
Hari ini semua orang akan kembali ke rumah masing-masing. Terkecuali Ara, wanita itu sudah di izinkan oleh kedua orang tuanya untuk tinggal bersama Steven.
Secara bergantian mereka berpamitan. Berbeda dengan Damian dan Grace, pasangan suami istri itu masih berada di kamar.
pagi ini, tepatnya setelah sarapan pagi. Grace berlari masuk ke dalam kamar mandi terdekat. Memuntahkan seluruh isi perutnya. Yah seperti ibu hamil pada umumnya, Grace mengalami morning sick.
"Grace istirahat disini. Kita akan pulang ke New York besok saja!" ujar Damian. Menepuk-tepuk punggung Grace lemah. Membantu meringankan rasa mual yang di alami.
Grace menggeleng lemah, ”tidak, aku ingin pulang saja. Aku tidak mau merepotkan orang lain!” tolak Grace, bersikeras mengajak pulang ke mansion. Damian mengacak rambutnya frustrasi, dia bingung harus bagaimana sekarang.
“Ayo Ef, kita pulang sekarang. Aku tidak nyaman tinggal rumah orang lain. Aku akan istirahat di rumah kita saja.” Rengek Grace, matanya mulai berair. Kondisinya sekarang membuat Grace mudah menangis untuk hal-hal kecil.
“Jangan menangis Grace, baiklah kita pulang sekarang!” Damian menghapus air mata sang istri. Tidak suka melihat Grace sedih.
“Dam, kau bawa Xavier. Aku akan menggendong Grace! ” titah Damian, sambil memberikan Xavier pada sekertaris Adam.
"Baik Sir!"
“Apa kau yakin akan membawa adik ku dalam keadaan seperti ini, lihat wajahnya sangat pucat!” sentak Steven.
Damian hanya diam, semua yang dikatakan Steven memang benar adanya. Tapi Damian terpaksa melakukan hal ini karena permintaan Grace sendiri.
“Kakak, aku yang bersikeras untuk pulang. jangan memarahi dan menyudutkan suamiku!" lirih Grace membela Damian.
Steven memutar bola matanya malas sedangkan Damian sendiri tersenyum penuh kemenangan."Ayo Ef!" teriak Grace merengek.
Tersadar dari lamunannya, Damian mengangguk. Lalu menggendong Grace ala bridal style. "Kami pergi!" pamit Damian singkat. Berjalan melewati Steven dan membawa Grace keluar mansion dimana mobil mereka berada.
"Kau masih kuat Grace?" tanya Damian. Grace mengangguk lemah. Lalu menyuruh Adam mengurangi kecepatan menjadi pelan.
Kali ini bandara kota tidak sepi seperti biasanya. Ramai, ratusan orang memadati tempat tersebut. Juga beberapa wartawan dari perusahaan berita terbesar di kota Valencia ikut turun tangan, saling berebutan mengambil gambar.
Sempit, Grace mulai kehabisan napas. Deru napasnya tersengal-sengal, matanya mulai tertutup. Namun, Grace berusaha mempertahankan kesadarannya.
"Ef, sesak!" lirih Grace. Damian menatap Grace khawatir. Lalu kembali menggendongnya seperti di mansion tadi.
"Bisakah kalian menyingkir, aku harus segera membawa istriku masuk!” teriak Damian marah. Para wartawan itu menghentikan langkahnya seketika.
Aura kemarahan Damian begitu menekan hawa yang menyelimuti bandara. Mereka takut Damian terusik dan melengserkan tempat di mana mereka bekerja.
Begitu sampai di pesawat pribadinya. Damian langsung masuk kedalam kamar, membaringkan Grace di atas ranjang dengan hati-hati.
Tidak sampai 3 menit Grace berbaring, kini kembali memaksakan dirinya untuk bangkit dan masuk kedalam kamar mandi. Lagi-lagi Grace memuntahkan semua isi perutnya.
__ADS_1
Damian mengambil minyak aromaterapi. Lalu, menghampiri wanitanya. Mengoleskan minyak aromaterapi itu di sekitar leher dan dahi. Pijatan-pijatan lembut Damian hadiahkan di daerah leher dan punggung.
"Apa kau merasa lebih baik?" tanya Damian seraya menggosokkan minyak aromaterapi pada leher dan punggung Grace.
"Iya, mual ku sudah sedikit berkurang. sekarang aku ingin minum Ef!" Damian segera menuangkan segelas air dan memberikannya pada Grace.
Grace meminum air itu untuk meredakan dahaganya, "sekarang aku baik-baik saja Ef. Kau tidak perlu panik lagi." Grace mengusap rahang tegas suaminya.
Keduanya kembali ke kamar dan duduk di pinggiran ranjang. Damian menciumi punggung tangan Grace serta melontarkan semua kata manisnya, agar Grace terhibur dan kembali semangat.
Terlalu asik berduaan seolah dunia milik mereka saja, lagi-lagi mereka melupakan putranya yang dititipkan pada Adam.
