Mr Billioneire Wife

Mr Billioneire Wife
Tetap diam di mansion (Revisi)


__ADS_3

"Grace! kau tidak merindukan pria tua ini?" tanya Daniel begitu melihat Grace masuk kedalam kamar.


"Kau masih mengingat ku dad. Dari tadi kau hanya mempedulikan Belle saja!" protes Grace seraya memeluk tubuh rapuh sang ayah.


Entah kapan terakhir kali Grace bertingkah manja seperti ini. Bibir mengerucut dan pipi mengembang seakan-akan menambah kesan imut di mata Daniel.


"Kakak dan kakak ipar mu tadi datang meminta restu!" Daniel memberitahu. Grace Mengedipkan matanya berulang ulang. Mencoba mencerna perkataan ayah.


"Siapa? apa Steven dan Ara?" tanya Grace ragu. Pasalnya mereka baru saja menikah, tidak salah jika Grace menyebutkan nama mereka. Tapi kenapa Grace merasa ada yang janggal di sini.


"Bukan!"


"Lalu siapa dad?" tanya Grace dengan dahi berkerut.


"Keenan dan Belle!" jawab Daniel cepat.


"What! mereka sudah menikah?" Daniel mengangguk tiga kali. Mengiyakan.


"Tapi kapan? kenapa tidak ada yang memberi tahu kami?" tanya Grace keheranan.


"Makanya bangun tepat waktu. Yang baru menikah saja bisa bangun tepat waktu, kenapa kalian tidak bisa? Lagi pula kami juga baru tahu pagi ini. Mereka menandatangani dokumen pernikahan kemarin malam dan melakukan upacara pemberkatan sebelum sarapan tadi!" jelasnya.


“Dad apa kau tidak bercanda kan?” tanya Grace, satu alisnya terangkat. Beberapa kali ia menggigit bibirnya sendiri, tidak percaya Keenan benar-benar luluh.


Dan juga bukankah Belle bilang tidak ingin terlibat lagi dengan Keenan. Lalu kenapa sekarang malah jadi istrinya. Itu bukan hanya terlibat tapi menyatu dalam kehidupan Keenan untuk selama-lamanya.


"Apa aku terlihat sedang bercanda Grace?"


Lucu sekali, ingin rasanya Grace tertawa sekarang. Kehidupan Belle penuh dengan drama. Tidak sadar jika kehidupannya sendiri lebih buruk dari Belle.


Keenan tidak terlihat sebaik itu. Pria itu sangat berbahaya dan harus diwaspadai. Sifatnya kejam dan tidak berperasaan. Ya, mengingat dia adalah asisten seorang mafia yang sudah jelas lebih banyak menghilangkan nyawa dari pada Peter sendiri.


"Pasti kau berpikir Keenan tidak pantas untuk kakakmu. Sama seperti mu aku juga tidak suka dengan Keenan pada awalnya. Tapi semua ini terjadi semata-mata untuk kebahagiaan putri mereka Grace!"


Benar, Keenan dan Belle menikah karena tidak ingin membuat Abigail hidup tanpa kasih sayang seorang ayah.


“Itu berarti kau tinggal sendiri di London, dad?” Daniel mengangguk lemah.


“Tidak, kau harus ikut tinggal bersama ku!" kukuh Grace. Menggenggam kuat tangan sang ayah seraya menampakkan wajah memelas.


"Kalian sama saja ternyata, sebelumnya dad minta maaf Grace. Dad, tidak akan pergi kemana-mana. Dad dan mommy punya sejuta kenangan di mansion itu!" Mencoba menjelaskan. Berharap Grace mengerti dan mengurungkan niat untuk membawanya pindah ke New York.


"Tapi dad-“ Daniel merasa mewariskan sifat keras kepalanya pada putri bungsunya ini.


“Tidak ada tapi-tapian, dad bisa menjaga diri sendiri. Terimakasih kalian sudah mengkhawatirkan pria rentan ini” serunya. Tanpa sadar telah mencemooh diri sendiri.


“Kau tidak perlu khawatir Grace. Setelah selesai berbulan madu kami akan tinggal di London.” sontak Grace dan Daniel menolehkan kepalanya serempak.

__ADS_1


Pandangan mereka beralih pada pasangan pengantin baru itu. Terbesit dalam pikiran Steven untuk tinggal bersama Daniel sebelumnya. Bahkan sebelum menikah dengan Ara Steven telah merencanakannya.


Hanya saja baru hari ini Steven berani membuat keputusan. Dia akan membangun perusahaan cabang di London dan menjadikan perusahaan tersebut sebagai perusahaan pusat.


Ara pun tidak keberatan dengan keputusan suaminya, dia pun setuju saja. Lagi pula Ara tidak tega melihat ayah mertuanya tinggal sendiri. Alessio pun juga ikut bersama mereka. Untuk sekolah sekertaris Steven akan mengurus kepindahannya nanti.


“Kau yakin kak?” bertanya untuk memastikan.


“Aku yakin Grace, lagi pula sudah lama aku tidak tinggal di sana. Aku merindukan kehangatan yang di hasilkan oleh setiap dinding mansion itu.” jawab Steven.


Grace tersenyum, mempercayakan semua pada kakaknya. Ia pun pamit pergi karena sebentar lagi dia harus kembali ke New York bersama Damian.


"Baiklah, aku percayakan Daddy pada mu kak!" ujar Grace sebelum menapakkan kakinya menjauh dari kamar Daniel.


...🦋🦋🦋🦋...


Seusai berkemas, Grace memutuskan menghampiri Adam. Merasa bersalah sudah membuat pria itu kerepotan karena mengurus Xavier.


