
Kedatangan Alex membuat Grace memutuskan pulang ke mansion tanpa menghabiskan makanannya terlebih dulu. Semua kata-kata Alex masih terngiang-ngiang di kepalanya.
Dulu, Alex tidak sekasar dan seambis ini. Mungkin karena penipuan yang dilakukan Belle membuat pria itu sedih karena kehilangan cinta sejatinya.
Tapi kenapa harus Grace, dia sudah melanjutkan hidup dengan menerima kehadiran Damian. Dan Grace sangat amat mencintai Damian.
Kenapa Alex tidak mencoba melanjutkan hidup dengan belajar mencintai wanita lain. "Kau banyak beruba Alex. Aku tidak mengenal sosok mu yang sekarang!" gumam Grace sedih.
Grace terlalu memikirkan masalah di restauran tadi sampai tidak sadar mobil yang di kendarainya telah melewati gerbang mansion.
Melihat mobil Damian terparkir rapi di halaman depan membuat jantung Grace berdetak kencang. "Mati aku!"
Dengan langkah was-was Grace membuka pintu utama. Ceklek! begitu kakinya melangkah masuk, tiba-tiba semua lampu menyala secara bersamaan.
"Hantu!" teriak Grace tatkla melihat Damian duduk santai di sofa ruang tamu. Wajahnya terlihat sangat menakutkan, di tambah dengan rambut panjangnya yang berantakan.
"Maaf-maaf!" ucap Grace setelahnya.
"Kau sudah pulang? kau bilang kalian akan tinggal di kota Y selama tiga hari!" tanya Grace di iringi tawa renyah.
Tidak ada sahutan, Damian masih setia menatap Grace dengan tatapan tajamnya. Ragu-ragu Grace berjalan mendekat, tanpa di minta wanita itu memeluk Damian erat.
"Aku merindukan mu babe!" mencoba mengeluarkan jurus andalan. Biasanya Damian luluh hanya dengan perkataan manisnya saja.
"Aku tidak akan luluh, jadi tidak usah berlagak manis untuk menutupi kesalahan mu itu!" cecar Damian sarkasme. Grace melepaskan pelukannya dan menundukkan kepalanya takut.
"Dari mana saja kau?" tanya Damian. Terdengar tegas persis seperti ayah yang bertanya pada putrinya jika putrinya pulang kemalaman. Grace menggerak-gerakkan kakinya, bingung harus menjawab apa.
"Aku sedang bicara padamu Grace, tatap mataku!" Damian menarik dagu Grace menggunakan jari telunjuknya.
"A-aku habis berbelanja Ef!" jawab Grace terbata-bata.
"Kenapa tidak menunggu ku?" pertanyaan macam apa ini. Kenapa semua pertanyaan yang di lontarkan Damian menyudutkan dirinya.
__ADS_1
"Dia yang mau bukan aku. Jadi salahkan calon anak kita!" elak Grace seraya menunjuk perutnya yang masih rata.
"Pandai sekali kau berkilah, sudah berapa kali aku bilang. Kau tidak boleh keluar tanpa izin dari ku." marah Damian. Grace mengerucut bibir, malu sebab di bentak-bentak di depan Adam.
Sialan aku hanya keluar sebentar, tapi langsung di interogasi seperti nara pidana saja. Hei kau pengusaha kenapa kau malah berlagak seperti polisi. Dasar bedebah sialan, sebenarnya kau terbuat dari apa sih.
"Ef, bisakah kau memberikan kebebasan pada ku walau hanya sehari saja. Aku jenuh tinggal di sini sendiri tanpa melakukan apapun!" ujar Grace memohon.
"Tidak!" tegas Damian cepat. Seketika Grace menatap Damian sengit. Secara tidak langsung dia menantang suaminya lewat tatapan mata itu.
"Grace, kau tahu bukan aku memiliki banyak musuh. Kenapa kau malah keluar tanpa membawa pengawal satu pun!"
