
Satu botol Damian habiskan sendiri. Merasa pusing dan pandangannya berkunang-kunang, Damian memutuskan pergi ke kamar.
Mendapati Grace keluar dari kamar mandi hanya dengan selembar handuk melilit tubuh indahnya. Membuat Damian menelan ludah.
"Dari mana saja kau?" tanya Grace ketus. Tidak ada jawaban, Damian memilih duduk di sofa panjang dekat laci. Seraya mengamati kegiatan sang istri.
Grace sedih melihat Damian mengabaikan dirinya. Minta maaf, ya Grace harus melakukan itu. "Aku akan segera kembali!" pamit Grace. Sebelum akhirnya masuk kedalam bilik ganti.
Tidak lama setelah itu, pintu terbuka menampakkan Grace sudah siap dengan pakaian tidurnya. Damian meliriknya singkat, lalu memalingkan muka demi menjaga harga diri. Kali ini Damian tidak boleh mengalah.
Tidak tahan dengan sikap dingin Damian, Grace memberanikan diri untuk mendekati sang suami. "Ef, kau masih marah pada ku?"
"Hm!" bergumam singkat. Jari jemarinya bergerak-gerak, Damian berusaha agar tidak menyemburkan tawa.
Kasihan, tapi ekspresi wajah Grace sangat lucu. Damian di buat gemas sendiri dengan wajah imut Grace.
"Maaf, aku tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi!" bujuk Grace, bergelayut manja di lengan Damian. Tentu saja hal itu membuat Damian menahan senyum.
"Aku akan memaafkan mu setelah kau mau menerima hukuman!" ucap Damian.
"Hukuman?"
"Ya hukuman, kau sudah melakukan kesalahan jadi harus di hukum kan?" ucap Damian dengan senyum smirk menakutkan.
"La-lalu a-apa hukumannya babe?" tanya Grace terbata-bata. Takut Damian menghukumnya dengan berat.
Damian mendekatkan wajahnya ke wajah Grace. Semakin lama semakin maju membuat wanita itu beringsut mundur. Namun, pergerakannya itu justru membuatnya terjebak di ujung sofa.
Damian mengurung Grace dengan kedua tangan. "Ef, apa yang kau lakukan!" pekik Grace risih. Pasalnya napas hangat Damian berhasil menyapa kulit wajahnya.
Awalnya Grace pikir Damian hendak menciumnya. Tapi dugaannya salah, Damian membisikkan sesuatu yang membuatnya tercengang dalam sekejap.
"Pijat punggung ku!" Damian menjauhkan diri dari tubuh kaku Grace. Berjalan ke arah ranjang dan menghempaskan tubuhnya dengan santai.
"Cepatlah, tubuh ku pegal-pegal karena perjalanan jauh!" teriak Damian tidak jelas. Tubuhnya tengkurap di atas ranjang. Menunggu Grace datang dan memijitnya.
Terpaksa Grace menghampiri Damian. Duduk di atas tubuh kekar suaminya. Lalu menggerakkan tangannya ke atas dan ke bawah dengan tekanan ringannya.
Damian sendiri menikmati setiap sentuhan Grace. Pijatan wanita itu begitu mengenakkan. Sampai-sampai Damian terlelap singkat.
Namun, kesadarannya kembali setelah Grace turun dan tidak sengaja menyenggol gelas yang terletak di samping teko air.
"Aku mengagetkan mu ya?" seru Grace merasa bersalah. Bergegas membersihkan pecahan kaca dengan jari jemarinya.
"Biarkan pelayan yang membersihkan pecahannya Grace. Kau duduk saja di sini, aku tidak ingin kau tersayat!" Damian meraih pergelangan tangan Grace, menariknya mendekat dan menyuruhnya duduk di pinggiran ranjang.
__ADS_1
"Aku akan menyuruh Ellie membersihkan pecahan kacanya!" sebelum berdiri dari tempat tidur, Grace lebih dulu mencekal pergelangan tangannya.
