Mr Billioneire Wife

Mr Billioneire Wife
Steven dan Ara 2(Revisi)


__ADS_3

Pagi itu, setelah sarapan telah usai. Steven mengajak Alessio mengunjungi apartemen keluarga Ara. Keputusannya sudah bulat, Steven ingin membawa hubungannya dengan Ara ke jenjang serius.


Bukan hanya sebatas teman ataupun orang tua palsu Alessio saja. Steven mau mewujudkan kebohongan itu dengan menikahi Ara.


Kunjungan mereka di sambut baik oleh Agatha. Tapi tidak dengan Hans- ayah Ara. Pria paruh baya itu menampakkan wajah datar semenjak Steven datang.


"Kalian duduk saja, aku akan pergi membuat kopi!" ucap Agatha.


"Tidak usah bibi, aku singgah sebentar saja." larang Steven. Mengulas senyum tipis yang mana semakin membuatnya terlihat tampan.


"Baiklah!" Agatha pun duduk di samping suaminya, Hans Wilson.


"Di mana Ara?" tanya Steven ragu.


"Kenapa kau mencari putri ku?" sungut Hans cepat. Sontak jantung Steven berdetak kencang, sungguh ayah Ara sangat galak.


"Aku pulang!" belum sempat Steven menjawab pertanyaan Hans. Suara lebih dulu memotong pembicaraan mereka. Melihat barang bawaan Ara, Steven rasa gadis itu baru saja pergi berbelanja.


"Kau di sini?" tanya Ara seraya meletakkan barang-barangnya di atas meja makan.


"Hm, aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian semua!" jawab Steven.


"Katakan!" sentak Hans, bosan mendengar Steven berbasa-basi.


Steven terdiam sejenak, telapak tangannya terasa dingin. Jantungnya semakin berpacu cepat, Steven gugup.


"Jadi maksud kedatangan ku ke sini adalah untuk melamar putri mu, paman!" ucap Steven tegas. Semua orang tidak terkecuali Ara sekalipun sama-sama terkejut mendengar perkataan Steven.


Ara sudah menolak perasaan Steven kemarin. Tapi siapa sangka, pria itu bertindak nekat dengan datang menemui orang tuanya dan langsung melamar.


"Tidak bisa, aku menolak lamaran mu!"jawab Hans setelah terdiam cukup lama.


"Kenapa kau menolak lamaran ku paman? apa karena aku tidak sepadan dengan keluarga mu?" tanya Steven.


"Steven, daddy ku tidak serendah itu." sentak Ara. Sebab secara tidak langsung, Steven menuding ayahnya adalah pria materialistis.


"Aku tidak bermaksud menghinanya Ara, aku hanya bertanya!"


Hans mengamati Steven dengan sangat lama. "Aku yakin setelah kau mengetahui sebuah kebenaran tentang Ara, kau akan mundur dari niat mu!" sahut Hans.


"Aku sudah tahu paman. Hal yang kau maksud adalah Ara tidak bisa memberi ku keturunan kan? aku tidak mempermasalahkannya. Kami memiliki Alessio, bagi ku itu sudah lebih dari cukup!" jawab Steven dengan nada bicara dan raut muka serius.


Beralih pada Agatha, alih-alih memperhatikan perdebatan yang terjadi antara Steven dan suaminya. Agatha malah mengamati sikap Ara sekarang.


Gadis itu terlihat murung. Jelas sekali, Ara menginginkan hubungan ini. Sepertinya, Steven dan Alessio berhasil mengambil hati putrinya.


"Sayang, tenangkan dirimu. Dari pada kau mengambil keputusan dengan sesuka hati. Lebih baik tanyakan pendapat putri mu. Dia yang paling berhak mengambil keputusan untuk hidupnya sendiri!" saran Agatha. Wanita paruh baya itu merangkul lengan suaminya, sesekali mengusapnya dengan lembut.


Hans menghargai saran Agatha, karena itu dia menolehkan kepalanya ke samping. Di mana Ara duduk dengan kepala tertunduk.

__ADS_1


"Jawab pertanyaan ku nak. Apa kau menginginkan pernikahan ini?" tanya Hans lembut. Tidak membentak seperti tadi.


"Aku tidak tahu dad, yang jelas aku sangat menyayangi Alessio. Aku sudah menganggapnya seperti putra ku sendiri!" jawab Ara lirih. Kilatan kesedihan terpancar dari kedua kelopak mata.


"Jawab dengan jelas sayang, kau mau menikah atau tidak?" tanya Agatha lagi. Ara terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya kepalanya mengangguk tiga kali.


"Jadi kau lebih memilih Steven dari pada daddy mu?"


"Bukan begitu dad, aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu. Bagaimana rasanya membesarkan seorang anak. Aku tidak berniat meninggalkan mu demi pria lain. Cinta pertamaku masih tetap menjadi milikmu!" ucap Ara menjawab.


Sebuah jawaban singkat yang berhasil membuat Hans dan Steven terharu. Steven bisa mengerti kini. Bagaimana perasaan Ara setelah di nyatakan tidak bisa memiliki anak. Pasti wanita itu sangat terpukul dan sedih.


"Baiklah, karena Ara sudah setuju. Aku sendiri yang akan menyiapkan acara pertunangan dan pernikahan kalian!" seru Agatha bersemangat. Bersyukur karena Tuhan telah mengabulkan semua doa-doanya.


Ara telah menemukan pasangannya kini. Semua kesedihan dan penderitaan kini tergantikan dengan kebahagiaan saja.


Agatha sudah tidak menginginkan apa-apa lagi, cukup melihat putrinya bahagia sudah menjadi berkah terbesar dalam hidupnya.


"Aku benar-benar punya mommy sekarang?" tanya Alessio.


