
Kepergian Steven membuat Grace sedih dan diselubungi perasaan bersalah. Ia menyesal sudah mengusir Steven dengan kasar. Seharusnya Grace membiarkan Steven tinggal lebih lama dan menjelaskan masalah ini secara detail.
"Sudah selesai bersedih?" tanya Damian. Entah sejak kapan pria itu berdiri di ambang pintu kamar. Grace menolehkan kepala, "Kenapa?"
"Ikut aku!" ujar Damian. Berjalan mendekat, meraih pergelangan tangan Grace dan menariknya ke luar kamar.
"Kau mau membawa ku kemana sih?" berusaha melepaskan cengkeraman Damian namun gagal karena kalah tenaga.
"Ikut saja, kau akan tahu nanti!" Damian melanjutkan langkahnya menuju lapangan terbang yang terletak di belakang mansion.
Betapa terkejutnya Grace saat mendapati sebuah pesawat terparkir rapi di tengah-tengah lapangan terbang itu. Jangan bilang Damian punya pesawat pribadi.
"Ini.." menggantungkan kalimat, tidak bisa melanjutkan kalimat. Masih mengagumi kekayaan sang suami. Grace masih tidak percaya, Damian memiliki lapangan penerbangan pribadi.
"Ayo kita masuk!" ajak Damian lagi. Membuyarkan lamunan Grace. Adam sendiri sudah duduk nyaman di dalam sana sembari memangku Xavier.
"Kau mau membawa ku kemana Ef?" Masih dengan pertanyaan yang sama. Penasaran, kemana-mana Damian akan membawanya pergi.
"Kita akan pergi ke Milan! seseorang mengundang kita untuk menghadiri pesta ulang tahunnya!" jawab Damian seraya menuntun Grace duduk di kursi penumpang.
"Laki-laki atau perempuan?"
"Perempuan!" Grace terdiam, ada sedikit gejolak api kecemburuan di dalam hati. Wajahnya bahkan terlihat sedikit suram.
Melihat wajah suram Grace, Damian terkekeh. "Kenapa diam? apa Jangan-jangan kau cemburu?" tebaknya. Sial, kenapa tebakan Damian selalu tepat sasaran.
"Wanita itu adik ku, Grace. Jadi jangan cemburu ya." mencium bibir Grace singkat, lalu membuang muka ke arah jendela. Sama-sama malu.
Di belakang sana, Adam menggerutu kesal. Melihat kedekatan sang majika memang hal yang membahagiakanmu. Tapi bukan berarti mereka harus melupakan Xavier dan menjadikannya sebagai pengasuh dadakan.
"Kenapa kau tidak bilang dari kemarin-kemarin, aku bisa menyiapkan sesuatu untuk adik mu!" sungut Grace kesal. Tidak ingin di cap kakak ipar pelit karena tidak membawa hadiah.
"Aku sudah menyiapkannya, kau tinggal pilih saja!" menyerahkan katalog perhiasan dari brand ternama. "Apa ini?"
Mulai membolak-balikkan buku bergambar itu. Sedikit melongo tatkala melihat harga perhiasan yang tertera. Harga perhiasan sebanding dengan harga satu unit mobil ferarri.
__ADS_1
"Ara suka mengoleksi perhiasan. Jadi pilihlah mana yang kau sukai!" ujar Damian. Ara? jadi namanya Ara. Nama yang indah, tapi bagaimana Grace bisa memilih. Ia tidak tahu selera Ara.
"Sebelum memilih, bisa ceritakan sedikit bagaimana Ara itu?" lantai Damian menaikan sebelah alisnya. Bingung mau memulai dari mana.
"Ara gadis sederhana, dia tidak mudah bergaul dan tidak memiliki banyak teman. Karena lahir dari keluarga kaya raya, banyak teman sekolahnya yang minder. Padahal Ara bukan gadis yang Pilih-pilih. Tidak peduli mereka dari kalangan bawah asalkan mereka tulus mau berteman, Ara siap menerima mereka dengan senang hati."
"Ngomong-ngomong berapa umur Ara sekarang?"
"Tahun ini 26!" Grace terbelalak, tidak menyangkal adik iparnya lebih tua darinya. Itu berarti Ara dan Rachel sepantaran.
Grace tak ambil pusing, memilih fokus pada katalog. Melihat desain perhiasan dan mencari sesuatu yang berbeda.
"Aku pilih ini saja!" menunjuk satu set perhiasan dengan desain sederhana namun terlihat elegan.
"Aku akan menyuruh Adam menyiapkannya nanti!" kata Damian seraya mengambil katalog itu kembali. "Dimana Xavier?" heboh sendiri. Baru sadar anaknya. menghilang.
"Xavier bersama saya nona!" teriak Adam di belakang sana. Tidak peduli dianggap lancang karena berteriak-teriak.
Lantas Grace berdiri dari tempat duduk dan berjalan menghampiri Adam. "Maafnya!" tersenyum kikuk. Merasa tidak enak sudah merepotkan Adam.