"Bisa aku masuk?" teriak Grace di iringi ketukan berulang ulang.


Tidak lama kemudian, Adam datang membuka pintu. Memperlihatkan wajah lelahnya. "Silahkan Nyonya!"


"Kau sedang istirahat rupanya. Maaf ya,"


"Tidak masalah nyonya. Sudah satu jam saya memejamkan mata. Tubuh saya terasa lebih segar sekarang!" jelas Adam. Tidak ingin membebani istri dari majikannya itu.


"Tuan Xavier tertidur di kamar saya, nyonya!" sedikit menyingkir. Memberi Grace jalan dan menunjuk Xavier.


"Aku akan membawa Xavier pergi. Maaf ya sudah merepotkan mu!" ucap Grace basa basi. Di iringi tawa riang yang menyebalkan. Adam malas meladeni wanita itu.


"Pergi bersiap-siap. Kita akan kembali ke New sekarang!" perintah Grace sebelum melangkah pergi.


"Baik nyonya!"


...🦋🦋🦋🦋...


Selesai sudah semua masalah. Sekarang Damian dan rombongannya duduk santai di dalam pesawat. Mereka akan segera tiba di mansion.


Sepanjang perjalanan Damian dan Adam membicarakan masalah pekerjaan. Sedangkan Grace sendiri bermain bersama Xavier.


"Mommy!"


"Mom mi!" kecupan-kecupan basah Grace hadiahkan. Senang mendengar Xavier semakin lancar bicara.


Bahagia. Hatinya menjadi tenang, ringan, tanpa beban setelah masalah Belle Sud selesai. Yah walaupun ia sedikit tidak ikhlas Belle menikah dengan pria kejam seperti Keenan.


"Ef, jika aku bekerja apa kau akan mengizinkan?" akhirnya sekian lama Grace membicarakan masalah tersebut. Mendengar cerita Ara dan Belle. Grace juga ingin merasakan pengalaman yang sama.

__ADS_1


Berhentilah memancing emosi Devils ini nyonya. Adam menatap datar Grace, Sangat yakin sebentar lagi amarah bosnya pasti meledak seperti bom.


"Tidak!" Satu kata, namun sudah menjelaskan segalanya. Jelas-jelas Grace tahu Damian tidak akan memberi izin tapi tetap saja dia masih bertanya.


"Aku ingin bekerja sama seperti Ara Belle. Mereka punya banyak teman di tempat kerja!" masih bersikukuh membujuk Damian yang sudah jelas tidak ingin dibantah.


"Sekali aku bilang tidak ya tidak!" sentak Damian dengan suara berat yang menakutkan. Wajah suramnya menambah kesan garang.


Grace memanyunkan bibirnya, mengalihkan wajah ke arah jendela. Malas berdebat dengan sang suami.


"Duduk diam di mansion, ingat kau sedang hamil sekarang!" tutur Damian.


alasan Damian benar adanya. Mungkin Grace harus memendam semua impiannya bersamaan dengan semua dukanya di masa lalu. Sekarang yang dia perlukan hanya menatap masa depan, berdiri di samping Damian menggenggam erat tangan itu untuk selama-lamanya


"Oke, tapi setiap jam makan siang aku akan datang membawakan makan siang untukmu!" masih menawar.


"Hm terserah!" pasrah Damian, mencoba memberi Grace sedikit kelonggaran.


"Makasih!" menyeruduk dada bidang Damian dan bermanja-manja. Tidak peduli dianggap aneh oleh Adam.


Berbeda dengan Damian, pria itu malah menikmati sifat manja Grace. Dulu wanita itu tidak semanis ini. Senangnya Damian bisa merombak sifat mengerikan yang Grace miliki.


...🦋🦋🦋🦋...


"Tuan, sepertinya mereka sudah kembali dari Milan. Haruskah kita mulai rencana kita?" seorang pria duduk bersandar menatap anak buahnya dengan senyum kemenangan.


"Sebentar, aku sendiri yang akan datang menyempurnakan rencana. Kalian tinggal saja disini dan persiapkan semuanya. Begitu aku datang, kita langsung meninggalkan kota ini!" menyunggingkan senyum licik.


Yah dia adalah Alex, berpisah dengan Grace membuat pria itu kehilangan akal. Menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Grace kembali.


Bahkan dia bekerja sama dengan paman Damian. John Emilius, untuk menghancurkan Damian. Namun, sayangnya suatu pembicaraan tak sengaja Alex dengar. Membuat dirinya kesal lataran John tidak benar-benar membantunya.


John Emilius, hanya menjadikannya pion untuk melindungi dirinya sendiri. Membiarkan Alex menjalankan semua rencana jahat. Dan seandainya ketahuan maka Alex lah yang menjadi tersangka utama.


Pria licik itu tidak berniat memberikan Grace setelah Damian mati. Tapi John akan melenyapkannya dari dunia ini. Mengingat Grace tengah mengandung anak Damian yang bisa saja menjadi ahli waris.


Bisa dibilang John merencanakan pembantaian secara besar-besaran dan itu semua hanya untuk menguasai harta keluarga Wilson.Uang memang bisa membutakan mata manusia.


Seandainya Alex tidak mendengarkan obrolan John dengan salah satu anak buahnya kala itu. Mungkin rencana John sudah berhasil.


“Grace tunggu aku, kita akan hidup bersama seperti dulu. Hanya kita berdua, tidak ada yang lain. Entah itu Damian ataupun anak-anakmu!” kata Alex hampir seperti bisikan yang tak dengar.


TBC


warning!


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius 🙏

__ADS_1


__ADS_2