
Telepon dari Ara membuat Damian kalang kabut sendiri. Tanpa ragu, Damian meninggalkan rapat yang membahas proyek seharga miliaran dolar hanya untuk menemui Grace. Uang bukan segalanya bagi Damian. Yang terpenting sekarang adalah wanitanya.
Kemana Ara mengajak Grace pergi sampai-sampai dia kelelahan dan jatuh pingsan. "Tambah kecepatannya lagi!"
"Baik Sir!"
Adam menekan pedal gas dengan kuat. Menambah kecepatan mobil sampai maksimal. Tidak peduli bunyi klakson yang saling bersahutan dari pengendara lain.
Cemas, khawatir, Damian berusaha menghubungi Ara. Sayangnya, nomor Ara sekarang sudah tidak aktif. Untung saja, Ara sempat memberi tahu Damian lewat pesan singkat. jika Grace di rawat di rumah sakit pusat kota.
“Sir kita terjebak dalam kemacetan, sepertinya didepan terjadi kecelakaan!" Damian semakin panik, hatinya gelisah keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya.
“Sial!”umpat Damian, lalu menyandarkan tubuhnya di kepala kursi. Memejamkan mata, mencoba menghilangkan semua pikiran buruk yang memenuhi kepalanya.
Setengah jam berlalu, polisi berhasil mengondisikan situasi. Adam kembali menancap gas melajukan mobil secepat mungkin.
Begitu sampai di rumah sakit, Damian berlari masuk mencari keberadaan Grace yang sudah pasti di masukkan kedalam kamar VVIP mengingat rumah sakit ini adalah milik Lucas-sahabatnya.
Didepan kamar VVIP Ara duduk di sofa bewarna abu-abu seraya menunggu Lucas keluar dari ruangan. Dari arah kejauhan Damian berjalan tergesa-gesa, masuk kedalam ruangan tanpa menyapa Ara dan tidak memperdulikan perawat yang melarangnya.
"Hais, kau ini mengagetkan saja, berapa kali aku bilang. Jangan masuk saat kami sedang memeriksa memeriksa pasien. Itu bisa menggangu konsentrasi kami, sialan!" marah Lucas pada Damian yang mendobrak pintu dengan kasar.
“Bagaimana keadaan istri ku, apa dia baik-baik saja. Apa ada yang serius?” alih-alih peduli pada kekesalan Lucas. Damian malah melontarkan pertanyaan secara beruntun.
"Semua ini salahmu Ef, aku sudah bilang bilang jangan membuat kakak ipar kelelahan ataupun stress. Kandungannya masih sangat rentan!" jelas Lucas panjang lebar. Sedikit lega sebab Damian tidak menyadari jika yang memeriksa Grace adalah dirinya.
Rahang Damian menegang, pasti masalah ini terkait dengan pemerkosaan Belle. Rupanya Damian harus melarang Grace agar tidak mencampuri urusan orang lain.
"Aku sudah meresepkan obat. Berikan resep ini pada sekertaris mu, biar dia yang menebus obatnya!" setelah berkata demikian, Lucas melangkah pergi. Membiarkan Damian menemani sang istri.
Damian menjatuhkan diri di samping ranjang. Tangan kekarnya menggenggam erat telapak tangan Grace yang terasa dingin. "Kakak!"
Panggil Ara dari arah pintu. Suaranya terdengar gugup, terlihat sekali wanita itu tengah gugup sekarang. Damian menoleh sekilas, namun kembali membuang muka saat Ara melangkah maju kearahnya.
"Kenapa kau datang ke sini?" tanya Damian.
"Aku mau minta maaf kak! Jujur saja, aku tidak tahu apa yang terjadi pada istri mu. Aku sibuk memilih desain gaun pengantin ku. Tanyakan saja pada Belle, mereka bicara empat mata tadi!" jelas Ara.
"Aku mengerti, pulanglah! Alessio membutuhkan mu.” Ara mengembuskan napas lega. Senang, mendapati sang kakak sudah tidak marah lagi.
__ADS_1
Damian termenung di tempat. Rupanya Grace terbebani dengan masalah Keenan dan Belle. Entah apa yang harus Damian lakukan, supaya Grace mau mendengarkan ucapannya.
Cahaya lampu menerobos masuk ke netra coklat Grace. Mata indah itu perlahan-lahan mulai terbuka. Awal mula semuanya terlihat buram. Sebelum akhirnya Grace bisa melihat dengan jelas.
"Ef aku mau minum!" menunjuk lemah segelas penuh berisi air putih yang terletak di atas meja. Sebelum itu ia menempatkan satu bantal sebagai sanggahan.
"Ef, bagaimana ini. Belle pergi menemui Keenan. Bagaimana jika pria jahat itu mengusirnya."
masalah ini lagi, Damian muak mendengar Grace selalu membahas masalah Keenan dan Belle. Apalagi karena masalah itu kesehatan Grace jadi terganggu.
“Berhenti mencampuri urusan mereka Grace, cukup dengan mempertemukan mereka kita sudah sangat membantu. Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri."
"Tapi-"
"Cukup, aku tidak ingin mendengarkan sepatah katapun lagi. Aku akan membungkam bibirmu dengan bibirku jika kau masih terus mengoceh!" kecam Damian dengan tatapan menyeramkan.