"Tunggu!" lantas Damian menoleh, kembali duduk di samping Grace. Menerima wanita itu.
"Kenapa lagi?" Tanya Damian.
"Kau sudah memaafkan ku kan?" tanya Grace memastikan. Sontak tawa Damian pecah, pria itu tertawaan sampai terpingkal-pingkal.
Polos sekali, Grace bahkan masih belum mengerti jika dirinya telah dibodohi. Bukan menjawab, Damian malah mengacak-acak rambut Grace.
"Tentu saja, kau tahukan aku tidak bisa marah padamu. Lagi pula aku baru saja mendapat pijatan Gratis. Kau tau tangan mu itu sangat ajaib. Rasa lelah ku terhempas entah kemana!" Grace mengulum senyum, guratan kemerahan terlihat di kedua pipinya.
"Oh ya, kita akan pergi ke Valencia Minggu depan!" ucap Damian.
"Ngapain kita pergi ke sana Ef?" tanya Grace dengan alis berkerut.
"Kita harus menghadiri acara pertunangan Ara!" jawab Damian. Pria itu yakin setelah Grace mendengar nama mempelai yang menikahi Ara. Wanita itu pasti terkejut.
"Ara bertunangan? dengan siapa? dia tidak pernah cerita sedang dekat dengan seorang pria." runtutan pertanyaan terlontar begitu saja dari bibir Grace.
"Steven!" satu jawaban Damian berhasil membungkam mulut Grace. Wanita itu terdiam dalam sekejap bahkan mematung di tempat setelah mendengar nama mempelai pria.
"Jangan bercanda Ef! itu tidak lucu sama sekali!" Grace kembali tertawa renyah. Perasaan aneh mulai menyeruak masuk kedalam hati.
"Apa aku terlihat sedang bercanda Grace?" balik melontarkan pertanyaan. Hening, Grace berhenti tertawa. Wajahnya terlihat cengo. Masih tidak percaya Steven bertunangan dengan Ara.
Grace meraih undangan yang Damian sodorkan. Membaca kata demi kata dengan serius. "Ini... Steven benar-benar bertunangan dengan Ara. Tapi bagaimana bisa?"
"Aku tidak tahu, tanyakan saja pada kakak mu?" sungut Damian kesal. Masih menaruh kebencian pada Steven. Entah karena apa, yang jelas Damian tidak bisa berdamai dengan Steven.
Sebab dari awal Steven lah yang menghalangi hubungannya dengan istrinya sekarang. "Ck, aku akan bertanya pada kak Steven nanti. Sekarang aku mau tidur. Terserah kau mau tidur atau tidak!"
Grace menghempaskan tubuhnya ke ranjang empuk berukuran king size.Tidak mempedulikan tatapan menusuk yang berasal dari mata Damian.
"Aku juga mau tidur," Damian ikut bergabung dalam selimut. Menarik pinggang Grace, menyeretnya perlahan. Mengikis jarak yang tersisa.
"Peluk aku! sudah dua hari aku tidur sendiri. Aku sangat merindukan pelukan mu Ef!" gumam Grace. Kedua kelopak mata sudah tertutup rapat. Namun, kesadarannya masih utuh.
"Tentu, siapa yang akan menolak kesempatan ini babe!" mendaratkan kecupan ringan di dahi Grace. Lalu mendekapnya dengan erat.
Hawa dingin yang berasal dari AC tidak terasa di permukaan kulit mereka. Keduanya saling menyalurkan kehangatan satu sama lain. Hingga akhirnya mereka tertidur pulas.
...🦋🦋🦋🦋...
Seperti biasa Damian pergi ke perusahaan untuk bekerja. Kali ini Damian datang lebih pagi. Sebab Damian harus memeriksa dokumen penting yang akan di bahas di rapat siang nanti.
