
Sementara itu, John tiba di kota Swiss. Kedatangannya kemari hendak membalaskan dendam putri tercintanya. Berani sekali Damian membunuh putri kesayangannya itu.
Oleh karena itu John datang membawa puluhan bodyguard dan langsung mencari titik lokasi Damian untuk membalas dendam. Tidak ada kata istirahat. Rencananya harus berhasil dan setelah itu dia bisa hidup dengan tenang.
Keponakan tercintanya harus merasakan apa yang dia rasakan sekarang. Damian harus kehilangan orang paling berharga dalam hidupnya.
Yah sasaran John kali ini adalah Grace, harta dan tahta yang dia incar tak berarti lagi kini. hanya ada dendam saja. Damian harus menderita.
Grace adalah hidup keponakannya, jika wanita itu tiada maka Damian pun juga tiada. Jika tidak Damian menjadi gila adalah resiko kecilnya.
"Dimana mereka sekarang?" tanya John, pada orang kepercayaannya.
"Tuan mereka bergerak kembali ke resort!"
"Hadang mereka, kita tidak bisa membunuh Grace jika mereka sampai di resort. Aku yakin keponakan ku menempatkan banyak penjaga bersenjata lengkap!" kata John dan segera dilaksanakan oleh orang kepercayaannya.
John tersenyum miring, memainkan senjata api itu dengan memutar-mutarnya dijari jemari. Tak sabar ingin membalas perbuatan keji Damian.
Melihat jasad putrinya yang tak utuh membuat kemarahannya meledak. Bahkan jari jemari putrinya banyak yang menghilang. Psikopat itu harus merasakan hal yang sama. John bersumpah tidak akan melepaskan Grace kali ini, wanita itu harus mati.
...🦋🦋🦋🦋...
Dalam perjalanan pulang, Damian merasakan firasat buruk. Ia merasa ada sesuatu yang buruk akan menghampiri. Namun Damian hanya diam saja, tidak ingin membuat Grace khawatir.
Apalagi setelah melihat dua mobil hitam mengikuti mereka dari belakang. Dugaannya semakin menguat. Perlahan Damian mulai menancap gas semakin lama semakin menambah kecepatan mobilnya.
Perbuatannya itu tidak di sadari Grace, wanita itu sibuk melihat foto dan bernyanyi mengikuti alunan musik yang ia putar.
Matanya terfokus pada layar kamera, tidak memperhatikan sekitar sehingga hanya Damian yang sadar jika mereka sedang di intai musuh.
"Sayang, kau tidak mengantuk?" Grace menoleh dan mengernyit dahi. Bingung dengan pertanyaan Damian.
"Sedikit, memangnya kenapa sayang?" tanya Grace penasaran. Damian tersenyum menggenggam tangan mulus itu, kemudian mendaratkan ciuman lembut.
"Tidak papa, tidurlah jika kau mengantuk sayang!"
"Iya tapi sepertinya aku harus menahan rasa kantuk ku. Masih banyak foto yang ingin ku lihat. Kau fokus saja pada jalanan!" Grace tersenyum, menenangkan kegelisahan Damian.
Damian berusaha mengecoh. Tetapi mereka cukup pintar, mampu mengejar meskipun sudah sering di permainkan.
Grace mematikan kamera setelah melihat foto terakhir. Membuang wajah ke luar jendela. Dahinya mengernyit tatkala menyadari Damian melewati jalan yang salah.
Ef, ini bukan jalan pulang. Kau mau membawaku kemana?" Grace menyapu pandangannya. Tidak sengaja melihat spion. Dua mobil hitam mengikuti mereka. Grace yakin Damian berusaha menghindari mereka.
__ADS_1
"Apa mereka musuh mu Ef?" Grace mulai gelisah. Keringat dingin bercucuran keluar membasahi kedua telapak tangannya.
"Yah aku rasa mereka mengincar kita, tapi jangan khawatir aku pasti bisa mengatasinya." Damian menggenggam erat tangan Grace. Berusaha menenangkan wanita itu.
