Mr Billioneire Wife

Mr Billioneire Wife
Bulan madu part 3(Revisi)


__ADS_3

Lelah karena perjalanan jauh membuat Grace tertidur selama dua jam. Setelah bangun pasangan suami istri itu memulai perjalanan bulan madunya. Keduanya hendak mengelilingi kota.


Kali ini mereka keluar tanpa membawa Lucas ataupun Adam. Dua pria gila itu duduk diperintahkan duduk diam di resort. Lucas dan Adam juga tidak keberatan. Mereka menikmati waktu dengan bermain biliar dan kartu. Membiarkan pasangan itu menghabiskan waktu bersama.


Tak salah jika kedua orang tersebut betah bekerja dibawah pimpinan Damian. Selain gaji yang ditawarkan sangat tinggi, fasilitas kehidupan pun Damian sediakan.


"Sudah selesai?" tanya Damian seraya mengancingkan kemejanya.


"Ya." jawab Grace singkat. Damian mendongakkan kepala. Menatap Grace dengan sorot mata terpesona.


Tubuhnya membeku di tempat kala mendapati wanitanya sangat cantik. Dengan makeup tipis serta gaun kedodoran membuat Grace terlihat anggun. Ditambah perut buncitnya semakin membuat Grace terlihat imut.


"Ayo berangkat!" ajak Grace tanpa menyadari kalau suaminya itu terpesona.


"Tunggu!" ujar Damian menghentikan langkah wanitanya. Grace berbalik, menatap Damian dengan satu alis terangkat.


"Ada apa?" tanya Grace heran.


"Kau berdandan huh. bagaimana jika ada yang terpesona pada mu nanti?" belum apa-apa api kecemburuan Damian mulai bergejolak.


"Mereka tidak akan terpesona setelah melihat perut buncit ku Ef. Jadi buang semua pikiran negatif mu itu." kata Grace berusaha meyakinkan Damian.


"Aku dandan juga agar kau tidak malu bersanding dengan ku!" lanjut Grace membuat Damian mengernyit heran.


"Aku tidak peduli apa kata orang. Aku mencintai mu dengan apa adanya. Jadi jangan merubah diri mu hanya karena pandangan buruk orang lain!" saran Damian menasehati.


"Dan juga aku yakin tidak ada yang berani menghina mu. Karena kau adalah istri ku, seandainya ada orang yang menghina mu akan ku tebas kepalanya. Jadi santai saja!" lanjut Damian. Kalimat terakhirnya terdengar ngeri di telinga Grace.


Namun, Grace tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Dia senang mendengar pembelaan Damian. Senang mendapat perlakuan manis, lantas Grace berlari memeluk Damian. Menghirup aroma maskulin yang begitu candu dan menyegarkan.


“Kau yakin ingin membunuh orang dalam acara bulan madu kita. Lagi pula tidak ada yang mengatai ku, aku hanya beranggapan semata.” bisik Grace jujur.


"Aku yakin, lagi pula hanya aku yang boleh menindas mu!" cibir Damian.


“Yah aku tahu, kau sangat tergila-gila pada ku.” Damian terkekeh, yang dikatakan Grace benar adanya. Obsesi gilanya terlalu kuat sampai-sampai Damian tidak rela melihat Grace sedih.


“Berkatmu, aku merasa lebih baik dan percaya diri. Sekarang, ayo kita berangkat!” ajak Grace memeluk lengan suaminya dan berlalu keluar kamar.


“Pertama, kita akan pergi kemana?” tanya Grace. Bersandar pada kursi mobil mencari posisi nyaman.


“Bagaimana dengan jembatan kuno Kapelbrucke? tempat itu cukup menarik dikunjungi, Kau suka mengambil Fotokan?" Grace mengangguk pertanda jika dia membenarkan ucapan Damian.

__ADS_1


"Pemandangan di sana cukup menarik. Kau bisa mengambil foto sampai puas di sana!" ucap Damian panjang lebar menjelaskan.


"Aku setuju!" jawab Grace dengan penuh semangat.


Damian mengulum senyum sebelum akhirnya menginjak pedal gas. Melajukan mobilnya menuju jembatan kuno Kapelbrucke dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan Grace menceritakan tentang kehidupannya saat masih SMAnya pada Damian. Tak jarang Grace juga berjoget kecil menikmati lagu yang mengalun indah.


...🦋🦋🦋🦋...


Setibanya mereka di jembatan kuno Kapelbrucke. Melihat betapa banyaknya mobil berjejeran di parkiran khusus pengunjung. Sudah pasti tempat ini sangat ramai.


