
Melihat Grace membisu di tempat Damian tersenyum penuh kemenangan. Damian melepaskan pakaian dan ikut berendam di dalam bathtub.
Tidak nyaman, untung saja Damian tidak melakukan hal-hal konyol. Pria itu diam sembari bersandar pada bathtub. Matanya terpejam, Damian menikmati dinginnya air dan aroma strawberry yang Grace tuangkan kedalam.
"Tadi Alex datang ke perusahaan!" kata Damian memberi tahu.
"Benarkah?" pekik Grace kaget. Tidak menyangka Alex berani mendatangi iblis seperti Damian.
"Ya, dia bilang mau merebut mu dari ku!" balas Damian. Entah kenapa terasa ironi untuk di dengarkan.
Lantas Grace menyenderkan kepalanya ke dada bidang Damian. Lalu menatap ke atas, "aku tidak akan pernah berpaling Ef! tidak usah khawatir, aku akan selalu berada di sisi mu dalam suka maupun duka!"
gumam Grace. Suaranya terdengar lembut, sorot matanya menatap Damian dengan penuh cinta.
Damian membuka mata lalu tersenyum tipis. Mata abunya bertabrakan dengan mata coklat Grace. Keduanya saling bertatapan dengan sangat lama. Saling memandang dengan penuh kasih sayang.
"Ambilkan aku sabun cairnya! aku akan membantu mu menggosok badan!" goda Damian, berbisik tepat di daun telinga Grace.
Grace bergidik ngeri, tidak bisa membayangkan Damian akan menggerayangi tubuhnya. Anehnya Grace menurut, meraih botol sabun dan menyerahkannya pada Damian.
Dengan senyum licik Damian menuangkan sabun itu ke telapak tangan. Menggosoknya singkat sampai menghasilkan busa. Kemudian meratakan sabun itu ke seluruh punggung Grace dengan perlahan.
Sesekali memberi pijatan dan urutan kecil membuat Grace serasa di salon kecantikan. "Menurut mu apa yang harus kita berikan pada Steven dan Ara sebagai hadiah pertunangan?" tanya Grace di sela-sela kenikmatan.
Damian tampak terdiam sejenak, memikirkan sesuatu hal yang menarik. "Aku tidak tahu, terserah kau saja mau memberi hadiah apa!" jawab Damian pada akhirnya. Tidak bisa memberi saran. Sebab pikirannya sekarang tertuju pada punggung mulus Grace.
"Sia-sia aku bertanya pada mu. Apa kau tidak bisa memikirkan sebuah ide sama sekali?" sungut Grace kesal. Semakin risih karena tangan Damian mulai menjamah bagian depan.
Tawa Damian pecah, "maaf Grace, saat ini pikiran ku tertuju pada diri mu saja!" seru Damian. Menenggelamkan wajahnya ke bahu sang istri.
"Dasar cabul!" hina Grace.
__ADS_1
Setelah perbicangan itu keduanya saling merapatkan bibir. Grace masih memikirkan hadiah yang cocok untuk di berikan pada Steven dan Ara.
Lenguhan demi lenguhan semakin terdengar keras. Grace tidak tahan dengan gerakan tangan Damian yang semakin lama semakin liar dan menjalar kemana-mana.
"Hentikan, sekarang giliran mu Ef!" teriak Grace, melayangkan protes. Grace berbalik ke arah Damian.
Menyahut botol sabun dari tangan Damian. Mulai menuangkan ke dada bidang Damian. Pria itu tidak protes sama sekali, malah tersenyum miring sembari menikmati setiap sentuhan Grace.
"Jangan hanya di sana Grace! turun ke bawah perut ku juga harus di gosok!"
Grace mendengus, lalu menggosok perut Damian dengan kasar.
"Terus ke bawah Grace!" goda Damian lagi. Semakin membuat wajah Grace memerah padam karena menahan malu.
