
Setelah mengibarkan bendera perang, kedua orang itu saling diam. Sebenarnya hanya Grace yang mengibarkan bendera perang disini. Tidak dengan Damian. Pria itu ingin kebahagiaan terjadi dalam hidup Grace.
Kenapa Grace tidak mengerti dan tidak mencoba melihat ketulusannya. Damian tidak bermaksud buruk, Grace salah paham padanya.
"Minum ini!" menyodorkan segelas susu. Kali ini bukan susu biasa, juga tidak dicampuri obat perangsang. Kali ini Ellie memasukkan obat penyubur kandungan atas perintah Damian.
Saat Damian membawa Grace pulang ke mansion. Damian memanggil Lucas, menyuruh dokter sekaligus sahabatnya itu memeriksa Grace secara keseluruhan.
Sejak saat itu Damian tahu, Grace mengonsumsi pil kontrasepsi. Kemarahan Damian sampai ke ubun-ubun. Dia meminta Lucas menuliskan resep untuk membuat rahim Grace subur kembali.
Satu cara terlintas di pikirannya. Membuat Grace hamil lagi mungkin bisa memperbaiki keretakan yang terjadi dalam hubungan pernikahan mereka.
"Aku tidak suka susu. Jadi jangan memaksa ku meminum cairan aneh itu." tolak Grace, menepis tangan Damian agar menjauh dari bibirnya.
Tidak bisa menahan kesabaran, lantas Damian meminum susu itu. Lalu, meraih tengkuk dan membuat Grace menegak susu itu lewat ciuman.
Grace mencoba melawan dengan memukuli dada bidang dan punggung sang suami. Namun, bukan Damian namanya jika melepaskan Grace begitu saja. Cara itu berulang-ulang Damian lakukan hingga susu tersebut tandas tidak tersisa.
"Anak baik, sekarang tidur." Damian tersenyum miring Grace menatapnya penuh kebencian. Ingat, semakin Grace memberontak, Damian semakin ingin menjinakkannya.
Cup! menjatuhkan kecupan di dahi Grace. Menarik selimut sampai ke leher. Kemudian naik ke atas ranjang dan ikut berbaring. Telapak tangan Damian mengusap kepala Grace berulang kali, membuat Grace nyaman dan terlelap pada akhirnya.
Damian menggerakkan telapak tangannya di depan wajah Grace. Memastikannya Grace sudah terlelap. Setelah itu, Damian beranjak dari ranjang.
Mengganti kaos dan celana pendeknya dengan pakaian kasual. Hendak pergi ke klub malam, menemui Peter untuk berterimakasih.
Tepat setelah Damian sampai di lantai dasar. Bersamaan dengan itu Ellie keluar dari dapur."Ellie!" teriak Damian memanggil.
Sontak yang di panggil menoleh dan bergegas menghampiri. "Ya tuan, anda membutuhkan sesuatu?" tanyanya dengan kepala tertunduk.
"Tidak, aku pergi menemui Peter sebentar. Awasi Grace sampai aku kembali!" memberi perintah. Perasaan takut akan kehilangan masih memenuhi hati. Damian tidak ingin kecolongan lagi.
"Baik tuan!" Ellie mengantarkan Damian sampai ke depan, setelah mobil Damian melewati gerbang dengan kencangnya. Ellie kembali masuk dan menjalankan perintah Damian.
...🦋🦋🦋🦋...
__ADS_1
Di London.
Steven bersiap pergi ke bandara. Sebelum itu berpamitan pada ayah dan saudari kembarnya. Belle sempat melarang Steven pergi, tapi Steven tidak mau tahu dan tetap akan menyusul Grace.
Belle tidak bermaksud buruk, tapi berpikir logis. Jika benar Damian memang tidak mencintai Grace, sudah pasti pria itu tidak akan melakukan hal diluar nalar seperti menculik istrinya sendiri.
Faktanya cinta Damian tulus. Entah Grace sadar atau tidak. Tetap saja fakta itu tidak akan berubah. Seharusnya Grace membuka hatinya untuk Damian. Tidak usah terburu-buru, awali saja dengan hubungan pertemanan.
Belle bisa mengerti, sejak kecil Grace mendapat luka dari keluarga. Kemungkinan besar Grace mempunyai trauma. Takut terluka untuk kali kedua. "Seharusnya kami tidak memperlakukan Grace seperti sampah dulu." sesal Belle.
Perasaan bersalah kembali menyelimuti hati. Andai Belle tidak merebut Alex, Grace mungkin hidup bahagia bersama Alex sekarang.
