
Decitan ranjang terdengar kala Damian membaringkan Grace dengan perlahan. Damian duduk di pinggiran ranjang, menatap Grace sendu seraya membelai lembut kedua pipi wanitanya.
Melihat cara Grace memberontak tadi. Bisa di pastikan wanita itu berusaha lari dari mansion ini nanti.
Memang benar perbuatannya tidak bisa dibenarkan. Namun, semua ini Damian lakukan untuk memberikan ganjaran atas dosa yang Kelly lakukan.
Perbuatan tercela Kelly membuat Damian geram. Pasalnya hubungan pernikahannya sempat merenggang Grace meminta cerai sampai sekarang.
Bukannya tidak tahu Kelly memasukkan lipstik merah merona kedalam tas kerjanya. Dan tanda dileher itu memang disengaja oleh Kelly. Wanita licik itu berpura-pura terjatuh menimpanya dan menggunakan kesempatan tersebut untuk membuat tanda di kerah kemejanya.
Darah, bagaimana dia bisa Damian lupa noda menjijikkan itu masih melekat dikedua telapak tangannya. Damian beranjak masuk kedalam kamar mandi. Membersihkan dirinya sebelum istirahat.
...🦋🦋🦋🦋...
Hari silih berganti, Grace mengernyitkan dahi lataran cahaya matahari masuk ke sela-sela ventilasi dan menembus netra coklatnya. Kepalanya terasa sakit.
"Adam sialan! berani sekali dia membekap ku!" geram Grace seraya memegang kepalanya yang terasa sakit.
"Morning Grace, kau sudah bangun!" sapa Damian begitu keluar dari kamar mandi. Lihat dia, bahkan raut wajahnya terlihat santai seolah tidak terjadi apa-apa semalam.
Jelas Grace tak menanggapi sapaan Damian. Membuang muka ke arah jendela dan menikmati indahnya suasana pagi hari.
Damian menghempaskan napas panjang. Sebelum mengusap dadanya sabar. Sesaat mata tajamnya melirik ke arah jam dinding. Ini waktunya berangkat bekerja. Alhasil Damian pergi berganti pakaian dan meninggalkan Grace sendiri.
"Aku harus berangkat sekarang, pastikan kau memakan sarapan mu dan meminum obat mu. Jangan membuat kekacauan. Aku tidak suka wanita membangkang!" ujar Damian setelah berganti pakaian.
Tanpa di gadang-gadang, Damian meraih dagu Grace dan mencium bibir itu singkat. Merasa Grace tak membalas ciumannya Damian hanya tersenyum masam. Mengusap rambut coklat Grace dan melangkah pergi.
"Kenapa kau melakukan ini padaku?" sahut Grace menghentikan langkah Damian. Pria itu menoleh lalu mengulum senyum tipis.
"Aku tidak ingin kehilangan mu Grace. Maaf, karena aku memang egois." balasnya sebelum menutup pintu dan menguncinya dari luar. Untuk sementara Damian menempatkan 10 bodyguard di luar kamar.
Tidak waras, Damian memperlakukan istrinya bak tahanan kelas atas. Yang harus dijaga ketat dan tak diberikan celah sedikitpun untuk melarikan diri. Beginilah cara Damian menunjukkan kepeduliannya. Dengan cara yang berbeda sampai-sampai membuat Grace muak.
Tidak lama setelah itu, suara kunci terdengar dari luar. Ellie masuk membawa nampan berisi makanan. Selama Grace di tahan, Xavier akan di rawat oleh maid mansion.
__ADS_1
"Nyonya muda sarapan anda!" meletakkan nampan itu di samping meja.
"Aku tidak mau, bawa kembali makanan itu!" tolak Grace mentah-mentah. Mata sayu itu menatap pintu kamar yang sedikit terbuka.
"Tapi nyonya, tuan muda akan memarahi saya nanti!" melas Ellie. Selalu menggunakan Damian untuk menekan Grace.
"Aku tidak peduli!" balas Grace. Beranjak dari tempat tidur dan berjalan melewati Ellie dan mengarah pada pintu keluar.
Belum sempat telapak kakinya melewati ambang pintu. Dua tangan kekar terentang, menghentikan langkahnya. Sempat terperanjat kaget. Tapi lebih kaget lagi saat matanya menangkap sepuluh orang berbadan tambun berjaga di sekitar kamar.
"Minggir kenapa menghalangi ku!" berusaha mendepak dua tangan kekar itu.
"Maaf nyonya, Mr Wilson tidak mengizinkan anda keluar kamar!" Grace mendengus, mendorong tubuh kekar yang sama sekali tak bergeming itu.
"Biarkan aku pergi, atau aku akan-"
"Akan apa?" sahut Damian muncul dari belakang penjaga tersebut. Bukankah pria itu sudah berangkat tadi.
