
Seusai sarapan, Steven mengajak Grace jalan-jalan di taman belakang. Ingin bicara empat mata dengan adik kesayangannya itu. Sebelum kembali ke Valencia, Steven ingin meluruskan semua kesalahpahaman.
"Grace, apa aku bisa menanyakan sesuatu pada mu?" tanya Steven. Grace menatap kakaknya singkat dan mengangguk lemah sebagai jawaban.
Grace mengajak Steven duduk di kursi panjang yang terletak tidak jauh dari tempat mereka sekarang."Tanyakan saja kak, aku akan menjawab semua pertanyaan mu!"
"Kau yakin?" tanya Steven memastikan. Grace mengangguk tiga kali, seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru taman. Mengamati indahnya taman yang masih menyisakan dekor perayaan anniversary semalam.
"Apa kau benar-benar mencintai Damian?" pertanyaan ini lagi. Sudah berapa kali Grace menjawab pertanyaan itu. Rasanya Grace sudah bosan mengakui perasaannya pada Damian.
"Sudah berapa kali aku menjawab pertanyaan mu. Aku benar-benar mencintai Damian kak. Aku mohon berhentilah menyuruh ku meninggalkan suami ku, dia hidup ku. Tempat ku berteduh!" jawab Grace dengan sorot mata memohon.
"Baiklah, terserah kau saja." sahut Steven. Lalu mengacak-acak rambut halus Grace.
"Itu artinya kakak memberi kami restu kan?" Grace menatap Steven dengan hingar-bingar kebahagiaan.
"Aku tidak punya alasan untuk tidak merestui hubungan kalian. Lagi pula restu ku tidak berarti apa-apa di mata suami mu." cibir Steven malas. Sungguh, Steven masih membenci Damian sampai detik ini.
Grace beranjak dari tempat duduknya seketika. Memeluk erat tubuh kekar Steven dan berulang kali melontarkan ucapan terimakasih. "Maaf, aku sudah menamparmu di hadapan orang-orang semalam."
"Tidak masalah Grace, aku memang pantas mendapatkannya!" Steven mengusap punggung Grace lembut. Sebelum akhirnya melepaskan pelukannya.
"Sekarang ayo kita masuk sebelum suami posesif mu itu datang dan menghajar ku karena membawa mu pergi terlalu lama!" Grace mengangguk, kemudian memeluk lengan tangan kakaknya masuk kedalam Mansion.
"Apa yang kalian bicarakan sampai membutuhkan waktu selama ini?" satu pertanyaan terlontar dari bibir Damian. Begitu mendapati istri dan kakak iparnya masuk dengan bergandengan tangan. Api cemburu seakan membakar dirinya kini.
"Bukan hal penting, kau tidak perlu tahu!" jawab Grace di iringi gelak tawa kecil. Sadar dengan tatapan tajam Damian yang terarah pada lengannya, Steven melepaskan tangan Grace.
Berjalan menghampiri Alessio, "Kemari nak, ayo kita pulang ke Valencia!"Steven berjongkok rendah, berusaha menyamakan tingginya dengan tinggi Alessio. Setelah itu mengulurkan tangan, berharap putra kesayangannya itu menggapainya.
"Aku tidak mau pulang dad. Aku ingin tinggal bersama mommy!" tolak Alessio, sempat menyembulkan kepalanya sesaat. Lalu, kembali bersembunyi setelah menjawab.
Napas panjang Steven hembuskan. Sesekali mengusap wajahnya kasar. "Nak, mansion ini bukan rumah kita. Ara bukan mommy mu. Kenapa kau tidak mengerti juga?"
Lelah, Steven ingin pulang ke rumah dan menenangkan diri. Karena itu, dia memaksa menggendong Steven. Tidak peduli dengan tangisan ironi Alessio. Juga menahan rasa sakit karena pukulan-pukulan yang di lemparkan Alessio di dada bidangnya.
"Tunggu!" suara Ara menghentikan langkah kaki Steven. Kini, seluruh tatapan tertuju pada gadis cantik itu.
Ara berjalan menghampiri Steven, mengambil alih gendongan Alessio. "Jangan menangis sayang, mommy akan tinggal bersama mu!" bujuk Ara, berusaha menenangkan Alessio.
"Benarkah?" tangis Alessio berhenti, mata hijaunya menatap Ara dengan penuh harap.
