Mr Billioneire Wife

Mr Billioneire Wife
Grace jauh lebih menarik(Revisi)


__ADS_3

Kepergian Damian ke kota Y membuat suasana mansion menjadi sepi. Rasa rindu mulai menyelimuti hati, Grace merasa bosan setelah di tinggal Damian pergi.


Sekarang, Grace berjalan-jalan menelusuri taman bersama Xavier. Waktu berlalu begitu cepat, semakin lama Xavier semakin pandai melangkah kaki.Tanpa bantuan Grace pun Xavier sudah bisa berdiri sendiri.


Grace ingin pergi berbelanja, sialnya Damian menambah jumlah bodyguard untuk berjaga di sekitar mansion. Penjagaan semakin ketat dan Grace tidak bisa keluar tanpa seizin Damian.


"Sebenarnya aku majikan atau tahanan sih. Kenapa Damian tidak mengizinkan ku keluar?" gumam Grace bertanya-tanya. Bahkan sekarang dua wanita bersenjata lengkap mengikutinya dari belakang atas perintah Damian.


"Xavier! jangan sampai kau meniru kegilaan ayah mu saat kau sudah besar. Atau tidak ada wanita yang mau bersanding dengan mu di pelaminan nanti!" tutur Grace menasehati. Membuat dua bodyguard wanita itu menahan tawa.


"Entah pelet apa yang ayah mu gunakan untuk memikat mommy. Sampai-sampai mommy mau menyerahkan diri. Tapi lumayan sih, mommy jadi punya pendamping hidup yang tampan dan kaya raya. Minusnya hanya satu, ayah mu sangat posesif dan terobsesi dengan mommy!" lanjut Grace. Mengutarakan semua keluh kesahnya pada Xavier.


Dua bodyguard yang berdiri tak jauh dari tempat Grace berada cekikikan sendiri. Keduanya merasa beruntung bekerja di bawah pimpinan Damian dan ditugaskan untuk menjaga Grace.


Yah meskipun resikonya cukup besar, mengingat wanita yang mereka jaga adalah kesayangan tuan muda. Tetap saja mereka sangat bersyukur, karena rasa lelahnya berkurang setelah melihat tingkah menggemaskan Grace.


"Kira-kira kapan dia sampai di kota Y?" gumam Grace pelan. Lagi-lagi bertanya pada diri sendiri.


"Sudahlah, aku akan menelponnya nanti." Putus Grace. Lalu menggendong Xavier dan mengajaknya masuk kedalam karena matahari sudah menghilang di ufuk barat.


...🦋🦋🦋🦋...


Sudah satu jam lamanya Damian duduk sembari menatap langit gelap di luar jendela pesawat. Di temani sebotol whiskey dan beberapa camilan. Damian menikmati perjalanan itu sembari mengingat betapa galaknya Grace setelah mereka menikah.


Sudah lama, tapi setiap ekspresi di wajah Grace masih Damian ingat sampai sekarang. Kini wanitanya itu tidak galak seperti dulu. Ya walaupun kadang-kadang suka memberontak dan melanggar perintahnya. Namun, Damian tidak bisa marah. Rayuan maut Grace selalu berhasil meluluhkan hatinya.


ini baru beberapa jam sejak aku meninggalkan mansion dan sekarang aku sudah sangat merindukan wanita ku.


"Sir!" panggil Adam dengan suara lirih. Namun, berhasil menyadarkan Damian dari lamunannya.


"Saya berhasil mengumpulkan informasi mengenai pelaku yang membakar pabrik kita. Segera anak buah kita akan menangkap mereka!" lanjut Adam memberitahukan informasi secara keseluruhan.

__ADS_1


"Apa kita mengenal pelaku yang membakar pabrik?" tanya Damian dengan suara berat.


"Ya sir, salah satu pelaku adalah pegawai tetap yang bekerja di pabrik kita!" jawab Adam sopan. Damian terdiam sejenak, lalu memutar-mutar gelas wine di tangannya seolah sedang memikirkan sesuatu.


"Aku akan membuat tikus lemah itu membuka mulutnya dengan mudah!" kata Damian dengan senyum smirk. Adam yang mendengar hanya menggelengkan kepalanya ngeri.


Obrolan mereka terhenti tatkala seorang pramugari cantik berjalan berlenggak-lenggok mendekati kursi mereka. "Tuan, kamar anda sudah siap. Apakah anda ingin istirahat sekarang?" tanyanya dengan suara di halus-haluskan. Jelas sekali pramugari itu sedang menarik perhatian Damian.


Damian menatap pramugari itu datar, satu alisnya terangkat kala sorot tajamnya mengamati penampilan wanita itu dari atas sampai ke bawah. "Grace jauh lebih menarik perhatian ku!" gumam Damian.


