
Lelah menjaga Xavier selama beberapa jam lamanya. Damian memutuskan membawa Xavier ke kamar utama. Tepatnya di mana Grace berada. Damian berniat menyuruh Grace menidurkan Xavier.
Namun Damian mengurungkan niat by kala mendapati wanitanya sudah tertidur pulas. Mau tidak mau Damian menyuruh Ellie menidurkan Xavier.
Setelah itu Damian kembali lagi ke kamar utama untuk membersihkan diri. Damian merendamkan dirinya di dalam bathtub. Menikmati hawa dingin yang menyentuh kulit sembari menyesap segelas wine.
Aroma yang keluar dari lilin aromaterapi begitu merilekskan pikirannya. "Apa aku sudah bertindak keterlaluan tadi?" pikir Damian.
"Tapi Grace pantas mendapatkannya. Tingkah wanita itu benar-benar membuatku kesal!" gumam Damian lagi.
"Kali ini aku tidak akan minta maaf lebih dulu. Sudah cukup aku bersabar, Grace harus tahu batasan!" tekad Damian. Kemudian kembali meneguk minumannya.
Selesai mandi Damian memakai bathrobe. Sebelum keluar dari kamar, Damian lebih dulu memakaikan Grace selimut. Hari masih sore dan Grace sudah tidur senyenyak ini.
Dari sini Damian yakin Grace berjalan-jalan mengitari seluruh mall. Entah apa yang wanita itu beli.
Seusai menyelimuti Grace Damian pergi ke lantai bawah di mana Adam berada. Melihat Adam masih stay di tempatnya tadi membuatnya kagum sekaligus bertanya-tanya.
"Kau masih di sini?"
"Ya, saya menunggu anda Sir!"
Alih-alih merasa bersalah, Damian malah bersikap tak acuh. Tidak peduli seberapa lama Adam menunggu. Lagi pula Adam bekerja dan di bayar Damian. Lalu kenapa Damian harus minta maaf. Arogan dan egois, itulah sifat asli Damian.
"Ikut aku!" ajak Damian. Masuk kedalam bar mini yang terletak di samping ruang keluarga. Adam menghela napasnya sejenak sebelum akhirnya mengikuti Damian dari belakang.
"Sudah lama kita tidak minum bersama, malam ini ayo kita minum!" Damian duduk di salah satu sofa empuk bewarna putih.
"Ambilkan aku sebotol wine dan kau bisa memilih minuman apapun yang kau mau!" lanjut Damian. Adam mengangguk paham, lalu melangkah kakinya mengitari beberapa rak minuman yang berjajar rapi memenuhi ruangan.
Adam mengambil wine pesanan Damian. Tak lupa mengambil sebotol Vodka untuk dirinya sendiri. "Ini minuman anda Sir!"
__ADS_1
Meletakkan dua botol minuman dan dua gelas kaca dengan tangkai tipis dan bibir gelas sedikit lebih kecil.
Kecanggungan menyelimuti, kedua orang itu sama-sama terdiam di tempat duduk. Sibuk menikmati minuman masing-masing.
Sebenarnya Adam menunggu Damian bukan tanpa alasan. Adam mau menyampaikan undangan pertunangan Ara yang di kirimkan oleh Agatha.
Baru sehari tanggal pertunangan Steven dan Ara di tetapkan. Dan undangan yang dipesan langsung siap sebar. Entah bagaimana reaksi Damian nanti setelah tahu adik tercintanya akan menikah dengan kakak iparnya.
"Sir, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan!" Adam membuka pembicaraan.
"Ya katakan saja!" meletakkan gelas winenya di depan meja. Tatapannya beralih pada Adam kini.
Adam meraih undangan bewarna hitam yang di padukan dengan tulisan bewarna emas di dalam saku jas. Lalu menyerahkan undangan itu pada Damian.
"Undangan? siapa yang menikah?" tanyanya sembari mengamati nama mempelai yang tertera. Damian mengamati kata demi kata dengan cermat.
"Ini.." kata-katanya menggantung, Damian tidak bisa melanjutkan ucapannya setelah melihat nama mempelai yang tertera.
