
Sarapan telah usai, kehadiran Grace menambah keceriaan suasana. Namun, mereka harus berpisah setelah itu. Dominic dan Kanaya pulang ke Las Vegas. Sedangkan Rachel dan Peter singgah untuk beberapa saat sebelum akhirnya ikut menyusul.
Sebelum pulang Grace menemui Ara. Sekedar untuk menyapa dan mengobrol singkat. Semalam, Grace tidak punya waktu berdua bersama Ara. Itu keluarga mereka antusias dengan kehadirannya. Dan terus mengajak Grace bicara.
Tok! tok! tok!
"Ara, boleh aku masuk?" suara ketukan pintu terdengar dari arah luar, di susul suara cempreng Grace.
Tidak lama setelah itu pintu terbuka, menampakkan sosok gadis cantik dengan piyamanya. Jelas sekali, Ara baru bangun tidur. "Masuk saja kakak ipar, tidak usah meminta izin!" balas Ara seraya menutup mulutnya yang menguap.
Grace mengukir senyum ceria, kemudian masuk kedalam kamar Ara. Berantakan, entah sudah berapa lama Ara tidak merapikan kamar tidurnya. "Maaf kak, aku belum sempat membersihkan kamar!" seru Ara cengengesan. Tahu Grace tidak nyaman dengan kamar kotornya.
"Tidak masalah, aku mengerti!" balas Grace singkat. Lalu duduk di pinggiran ranjang.
"Hari ini aku dan kakak mu mau pulang ke New York. Jadi aku ingin mengobrol sebentar dengan mu!"
"Secepat ini?" pekik Ara. Padahal baru kemarin dia bertemu Grace dan sekarang Grace akan pulang ke Mansion kakaknya.
"Iya, kau tau sendiri sesibuk apa kakak mu itu. Jadi mau tidak mau kami harus kembali hari ini!" Grace memberi tahu. Ara tidak menjawab melainkan mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.
"Jadi ceritakan apa pekerjaan mu, siapa pacar mu, berapa umur mu, kau kuliah dimana, ceritakan semua tentang mu!" pinta Grace, membanjiri Ara dengan pertanyaan beruntun.
"Astaga kak, apa kau sangat penasaran dengan ku? sampai-sampai kau membanjiri ku dengan banyak pertanyaan." tanya Ara di iringi tawa renyah.
"Ada sebuah pepatah, tak kenal maka tak sayang. Lagi pula kita saudari ipar, sudah seharusnya aku mengakrabkan diri dengan mu." Ara tergelak kecil, gemas dengan kakak iparnya.
"Umurku 26 tahun, aku bekerja disalah satu rumah sakit kota. Aku seorang dokter dan di tugaskan untuk menjaga bangsal anak-anak. Untuk pacar, aku tidak punya. Jangankan pacar, teman pun aku tidak punya!" menjawab pertanyaan Grace sekaligus. Dari sini Grace bisa merasakan jika Ara kesepian.
"Kau tidak punya teman? maaf, tapi apa kau menargetkan standar pertemanan mu?" tanya Grace hati-hati. Tidak ingin membuat Ara sakit hati.
"Tidak, mereka sendiri yang minder karena aku terlahir dari keluarga kaya. Dan beberapa dari mereka hanya memanfaatkan uang ku saja!" jawab Ara.
"Tidak papa, sekarang kau punya dua sahabat. Aku dan Rachel yang akan menjadi teman mu. Dan mulai sekarang panggil aku Grace tanpa ada embel-embel kak." merangkul pundak Ara, memberi kehangatan seorang teman yang tidak pernah Ara dapatkan selama ini.
__ADS_1
"Terimakasih Grace!" ujarnya dengan mata berkaca-kaca, terharu.
"Lalu aku akan mencarikan mu pacar, kau tahu aku punya banyak teman online. Kalau kau mau aku bisa mengenalkan mu." Grace memperlihatkan foto profil laki-laki tampan yang baru-baru ini di kenalnya lewat sosial media.
"Tidak perlu Grace, aku yakin setelah mereka tahu aku tidak bisa memiliki anak, mungkin mereka langsung menjauh!" mata Grace membulat seketika. Mendengar pernyataan ironi yang keluar dari bibir Ara membuat hatinya tersayat.