"Tentu sayang, tapi ada syaratnya. Berikan senyuman mu pada mommy!" bisik Ara, lalu mencium pipi gembul Alessio secara bergantian.
"Ara!" Hans-ayahnya memanggil dengan suara sedih. Ara menoleh, lalu menurunkan Alessio. Ara berjalan pelan menghampiri sang ayah. Memberikan pelukan hangat sebelum mengatakan keinginannya.
__ADS_1
"Dad, aku mohon turuti kemauan ku kali ini saja!" bujuk Ara, merengek seperti anak kecil.
"Aku bisa mewujudkan semua keinginan mu Ara, tapi tidak dengan yang satu ini." jawab Hans cepat. Terdengar tegas seperti ultimatum. Tidak bisa di ganggu gugat ataupun di tawar.
"Dad, biarkan aku pergi. Di panggil mommy oleh seorang anak kecil merupakan impian ku. Aku tidak pernah sebahagia ini sebelumnya!" gumam Ara pelan. Damian dan Grace terdiam di tempat. Pernyataan Ara terdengar ironi untuk di dengarkan.
Hans mematung di tempat, tidak menanggapi ucapan Ara. Hatinya teriris mendengar ucapan Ara barusan. "Mom, yakinkan daddy. Aku sudah besar, aku berhak memutuskan sesuatu untuk diriku sendiri!"
"Bagi ku kau akan selalu menjadi anak kecil Ara. Berhenti merengek, keputusan dad sudah bulat. Kau tidak akan pergi a kemana-mana!" sentak Hans di depan semua orang.
"Sayang!" panggil Agatha, akhirnya memutuskan membuka suara ikut menyahuti.
Hans menoleh, "Biarkan Ara pergi ke Valencia. Dia sudah besar, jangan memperlakukannya seolah dia masih kecil. Dunia ini kejam, biarkan dia belajar menangani masalahnya sendiri!" lanjut Agatha. Membela Ara sebab tidak tega melihat putrinya menangis.
"Tapi.. "
"Tidak ada tapi-tapian, biarkan dia pergi atau aku tidak akan bicara pada mu!" teriak Agatha, mengancam suaminya. kesal sendiri melihat sifat arogan suaminya.
Sesaat Hans sempat terdiam beberapa menit, sebelum helaan napas panjang terdengar risau. Dengan sabar, Hans mengambil handphonenya. Hendak menghubungi seseorang.
"Siapkan apartemen di kota Valencia, malam ini aku dan keluargaku pindah ke sana!" seru Hans, lalu mematikan panggilan tanpa mendengar jawaban.
"Dad, kau keterlaluan, kenapa kau juga harus ikut ke sana?" tanya Ara sebal. Steven diam di tempat, menyimak pembicaraan yang terjadi antara ayah dan anak itu.
"Kau mau pergi bersama daddy, atau tidak boleh ke sana sama sekali?" tutur Hans bak memberi ultimatum.
Dan Steven tidak bisa menolak permintaan anaknya, pria itu bertekad untuk membahagiakan Al, dan memberikan semua yang diinginkannya. Termasuk juga Ara, kini terbesit dalam pikirannya untuk menjebak Ara masuk kedalam kehidupan keluarga kecilnya.
...🦋🦋🦋🦋...
Kepergian keluarga besar membuat Mansion megah Damian sepi seketika. Terlihat Grace duduk di ruang keluarga, menonton TV sembari memakan camilan. Helaan napas bosan terdengar berulang-ulang keluar dari mulutnya. Grace merasa bosan.
Duduk dan makan tanpa melakukan pekerjaan lain, mungkin bisa membuat tubuhnya melebar dalam waktu singkat. Ingin olahraga tapi Grace malas melakukannya.
"Kau tidak pergi bekerja?" tanya Grace tatkala melihat Damian menuruni tangga dengan pakain santai. Kaos dan jelana jeans, sungguh Damian terlihat seksi dengan mengenakan pakaian rumahan.
"Aku cuti selama seminggu!" jawab Damian santai. Berjalan menuju dapur, mengambil kopi yang sudah di siapkan. Mendengar itu, Grace membuka matanya lebar. Terkejut. Untuk apa mengambil cuti selama itu. Kurang kerjaan sekali.
