Mr Billioneire Wife

Mr Billioneire Wife
Meminta Restu(Revisi)


__ADS_3

Seusai acara resepsi pernikahan. Pasangan pengantin baru di harapkan pergi berbulan madu. Steven dan Ara berangkat ke Paris setelah selesai sarapan bersama.


Untuk sementara waktu Alessio akan tinggal bersama dengan Hans dan Agatha. Dan masalah pendidikan, Hans sudah menyiapkan guru privat untuk cucunya itu.


Selain kabar Steven dan Ara pergi berbulan madu. Semua orang juga di kejutkan dengan kabar pernikahan Keenan dan Belle. Pasalnya Keenan mengumumkan hubungan resmi mereka.


Keenan dan Belle melakukan upacara pemberkatan tanpa sepengetahuan orang-orang. Karena itu, begitu mereka datang seluruh keluarga gempar. Namun, ikut bahagia karena keputusan mereka merupakan keputusan yang tepat.


Keenan menggenggam jari jemari Belle dan masuk kedalam kamar tamu kini. Menemui Daniel-ayah Belle untuk meminta restu.


Pria paruh baya itu terlihat murung. Matanya mengamati hamparan taman, dengan kaki selonjoran. "Dad!" suara Belle memecah keheningan.


Daniel menoleh, menatap dua orang tersebut secara bergantian. "Kalian datang?" bertanya sembari beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri dengan langkah tertatih-tati.


"Dad, kami datang untuk meminta restu!" seru Belle lirih. Mengeratkan genggamannya. Takut Daniel tak merestui setelah mengingat kekecewaan yang Keenan berikan.


Hening, Daniel tak bergeming. Masih memperhatikan mereka, terutama genggaman tangan yang semakin mengerat itu.


"Daddy tanya, apa kau bahagia dengan pernikahan ini?" Belle langsung terdiam. Awalnya Belle tidak mengharapkan Keenan kembali. Namun, setelah kejadian semalam Belle ingin menerima Keenan dengan sepenuh hati. Dan memberikan Abigail orang tua yang lengkap.


"Tentu saja dad. Aku bahagia!" Belle menjawab dengan senyum tipisnya. Keenan bahkan sempat terpesona dengan kecantikannya itu.


"Kalau begitu daddy harus memberi restu mau atau tidak mau. Mendengar seberapa kejamnya Keenan, daddy yakin dia tidak peduli jika mendapat restu atau tidak. Yang terpenting kau menjadi miliknya!" ucap Daniel panjang lebar, benar-benar membuat Keenan tertohok. Faktanya Keenan memang tidak membutuhkan restu pak tua itu.


"Tidak akan seperti itu dad, jika kau tidak memberikan restu. Aku tidak akan ikut dengan Keenan." seru Belle di iringi tawa kecil.


Mendengar Belle menjawab, lantas Keenan menolehkan kepala. Melemparkan tatapan tajam. Tidak suka. "Aku tidak akan membiarkan mu pergi kali ini. Kau harus di hukum, sayang!" bisik Keenan seraya Meniup-niup daun telinga Belle. Karena malu, Belle refleks mendorong tubuh Keenan.


"Sekarang pergilah sayang. Dan nikmati Hari-hari bahagia mu. Dad akan mendoakan mu dari sana!" Daniel menepuk pelan kepala Belle dan setelah itu memeluknya erat.


"Aku pamit dad, maaf aku tidak bisa menemani mu lagi!" Daniel menggeleng.


"Kenapa kau harus minta maaf, sudah seharusnya seorang istri mengikuti keinginan suami. Jadi jaga dirimu baik-baik hm!" Belle mengangguk.


"Kalau begitu kami pamit pergi sekarang!" pamit Keenan kemudian menggenggam tangan Belle dan mengajaknya keluar.


"Bawa Abigail, hari ini kita harus kembali ke New York. tidak perlu membawa apapun, aku sudah menyiapkan semua keperluan mu dan Abigail di apartemen nanti!" Belle mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


...🦋🦋🦋🦋...


Dikamar presiden suite, Damian dan Grace masih terbaring nyaman di bawah selimut tebal bewarna putih. Semalam, Damian meminta jatah. Alhasil mereka berdua terlambat bangun dan tidak sempat sarapan bersama keluarga.


"Di mana Damian dan Grace?" tanya Steven.


Seketika semua orang sadar jika Damian dan Grace belum bergabung. "Mungkin, Ef meminta jatah. Karena itu mereka bangun terlambat." sahut Peter. Ikut memanas-manasi suasana.


"Sudah-sudah lanjutkan sarapan kalian. Aku akan menyuruh salah satu pegawai hotel untuk mengantarkan makanan ke kamar mereka nanti." sahut Agatha, menghentikan gosip yang ada.


