Mr Billioneire Wife

Mr Billioneire Wife
Lama tidak bertemu Grace! (Revisi)


__ADS_3

Pembicaraan mereka masih belum berakhir, pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari bibir Grace. "Kau bilang kau tidak pernah pacaran kan. Bagaimana bisa, aku rasa tampang mu tidak terlalu buruk!"


Damian tertawa terbahak-bahak, "Kau yakin tampang ku ini pas-pasan. Ayolah Grace, hampir setiap hari wanita di luaran sana mengidam-idamkan diri ku." ujar Damian pede.


"Pede sekali kau. Lalu kenapa kau tidak pernah berpacaran?"


"Aku sudah menikah, kau ingin aku mencari selingkuhan?"


"Aku tidak menanyakan kehidupan setelah menikah, tapi sebelum menikah. Kenapa tidak mencoba berpacaran dengan orang lain?" Sungut Grace. Mendengar jawaban bertele-tele Damian membuatnya kesal.


"Tidak ada alasan Grace. Sekali aku jatuh hati pada seorang gadis, aku tidak akan bisa berpaling. Dan kau membuat ku tergila-gila Grace!" jawab Damian. Lantas Grace membuang muka ke arah samping, pipinya memanas hebat. Memalukan.


"Tapi kalau kau mau, aku bisa cari istri kedua. kesempatan semacam ini, siapa yang akan menolaknya?" lanjut Damian menggoda Grace.


"Kau mau mati ya?" geram Grace cepat membuat Damian tertawa lepas.


Sebal ditertawakan, Grace beranjak dari tempat duduk. Berjalan meninggalkan Damian sendiri. Dengan langkah cepat, Grace berjalan menyusuri lorong Mansion. Mansion Damian begitu besar dan megah. Hampir menyerupai istana di cerita dongeng.


Sudah tahu punya istri, sudah punya anak pula masih saja ingin menikahi wanita lain. Dasar brengsek, aku membencimu.


Hingga sampailah Grace di ujung lorong, di mana sebuah pintu besar bewarna coklat berada. Grace mengamati pintu itu sebentar, sebelum akhirnya membukanya perlahan.


Sedikit kesulitan, namun karena kegigihan Grace pintu itu sedikit terbuka. Tubuh Grace mematung melihat puluhan mobil mewah berjajar rapi di balik pintu ini. Ya, ruangan itu adalah ruangan khusus untuk menyimpan koleksi mobil Damian.


Dari mobil antik sampai mobil keluaran terbaru ada di ruangan ini. Bisa diprediksi satu mobil yang terparkir seharga ratusan juta dolar bahkan sampai miliaran.


"Wah, fantastis!" pekik Grace kagum. Dengan langkah perlahan, berjalan menelusuri jalan. Sorot matanya melirik ke kanan dan ke kiri. Melihat-lihat koleksi mobil Damian.


"Kira-kira aku sekaya apa jika menjual semua mobil ini?" angan Grace. Memikirkan rencana gila yang tidak pernah di duga oleh siapapun.


"Apa yang kau pikirkan Grace, jika Damian tau kau mau menjual semua mobil kesayangannya. Mungkin kau akan lenyap dari muka bumi ini!" cecar Grace berbicara sendiri.


"Aku coba satu tidak papa kan?" Grace melangkahkan kakinya menuju laci yang terletak di pojok ruangan. Terdapat banyak kunci dengan berbagai macam nomor. Dan pilihannya jatuh pada kunci nomor 26. Mobil Bugatti La Voiture Noire, bewarna hitam glossy.


Dengan bingar kebahagiaan, Grace masuk ke dalam mobil. Melakukannya keluar melewati pintu besar yang bertepatan lurus dengan pintu yang di lewatinya tadi.


Sayangnya, saat Grace hendak melewati gerbang. Dua penjaga berbadan besar menghadangnya. "Maaf nyonya, anda tidak boleh keluar tanpa seizin Mr. Wilson!" Grace membuka kaca jendela, lalu menyembulkan kepala.


Grace berdecak malas, "Aku sudah meminta izin suami ku. Dan dia mengizinkan aku pergi, kalau tidak percaya tanyakan saja padanya!" sungut Grace galak.

__ADS_1


Dua bodyguard itu saling melemparkan pandangan. Salah satu dari mereka pergi bertanya pada Damian. Karena Damian tidak akan memainkan ponsel diwaktu santainya seperti sekarang.


"Tunggu sebentar nyonya!" seru bodyguard satunya lagi, masih menghadang mobil yang Grace tumpangi. Grace duduk diam didalam mobil. Otaknya berpikir keras, berusaha mencari celah saat bodyguard didepannya itu lengah.


"Aku punya ide!" gumam Grace seraya tersenyum licik.


"Hei, kau! bisa tolong ambilkan cincin ku yang jatuh?" tanya Grace dengan suara kencang. Bodyguard itu menoleh dan mengangguk.


Bodyguard itu menyingkir dari jalan Grace, berjalan mengitari mobil. Mencari cincin yang di maksud oleh sang majikan. Grace tersenyum penuh kemenangan, dengan sekali tancap mobil itu keluar melewati gerbang mansion yang terbuka lebar.


"Sial aku dibodohi!" gumam bodyguard itu, memijat pelipisnya, yang berdenyut nyeri. Sudah pasti setelah ini Damian tidak akan membiarkannya hidup tenang.


