
Setelah sarapan, Grace memutuskan untuk menyirami tanaman yang ada di halaman belakang. senandung kecil terdengar samar, terlihat sekali Grace menikmati desiran angin yang berhembus kencang menerpa wajahnya.
Damian sendiri tidak pergi bekerja karena malas. Sebab itu dia duduk santai di balkon kamar, membaca majalah bisnis dan menikmati secangkir kopi. Sesekali matanya melirik ke arah depan dimana istri tercintanya berada.
Deru mesin terdengar dari arah gerbang. Pandangan Damian beralih pada mobil taksi yang melaju pelan memasuki halaman rumahnya kini.
Melihat siapa yang datang membuat pria itu memutar bola matanya malas. Terlihat Ara keluar dari mobil di ikuti dengan Alessio.
"Grace! aku datang!" teriak adiknya. Lalu berlari masuk kedalam mansion. Tak lupa wanita muda itu juga menggandeng anak tirinya.
"A-ara?" pekik Grace terperanjat. Melihat Ara berdiri santai dengan senyum lebarnya membuat Grace terkejut dan menjatuhkan selang yang ada di genggamannya.
"Hai Grace!" sapa Ara dengan senyum tanpa dosa. Hening, tidak ada jawaban yang terlontar dari bibir Grace.
"Ara, kenapa tidak mengabari ku jika kau datang berkunjung ke sini? aku bisa menjemput kalian di bandara nanti!" tanya Grace. Memeluk Ara dengan lembut dan mencium pipi gembul Alessio secara bergantian.
"Tidak papa, aku hanya ingin membuat kejutan untuk kalian semua!"
"Sayang, sapa aunty mu!" dengan lembut Ara menepuk pundak Alessio. Menyuruh anak kecil itu menyapa Grace.
"Apa kabar aunty!" tanya Alessio tersenyum malu-malu. Grace tercengang, anak yang amat takut padanya sekarang berubah menjadi pemberani, terlebih Alessio tersenyum tadi.
Grace terharu melihat perkembangan Alessio yang begitu pesat. Di peluknya Alessio dengan erat. Dan pada akhirnya dia menumpahkan tangis sangking bahagianya.
"Grace dimana kakak!" belum sempat Grace menjawab, sebuah suara memotong pembicaraan mereka. Damian keluar dari lift dan berjalan dengan wibawanya.
"Kenapa datang?" tanya Damian tanpa basa-basi. Seakan tidak senang dengan kehadiran Ara. Sebab perhatian Grace akan terbagi nanti.
"Kau tidak suka aku datang, kak? padahal aku mengharapkan pelukanmu!" cibir Ara pada Damian.
Damian memutar bola matanya malas, kemudian menarik Ara masuk kedalam pelukannya. Membiarkan gadis itu merasa nyaman dan aman.
"Sudah, sekarang pergilah!" usir Damian begitu melepaskan pelukan.
Lantas Ara memanyunkan bibir. Kesal karena kakak kandungnya sendiri mengusirnya secara terang-terangan.
__ADS_1
"Aduh!" pekik Damian tatkala merasakan sebuah cubitan di pinggangnya.
"Tutup mulut mu, dia datang jauh-jauh dari Spanyol ke Amerika untuk mengunjungi kita. Jadi jangan mengejeknya!" tegur Grace. Matanya melotot dengan sempurna membuatnya Damian takut. Dan pada akhirnya hanya mampu menurut.
"Ara ayo ikut sarapan bersama kami, aku akan menyuruh Ellie membersihkan kamar kalian!" ajak Grace di iringi senyum ramah.
Tidak lama setelah itu, dua pelayan datang dan mengambil barang bawaan Ara. Memindahkan koper besar Ara ke kamar tamu.
"Hari ini suami ku memasak, jadi cicipi masakan buatan kakak mu!" melirik sekilas ke samping. Tepat di mana Damian berdiri.
"Kakak ku memasak? kau serius?" pekik Ara heboh. Tidak menyangka kutub es itu bisa memberi perhatian lebih pada kakak iparnya.
"Ya, dia yang memasak. Coba saja, masakan kakak mu benar-benar enak!" masih setia memuji. Seolah masakan Damian setara dengan masakan koki hotel bintang lima.
"Baiklah akan ku cicipi!"