"Aku tahu, tapi lihat aku sekarang. Aku pulang dalam keadaan selamat. Kau terlalu berpikiran negatif. Kau tahu aku merasa diperlakukan seperti tahanan disini!" sentak Grace, nada suaranya meninggi. Grace sendiri tidak sadar jika semua teriakannya itu membuat Damian semakin marah.
"Tutup mulutmu, aku tidak suka kau berteriak dan memberontak padaku. Seharusnya kau berterima kasih padaku karena aku membiarkan mu pergi keluar meskipun dengan beberapa bodyguard."
"Jika aku mau, aku bisa mengurung mu disini agar kau tidak bisa keluar dari mansion. Yah aku memang serakah, aku ingin mengurung mu hanya untuk ku seorang. Aku tidak peduli jika kau menyebutku egois, tapi aku tidak mau kau terluka, ataupun di tatap lapar oleh pria di luaran sana!"
Puas memarahi Grace Damian mengambil Xavier dari para pelayan. Bukan hanya keluar tanpa pengawalan, Damian juga kesal karena Grace menitipkan Xavier pada pelayan mansion. Sedangkan di sendiri asik berjalan-jalan.
Damian membawa Xavier ke kamar tamu yang terletak di sebelah kamar utama. Ia meletakkan Xavier di tengah-tengah ranjang. Setelah itu Damian melepaskan sepatu dan dasi yang melilit leher.
Kemudian Damian berbaring di pinggiran kasur. "Boy, apa kau tidak merindukan Daddy?" tanya Damian lirih. Tenaganya terkuras habis akibat perjalanan jauh di tambah dengan pertikaiannya di bawah tadi.
"Mis mis mis!" satu kalimat terucap dari bibir Xavier. Dia tertawa kecil sembari memainkan rambut Damian.
Damian tersenyum senang. Suasana hatinya terasa lebih baik dari pada sebelumnya. Kini Damian percaya jika anak adalah obat dari rasa lelah orang tua.
Tap tap tap!
Damian melirik ke arah pintu, di lihatnya Grace berjalan masuk kedalam kamar. Namun, Damian tidak berniat menegurnya sama sekali.
"Ef bisa kita bicara sebentar?" tanya Grace gugup. Damian hanya menoleh sekilas namun tidak mempedulikan.
__ADS_1
"Boy katakan pada ibumu jika ayahmu masih ingin menghabiskan waktu bersama putranya!" ucap Damian.
"Katakan juga pada ayahmu, ibumu juga membutuhkan perhatian dan kasih sayangnya!" ketus Grace tak mau kalah.
"Kalau begitu kenapa kau terus membuat masalah dengan melanggar perintah ku!" ujar Damian kesal.
"Itu karena kau terlalu mengekang ku, aku tidak suka sialan!" Grace tidak sengaja mengumpat. Api amarah Damian yang tadinya mereda, sedetik kemudian menjadi berkobar kembali.
"Teruslah mengumpat dan lihat bagaimana aku membungkam mulut kecilmu itu!" sentak Damian.
"Aku bukan ingin melanggar perintah mu Ef. Aku ngidam ingin berbelanja, apa itu salah?" tanya Grace.
"Ya kau salah karena tidak menunggu ku pulang!" jawab Damian cepat.
"Lalu apa kau memberitahu ku jika kau pulang hari ini?" Grace balik melontarkan pertanyaan. Dan kali ini Damian terjebak.
"Setidaknya kau harus membawa bodyguard!"
"Dan membiarkan mereka mengerubungi ku di tempat umum. Ayolah Ef, aku malu!"
"Apa gaya hidup ku memalukan bagi mu?" entah setan apa yang merasuki Damian. Pria itu bahkan tidak mau mengalah kali ini. Dia terus saja melontarkan pertanyaan omong kosong.
"Aku tidak bermaksud bilang begitu!"
"Lalu?"
"Sudahlah, aku pergi saja. Kau membuat ku kesal dengan melontarkan pertanyaan konyol mu!" sungut Grace sebelum akhirnya pergi meninggalkan Damian bersama Xavier. Grace memutuskan beristirahat di kamar utama.
TBC
warning!
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius 🙏
__ADS_1