Sementara itu, seorang bodyguard datang menghampiri Damian. Pria itu masih duduk tenang di ruang keluarga sembari menonton beritasatu. Damian melupakan Grace dalam sekejap.


"Maaf tuan mengganggu waktu anda, tapi apakah anda mengizinkan nyonya muda keluar?" seketika remot yang di genggam Damian terjatuh.


Raut mukanya berubah datar, "aku tidak pernah mengizinkan wanita ku keluar. Apa dia mencoba keluar Mansion?" tanya Damian dingin. Darahnya seakan mendidih setelah mendengar Grace mencoba keluar tanpa izin dan pengawasan.


"Iya tuan, nyonya muda mengendarai salah satu mobil anda dan berniat pergi keluar!"


"Dan kau meninggalkannya dan pergi ke sini?"


Namun, tidak lama setelah itu. Rekan yang bodyguard itu maksud datang dengan kepala tertunduk. "Maafkan saya tuan, nyonya muda berhasil mengelabui saya dan keluar Mansion!" seru bodyguard itu dengan tergagap-gagap.


"Bodoh! lacak mobil itu sekarang, aku tidak mau tau. Dalam waktu lima belas menit kalian harus mendapatkan lokasi wanita ku. Jika tidak, bersiaplah untuk kehilangan nyawa mu!" teriak Damian marah.


Dua bodyguard itu mengangguk, kemudian membungkukkan badannya singkat. Sebelum akhirnya pergi mengerjakan perintah Damian.


Bersamaan dengan itu, sebuah mobil putih berhenti tepat di halaman Mansion Damian. Adam datang membawa beberapa dokumen yang harus di tanda tangani oleh Damian.


Namun, begitu melihat seluruh bodyguard yang berjaga berkeringat dingin dengan kaki yang bergetar hebat. Membuatnya mengernyitkan dahi.


"Apa yang sedang terjadi? kenapa kalian ketakutan?" tanya Adam pada kepala pengawal Mansion.


"Tuan, Mr. Wilson marah karena nyonya muda keluar Mansion tanpa izin dan pengawalan kami!" jawab bodyguard itu sopan. Adam menghembuskan napasnya gusar. Selalu saja Grace yang menjadi masalah di sini.


Nyonya bisakah anda diam sehari saja, kenapa anda tidak membiarkan para bodyguard disini hidup tenang. Batin adam.


Adam melangkah kakinya melewati pintu utama Mansion, dilihatnya Damian duduk dengan ditemani beberapa batang rokok dan botol minuman di ruang keluarga.

__ADS_1


"Selamat siang sir!" sapa Adam, di iringi anggukan rendah.


"Kenapa?" tanya Damian singkat, sedang tidak mood sekarang.


"Saya membutuhkan tanda tangan anda untuk persetujuan pembangunan mall X," jawab Adam, Menyerahkan dokumen itu pada Damian. Tanpa membacanya terlebih dulu, Damian langsung membubuhkan tanda tangan.


"Anda jangan khawatir sir, saya akan membantu mereka melacak nyonya muda!" Damian menaikkan sebelah alisnya.


"Kenapa, biarkan bodyguard sialan itu yang mencarinya!" titah Damian, kemudian menyesap wine miliknya sampai habis.


"Mereka bekerja dibawah pengawasan saya, jadi saya juga harus ikut bertanggung jawab atas kelengahan mereka sir!" Damian tersenyum mengejek.


"Terserah, waktumu hanya tersisa 7 menit!" santai Damian, matanya berkilat kemarahan. Adam mengangguk mengerti, menunduk hormat sebelum pergi dari ruangan ini.


Disini lain Grace tengah bernyanyi riang, melajukan mobilnya membelah jalanan kota New York.


"Sudah lama aku tidak berjalan-jalan seperti ini. Aku harus menikmati waktuku sekarang," seru Grace penuh semangat, tidak tahu jika dirinya sedang membangunkan iblis yang tengah tertidur.


Grace semakin menaikkan kecepatan mobilnya, "kemana aku harus pergi??"


"Di sana saja sudah lama aku tidak mengunjungi tempat itu!"


...🦋🦋🦋🦋...


Waktu yang diberikan Damian habis, Adam dan bodyguard yang dibodohi Grace datang tepat waktu. "Sir! mobil yang ditumpangi nyonya muda berhenti di cafe XX, kemungkinan besar nyonya muda ada disekitar sana!" seru Adam, sambil menunjukkan titik merah yang ada di layar laptop.


"Siapkan mobilku!" tidak ingin membuang-buang waktu Damian langsung memberi perintah. Dia naik ke lantai atas untuk berganti pakaian.


Di cafe itu Grace menikmati hidangan yang tersaji. Baru sekarang Grace duduk di tempat ini setelah dua tahun. Kepindahannya membuat Grace menjadikan kafe ini sebagai tempat favoritnya.


"Bisa aku bergabung disini!"


Grace mendongak mencari sumber suara. Melihat siapa yang datang membuat Grace menghentikan gerak. "Alex!" gumam Grace memanggil nama mantan kekasih.


"Lama tidak bertemu Grace!"


TBC


warning!

__ADS_1


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. 🙏!!!!!!


__ADS_2