"Untuk apa mengambil cuti sebanyak itu. Kau mau pergi liburan?" cibir Grace menyindir.
"Aku ingin menemanimu di sini!"
"Untuk apa?"
Damian menaikkan sebelah alisnya, menatap Grace dengan tatapan mencemooh. "Kau tidak suka berada di dekat ku huh? padahal aku ingin menghabiskan satu minggu itu bersamamu dan Xavier!" sinis Damian.
__ADS_1
Grace memutar bola matanya malas. Sebenarnya siapa yang hamil sih. Kenapa Damian yang banyak mau. Lagi pula jarak perusahaan dan Mansion ini tidak terlalu jauh. Setiap hari Damian pulang ke Mansion, bukankah setelah bekerja mereka bisa menghabiskan waktu bersama.
"Terserah kau saja. Memangnya apa aku punya hak untuk menentang keputusan mu?"
"Tidak!" jawab Damian cepat. Setelah itu pembicaraan berakhir. Damian menikmati kopi seraya. membaca majalah bisnis. Sedangkan Grace kembali memusatkan pandangan ke arah televisi.
Setelah seriesnya selesai, Grace kembali melirik Damian. Terbesit dalam pikirannya untuk mengakui kesalahan, sebab sudah mengkonsumsi pil kontrasepsi. Namun, Grace takut Damian marah dan menghukumnya.
Sadar Grace menatapnya dengan tatapan ragu, Damian membuka suara. "Kau ingin mengatakan sesuatu?"
"Itu.. iya, tapi berjanjilah kau tidak akan memarahi ku!" dahi Damian berkerut, was-was dengan perkataan yang akan disampaikan Grace.
"Sebenarnya aku... aku pernah mengkonsumsi pil kontrasepsi setelah melahirkan Xavier. Anehnya aku bisa hamil sekarang." ucap Grace dengan suara lirih. Hampir seperti gumaman.
Hening, tidak ada sahutan Grace mendongakkan kepala. Menatap Damian, melihat suaminya duduk santai seolah tidak terkejut sama sekali membuatnya bertanya-tanya.
"Kau tidak marah?"
"Untuk apa?"
"Aku sudah mengkonsumsi pil kontrasepsi!" teriak Grace kesal.
"Oh itu, aku sudah mengatasinya Grace. Jauh sebelum kau menyatakan perasaan mu. Aku sudah tahu, kau mengkonsumsi pil kontrasepsi!" jelas Damian dengan senyum penuh kemenangan.
"Kapan?" tanya Grace malu.
"Saat aku menjemput mu dari Mansion ayah mu. Aku menyuruh Lucas melakukan pemeriksaaan secara menyeluruh. Lucas memberitahu ku, kau mengkonsumsi pil kontrasepsi. Karena itu dia memberikan obat penyubur kandungan. Dan setiap malam aku mencampurkannya pada minuman mu!" jawab Damian, menjelaskan panjang lebar.
Plak! satu tamparan mendarat sempurna di dada bidang Damian. "Kau ini licik sekali ya!" sebal Grace. Merasa kesal sudah di kelabui. Damian tergelal kecil, lalu mencondongkan wajahnya ke cerucuk leher Grace.
Damian menghirup aroma Grace yang begitu candu. Sesekali mendaratkan kecupan yang mana membuat Grace mengerang resah. "Babe, boleh aku menanyakan sesuatu?"
"Kenapa kau sok meminta izin, hampir setiap hari kau melontarkan pertanyaan. Membuat ku kesal saja!" geram Damian tanpa menjauhkan diri dari leher Grace.
"Melihat ayah mu begitu posesif pada Ara, membuat ku sedikit kasihan. Sebab ruang dan gerak Ara terbatasi. Apa kau juga akan bersikap begitu pada Anak-anak kita nanti?" tanya Grace.
"Tidak semua, hanya pada putri kita saja. Aku mungkin lebih prosesif dari pada ayah!"
"Kenapa?"
"Seorang putri adalah kehormatan ayahnya. Aku ingin menjaganya dengan sepenuh hati. Aku tidak ingin orang-orang di luar sana menyakiti putri ku. Karena dia mungkin menjadi anak kesayangan ku Grace!"
"Dasar ayah posesif!" decih Grace.
TBC
__ADS_1
warning!
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius 🙏