"Sekarang kau menahan ku seperti nara pidana huh? dasar sinting." ketus Grace garang. Tersirat nada ketidaksukaan dalam ucapannya.
"Aku tak ingin kau melarikan diri seperti dulu. Aku tidak ingin kehilangan mu!" gelak tawa muncul di bibir Grace.
"Aku tidak pernah selingkuh Grace!" sanggah Damian.
"Tapi kau menikmati ciumannya kan?" Damian mengepalkan tangannya sampai urat-urat ditangannya menonjol keluar.
"Aku tidak menikmatinya sama sekali, aku tidak bisa mengelak karena dia menyerang ku secara tiba-tiba. Kenapa kau tidak mempercayai ku!" geram Damian.
"Yaya aku percaya, karena itu kau membunuh saudaramu sendiri. Kau penjahat, aku tidak ingin hidup bersama dengan mu. Enyah dari hadapanku!" bentak Grace, mengibaskan tangan seolah mengusir Damian.
"Aku berangkat setelah kau makan!" kata Damian bersih kukuh. Matanya menggelap menyiratkan ketegasan.
"Aku tidak lapar!" tolak Grace. Kembali menyingkirkan tangan bodyguard yang menghalangi jalannya. Berusaha keluar dari kamar.
"Ayo!" menarik Grace kembali masuk kedalam kamar. Ellie menyiapkan makanan dan minuman untuk mereka berdua.
__ADS_1
"Makan!" Damian mengarahkan sendok tepat di depan mulut Grace.
Klinting! Grace menepis tangan Damian. Membuat sendok yang ada di genggaman pria itu terjatuh.
"Aku tidak mau, pergilah! Aku muak melihat wajah mu. Aku membencimu Sialan!" sentak Grace. Setelah sekian lama sifat keras kepalanya kembali muncul.
"Ellie! aku tidak mau tahu bagaimana caranya kau harus membuat Grace makan. Jika tidak nyawamu adalah taruhannya!" perintah Damian sebelum menapakkan kakinya keluar dari kamar dengan amarah yang membucah.
Wajah pias Ellie menjelaskan isi hatinya. Ellie takut dengan ancaman Damian. Namun, wanita paruh baya itu masih memaksakan diri untuk tersenyum ramah.
"Nyonya makanlah, saya membuatkan makanan kesukaan anda!" rayu Ellie menarik berusaha perhatian Grace.
"Tidak, aku masih kenyang." mengingat perbuatan Damian, Grace tidak napsu makan. Perutnya terasa penuh, hanya dengan minum air saja bisa membuatnya muntah.
"Selain demi keselamatan saya. Saya mohon makanlah nyonya demi kesehatan calon anak anda!" lagi-lagi meminta Grace makan. Disini Ellie tidak masalah jika dilenyapkan Damian. Tapi keluarganya, bisa jadi Damian juga mengincar mereka.
Grace termangu memikirkan kembali perkataan Ellie barusan. Bibirnya bergetar, air mata mulai mengalir membasahi pipi. Seharusnya Grace tidak boleh tertekan. Nyatanya bukan hanya tertekan Grace juga diselimuti rasa takut yang besar.
"Aku takut Ellie, Ef membunuh Kelly dengan kedua tangannya tepat didepan mataku. Bagaimana jika dia juga membunuh ku dan juga anak-anak ku!"
Ellie membulatkan matanya sempurna, "itu tidak mungkin nyonya. Tuan muda sangat mencintai anda."
"Saya percaya anda bisa merubah tuan muda sedikit demi sedikit. Untuk itu anda harus tetap berada disampingnya!" saran Ellie menepuk pundak Grace berusaha menenangkan hati Grace.
Grace terdiam mengusap air matanya, mengambil makanan yang disajikan Ellie. "Aku akan makan, buatkan aku segelas jus jeruk sebagai tambahan!" pinta Grace.
"Baik nyonya!" Senyuman terbit di bibir Ellie, tak bisa dipungkiri hatinya lega karena lolos dari hukuman kematian.
Grace mengambil sendok baru, memaksakan diri menelan semua makanan tersebut. Meskipun perutnya tidak menerima, demi keselamatan Ellie dia harus menghabiskan semua makanan ini tanpa sisa.
Tidak sampai 10 menit Ellie datang membawa segelas jus jeruk dan satu piring berisi beberapa potong buah-buahan.
"Silahkan Nyonya!"
"Kau pergi saja, aku akan memanggil mu setelah selesai makan!"
__ADS_1
"Kalau begitu Saya permisi, nyonya!" Pamit Ellie. Tanpa mengunci pintu kamar. Tahu Grace terpengaruh dengan perkataannya tadi.
TBC