Ini bukan undangan pernikahan melainkan undangan pertunangan Ara- adiknya. "Sir, nyonya besar menitipkan undangan ini pada saya. Berharap anda dan nyonya muda bisa hadir dalam acara pertunangan nona Ara!"
"Menurut mu kenapa Ara mau menikah dengan Steven?" tanya Damian meminta pendapat sang sekertaris.
"Saya rasa nona Ara jatuh cinta pada kakak ipar anda Sir!" jawab Adam penuh pertimbangan.
"Secepat ini, hei mereka baru bertemu beberapa kali. Tidak mungkin Ara langsung jatuh cinta pada Steven." cecar Damian menolak atensi Adam.
"Tidak ada yang mustahil di dunia ini Sir. Seperti anda jatuh cinta pada pandangan pertama, sepertinya adik anda mengalami hal serupa." sahut Adam menyanggah.
"Jangan samakan kisah cinta ku dengan kisah cinta mereka, Dam." Damian mendelik, tidak suka kisah asmaranya di samakan dengan kisah asmara orang lain.
"Sepertinya anda harus menanyakan masalah ini pada tuan dan nyonya besar. Karena semua jawaban saya selalu salah di mata anda!" sahut Adam pasrah.
__ADS_1
"Tidak mau, untuk apa aku mengurusi kehidupan orang lain. Kurang kerjaan sekali!" cibir Damian. Kembali meraih gelas wine, nenyesap minumannya sedikit demi sedikit hingga gelas itu kosong.
Sudah tukang memerintah, menyalahkan pula. Dasar bedebah sialan, ingin sekali aku memukul kepalanya agar otaknya kembali pada tempatnya.
"Terserah anda saja Sir!" pasrah Adam. Wajahnya terlihat tertekan oleh perangai Damian yang gampang berubah-ubah. Lelah, bekerja bersama Damian membuat waktu istirahatnya terbatas.
"Menarik, aku rasa aku setuju Steven menikahi Ara!" masih membahas soal hubungan antara adik dan kakak iparnya.
"Kenapa anda tiba-tiba menyetujui pernikahan mereka Sir?" tanya Adam menanggapi.
Tidak ada jawaban, senyum smirk nampak jelas di kedua sudut bibir Damian. Adam bisa tahu, pria itu sedang merencanakan sesuatu.
"Jika Steven menikahi Ara, bukankah dia harus menghormati ku sebagai kakak iparnya?" seru Damian. Menaik turunkan alisnya, seolah bangga sekali dengan yang dikatakannya barusan.
Adam menggaruk tengkuknya yang entah gatal atau tidak. Bagian bawah mata kirinya berkedut berulang-ulang. Mulutnya sedikit terbuka, Adam terkejut mendengar ide absurd Damian.
Konyol, kenapa Damian bodoh sekali dalam hal percintaan atupun hubungan kekeluargaan. Padahal Damian terkenal sebagai pebisnis cerdas dan bijaksana.
Pikiran Damian terlalu di luar nalar, hingga siapapun yang berbicara dengannya seperti mengerjakan soal matematika dengan rumus yang benar dan tepat namun akhirnya tetap tidak menemukan jawaban.
"Kapan acara pertunangan Ara di laksanakan?" tanya Damian.
Adam berdecak kesal, jelas-jelas hari, tanggal, tempat, dan waktu tertulis di kartu undangan. Lalu kenapa bos-nya itu tidak membacanya sendiri. Manja sekali.
"Untuk tanggal anda bisa melihatnya sendiri di kartu undangan sir. Saya mau pulang, bekerja bersama anda membuat saya pegal-pegal."ceplos Adam, setelah itu berlari terbirit-birit meninggalkan Damian sendiri.
Pyar! Damian melemparkan gelas ke arah Adam. Sayangnya Adam lebih cepat dari pada yang Damian kira.
"Dasar bedebah sialan, awas saja. Aku akan memotong gaji mu!" teriak Damian marah-marah.
TBC
__ADS_1
warning!
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius🙏