Mr Billioneire Wife

Mr Billioneire Wife
Bulan madu part 2(Revisi)


__ADS_3

"Berhenti merajuk dan minum coklat panasnya sayang!" ketus Damian, menabrakkan bibirnya ke bibir Grace. Adam dan Lucas yang menyaksikan hanya diam di tempat. Melengos melihat perbuatan pasangan tidak tahu malu itu.


"Apa liat-liat!" sentak Damian tatkala mendapati Lucas mendelik dan menatapnya tajam.


"Kalau kau ingin bermesraan, masuklah ke kamar. Hargai Adam yang masih jomblo!" menuding Adam dengan jari telunjuknya, menatapnya penuh iba seolah Adam tengah tertimpa musibah.


"Tuan, jangan sombong dulu. Mungkin calon istri anda mines 7 sampai tidak bisa melihat mana dokter baik dan buruk. Ck...Ck...Ck saya jadi kasihan!" Akhirnya setelah bungkam beberapa saat Adam pun memutuskan untuk angkat bicara.


"Sembarangan, sini biar ku kuncir mulut jahat mu itu." ucap Lucas tak terima, mencoba menggapai bibir Adam dengan tangannya.


"Kalian berdua hentikan! kak kau belum memberi tahu siapa gadis yang akan kau nikahi." ucap Grace mengingatkan, menyanggah pertengkaran Lucas dan Adam. Lucas menepuk dahinya pelan, merutuki kebodohan yang sudah mendarah daging.


“Ah iya aku lupa, calon istriku adalah asisten ku sendiri. Aku akan menikah dengan Kate.” lagi-lagi Grace ditampar sebuah fakta yang mengejutkan.


Apa!! jadi calon Lucas adalah dokter pemalu itu. Sebenarnya apa yang sudah kak Lucas lakukan sampai berhasil meluluhkan dan menarik hati dokter dingin itu. Apa kak Lucas memakai guna-guna atau semacam pelet.


"Kak bagaimana caramu bisa membuat Kate mau menikah dengan mu. Sama seperti Ef dan Peter, apa kau juga memaksanya?" Lucas menggelengkan kepalanya cepat. Tentu saja ia berbeda dengan kedua psikopat tak berperasaan itu.


"Aku hanya melamarnya dan dia setuju untuk menikah dengan ku. Singkat sekali bukan?" ujar Lucas sembari menaik turunkan alisnya.


Sejatinya Kate yang menarik perhatian Lucas. Gadis itu suka dengan pria humoris. Karena itu kate tidak menolak saat Lucas melamarnya.


"Kami saling mencintai, hubungan kami sehat. Tidak seperti hubungan kalian." hina Lucas pada Damian dan Grace.


Grace menanggapinya dengan senyum paksa. Akhirnya Kate masuk ke dalam circle para istri tuan posesif yang terdiri dari Ara, Belle, Rachel, dan Grace sendiri tentunya.


Tinggal Adam yang belum memiliki pasangan. Grace tersenyum jahil, menoleh ke arah Adam. Menatap dengan pandangan yang sulit diartikan.


Adam merasakan bulu kuduknya terbangun memutuskan melirik kesamping. Pantas saja hawa disini terasa aneh ternyata Grace sedang menatapnya dengan pandangan buruk.

__ADS_1


Merasakan firasat buruk, Adam mengalihkan pandangan pura-pura tidak tahu. Grace mengambil selembar koran merematnya menjadi bola dan melemparkannya pada Adam.


"Dam! apa kau tidak berniat menikah? Disini hanya kau saja yang masih belum menikah. Keenan dengan kak Belle, Ef dengan ku, Peter dengan Rachel, kak Steven dengan Ara, dan sekarang kak Lucas akan menikah dengan Kate. Kau mau menyendiri sampai tua?" remeh Grace. Adam berdecih, sudah tahu Grace akan melontarkan pertanyaan yang sering kali muncul dari bibir orang lain juga.


Damian tidak ikut campur. Memilih duduk di samping Grace seraya membaca majalah bisnis teratas. Namun, jauh dari lubuk hati, Damian penasaran apa yang membuat Adam melajang sampai sekarang. Padahal Damian tidak pernah melarang Adam memiliki pasangan hidup.


"Tentu saja saya akan menikah Nyonya, tapi tidak sekarang!" jawab Adam sekenanya. Pernikahan tidak pernah muncul di benaknya. Terlebih Adam tidak tertarik pada wanita manapun sampai sekarang.