Tubuh Grace membeku di tempat, takut dengan ancaman Damian. Merasa kantuk menyerang, Grace membenahi bantal dan meletakkan kepalanya kembali. Namun dia memunggungi Damian.
Pria itu tak tinggal diam, melainkan naik keatas tempat tidur dan berbaring di samping Grace. Tak lupa ia melingkarkan tangannya ke pinggang rapuh Grace.
...🦋🦋🦋🦋...
Belle terpaku pada satu tempat. Dia berdiri di halaman depan apartemen yang di tempati Keenan. Sepi, hanya ada sayu penjaga bersenjata lengkap yang menjaga apartemen tersebut.
"Ya-ya!" jawab Belle ragu. Sedikit takut melihat senapan yang berada di genggaman penjaga itu.
"Silahkan masuk, tuan Keenan menunggu anda nona!" Belle mengangguk paham. Apa Keenan mengawasi semua gerak-geriknya selama ini. Bagaimana bisa penjaga itu tahu, dia datang untuk bertemu dengan Keenan.
Perlahan, Belle melangkahkan kakinya masuk kedalam apartemen. Sungguh, semakin jauh Belle melangkah. Semakin besar pula rasa takutnya.
"Kau sudah datang?" suara berat Keenan menghentikan langkah Belle. Wanita itu mengedarkan pandangan, mencari sosok yang baru saja bertanya padanya.
"Kau.." perkataan Belle tergantung tatkala mendapati seorang pria tampan berambut coklat tua menjulang tinggi di belakangnya. Belle memandangi wajah tampan Keenan dengan sangat lama.
Pantas saja Abigail sangat cantik, ayahnya begitu tampan atau mempesona. Hampir semua bagian tubuh Abigail adalah foto copy Keenan hanya warna kulit saja yang berbeda.
"Sebelum kita bicara, buatkan kopi untuk ku!" perintah Keenan, kemudian melalui Belle dengan santainya.
Tanpa sadar Belle menganggukkan kepala. Mengiyakan permintaan Keenan. Pikirannya berkecamuk, seolah-olah dia tidak bisa memikirkan apapun selain Keenan saja.
__ADS_1
kenapa kau mau saja di jadikan pesuruh. Sadar Belle, kau datang untuk memakinya bukan melayaninya. Hentikan langkahmu!
Belle terus melangkahkan kakinya mengabaikan isi pikirannya sekarang. Bodoh, ya Belle akui itu. Karena wajah menawan yang dimiliki Keenan membuatnya terhipnotis untuk melakukan apapun yang pria itu minta.
Belle berjinjit mengambil bubuk kopi yang ada di atas lemari. Semua kegiatannya tidak luput dari pandangan tajam Keenan.
Seksi, Keenan terus memandangi tubuh Belle dengan sorot mata kelaparan. Ingin sekali Keenan menjamah tubuh itu lagi.
Sial! kenapa kaki ku tidak sampai.
Belum sempat ujung jemari Belle menyentuh toples kopi. Tangan kekar Keenan mengambilnya dan meletakkannya dimeja.
Belle berbalik dan memekik kaget kala mendapati Keenan berdiri di belakangnya dengan tatapan lapar. Keenan melingkarkan tangannya di pinggang seksi Belle.
"Tubuh ini, bolehkah aku menikmatinya sekali lagi?” bisik Keenan membuat Belle tidak berkutik. Gugup, rasanya Belle mau pulang saja sekarang.
"A-pa yang kau lakukan?" mendorong Keenan dengan kuat, namun tubuh besar Keenan tidak bergerak sama sekali. Tubuhnya mulai menegang, mungkinkah ini efek karena terlalu lama sendiri.
"Ti-tidak aku- aku tidak menginginkannya." kata Belle tergagap-gagap
"Ayo kita lakukan sekali lagi, biarkan ini menjadi hal terakhir yang kita lakukan sebelum berpisah!"
Jantung Belle berdetak lebih kencang dari biasanya. napasnya tak beraturan, darahnya berdesir hebat. Saat sentuhan memabukkan itu menggerayangi tubuhnya.
Namun tidak bisa di pungkiri bahwa Belle sakit hati dengan perkataan Keenan. Terakhir kali ? apa Itu berarti Keenan menolak bertanggung jawab sama seperti yang di katakan Grace di butik tadi.
"Baiklah aku akan bercinta dengan mu, namun kau harus menuruti satu permintaan ku!" Keenan menyipitkan matanya, menunggu Belle melanjutkan kata-katanya.
"Aku ingin kau bertemu dengan anakmu untuk yang pertama dan terakhir kalinya!"
Deg! Keenan terpaku di tempat begitu mendengar permintaan Belle. Anak? dia benar-benar telah menjadi seorang ayah.
Untuk sekarang Keenan masih belum bisa menerima Belle dan Abigail dalam hidupnya. Terus terang saja, Keenan tidak mau dua wanita itu terluka karena pekerjaannya. Karena itu Keenan menolak untuk bertanggung jawab.
Tapi bagaimana jika hatinya luluh saat bertemu dengan putrinya nanti? tidak, Keenan harus bisa menguatkan hati dan menahan semua keinginannya.
"Aku setuju!"
TBC
__ADS_1
warning!
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius 🙏