
Setelah Grace di pindahkan ke ruang VIP. Lucas memperbolehkan mereka masuk secara bergantian. Dengan syarat orang itu tidak berlama-lama dan tidak membuat keributan.
Damian menjadi orang pertama yang masu ke dalam. Semua orang bersepakat untuk membiarkan pria malang itu menjenguk istrinya.
Namun, sebelum masuk kedalam. Damian menyuruh keluarganya untuk pergi ke penginapan terdekat. Hari sudah memasuki larut malam. Mereka harus beristirahat.
"Sebaiknya kalian pulang saja. Kalian pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh!" ujar Damian pada keluarganya.
"Tidak Ef, kami akan menemani mu di sini!" sahut Agatha menyanggah.
"Kalian harus istirahat. Jika tidak mau pulang ke resort, aku akan menyuruh Adam menyewa dua kamar lagi." Damian bernegosiasi dengan keluarganya.
"Tapi..."
"Mengertilah mom, aku tidak ingin kalian sakit karena kelelahan!" sahut Damian cepat, memotong ucapan Agatha.
"Baiklah terserah kau saja!" kata Agatha pasrah, malas memperdebatkan hal kecil.
Tak lama berselang, Adam datang membawa tiga paper bag berisi makanan."Selamat siang Sir! saya membawa rekaman yang anda minta!" menyerahkan ponsel berlogo apel di gigit itu ke tangan Damian.
Lalu menyerahkan tiga paper bag itu ke tangan Agatha. "Dam! sewakan dua kamar lagi untuk keluarga ku!" perintah Damian lagi.
"Baik sir!" setelah Adam pergi, Damian membuka pintu kamar secara perlahan.
Ia berdiri diambang pintu, sesaat sebelum ia menutupnya kembali. Matanya menyapu ke seluruh penjuru ruangan, sampai sorot matanya terhenti pada sosok wanita yang terbaring tak berdaya di atas ranjang.
Mata Damian berkilat sedih, mendadak kedua kelopak itu terisi air. tidak tega melihat sang pujaan hati terbaring lemah dengan alat medis di seluruh tubuh.
Rasa bersalah lagi-lagi menyeruak masuk ke dalam tanpa izin. Rasanya ia tak pantas menjadi orang pertama yang menemui Grace setelah kejadian itu. Namun, tak dapat di pungkiri ia senang melihat wajah cantik yang ia rindukan selama sehari ini.
Lebay, tapi itulah Damian. ia langsung merindukan Grace meski hanya berpisah selama beberapa menit. "Sayang, aku merindukanmu!" lirih Damian berbisik sambil menciumi punggung tangan Grace.
"Maaf karena aku tidak bisa melindungi mu dan anak kita. Aku penyebab kau berada disini, aku juga yang melenyapkan anak kita, bagaimana aku bisa menghadapi mu nanti. Kau mungkin membenciku kembali sayang!"
Air mata membasahi tangan putih Grace, pria itu tak henti-hentinya menyalahkan diri atas kejadian buruk yang menimpa Grace.
"Maafkan aku Grace, jangan membenci ku lagi!" serunya berulang, tak mengatakan hal lain selain permintaan maaf dan meminta untuk tidak dibenci.
"Ef..." panggil suara lirih, lembut, hampir tak terdengar. Damian masih belum menyadari suara itu. Ia masih setia menangisi istri dan anaknya yang sudah tiada.
Tetapi setelah mendapati tangan Grace bergerak-gerak. Sontak Damian terperanjat dari tempat duduk. Dia mendongakkan kepala, menatap wajah pucat Grace.
Melihat kedua kelopak mata itu terbuka, namun tertutup lagi setelah beberapa detik Damian mengulum senyum. Setitik air mata jatuh membasahi pipi dalam sepersekian detik.
Segera Damian beranjak dari tempat duduk dan berlari keluar mencari Lucas. Melihat sahabatnya duduk santai sembari menikmati secangkir kopi, Damian langsung menarik Lucas dari tempat duduknya. Membuat secangkir kopi itu jatuh membasahi lantai.