Ara mengambil dua piring, untuk dirinya sendiri dan untuk Alessio. "Mom, bisa kita sarapan di sana saja?" tanya Alessio. Menunjuk taman bunga yang baru saja disiram Grace
"Baiklah!" tidak bisa menolak karena Alessio adalah kesayangannya.
Tanpa mendengar jawaban Grace, Ara langsung menggandeng Alessio pergi. Tidak lupa, Ara juga minta pada pelayan untuk di bawakan makanan.
"Kau ini, kenapa sih Ef? kenapa kau menatap mereka begitu?" marah Grace begitu Ara sudah berjalan jauh dari jangkauan mereka.
"Aku tidak suka kau orang lain dan melupakan suami mu sendiri!" cibir Damian. Suasana meja makan berubah suram semenjak perdebatan antara istri dan suami itu terjadi.
"Mereka hanya tinggal selama beberapa hari, Ef. Sedangkan kau, setiap hari aku bersamamu. Dan aku tinggal ditempat ini sampai akhir hayat ku!" lidah Damian terasa keluh, tak mampu menjawab lagi.
Damian sibuk memeriksa tabletnya kini, sepertinya pria itu tengah memeriksa email yang masuk. "Sepertinya aku tidak jadi libur bekerja, Grace!"
"Kenapa?"
"Ada beberapa rapat penting yang di jadwalkan secara mendadak. Aku harus ke kantor sekarang!" jelas Damian. Merasa bersalah sudah memberi harapan palsu.
"Baiklah, tapi bawakan aku melon dan coklat saat kau pulang!"
__ADS_1
"Sesuai keinginan mu my Queen!" kecupan basah dirasakan Grace di dahinya. Setelah itu Damian bergegas menuju ke kamar untuk bersiap-siap.
Setelah Damian pergi ke kantor. Rumah jadi sepi, untungnya masih ada Ara dan Alessio di taman belakang.
Grace meminta Ellie menyeduh susu untuk Alessio. Sembari menunggu, Grace datang menghampiri Ara dan Alessio di taman.
"Grace, apakah hari ini kau punya waktu luang?" Tanya Ara. Grace mengangguk-angguk menandakan jika dia sedang senggang sekarang.
"Ikut aku fitting baju! aku membutuhkan saran mu. Kau juga bisa memilih gaun untuk acara pernikahan ku. Aku juga mengajak Rachel dan kak Belle, kita bisa memilihnya bersama nanti!
Mendengar nama Belle, sontak jantung Grace berdetak kencang. Ingatan akan penolakan Keenan terbesit dalam pikirannya secara refleks.
"Sure, jam berapa kita pergi?"
tekad Grace sudah bulat, hari ini juga Belle harus mengetahui semua kebenarannya, meskipun nanti Belle akan membencinya, Grace siap menanggung resiko apapun.
"Sekitar jam 10, pesawat Belle mendarat di bandara jam 9. Aku harus menjemputnya terlebih dulu!" Grace mengangguk paham.
Beberapa menit kemudian Ellie datang dan menyangga pembicaraan mereka. Ellie menyerahkan susu yang diminta oleh Grace, meletakkannya dimeja dengan sopan.
"Terimakasih Ellie!" dengan ramah Ellie menjawab tak lupa diakhiri dengan sebuah senyuman tipis. Merasa tidak diperlukan lagi ia pun pamit undur diri.
"Kapan pernikahan mu diadakan?"
"Sekitar 3 Minggu lagi!" masih lama ternyata, sebelum itu Grace harus menyelesaikan urusan dengan kakaknya.
"Kau datang kan!" tubuh Grace mematung, tidak yakin Damian akan mengizinkan Apalagi setelah kejadian morning sick dulu membuat Damian enggan mengajaknya bepergian.
"Tentu saja, aku ingin menjadi penggiring!" tak mau mengecewakan adik iparnya Grace menyetujui, meskipun tak yakin dengan keputusan suaminya.
"Aku akan pergi, kau bisa datang ke Grosery store. Aku sudah membuat janji dengan desainer nya. Kau bisa langsung masuk kedalam!" Grace tidak bergeming, membiarkan Ara meninggalkannya tanpa mendengarkan Jawaban Grace.
TBC
warning!
__ADS_1
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius🙏