Mr Billioneire Wife

Mr Billioneire Wife
Fitting baju 2(Revisi)


__ADS_3

“Sudah selesai memilih baju?” sebuah suara langsung menyapa ketika Grace dan Rachel berjalan melewati pintu.


“Iya kami sudah memilih, kak Belle kau tidak memilih pakaian?” Belle tersenyum, menggeleng singkat pertanda jika dia tidak akan membeli baju kali ini.


Bukan karena tidak punya uang, sekarang Belle merupakan wanita berkarir tidak mungkin tidak punya uang. Namun didalam almari pakaiannya masih banyak baju baru yang belum ia pakai sama sekali. Belle akan memakai salah satu dari pakaian tersebut.


“Tapi aku akan memilih satu untuk Abigail.”


Besok Belle akan pergi menemui Keenan dan membawa Abigail sekalian. Bocah manis itu harus terlihat cantik nan menawan. Mungkin Keenan terpikat dan mau mengakuinya sebagai anak.


“Aku akan membantumu memilih." seru Grace, tidak menyia-nyiakan kesempatan berbicara empat mata dengan kakaknya.


“Ayo!” menarik tangan Grace keluar dari ruangan dan mengitari pakaian anak yang tergantung rapi di gantungan besi.


“Kak kau yakin mau mengirim Abigail pada Keenan?" tanya Grace. Sudah Belle duga, adiknya ini penasaran dengan keputusannya.


"Tentu saja, aku yakin Grace. biarlah ini menjadi pertemuan terakhir mereka." jawab Belle dengan nada kecut.


“Apapun yang terjadi, kau tidak sendirian kak. Aku selalu mendukungmu." ucap Grace. Meraih sebelah tangan Belle dan menggenggamnya erat.


"Aku tahu itu dan aku terharu dengan semua perkataan mu Grace. Padahal, aku selalu memperlakukan mu dengan buruk di masa lalu. Tapi sepertinya kau tidak membenciku sama sekali!” ujar Belle sedih. Merasa menjadi wanita buruk yang di lumuri dosa.


“Masa lalu biarlah berlalu kak, kita tidak akan pernah maju jika masih terbelenggu oleh gelapnya masa lalu.” bijak Grace. Belle merasa semakin hari adiknya menjadi wanita dewasa yang sesungguhnya.


“Lalu apa kita tidak akan pernah menceritakan semua kejadian ini pada mereka?” menunjuk pintu, maksudnya adalah Rachel dan Ara.


“Tidak, sebaiknya mereka tidak perlu mengetahuinya.” saran Belle. Tidak ingin merusak mood Ara dan Rachel.


“Apa yang tidak perlu kami ketahui?”


Suara Rachel membuat mereka berdua mematung ditempat. Serempak mereka menoleh, terkejut mendapati dua orang yang tengah dibicarakan berdiri di belakangnya dengan memasang wajah datar.


Grace dan Belle saling melemparkan pandangan. Bingung harus menjawab apa. Kalau sudah begini terpaksa Belle harus menceritakan semuanya.


“Aku akan menceritakan semuanya pada kalian. Tapi tidak disini, kita cari tempat yang nyaman." ucap Belle. Mengajak ketiga orang itu menyeberang jalan dan singgah di restoran terdekat.


...🦋🦋🦋🦋...

__ADS_1


Fitting baju dan perancangan aksesoris telah usai dilakukan. Belle juga sudah menceritakan semua penderitaannya pada Rachel dan Ara.


Tentu saja Ara marah dan langsung menghubungi Peter- kakaknya. Menyuruh pria itu memaksa Keenan agar mau menerima Belle dan putrinya.


Namun ditengah-tengah pembicaraan, Belle mematikan sambungan telepon. Mengulum senyum seraya berkata jika dirinya baik-baik saja. Belle berhasil mengurus Abigail dan menggantikan posisi ayah selama beberapa tahun silam. Bahkan sampai Abigail besar pun Belle masih bisa melakukannya.


Belle tidak ingin memaksa Keenan bertanggung jawab. Faktanya semua ini terjadi karena kesalahannya sendiri. Seandainya dia tidak berencana menjebak Alex, semua ini tidak akan terjadi.


Alhasil Ara mengiyakan permintaan Belle dan membiarkan Keenan lepas begitu saja. Mereka semua pulang dengan perasaan kesal. Bahkan Rachel pun tidak berpamitan tadi.


“Ef aku lelah sekali, bisa kau pijat kaki ku?” pinta Grace pada suaminya yang sibuk berkutat dengan tabletnya.


“Bukankah aku sudah melarang mu pergi, tapi kalian para wanita bersikeras kan!” garangnya marah. Namun, tetap memijit pelan kaki sang istri.


“Iya-iya tapi kan momen sepeti ini jarang datang Ef. Kau tahu sendiri kan, setelah Ara sah menjadi istri Steven maka semuanya akan kembali ke rumah masing-masing!” Damian berdecak, alasan tidak masuk akal macam apa itu.