"Aku tahu Ef, jangan khawatir aku tidak takut. jadi fokus saja pada jalanan. Jangan pikirkan aku!" Grace tersenyum, mengusap pelan lengan suaminya memberi semangat.
Damian tersenyum, “kalau begitu pegangan yang erat. Aku akan mengebut.” Grace mengangguk. Langsung meraih sabuk pengaman, membiarkan tubuhnya terlilit. Tak lupa Grace juga memegang kuat pinggiran kursi serta memejamkan matanya rapat-rapat.
“Jangan takut sayang, anggap kau sedang menemaniku balapan.” Damian langsung menginjak pedal gas. Mobil melaju kencang seketika. Mobil musuh sempat tertinggal jauh.
Sempat senang karena berhasil mengikis jarak, harapannya terpatahkan dengan adanya satu mobil menghadang tepat didepan. Terpaksa Damian menginjak rem membuat ban mobil mengeluarkan percikan api.
Grace semakin merapatkan mata, semakin mengeratkan cengkeramannya pada kursi mobil. Sampai mobil berhenti dengan sempurna. Damian mendongak mencari tahu siapa yang mengincarnya.
Bibirnya tersungging kala melihat John Emilius keluar dari mobil dengan wajah angkuh. Dia menyunggingkan senyum kemenangan. Percaya Damian pasti kalah.
“Sayang, kau tunggu disini. Aku akan keluar dan bicara sebentar dengan paman John.”
Lantas Grace menahan tangan suaminya. Wanita itu menggelengkan kepala. Seolah-olah melarang Damian pergi.
Ia tidak ingin Damian kenapa-kenapa. Apalagi melihat puluhan orang berdiri sigap dengan senjata lengkap. Siap menyerang Damian dengan sekali perintah.
“Semua pasti baik-baik saja sayang. Jangan khawatir aku akan kembali dengan selamat. Aku berjanji.” kata Damian meyakinkan. Damian melepaskan cengkraman Grace meninggalkan wanita itu sendiri didalam mobil.
Seandainya mereka tidak keluar dari resor hari ini. Pasti kejadian mengerikan itu tidak akan pernah terjadi. Paman John tidak akan punya celah untuk menyerang.
Penyesalan memang datang di akhir. Semua yang terjadi bukan karena kemauan Grace. Namun semua ini telah direncanakan oleh tuhan. Menyesal tidak ada gunanya sekarang, Adam yah ia harus menghubungi pria itu.
Entah kebetulan atau memang sudah diketahui oleh John. Tapi Damian tidak membawa satu senjata ataupun bodyguard untuk menemani mereka. Apa ada mata-mata yang di sekitar mereka.
...🦋🦋🦋🦋...
"Lama tak berjumpa keponakan ku tersayang. Aku ucapkan terima kasih. Hadiah mu kemarin membuatku benar-benar terkesan."
John bertepuk tangan seraya berjalan mengitari Damian. tahu keponakannya ini tidak berdaya. Tidak mungkin Damian bisa melawan anak buahnya yang berjumlah lebih dari sepuluh orang.
“Aku tidak menyangka kau seorang pengecut paman.” hina Damian. Tidak memperlihatkan rasa takut sama sekali.
"Aku tidak peduli apa yang kau katakan. Yang penting dendam putriku terbalaskan!" serunya seraya menepuk pipi Damian beberapa kali.
"Kenapa, apa karena aku membunuhnya? itu bukan salah ku. Dia yang tergiur dengan ku, dia juga membuat pernikahan ku sempat merenggang, kematian memang pantas untuknya." ucap Damian mengulas senyum miring.
Plak! John menampar pipi Damian membuat ujung bibirnya mengeluarkan sedikit bercak darah. Damian tersenyum, mengusap noda merah tersebut sebelum melayangkan pukulan balik. Bugh! Damian menghantam kepala pamannya, membuat pria paruh baya itu terhempas jatuh ke bawah.