Tapi Adam sadar itu hal yang mustahil. Lagi pula Adam sudah terbiasa dengan perlakuan ini. Damian sering berlaku semena-mena karena dia atasan. Yang bisa Adam lakukan sekarang adalah bersabar sambil berdoa semoga Damian mendapat azab.
"Sepertinya tuan muda mengantuk nona!" seru Adam tatkala memergoki Xavier menguap lagi. Ini baru pagi hari dan Xavier sudah mengantuk. Aneh.
"Apa pesawat ini menyediakan susu formula?" tanya Grace. Sadar Xavier belum minum susu sejak bangun tidur.
"Saya sudah menyuruh mereka menyiapkan keperluan anda. Saya akan minta mereka membuatkan susu untuk tuan muda, nona!" Grace mengangguk. Membiarkan Adam pergi ke belakang, menemui pramugari yang berkerja.
Sementara itu, Grace kembali duduk ke tempat semula. Memangku sembari menepuk-nepuk punggung Xavier. "Tampan sekali putra mommy!" gumam Grace gemas. Mendaratkan ciuman berulang sampai dirinya puas.
"Tentu saja tampan, dia bibit unggul ku!" serunya. Membanggakan diri. "Aku yang mengandung!" ketus Grace, langsung membuat Damian terdiam seribu bahasa.
"Maaf mengganggu waktu anda, tapi tuan Adam meminta saya memberikan susu ini pada anda!" seorang pramugari cantik datang menghampiri, menyanggah obrolan yang terjadi antara Grace dan Damian.
"Terimakasih ya!" meraih botol susu itu, tak lupa mengucapkan terimakasih atas kerja keras pramugari itu.
__ADS_1
"Sama-sama nona!" pramugari itu pergi meninggalkan mereka berdua. Tidak ingin mengganggu pasangan itu lebih lama lagi.
Pelan-pelan Grace merubah posisi Xavier menjadi tiduran di gendongan. Mendekatkan empeng ke mulut mungil Xavier. Membiarkan anak itu minum sampai kenyang.
Damian sendiri memperhatikan pergerakan putranya. Senator melihat Xavier makan dengan lahap. "Ef, bisa aku menanyakan sesuatu?" Lantas Damian mendongakkan kepala. Mengangguk singkat, menatap Grace serius.
"Apa yang membuatmu ingin memiliki ku, sampai-sampai kau menjatuhkan saham perusahaan ayahku dan membuatku menikah denganmu?" ragu-ragu Grace melontarkan pertanyaan. Namun, rasa penasarannya jauh lebih besar karena itu Grace memberanikan diri.
Sekilas Grace bisa melihat senyum licik Damian terukir di kedua sudut bibirnya. Bukan menjawab, Damian malah mendekat. Mengikis jarak yang tersisa.
Tatapan tajam itu seolah tidak mau lepas begitu saja. Sampai-sampai membuat Grace terintimidasi. "Ke-kenapa kau menatap ku terus?" sangking takutnya sampai tergagap-gagap.
Dua sejoli itu selalu melupakan kehadiran Xavier. Keduanya tidak menyadari bahwa Xavier sudah tertidur lelap di pangkuan Grace.
"Aku hanya menatap mu dan kau sudah takut pada ku?" menaikan sebelah alis seraya menyunggingkan senyum kemenangan.
Damian mengangkat tangannya ke udara. Refleks Grace menutup mata, berpikir Damian akan melayangkan pukulan.Tetapi dugaannya salah, Damian mendaratkan usapan-ucapan lembut di puncak kepala.
Sangat lembut sampai membuat Grace terbuai dalam kenyamanan. Tidak sadar, tangan tersebut semakin lama semakin turun. Mulai bergerilya kemana-mana. Membuat Grace merintih tanpa sadar.
"Hentikan tingkah cabul mu dungu, kau membuat ku risih!" teriak Grace pedas. Membuat Adam dan beberapa pegawai kabin menggelengkan kepala. Tidak menyangka Grace seberani itu.
"Aku punya penawaran menarik, kau mau dengar?" seolah tuli dengan kecaman Grace, Damian malah membisikan penawaran.
"Apa?"
"Setelah berpesta serahkan dirimu padaku. Setelah itu, akan aku beritahukan alasan ku mengapa aku mau menikah dengan mu!" seperti biasa Damian bersikap manipulatif, selalu mencari kesempatan dalam kesempitan.
"Oke, aku menyetujui syarat mu. Setelah kau mendapat jatah, ceritakan alasannya. Jangan menipu ku!" peringat Grace. Damian mengangguk tiga kali sesekali cekikikan mendengar peringatan Grace.
Di belakang sana, Adam duduk dengan perasaan dongkol. Tidak bisakah pasangan itu duduk tenang tanpa melakukan hal tidak senonoh. Ingin rasanya Adam memaki keduanya dan menyuruh mereka masuk ke dalam kamar.
Sialan jika saja mereka bukan majikan ku sudah pasti akan ku lempar mereka dari atas sini. umpat Adam dalam hati.
TBC
__ADS_1