Sebelum masuk, Grace mengajak Damian pergi ke restauran terdekat. Sejak pagi Grace belum mengisi perut. Dan sekarang cacing-cacing protes meminta makan.


"Sudah kenyang?" tanya Damian basa-basi. Melihat berapa banyak porsi yang Grace pesan pasti wanita itu sudah sangat kenyang.


"Sudah." serunya sembari mengusap lemah perut buncitnya. Grace bersendawa dengan kencang membuat Damian terperanjat kaget. Sangat di luar nalar, Grace tidak menjaga imagenya sama sekali.


"Sekarang ayo kita ke sana!" ajak Damian menunjuk jembatan kuno yang ramai di kunjungi oleh pengunjung dari berbagai daerah.


"Grace kemari!" panggil Damian. Tadinya Grace terperangah melihat betapa indahnya pemandangan yang ada. Namun, kekagumannya berakhir saat suara Damian memecah keheningan.


"Ada apa?"


"Berdiri di sana, aku akan memotret mu!" ujar Damian menawarkan diri. Dengan senang hati Grace langsung berdiri di tempat yang di arahkan Damian.


"Aku tidak suka foto!" balas Damian.


"Bahkan jika aku yang meminta, apakah kau tetap tidak mau berfoto bersama?" seperti biasa, Grace memanfaatkan kelemahan Damian demi mencari keuntungan.


"Tapi..."


"Ayolah! kita tidak pernah foto bersama!" paksa Grace. Mulai tersulut emosi karena tidak di turuti.


"Terserah!" sontak kedua sudut bibir Grace tertarik. Ia mengulum senyum dan merangkul lengan Damian.


"Permisi, bisa tolong Fotokan kami?" Grace minta bantuan pada orang asing.


"Ya, tentu nona!" jawab orang asing itu seraya menerima kameranya.


"Satu....dua....tiga...cekrek!"


selesai mengambil beberapa foto Grace meminta kameranya kembali. "Terimakasih! maaf merepotkan mu!" sesal Grace merasa tidak enak sudah menganggu.

__ADS_1


"Tidak usah sungkan nona, santai saja!"ucap turis tersebut sebelum pergi menjauh.


"Untuk apa kita mengambil foto sebanyak ini." ketus Damian. Masih kesal karena dipaksa tersenyum didepan kamera.


"Tentu saja untuk kenang-kenangan!"


"Untuk apa, cukup bersamamu membuat ku senang. Kau adalah pemandangan yang paling indah, sayang!" mendaratkan ciuman singkat di bibir Grace.


"Aku tahu, tapi umur tidak bisa di prediksi. Mungkin aku lebih dulu meninggalkan mu. Dan kau bisa melihat foto-foto ini!"


sontak telapak tangan Damian membungkam mulut Grace. Tidak ingin mendengar Grace mengatakan hal-hal buruk.


"jangan berkata begitu babe. Kau adalah hidupku, aku tidak ingin kehilangan mu. Jika kau tiada aku juga akan menyusul. Kita mati bersama!" Grace tergelak mendengar perkataan Damian. Kenapa tiba-tiba suasananya jadi melo dramatis.


"Kapan kita pulang?"


"Kenapa, kita bahkan belum mencoba ranjang kamar dan kau sudah mau pulang?"


"Bukan begitu Ef. Hanya saja aku tiba-tiba merindukan Xavier, aku ingin memeluknya!" kata Grace mengutarakan isi hati. Ujung matanya mulai berair.


Damian tak membiarkannya jatuh, ibu jarinya langsung mengusap buliran bening itu. "Kita pulang lusa, mau?"


Ekspetasi bulan madu Damian hancur sudah. Tapi tidak papa setidaknya Damian bisa memenuhi keinginan Grace. Jika Grace ingin pulang, tidak papa Damian masih bisa melanjutkan bulan madunya di rumah.


"Kau yakin, aku menghancurkan rencana mu ya?" Damian menggeleng.


"Tidak, kita bisa melanjutkan bulan madu kita di rumah. Lagi pula ranjang kita tidak kalah nyaman dengan ranjang resort."


"Terimakasih, aku sangat beruntung memiliki suami pengertian seperti mu Ef."


"Aku juga!"


"Sekarang kita pulang, aku rasa dua pengangguran itu sudah menyiapkan makan malam." Grace tertawa.


Entah apa yang membuat Damian memusuhi dua orang itu. Grace jadi kasihan melihat Adam dan Lucas tertekan.


"Ayo!"


TBC


warning!

__ADS_1


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius🙏


__ADS_2