"Aku yang pengantin baru, tapi kenapa mereka yang telat datang sih!" gerutu Ara. Bahkan Xavier pun di titipkan padanya. Orang tua macam apa Damian dan Grace itu.


"Aku selesai, Ara kita harus segera berangkat. Pesawat kita sebentar lagi lepas landas!" kata Steven mengajak istri barunya berangkat ke bandara.


"Tunggu sebentar Steve. Kakak ku dan kakak ipar ku masih belum bangun. Tidak ada yang menjaga Xavier nanti." ucap Ara. Menenteng Xavier ke atas. Menunjukkannya pada Steven.


"Lempar saja bom ke kamar mereka. Aku yakin mereka pasti bangun, di akhirat tentunya.” asal bicara. Berusaha membuat lelucon meskipun terdengar garing.


"Titipkan saja Xavier pada sekertaris kakak mu!" saran Steven.


"Tapi..."


"Berikan Xavier padaku!" mengulurkan tangan. Menunggu Ara menyerahkan Xavier.


"Baiklah!"


Sebelum Steven membawa Xavier pergi. Kedua orang itu menciumi pipi gembul keponakannya sampai puas. Barulah setelah itu Steven menyuruh Adam mengambil Xavier.


"Hei, kemari!" panggil Steven kala tidak sengaja menangkap sosok Adam tengah melewati kamarnya.


"Ya tuan! ada yang bisa saya bantu?" tanya Adam ogah-ogahan. Padahal baru saja dia mau beristirahat. Tapi musuh bebuyutan majikannya itu malah memanggilnya.


“Kebetulan kau lewat sini. Ini, bawa tuan muda mu pergi. Bilang pada bajingan tak tahu malu itu untuk tidak menyusahkan istriku!” gerutu Steven seraya menyerahkan Xavier pada sekertaris Adam.


Adam menarik napas panjang sebelum melanjutkan langkah kakinya dengan raut wajah kesal.


Ini baru pagi dan mereka sudah menyusahkan pria malang seperti ku.

__ADS_1


Adam membawa Xavier ke kamar. Entah bagaimana caranya, yang jelas dia mau membaringkan tubuhnya sekaligus menjaga majikan juniornya saat ini juga.


...🦋🦋🦋🦋...


Angin menerbangkan gorden kamar sehingga sinar matahari masuk kedalam cela-cela, menerpa wajah Grace. "Ef, matikan lampunya!"gumam Grace dengan suara serak khas orang bangun tidur pada umumnya.


Tidak kunjung mendapat jawaban. Sontak Grace mengernyitkan dahi. Mendorong Damian agar segera bertindak.


Karena kaget, Damian sontak membuka mata. Mau tidak mau pria itu memaksakan dirinya beranjak dari tempat tidur dan mematikan lampu.


Anehnya kamar tersebut masih sangat terang. Damian pun berusaha membuka mata dan betapa terkejutnya dia saat melihat suasana cerah di luar jendela sana.


"Grace bangun! ini sudah siang!"


Damian mengguncangkan tubuh Grace lemah. Berusaha membangunkan wanitanya. Tapi sayangnya Grace bergeming, hanya menggeliat kecil tanpa membuka mata.


Melihat itu Damian tersenyum miring. Terselip rencana jahat di kepalanya. Pria itu masuk kedalam kamar mandi. Menyalakan shower dan membiarkan bathub terisi penuh dengan air hangat.


Sruk! Damian menggendong Grace ala bridal style dan membawanya masuk kedalam kamar mandi. Damian memasukkan Grace kedalam bathtub.


Meskipun Damian melakukannya dengan sangat lembut. Tetap saja suhu air membuat Grace gelagapan.


"Akh...tolong! ada banjir bandang. Aku tidak bisa berenang!" teriaknya sambil mengayunkan tangan keatas.


Tawa Damian pecah seketika tatkala melihat Ting konyol Grace. Bagaimana bisa air setinggi lutut dapat menenggelamkan seseorang.


“Sialan! kau mengerjai ku." tanya Grace, memukuli dada bidang Damian. Matanya melebar, kesal dengan perbuatan suaminya.


“Itu salahmu sendiri babe, tidur nyenyak seperti kerbau." jengah Damian, menangkap kedua lengan Grace dan menguncinya menjadi satu.


"Biasanya kau membangunkan ku dengan cara yang manis. Mencium ku, memeluk ku. Lalu kenapa hari ini kau mengerjai ku." cibir Grace sebal.


"Ini juga tak kalah manis Grace." Tiba-tiba Damian masuk kedalam bathtub. Menyuruh wanita itu bergeser ke depan.


"Jangan aneh-aneh, aku mau menemui daddy. Jadi mandikan aku dengan benar. Atau aku akan memukul mu nanti!" ancam Grace.


"Ya baiklah!" jawab Damian di iringi tawa kencang.

__ADS_1


TBC


__ADS_2