier. Pemandangan keluarga Cemara itu tidak luput dari penglihatan Adam dan beberapa pelayan yang ikut dalam perjalanan tersebut.


Ketegangan yang terjadi antara Damian dan Grace telah selesai. Hanya ada canda tawa saja kini. Tapi tetap saja tanda merah itu masih menjadi misteri.


Grace tidak berani menanyakan hal itu sekarang. Dia tidak ingin merusak perjalanan mereka. Nanti saja setelah pesta pernikahan Steven dan Ara selesai. Grace akan menayangkan soal tanda merah dan lipstik itu pada Damian.

__ADS_1


TBC


__ADS_2