"Kenapa?" pantang menyerah mengorek segala informasi mengenai Adam. Grace ingin menjadikannya sebagai bahan gosip nanti.


"Saya belum menemukan wanita yang pas dengan selera saya." Grace tersenyum tipis. Terlihat tenang padahal dalam hati terus menerus menggunjing pria malang itu.


Belum menemukan apa kau yang tidak laku. Kalau kau gila kerja siapa yang mau menikah denganmu.


Melihat pandangan Grace, Adam sedikit was-was takut nyonya mudanya ini menawarkan wanita lagi.


"Kenapa menatapku begitu, kau takut aku menawarkan perjodohan dengan teman-teman ku?" menebak. Dan tebakannya itu tepat sasaran.


"Ya...saya ucapkan terimakasih atas tawarannya. Dan maaf saja, saya tidak tertarik pada penawaran anda!" sarkas Adam membuat Grace emosi.


"Dasar sekertaris sialan!"


"Grace, kau mengabaikan suami mu!" geram Damian tanpa mengalihkan pandangannya dari majalah yang di bacanya.


"Aku tidak mengabaikan mu. Kau sendiri yang repot dengan majalah-majalah sialan itu!" cibir Grace tak kalah sarkas.


Damian terjebak dalam permainannya sendiri. Dia terdiam di tempat kalah telak berdebat dengan Grace. "Oke, aku minta maaf untuk itu. Sekarang nikmati coklat panasnya. Hargai usaha ku dan minum itu!"


Grace meraih gelas berisi coklat itu. Sedikit demi sedikit mulai menyesapnya. Merasakan sensasi dari rasa coklat panas tersebut.

__ADS_1


"Heumm..... enak sekali, aku suka!" puji Grace.


"Benarkah kakak ipar? Ef kau tidak membuatkannya untuk kami?" tanya Lucas berharap masih ada sisa di dapur sana.


"Ambil sendiri, sudah baik aku membuat lebih tadi." celoteh Damian membuat kedua laki-laki itu jengah dan memilih diam tak mendengar.


"Astaga kebaikan secuil upil saja kau bangga-banggakan. Apalagi kebaikan besar, mungkin kau akan mencetaknya dihalaman terdepan koran. Damian Efrat Wilson sang dermawan!" seru Lucas menghina, bergegas mengambil coklat panas sebelum pria itu mengamuk dan membuang coklatnya.


Mengabaikan Lucas, Damian memilih fokus menatap Grace yang masih setia menikmati coklat. Ekspresi yang terlihat benar-benar mengutarakan betapa sukanya Grace pada coklat tersebut.


Tidak lama setelah itu Lucas datang membawa satu cangkir besar berisi coklat buatan Damian. Adam geram dengan tingkah Lucas. Pasalnya semua coklat yang tersisa habis di ambil oleh sahabat bos-nya.


"Tuan, berikan jatah saya. Kenapa anda mengambil bagian saya?" ucap Adam melayangkan protes. Tatapannya terlihat setajam pisau. Siap menghunus siapa saja yang mengganggu.


"Aku yang mengambil, sudah sepantasnya aku mendapatkan lebih banyak. Kau tahu berjalan itu butuh energi!" sahut Lucas berdalih.


Adam menarik alisnya keatas, berjalan setengah meter apakah membuat badan dokter itu kurus. Bahkan pori-pori kulitnya tidak mengeluarkan keringat sama sekali.


"Tuan itu tidak adil, saya tidak pernah menyuruh anda mengambilkannya untuk saya. Jadi kembalikan jatah saya!" keluh Adam, kepalanya terasa berdenyut hanya karena secangkir coklat panas itu.


Damian menatap datar dua orang tersebut. Tangannya terkepal kuat, kesal karena konsentrasinya terganggu dengan perdebatan itu.


"Tutup mulut kalian, kalian ingin aku menjahit bibir cerewet kalian. Kekanakan sekali, pertengkaran kalian membuat ku sakit kepala!" marah Damian. Menyanggah perdebatan yang terjadi. Sontak kedua orang itu terdiam di tempat. Lucas pun membagi coklatnya karena takut dengan tatapan datar sekertaris Damian.


"Grace! ayo kita masuk ke kamar. Biarkan dua orang gila ini bertengkar." Ajak Damian membuat Adam dan Lucas tersulut emosi.


"Bedebah sialan!"


TBC

__ADS_1


warning!


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius 🙏


__ADS_2