Benar kata Adam, seharusnya yang menjadi orang tua Xavier adalah Adam. Karena pria malang itu yang sering menjaga dan bermain bersama Xavier.
"Aku akan mengambil Xavier lebih dulu, aku yakin Adam sedang mengumpat diluar sana!" Grace berdecak sembari menganggukkan kepala, membiarkan Damian keluar kamar.
"Berikan Xavier padaku!" pinta Damian dari belakang sana. Adam menoleh, sebelum menyerahkan tuan kuda juniornya itu, dia sempat mendaratkan ciuman.
Xavier terus menguap pertanda jika dia sudah mengantuk. Wajar saja, semalam Xavier terbangun di tengah malam karena mencari keberadaan sang ibu. Segera Damian membawanya ke kamar dan sekalian tidur bersama Grace.
Damian membuka pintu kamar, tubuhnya membatu saat melihat Grace sudah tertidur pulas. Dengkuran halus samar-samar terdengar di Indra pendengarannya. padahal belum sampai 5 menit Damian pergi, tapi wanita itu sudah terlelap.
Mungkin Grace kelelahan dan kehabisan tenaga akibat gejala morning sick nya maka dari itu dia cepat tertidur.
...🦋🦋🦋🦋...
Setelah beberapa jam berada dalam penerbangan, akhirnya pesawat Damian mendarat sempurna di bandara internasional New York pada saat sore hari.
Grace terlihat lebih segar dan sepertinya tenaga wanita itu sudah kembali setelah tidur selama perjalanan. Hanya saja Grace masih merasakan sakit kepala.
"Ef kita mampir ke restoran China ya, anak kita mau makan itu!" pinta Grace, bergelut manja pada lengan suaminya. Damian sempat terdiam, namun akhirnya menuruti kemauan sang istri.
"Ef, kalau kau lelah berikan Xavier padaku. Aku akan menggendongnya!" ucap Grace berbasa-basi. Padahal senang Damian menggendong Xavier. Asal kalian tau, Xavier itu gemuk.
Dan sekarang dia masih terlelap sampai sekarang. Bocah kecil itu sepertinya kelelahan karena harus bolak balik New York-Valencia.
"Aku tidak selemah itu!" sanggah Damian dengan wajah datarnya.
Damian menginstruksikan Adam untuk memberhentikan mobilnya di restauran makanan China yang ada di sebelah mall pusat kota. Orang-orang bilang restauran itu terkenal dengan masakannya yang begitu lezat dan cocok di setiap lidah orang Amerika.
"Sir kita sudah sampai!" Grace langsung membuka pintu mobil, tanpa menunggu Adam membukakan pintu.
Dengan langkah panjang Damian menyusul Grace, menyamakan langkah kakinya dengan langkah kaki sang istri. Sehingga keduanya saling berdampingan.
__ADS_1
Antrian terlihat panjang, Grace sedikit merasa kesal karena rasa inginnya terus menuntut. Damian yang melihat itu menghampiri manager restauran, memberikan beberapa lembar uang pada manager itu untuk mendapatkan nomor antrian selanjutnya.
"Ayo! sekarang giliran kita!" ajak Damian dengan santainya.
Hei apa mata mu buta. Antriannya masih panjang dan kita mendapatkan nomor terakhir. ingin rasanya Grace berteriak seperti itu.
"Ayo, apa kau tidak ingin cepat-cepat mengisi perutmu?"
" lEf kita nomor antrian terakhir!"
"Aku tahu, karena itu aku menyuap manager restauran untuk mendahulukan kita. Kau sangat ingin makan di sini kan?" Grace mengangguk.
"Yasudah ayo masuk dan buat pesanan!" ajak Damian lagi. Kali ini menarik pergelangan tangan Grace dan membawanya masuk.
Grace hanya diam dan mengekor di belakang. Pikirannya sempat hilang sesaat karena terlalu senang.
Grace memesan lima jenis makanan sekaligus, Damian hanya diam melihat tanpa protes sama sekali. Damian sempat membaca buku panduan ibu hamil. Dalam buku itu di jelaskan jika ibu hamil memang memiliki napsu makan yang besar.
"Selamat menikmati nona!" Grace berbinar menatap meja yang dipenuhi oleh pesanannya. Kali ini dia memesan chicken charsiu, mapo tofu, won ton, jiaozi, bakpao.
"Heum, enak sekali, kau tidak ingin mencicipinya?" tawar Grace pada Damian yang memandanginya dengan tatapan lapar. Yah Damian ingin memakan Grace sekarang, wanita itu terlihat seksi saat makan dengan mulut yang penuh.
"Makan semuanya, aku kenyang hanya dengan melihat mu memakan semua itu!" Grace tersipu malu, jika tidak mau ya sudah Grace malah senang karena semua makanan ini hanya untuknya seorang.
TBC
chicken charsiu
mapo tofu
won ton
jiaozi
bakpao
__ADS_1