__ADS_1
"Kemari kau!"
"Apa-apaan kau? ada apa dengan mu Ef?" berbagai macam pertanyaan Lucas ajukan. Bingung melihat perangai Damian yang tidak waras itu.
"Periksa istriku, dia membuka mata tadi!" suara Damian meninggi, mulai tidak sabar.
"Benarkah?"
Seketika kemarahan yang tadinya berkobar hebat hilang dalam sekejap. Mendengar Grace sudah sadar membuat Lucas bahagia. Sebab Grace sudah melalui masa kritis.
"Bagaimana?" tanya Damian setelah melihat Lucas selesai memeriksa.
"Aku punya kabar baik untukmu, Ef. kakak ipar berhasil melalui masa kritisnya. Dia baik-baik saja sekarang." jelasnya dengan senyum mengembang.
Helaan napas panjang terdengar dari sela-sela bibir Damian. Perasaan tenang sekaligus senang mulai merasuki hati. Cukup putrinya yang pergi meninggalkannya sendiri. Tidak dengan Grace, wanita itu harus selamat.
"Ef, kak ipar memang berhasil melalui masa kritisnya. Tapi bagaimana caramu memberitahu tentang kematian anak kalian?" sedetik itu juga Damian di landa kebingungan.
"Aku tidak tahu, aku yakin Grace akan membenciku setelah tahu anaknya tiada. Dia mungkin kecewa padaku, karena aku gagal melindunginya."
"Berhenti menyalahkan diri mu, ini bukan salah mu Ef!" sahut Lucas. Kesal sendiri mendengar Damian terus menyalahkan diri atas takdir yang sudah terjadi.
Hening, Damian terlarut dalam lamunan. Yang dikatakan Lucas memang benar, ini bukan salahnya. Seandainya dia tahu John datang untuk membalaskan dendam. Sudah pasti dia tidak akan membawa Grace pergi.
"Pergilah istirahat! seharian penuh kau berdiri di depan pintu. Cukup kakak ipar saja yang sakit. Aku tidak ingin menampung pasien lagi!" cibir Lucas dengan tatapan mencemooh.
...🦋🦋🦋🦋...
Siang itu, di kamar VIP rumah sakit kota. Grace mulai membuka matanya perlahan.
Matahari semakin merangkak naik keatas, menebarkan suhu panas ke sebagian belahan bumi. Jarum berhenti di angka dua belas, menunjukkan hari semakin siang.
Awal pertama pandangannya tampak buram. Namun tak lama kemudian, penglihatannya kembali jernih, menampakkan dinding putih bersih. Itulah objek yang terlihat.
Rintihan terdengar dari bibir Grace, wanita itu memegang kepalanya yang terasa berat dan amat sakit. Sesaat Grace terdiam selama beberapa menit. Mencoba mengingat kejadian terakhir kali yang menimpanya.
Tunggu perutnya kenapa terasa perih? Grace menggerayangi bagian perutnya. Rata, mata Grace mulai memanas. Pikiran negatif bermunculan tanpa diundang.
"Dimana anakku?" gumamnya bertanya-tanya. Grace menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Mencari benda kotak yang disebut box bayi. Secara paksa, ia menarik infus dan mencoba bangun dari tempat tidur.
Dengan langkah tertatih tak memperdulikan rasa sakit disebagian perutnya. Ia membuka pintu. Melihat Damian dan Adam mengobrol di kursi depan, dia bergegas menghampiri mereka.
"Ef, dimana anak kita?"
Damian mematung di tempat, tiba-tiba saja napasnya tercekat. Dadanya terasa sesak. Mendengar suara Grace dan pertanyaan yang terdengar ironi itu. Membuat Damian tidak bisa berkata-kata.
__ADS_1
"Grace! kau disini?" mengalihkan pembicaraan. Berharap Grace lupa soal anak dan fokus pada kesehatannya saja.