Ara mengulum senyum, lalu mengusap bekas air mata di kedua kelopak dan menggendong Alessio. "Bukan hanya mommy sayang. Kau juga memiliki kakek dan nenek!"


"Benarkah?"


"Tentu saja, kau mau memeluk mereka berdua?" tawar Ara dan diangguki Alessio.


"Kemari sayang!" pinta Agatha setelah Ara menurunkan Alessio dari gendongannya. Agatha juga merentangkan kedua tangan, menunggu Alessio datang dan masuk ke dalam pelukan.


"Apa kau hanya akan memeluk nenekmu saja nak, sini peluk kakek juga. Kakek menantikan pelukan mu Al!" ujar Hans, menerbitkan senyum tipis yang mengakibatkan garis kerutan di sekitar pipi dan dahinya. Tapi tetap saja Hans masih sangat tampan.


Alessio melepaskan tautan pelukannya, kemudian melompat ke pangkuan Hans dan memeluknya erat.


"Malam ini dad dan mommy pulang ke Milan. Kau tinggal saja di rumah Steven!"


"Kau yakin dad?"


"Tentu saja, aku ingin memberikan kalian waktu luang untuk saling mengenal." jawab Hans. Lalu mendaratkan ciuman beruntun di wajah Alessio.


"Terimakasih dad, aku sangat menyayangi mu!" Ara ikut memeluk Hans. Mengapit Alessio di antara mereka.


"Sama-sama sayang, dad harap kau bahagia setelah menikah dengan Steven nanti!" Hans mengusap rambut sepunggung Ara. Menyalurkan kasih sayangnya lewat usapan-usapan lembut itu.


"Kalau begitu aku akan mengemasi barang-barang kita!" seru Agatha dan Hans mengangguk sebagai jawaban.


...🦋🦋🦋🦋...


Sementara itu, di kota New York. Tepatnya di depan gerbang mansion Damian. Grace terlihat sibuk berdebat dengan seorang bodyguard berbadan besar.


Grace berniat pergi ke mall untuk menghabiskan uang Damian. sayangnya bodyguard mansion tidak membiarkannya pergi. "Maaf nyonya, anda tidak bisa keluar dari mansion tanpa izin Mr Wilson!"

__ADS_1


"Aku sudah di beri izin!" decak Grace kesal.


Bodyguard itu tidak percaya, terakhir kali mereka dibodohi oleh Grace dan berakhir di marahi majikannya.


"Kalian tidak percaya? baiklah aku akan menelfon bos kalian. Jadi buka telinga kalian lebar-lebar!"


Tut Tut tut! telepon terhubung." Halo babe? Tumben kau menghubungi ku?" tanya Damian yang sepertinya berada di tempat ramai sebab Grace bisa mendengar suara bising.


"Ef, boleh pergi keluar sebentar. Aku mau pergi berbelanja." Grace mengaktifkan last speaker, supaya dua bodyguard itu mendengar jawaban Damian.


"Tidak boleh, tunggu aku pulang. Aku akan menemanimu nanti!" sontak bodyguard itu menahan tawa. Grace di buat malu karena penolakan Damian.


"Ayolah Ef biarkan aku pergi, saat kau pulang aku pastikan kau akan mendapatkan servis terbaik dari ku." bujuk Grace tidak tahu malu.


Damian yang di tawari penawaran menarik seperti itu menjadi luluh. "Baiklah tapi-" Grace langsung memutuskan sambungan teleponnya dan menatap bodyguard itu dengan senyum penuh kemenangan.


"Sudahkan, sekarang menyingkir dari hadapanku!" perintah Grace ketus, akhirnya kedua bodyguard itu pasrah. Menyingkir dari jalan Grace dan membiarkan wanita itu pergi.


Grace melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak lupa juga memutar lagu-lagu pop yang sedang populer sekarang. Sepanjang perjalanan Grace bersenandung ria menikmati cerahnya mentari dan keramaian kota.


Kebebasan sangat menyenangkan ternyata.


...🦋🦋🦋🦋...


Setelah Grace mematikan sambungan telepon tanpa mendengarkan lanjutan kalimatnya. Damian langsung menampakkan wajah datar. Kesal dengan sikap pemberontak Grace


"Kita pulang!" ucap Damian pada Adam. Damian kehilangan moodnya dalam bekerja. Karena itu Damian ingin kembali ke mansion.


Terlepas dari betapa marahnya Damian sekarang. Grace malah asik berbelanja dan mengambil barang-barang dengan sesuka hati. Setelah selama, ia pergi ke restoran yang ada di lantai bawah mall.


Grace masuk kedalam restoran barbeque. Memesan dua porsi sekaligus untuk di nikmati seorang diri.


Grace meletakkan daging, sosis, dan beberapa tusuk sayuran ke atas panggangan. Terlalu asik memanggang, Grace sampai tidak sadar. Seorang pria duduk di kursi depannya seraya memperhatikan kegiatannya.


"Kita bertemu lagi Grace?"


Grace mendongakkan kepala, seketika napsu makannya menghilang. Kenapa tuhan selalu mempertemukan dirinya dan pria sialan ini.


"Mengecewakan sekali, asal kau tahu aku tidak berharap bertemu dengan mu lagi!" kata Grace pedas. Perkataannya itu berhasil menyakiti hati Alex.


"Kau begitu membenci ku sekarang?"


"Kalau kau sudah tahu, kenapa bertanya. Pergilah, aku muak melihat wajah mu!" usir Grace kasar.


"Cepat atau lambat aku pastikan kau akan menjadi milik ku Grace. Camkan itu!"


"Dalam mimpi mu dungu!"


TBC

__ADS_1


warning!


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius🙏


__ADS_2