"Dad, Elle, aku pergi!" pamit Steven. Menyadarkan Belle dari lamunannya. Kedua orang itu mengangguk pasrah. Jauh dari dalam lubuk hati, berharap keputusan Steven tidaklah salah.
"Hati-hati Steven, telepon dad begitu kau sampai di sana!" seru Daniel berpesan. Kini sorot mata Alex pindah pada sosok keponakan kesayangannya. Abigail.
"Paman peyuk!" merentangkan kedua tangan kecilnya. Menunggu Steven menggendong dan memeluknya erat.
"Kemari sayang!" Steven mengangkat Abigail ke atas udara. Menimang-nimang dan berakhir membanjiri Abigail dengan kecupan-kecupan ringan.
Melepaskan cengkeraman-nya dan kembali berdiri di samping Belle. Seluruh keluarga mengantar Steven sampai ke halaman depan. Berharap Damian tidak melukai Steven nanti.
...🦋🦋🦋🦋...
Damian duduk di ruang VIP seperti biasa. Menegak cocktail sembari menunggu Peter datang. Dengar-dengar setelah ini Peter jarang kemari. Sepertinya Peter juga ingin membicarakan sesuatu tapi Damian tidak tahu apa itu.
Lamunan Damian buyar kala handphonenya bergetar, menampakkan nama Adam di layar utama. Tumben Adam menelpon lebih dulu.
"Ada apa?" tanya Damian to the poin.
".........." Damian mendengarkan penjelasan Adam dengan seksama. Sampai tidak menyadari kehadiran Peter.
"Awasi dia dan sambut kedatangannya. Aku ingin memberinya kejutan."kata Damian sebelum memutuskan sambungan telepon.
"Kau datang lagi?" suara Peter membuat Damian menoleh. "Aku datang untuk berterimakasih!" ujar Damian. Memutar bola matanya malas.
__ADS_1
Di sebelah, Lucas sudah tepar setelah menghabiskan satu botol wine dengan kadar Alkohol 50 persen.
"Kau bisa berterimakasih juga ternyata." Peter mencemooh Damian. Namun, senang setidaknya Damian tahu diri dan mengucapkan terimakasih.
"Iya aku berterimakasih atas bantuan kecil mu." sahut Damian.
Mendengarkan itu, Peter terkekeh kecil. Bantuan kecil Damian bilang, oh Gosh Peter bahkan menyetujui permintaan ibunya untuk di jodohkan.
"Ya terserahlah, apa yang aku harapkan dari sepupu tidak tahu diri seperti mu!" santai Peter seraya menghisap tembakaunya lagi. Damian tidak menjawab, mengulas senyum tipis.
Hening, keduanya sama-sama diam. Tidak mempunyai topik untuk dibahas. Sebelum Lucas berteriak-teriak sambil menangis.
"Ada apa dengan dibodoh itu?" tanya Damian, melirik kearah Lucas yang kembali tenang. Peter menaikan bahunya acuh, "Mungkin masalah perjodohan."
"Ngomong-ngomong, aku ingin mengundang kalian ke pesta pernikahan ku." Peter mengeluarkan dua undangan bewarna hitam yang di hiasi tinta bewarna emas. Sangat indah.
"Kau akan menikah? kapan?" kaget Damian. Baru kemarin Peter menyetujui perjodohan konyol itu dan sekarang tahu-tahu sudah menebar surat undangan.
"Tanggalnya sudah tertulis di undangan. Lihat saja sendiri." sentak Peter. Damian tertawa kecil, sebelum akhirnya memasukkan undangan tersebut ke dalam saku.
"Aku ucapkan selamat, tapi aku tidak yakin apakah aku bisa datang atau tidak."
"Memangnya kenapa? semua masalah mu sudah terselesaikan. Kakak ipar sudah di temukan, lalu kenapa kau tidak bisa datang?"
Apa Peter melupakan jika Grace dan Rachel bersahabat. Sebaiknya kedua wanita itu tidak di pertemukan untuk sementara waktu. Mungkin saja mereka bisa membuat siasat baru nanti.
"Aku tidak bisa membawa Grace pergi." sedetik kemudian, raut wajah kecewa Peter tampakkan. Padahal kehadiran Damian dan Grace cukup berpengaruh baginya.
"Datang sendiri, setidaknya salah satu dari kalian ada yang datang." saran Peter. Melihat wajah sedih Peter, terpaksa Damian menyetujui permintaanya.
"Baiklah aku akan datang nanti!"
TBC
warning!
__ADS_1
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. 🙏!!!!!!