__ADS_1
"Apa yang kalian lihat, habisi dia!" sentak John memberi aba-aba pada anak buahnya.
Puluhan orang menyerang membuat Damian kewalahan. Suara kegaduhan sampai ke dalam mobil. Grace bersembunyi di bawah, masih sibuk mencari sinyal. Dengan tangan bergetar ia melayangkan ponselnya kesana-kemari mencari sinyal.
Batinnya terus mengumpat, merutuki cuaca yang buruk. Kenapa mereka tidak mau bekerja sama disaat-saat seperti ini. Melihat Damian mulai kelelahan kekhawatiran yang ada pada dirinya semakin bertambah. Damian melawan dan menangkis serangan tanpa henti.
Brak! seorang pria berbadan tambun memukul tengkuk Damian. "Ah!" pekik Damian kesakitan. Dia memegang kepalanya yang berputar-putar. Sebelum akhirnya tumbang ke bawah.
"Mengaku lah kalah nak, aku akan memberikan mu kematian yang tak menyakitkan!" John mencengkeram kuat rahang Damian. Menempatkan pistol tepat di tengah-tengah jidat keponakannya. Kedua tangan Damian di ikat kencang ke belakang membuatnya diam tak bisa berkutik.
Sebenarnya Damian tak takut mati, hanya saja ia takut Grace Kenapa-kenapa. Bukankah tadi dia berjanji akan kembali dengan selamat. Damian tidak ingin mengecewakan wanita itu.
“Kenapa kau diam, apa kau takut menghadapi kematian mu sendiri?” Damian menatap John dengan tatapan membunuh. Bibirnya masih tetap tersenyum merendahkan membuat John jengkel sendiri.
Adam, seharusnya pria itu menerima sinyal yang dia kirim tadi. Melihat dua mobil terus mengikuti dan merasakan firasat buruk. Damian menyalakan GPS dan menghubungkannya pada Adam. Sekretarisnya pasti mengerti jika sekarang dia berada di situasi bahaya.
“Aku anggap diam mu sebagai jawaban nak!”
Dor! John bersiap menembak. Namun, sebuah peluru lebih dulu mengenai pergelangan tangan dan membuat pistol yang ia genggam terjatuh.
Mendengar suara tembakan Grace keluar dari persembunyian. Takut Damian kenapa-kenapa. Bibirnya tersungging saat mendapati Adam datang dengan bodyguardnya.
Kegaduhan kembali terdengar. Adam beserta anak buahnya mampu melumpuhkan semuanya karena mereka membawa senjata lengkap.
"Anda baik-baik saja Sir?" tanya Adam seraya melepaskan ikatan yang menjerat kedua tangan bosnya.
"Yah aku tidak papa?" seru Damian. Perlahan berdiri mengusap tengkuknya yang sepertinya mengeluarkan darah. Sakit, tapi Damian bisa menahannya.
Damian melirik John yang duduk memegangi pergelangan tangannya. Kemudian tersenyum smirk. Dia mencengkeram kuat rahang John membuat pipi keriputnya memerah padam.
"Kau gagal membunuh ku untuk kesekian kalinya paman. Sekarang giliran ku. Akui kekalahan mu dan serahkan dirimu pada polisi. Maka aku pastikan kematian mu tidak akan sesakit putri mu!" kata Damian, matanya menajam, aura hitam mengelilingi dirinya.
Amarah bertambah memuncak mengingat setiap rencana jahat yang John lakukan itu hanya untuk merebut harta benda.
Anehnya John malah tertawa, sorot mata itu terus menatap kearah mobil. "Kau yakin kau menang Ef? kau tidak memeriksa keadaan istri mu di sana?" Damian menegang, pupil abunya bergetar.
Refleks ia berbalik, betapa terkejutnya dia saat melihat tangan kanan John keluar dari mobil dengan membawa pisau berlumuran darah.
"Grace!"
TBC
warning!
__ADS_1
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius🙏