__ADS_1
Luka tembakan Damian sudah sembuh, menyisakan bekas luka bewarna kecoklatan. Untung saja, luka itu berada di bagian tubuh yang tertutupi. Jika tidak, hancur sudah imagenya sebagai pria tampan rupawan di mata orang-orang.
Tibalah mereka di halaman gedung bercakar langit. Seorang pegawai wanita berlari mendekat, napasnya tersengal-sengal. Keringat bercucuran keluar dari pelipis.
Namun rasa lelah itu seakan menghilang di gantikan oleh rasa gugup. "Ada apa?" tanya Adam pada bawahannya itu.
Pegawai wanita itu terdiam sejenak, lalu mengambil napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Barulah setelah itu dia mulai bercerita.
"Tuan, seorang laki-laki datang dan memaksa masuk ke dalam ruangan Mr Wilson. Saya sudah berusaha menahannya, tapi beliau bilang sudah membuat janji pribadi!"
Menjelaskan dengan suara lirih. Berbisik-bisik, berharap Damian tidak mendengarnya. Adam mengibaskan tangan, menyuruh wanita itu pergi. Mendengar penjelasannya barusan sudah membuat Adam mengerti harus melakukan apa.
"Sir, sepertinya di dalam ruangan anda terdapat tamu tidak di undang!" ucap Adam memberitahu. Damian menaikkan sebelah alisnya singkat, lalu melangkahkan kakinya kembali.
Penasaran, Damian tidak merasa membuat janji dengan seseorang. Lalu siapa yang berani masuk kedalam ruangannya tanpa izin.
...🦋🦋🦋🦋...
Seperti biasa Damian berjalan menelusuri lantai satu tanpa membalas sapaan sekumpulan orang berdasi dan berpenampilan rapi. Pendengarannya seakan tuli, langkahnya terus berlanjut sampai di lift khusus petinggi perusahaan.
Sampai sekarang tekadnya masih sama, tidak ada yang boleh melihat wajah hangatnya selain Grace. Hanya wanita itu saja yang boleh menikmati keindahan yang ada pada wajahnya.
Ting! pintu lift terbuka, para staf sekertaris membukukan badan saat Damian melewati mereka. Rasa takut terpampang jelas di wajah tiga bawahan Adam.
Damian tidak ambil pusing, memilih melewati tanpa menegur ataupun memarahi mereka. Yang mana perbuatan Damian itu justru semakin membuat pegawai ketakutan.
Begitu Adam membuka pintu, Damian bisa melihat siapa yang datang tanpa membuat janji. Bibirnya tersenyum sinis tatkala melihat Alex duduk dengan angkuhnya.
"Akhirnya kau datang juga!" ujar Alex, berdiri dari tempat duduk dan mendekat ke arah Damian.
"Ternyata selain berprofesi sebagai gigolo kau juga seorang pengangguran ternyata!" cibir Damian tak kala sarkas.
Damian masuk kedalam ruangannya dan duduk di sofa. "Gigolo?"
"Ya gigolo, bukankah kau suka menggoda istri orang? aku peringatkan, seorang gigolo tidak lebih dari seorang pria pelampiasan. Hati-hati, mungkin saja kau akan di tinggalkan nanti!" ucap Damian panjang lebar.
"Kau! tutup mulut kotor mu, jangan bicara sembarangan sialan!" geram Alex.
"Setuju atau tidak tapi itulah kenyataannya. Fakta memang pahit, namun kau harus menerimanya!" cibir Damian di iringi tawa kecil. Senang melihat Alex kepanasan.
Adam sendiri juga mengangkat kedua ujung bibirnya. Senang melihat pertikaian yang terjadi antara bos dan mantan kekasih nyonya mudanya.
"Teruslah tertawa dan lihat bagaimana aku merebut istri mu nanti. Apa yang sudah menjadi milik ku tidak bisa dimiliki orang lain! camkan itu!" celoteh Alex kemudian menapakkan kakinya keluar dari ruangan Damian.
TBC
__ADS_1
warning!
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius🙏