"Tidak-tidak, sekarang berbalik. Aku akan menggosok punggung mu!" sudah cukup Grace bersabar. Kali ini dia tidak akan membiarkan Damian memperdayai.
Grace menuangkan sabun di punggung Damian. Membuat punggung itu mengkilap. Telapak tangan mungilnya mulai bergerak ke sana kemari menggosok punggung Damian dengan kasar. Tidak memberi Damian kesempatan untuk menyentuhnya.
Undangan sudah tersebar, Steven sibuk mempersiapkan acara pertunangannya kini. Setelah perdebatan panjang, akhirnya kedua belah pihak setuju. Pertunangan akan di adakan di rumah Steven. Sedangkan acara pernikahan akan di adakan di Milan. Tempat tinggal Hans dan Agatha.
Daniel dan Belle langsung datang begitu mendapat undangan. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya jika Steven dan Ara berjodoh.
Cincin yang di pakai dalam acara pertunangan nanti. Di desain khusus oleh kembaran Steven yaitu Belle.
Wanita malang itu masih berlarut dalam kesedihan. Sampai sekarang usahanya tidak membuahkan hasil, ayah biologis Abigail masih belum ketemu.
Terkadang rasa lelah mulai merasuki hati. Mendengar pertanyaan Abigail, tentang di mana keberadaan sang ayah kerap kali membuatnya bersedih.
Merasa gagal menjadi seorang ibu karena tidak bisa memberi Abigail kebahagiaan. Tekad dalam diri Belle masih berkobar sampai sekarang.
Masih belum menyerah meskipun tidak tahu akankah dia berhasil menemukan pria itu atau tidak. Pria itu harus tahu jika dia memiliki putri secantik dan seimut ini. Apalagi mata Abigail begitu mirip dengan mata ayahnya, Belle yakin pria itu akan terpikat dengan Abigail.
__ADS_1
"Kak Belle, aku akan mengantar Alessio ke sekolah, tolong katakan pada Steven saat bertemu dengannya ya!" Belle yang saat itu menyuapi Abigail menoleh, lalu mengangguk serta tersenyum ramah.
Belle juga mendukung pernikahan Steven dan Ara, dia tahu bagaimana rasanya saat anak mencari keberadaan salah satu dari orang tuanya. Itu sangat menyakitkan dan Belle selalu menangis dalam diam setelah Abigail tertidur.
Sebenarnya kemana lagi aku harus mencari pria itu Apa dia sudah tiada, tapi kenapa aku tidak bisa menemukan jasadnya.
Wanita itu bahkan sampai sakit karena terlalu banyak pikiran. Tapi hebatnya Belle tetap bekerja untuk menghidupi keluarganya.
"Elle! dimana Ara?" tanya Steven, memanggil Belle dengan nama masa kecilnya.
"Ara mengantarkan Alessio ke sekolah, dia menyuruhku untuk mengatakannya padamu!" Steven hanya mengangguk mengerti, kemudian duduk disebelah keponakan kesayangannya.
"Keponakan paman cantik sekali!" puji Steven. Mengangkat dan memangku Abigail. Belle membiarkan Steven bermain bersama putrinya.
"Apa pembuatan cincin pertunangan kami sudah di mulai?"
"Tentu saja Steve, jangan khawatir aku akan menyelesaikan pembuatan cincinnya sehari sebelum acara di mulai!"
"Baiklah, terima kasih karena kau mau merancang cincin pertunangan ku!" Belle tersenyum dan mengangguk.
"Uncle daddy cemana?" Belle mematung, lagi-lagi pertanyaan yang sama terlontar dari bibir Abigail. Belle mengaduk-aduk makanan yang di bawanya. Sedih.
Steven kasihan pada Belle, "sayang paman punya banyak coklat untukmu," Steven mengalihkan pembicaraan.
"Benarkah paman?" Steven mengangguk, kemudian menggendong Abigail pergi, membiarkan Belle menenangkan dirinya.
"Ayo ikut paman!"
TBC
warning!
__ADS_1
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius🙏