Pramugari itu tidak tahu Damian sedang membandingkan penampilannya dengan penampilan Grace. Karena itu dia tersenyum malu saat mata tajam Damian mengamatinya.


"Mari tuan, saya akan mengantar anda ke kamar anda!" dengan kurang ajarnya pramugari itu meraih pergelangan tangan Damian tanpa izin. Dia percaya Damian telah terpikat oleh pesonanya.


"Berani sekali tangan kotor mu menyentuh ku!" sudah tidak tahan dengan kelakukan pramugari itu. Damian pun angkat bicara. Suara beratnya terdengar tegas, seolah sedang menegur.


Ini bukan pertama kalinya Damian di goda oleh pegawainya sendiri. Setiap kali Damian berpergian dengan menggunakan pesawat, selalu saja ada pramugari yang mencari-cari kesempatan untuk menarik perhatian.


Bruk! Damian menendang pramugari itu tanpa ragu. Perlakuannya membuat Damian jijik, hanya Grace saja yang bisa menyentuh tubuhnya.


"Berani sekali kau menyentuh ku. Kau tahu aku sudah menikah kan?" Damian mencengkram dagu wanita itu dengan kuat sampai membuatnya meringis kesakitan.


"Saya tahu tuan!"


"Lalu kenapa kau masih menggodaku?" mendorong dagu itu dengan kencang sampai membuat rambut pramugari Acak-acakan.


"Bawa dia pergi dari hadapan ku!" perintah Damian. Seketika seorang pramugari senior bergegas menarik wanita murahan itu pergi dari hadapan Damian.


"Lain kali aku tidak mau kejadian semacam ini terulang kembali. Jika tidak pecat saja orang yang sudah merekrut mereka!" gerutu Damian kesal.


"Aku ingin beristirahat, bangunkan aku saat kita sudah sampai di kota Y!" seru Damian memberi perintah. Lalu berjalan masuk kedalam kamar tanpa mendengar jawaban Adam.

__ADS_1


...🦋🦋🦋🦋...


Dua jam kemudian..


Pesawat mereka tiba di bandara kota Y. Damian menyuruh Adam mengemudikan mobilnya langsung menuju ke tempat di mana pabriknya berada. Setelahnya, Damian pergi ke sebuah gudang usang yang terletak jauh dari hiruk pikuk keramaian kota.


Setiap langkah kaki Damian terdengar menggema. Aura wibawa dan ketegasan seolah sudah melekat dalam diri Damian. Sorot mata tajamnya berhasil membuat siapapun yang menatap merasa terintimidasi.


"Di mana dia?" tanya Damian.


"Saya memindahkan tahanan ke ruangan sebelah tuan!" seorang bodyguard bertubuh tambun menyahut. Menjawab pertanyaan sang tuan muda.


Tidak ingin membuang-buang waktu, Damian bergegas masuk kedalam ruangan yang di sebutkan. Bibirnya tersenyum miring tatkala mendapati seorang pria paruh baya terikat di kursi dengan wajah di penuhi sayatan dan memar.


"Siapa yang menyuruh mu untuk mengkhianati ku?" tanyanya seraya menjambak kuat rambut penghianat. Erangan demi erangan terdengar memprihatinkan.


Penghianat tidak mau membuka mulut. Tidak peduli seberapa kejamnya siksaan yang di terima. Bibirnya masih tertutup rapat. "Tidak mau bicara huh?"


"Aku masih punya banyak cara untuk membuat mu bicara, sialan!" tuturnya kesal. Damian mengambil pisau lipat di dalam saku celana. Sebuah pisau kecil yang memiliki ketajaman melebihi pisau yang di pakai untuk operasi.


"Sudah lama aku tidak memainkan pisau lipat ku. Kau mau mencobanya?"tanya Damian menawari. Sesaat, Damian bisa melihat bias ketakutan di mata penghianat.


"Aku tidak akan pernah membuka mulut dan kau juga tidak bisa menyiksaku sekarang!" semua orang saling melemparkan pandangan. Tidak mengerti maksud ucapan penghianat.


Akh! akh! akh! tiba-tiba penghianat berteriak kesakitan. Padahal Damian belum menyentuhnya sama sekali. Beberapa saat setelah berteriak kesakitan, penghianat muntah darah.


"Sial, dia menyimpan racun dalam mulutnya!" gerutu Damian. Sebelum menutup mata, penghianat itu sempat menerbitkan senyum kemenangan. Seolah-olah berkata kalau Damian sudah kalah.


TBC


warning!

__ADS_1


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius 🙏


__ADS_2