“Kau itu memang gemar sekali membantah, lihat kaki mu sampai bengkak. Ini akibat durhaka pada suami!”


Terus mengoceh menceramahi Grace tanpa henti. Grace hanya diam sesekali menggaruk telinganya yang tidak gatal. Terkadang dia juga mengumpat dalam diam.


“Selesai, apa rasa lelah mu berkurang?” tanya Damian tanpa mendongakkan kepala.


Damian menghujani dahi Grace dengan kecupan-kecupan basah. Sebelum akhirnya menarik selimut tebal itu sampai menutupi Grace. Hari ini Damian punya meeting penting. Terpaksa dia harus meninggalkan Grace sendiri selama beberapa jam ke depan.


...🦋🦋🦋🦋...


Pagi itu, Grace terbangun tanpa mengetahui keberadaan sang suami. Dia menguap singkat, melihat suasana cerah dari balik jendela membuatnya sadar. Hari sudah berganti.


Grace membuka selimutnya, beranjak dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar. "Ellie!" teriak Grace memanggil sang kepala maid.


"Ya nyonya. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Ellie sopan. Di iringi dengan senyum tipis yang ramah.


"Aku tidak membutuhkan apapun, tapi aku ingin menanyakan sesuatu pada mu!"


"Silahkan Nyonya, dengan senang hati saya akan menjawab semua pertanyaan anda!" ujarnya. Sedikit gugup, tapi Ellie berusaha menutupi kegugupannya itu.


"Dimana suamiku?" tanya Grace to the poin. Sedikit kesal, tapi juga khawatir. Pasalnya baru kali ini Damian pergi tanpa berpamitan.

__ADS_1


"Saya tidak tahu nyonya, saya rasa tuan muda belum kembali sejak semalam." jawab Ellie jujur. Tidak menutupi ataupun mengada-ada.


“Dimana ponselku, aku akan menelponnya. Kau kembali saja dan lanjutkan pekerjaanmu!" Ellie mengangguk, menunduk hormat sebelum akhirnya pergi meninggalkan nyonya mudanya sendiri.


“Kenapa tidak diangkat!” geramnya, tatkala panggilannya tidak terjawab.


Decitan mobil membuat Grace terperangah. Bergegas wanita itu turun ke lantai bawah. Berdiri di depan pintu utama seraya mendelik tajam ke arah Damian.


"Dari mana saja kau? kenapa tidak berpamitan?" berbagai macam pertanyaan Grace lontarkan.


Grace mengepalkan tangan saat melihat tanda merah bertengger apik di kerah Damian. Awalnya Grace kira itu darah, tapi semakin dilihat semakin mirip dengan lipstik.


"Maafkan aku Grace, aku kira rapatnya sebentar ternyata sangat lama dan aku tidak sempat pulang." jelas Damian lirih hampir seperti gumaman.


"Aku mengerti, sekarang pergi mandi. Aku akan membuatkan mu kopi!"


Menepis semua pikiran negatif dan lebih percaya dengan ucapan suaminya. Damian tidak mungkin berkhianat. Pria itu terlalu mencintainya sampai tidak bisa berpaling.


Baru selangkah Grace melewati dapur, sebuah benda jatuh dari tas kerja Damian. Grace mengernyit bingung, apa ini.


Diraihnya benda itu, refleks matanya mulai berkaca-kaca. Lipstik perempuan, aku tidak pernah memakai warna merah. Lalu milik siapa benda ini? batinnya bertanya-tanya.


Damian berselingkuh? tidak mungkin lagi pula Damian tidak suka disentuh wanita lain. Mungkin ini lipstik rekan kerjanya.


"Ellie, buatkan aku pancake durian. Aku ingin makan itu. Entah kenapa aku merindukan masakan mu yang lezat!" Grace ingin mengembalikan moodnya, sebab itu Grace meminta di buatkan pancake.


"Baik nyonya, saya akan membawanya ke kamar anda nanti." Grace tersenyum dan mengangguk tiga kali sebelum pergi meninggalkan dapur.


"Ef kau belum mandi? kenapa malah tidur. Mandilah dulu baru tidur lagi!" ucap Grace seraya meletakkan secangkir kopi di atas meja yang terletak di samping ranjang.


Sruk! Damian menarik lengan Grace, membuat wanita itu jatuh menimpa tubuhnya.


"Temani aku tidur, kau tidak kasihan pada suamimu ini. Semalam aku harus tidur di kamar hotel tanpa memelukmu!"


"Hotel?"


"Ya, aku tidur di hotel semalam. SENDIRIAN!" menekankan kalimat terakhir. Berharap istrinya itu tidak salah paham.

__ADS_1


"Oh, kalau begitu tidurlah. Aku akan menemanimu." Grace mencium lembut bibir Damian. Lalu menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami dan kembali memejamkan mata.


TBC


__ADS_2