"Saat aku berusia 17 tahun terdapat tumor ganas yang menempati rahimku. Jika rahim ku tidak di angkat tumor itu bisa membunuh ku. Dan saat itu dokter mendiagnosa bahwa aku tidak bisa memiliki keturunan." lanjut Ara menjelaskan. Grace semakin sedih, matanya mulai berkaca-kaca. Tidak menyangka gadis secantik Ara memiliki kekurangan.
Dulu, Grace selalu mengeluh dan bersikap seolah dia orang paling menderita di dunia. Ternyata masih ada orang yang lebih terluka darinya. Seharusnya Grace bersyukur bisa bertemu Damian dan memiliki Xavier.
"Lalu, bagaimana caramu menangani kesedihan ini Ara?"
"Mudah saja, cukup berdamai dengan keadaan."
Grace termangu di tempat duduknya. Memikirkan semua jawaban Ara. Sebenarnya sekuat apa hati Ara sampai bisa melalui semua ini tanpa memendam dendam pada tuhan sekalipun.
"Sekarang giliran yang bertanya. bagaimana caramu merayu kakak ku sampai dia mau menikahi mu. Lalu, apa kau mencintainya?" lagi-lagi pertanyaan yang sama terlontar dari mulut orang yang berbeda.
"Menggelikan, tapi aku senang karena berkat semua itu kita bisa bertemu dan berbagi banyak hal." Grace tersenyum tipis, lalu mengangguk-angguk setuju.
"Jam berapa sekarang?" tanya Grace.
"Jam 9 pagi, kenapa?"
"Aku harus segera pergi, hari ini aku dan kakak mu akan pulang ke New York." jawab Grace membuat wajah Ara berkeruh masam.
"Tidak usah menampakkan wajah masam, kau bisa mengunjungi kami nanti." seru Grace setelah mencubit pelan pipi sang adik ipar.
"Mungkin saat liburan nanti, aku akan mengunjungi mu." balas Ara. Mendengar itu Grace menatap Ara dengan penuh semangat. Tentu saja Grace akan senang jika Ara datang berkunjung ke mansion.
"Oke, aku menantikan kehadiran mu Babe!"
"Sekarang aku pergi ya, see you!"
__ADS_1
"See you Grace!"
...🦋🦋🦋🦋...
Setelah bertemu Ara, Damian mengajak Grace ke ruang tamu untuk berpamitan. Di sana Peter dan Rachel pun juga ikut pamit, hendak pergi ke Cappadocia untuk berbulan madu.
"Grace!" panggil Rachel. Wanita itu menoleh dan tersenyum lalu merengkuh singkat tubuh sahabatnya.
"Kau mau pulang?" tanya Rachel. Grace mengangguk pelan, mengiyakan.
"Kau jadi pindah ke sana kan?" tanya Grace memastikan.
"Ya, setelah berbulan madu kami akan pindah. Jika tidak aku akan melenyapkan psikopat itu!" serunya dengan penuh tekad. Kedua wanita itu tidak sadar orang yang dibicarakan berdiri di belakang dengan wajah datar.
"Kau yakin mau membunuh ku babe?" bisik Peter tepat di telinga Rachel. Seketika bulu kuduk Rachel meremang, takut dengan bisikan maut Peter.
"Aku hanya bercanda!" kata Rachel dengan tawa renyah.
"Aku tidak ingin menjadi orang ketiga di antara kalian, di mana Xavier?" tanya Grace celingukan. "Bersama bibi Agatha!" jawab Rachel singkat.
"Kalau begitu aku pergi dulu, bye!" pamit Grace lalu berjalan mendekat ke arah keluarga besar Damian.
"Aku juga ingin punya anak!" gumam Rachel kala melihat Xavier dikerubungi ibu-ibu.
"Kau menyukai bayi sweetie?" Refleks Rachel mengangguk mengiyakan.
"Nanti malam kita buat!" blush, pipi Rachel memerah, ia langsung mendorong tubuh Peter dan berlari menjauhi Peter.
TBC
warning!
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. 🙏!!!!!!
__ADS_1