"Ef, kau belum menjawab pertanyaan ku. Dimana anak kita, apa dia baik-baik saja, apa jenis kelaminnya?" Grace tersenyum, namun matanya bergetar takut akan sesuatu.
Damian semakin menunduk takut, tidak tega melihat Grace sedih karena kehilangan seorang anak.
"Ef!! jawab aku!" teriak Grace sekuat tenaga, lalu mengguncangkan lengan Damian kuat. Meminta pria itu untuk menatap matanya.
"Grace, anak kita perempuan. Tapi.." Damian menggantungkan kalimatnya. Melihat Grace tersenyum bahagia membuat nyalinya menciut.
"Lalu dimana dia?"
Adam memilih pergi, tidak kuasa melihat keadaan nyonya mudanya yang memprihatinkan.
"Dia..putri kita..dia sudah tiada Grace. Dia pergi terlalu jauh sampai aku tidak bisa menyusulnya!" akhirnya setelah berhasil mengumpulkan keberanian, Damian melanjutkan kalimatnya.
Bagai disambar petir disiang bolong, Grace terduduk di lantai. Rasa sakit akan kehilangan membuat pikirannya kosong.
"Apa kau bercanda, ayolah Ef itu tidak lucu. Anak kita tidak mungkin mati!" air mata mulai menetes. Semakin lama semakin deras membasahi kedua pipi..
Damian hanya diam, membawa Grace masuk kedalam pelukannya. Ia mendekap Grace dengan pelukan hangatnya.
"Hiks.... anakku tidak mungkin mati Ef.. hiks... hiks aku ingin dia kembali kesini!" teriak Grace histeris, melepaskan semua isak tangis yang tak dapat di bendung lagi.
"Jangan menangis Grace, maafkan aku. Karena aku tidak bisa melindungi kalian. Ini salahku babe. Seharusnya aku tidak mengajakmu berbulan madu. Mungkin putri kita masih bersama kita sekarang." ucap Damian lirih, sedikit gugup. Takut Grace kembali membencinya.
"Jangan menyalahkan dirimu Ef, aku tidak pernah kecewa padamu. Kau sudah berusaha melakukan yang terbaik. Justru ini salahku!"
"Seharusnya waktu itu aku lebih waspada, mungkin jika aku tahu dia bersembunyi dibelakang. Aku tidak akan pernah terkena tikaman. " jawab Grace, mempererat pelukannya.
Keduanya saling berpelukan, berbagi kesedihan atas kematian putri mereka. Keduanya berusaha merelakan tanpa rasa penyesalan. Sampai tak sadar pintu telah terbuka menampilkan sosok wanita paruh baya yang sibuk menggendong seorang anak kecil.
Tak ingin mengganggu, Agatha memilih keluar dari kamar. Namun baru ia ingin memegang gagang pintu. Suara Grace menghentikan langkahnya.
"Mommy!" Agatha berbalik, keduanya tampak melepaskan pelukan. Damian bergeser memberi ruang untuk ibunya.
"Boy, ikut daddy!" mengambil alih Xavier, kemudian mengajaknya duduk di sofa kamar.
Agatha nampak menatap menantunya dalam. Penuh kesedihan dan kasihan, tak banyak bertanya Agatha memeluk Grace lemah.
"Bersabarlah nak, Mommy yakin Tuhan akan memberikan ganti yang lebih baik." ucap Agatha, sambil mengusap punggung Grace lembut. Ia menggantikan sosok ibu yang amat di butuhkan Grace saat ini.
Beberapa menit kemudian, Hans dan Daniel masuk kedalam. Bergabung dan berbagi semua duka yang sama. Untuk seminggu mendatang, Grace harus dirawat di rumah sakit.
Baru setelah Lucas memastikan kondisinya benar-benar stabil, barulah Damian akan membawanya pulang ke New York City.
__ADS_1
TBC