
Hari itu, senandung kecil terdengar dari dalam mobil Lamborghini bewarna merah yang melaju kencang di daratan Amerika. Setelah lama menunggu, akhirnya hari yang di nanti-nanti telah tiba.
Damian membawa Grace pergi ke mansion Peter. Hendak menemui asistennya yaitu Keenan. Kebenaran harus terungkap hari ini juga.
"Ef tambah kecepatan mobilnya!" kata Grace kesal. Pasalnya Damian mengendarai mobilnya dengan kecepatan rendah.
"Sabar! kau sedang hamil Grace dan kita membawa anak kecil." sungut Damian. Sialan, jika terus begini kapan sampainya.
"Tambahkan kecepatannya sedikit, lagi pula kita naik mobil bukan motor." geram Grace. Ingin sekali menggantikan Damian menyetir.
"Baiklah!" kecepatan mobil langsung melesat tinggi, Damian terus menambah kecepatan mobilnya sampai 180mph.
"Ef kau ini kenapa sih, aku bilang tambah sedikit bukan banyak. Kurangi kecepatannya, aku takut!"cicit Grace sambil memeluk Xavier.
Tidak ada ketakutan sama sekali di wajah Xavier, anak kecil itu berceloteh tidak jelas dan menepuk tangannya seolah ia menyukai cara berkemudi sang ayah.
"Sepertinya Xavier menyukai cara mengemudi ku!" gumam Damian, mengusap pelan kepala Xavier.
Grace semakin mengoceh karena Damian tidak mengurangi kecepatan mobilnya. Tak tahan dengan sikap ketidak pedulian Damian. Grace langsung mencubit perut Damian sampai laki-laki itu mau mengurangi kecepatan mobilnya.
"Aduh!" merintih kesakitan, mau tidak mau Damian harus mengurangi kecepatan mobilnya. Sebenarnya apa sih yang Grace mau. Cepat salah lambat salah semuanya jadi serba salah, memang dasar wanita.
Tidak bisakah mereka tidak berdebat walau hanya sehari saja. Tapi Damian suka bertengkar dengan Grace, karena dengan ini hubungan mereka semakin dekat. Dan mereka akan merasa kesepian saat salah satunya pergi bekerja.
Mobil sport merah Damian, berhenti disebuah gerbang hitam menjulang tinggi menutupi sebuah mansion mewah bergaya Eropa klasik. Disekitar mansion terdapat pria berjas rapi. Bisa dilihat keamanan Mansion ini 4 kali lebih ketat dari pada keamanan mansion Damian.
Apa karena Peter seorang mafia, jadi pria itu mempunyai banyak musuh yang bisa menyerang kapan saja. Apalagi sekarang Peter mempunyai kelemahan, tambatan hatinya yaitu Rachel. Sudah pasti pria itu akan semakin waspada terhadap musuh-musuh diluar sana.
Damian menggendong Xavier dengan satu tangannya, sebelah tangannya tidak ia biarkan menganggur. Ia merangkul pinggang Grace, mengajak wanita itu masuk kedalam Mansion sepupunya.
Mansion mewah ini terlihat sangat indah di bagian luarnya, tapi saat Grace masuk kedalam. Mansion itu terlihat suram kebanyakan dinding didominasi warna gelap, memang unik tapi jika Grace disuruh tinggal disini dia tidak akan mau, karena menurutnya tempat ini sangat seram meskipun mewah dan megah.
"Akhirnya kalian datang juga, kenapa lama sekali!" ketus Rachel, sambil memeluk singkat sahabatnya.
Grace diam tak berkutik, ia begitu terlarut dalam pesona desain interior mansion Peter. Bagaimana bisa Rachel tinggal disini, apa wanita itu tidak takut pasti akan lebih menakutkan lagi dimalam hari.
__ADS_1
Tidak mendapatkan respon dari Grace, Rachel memutar bola matanya lalu mendengus lemah. "Xavier! apa kau tidak rindu pada ibu keduamu, ah aku ingin sekali memasukkan mu kedalam karung!" beralih pada bayi kecil yang berada dalam gendongan Damian.
Tanpa permisi Rachel menyahut Xavier dan membawa bocah manis itu masuk ke dalam. Damian menatap datar Rachel, wanita itu mempunyai kebiasaan yang sama dengan Grace. Keduanya sama-sama tidak bisa diatur.
Tak lama kemudian seorang pria berjalan dengan kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celana, menambah kesan cool dimata Grace.
Jiwa pencinta pria tampannya meronta-ronta ingin memandangi wajah Peter lebih lama, kenapa Grace baru sadar jika sepupu suaminya itu tidak kalah tampan.
"Berhentilah menatap Peter Grace," tegur Damian dingin.
"Iya-iya aku hanya melihatnya sebentar, tidak menaruh hati padanya!" dalih Grace, mengalihkan pandangannya menatap Damian dalam.
"Ada urusan apa sampai-sampai kalian datang ke rumah ku?" tanya Peter. Lalu duduk di samping Rachel.
"Grace ingin bertemu dengan Keenan." jawab Damian singkat. Peter mengangkat sebelah alisnya, menatap heran kearah kakak iparnya.
"Apa Ef tidak bisa memuaskan mu kakak ipar, sampai-sampai kau ingin mencari pria lain?" Peter asal bertanya. Tidak sadar Grace melemparkan tatapan membunuhnya sekarang.
"Oh adik ipar ku tercinta, aku ingin membicarakan masalah penting dengan Keenan. Bukan untuk menggodanya, asal kau tau Ef sangat ahli dalam urusan ranjang. Jadi tutup mulut mu!" sarkas Grace datar.
"Jangan menghina priaku," bela Grace.
"Kau membelanya huh? jadi kau lebih memilih dia dari pada sahabat mu sendiri?" tanya Rachel dengan menampilkan wajah sedih.
"Terserah! aku di sini tidak datang untuk berdebat dengan mu. Tapi aku ingin bertemu dengan Keenan, di mana dia?" tanya Grace to the poin. Tidak ingin membuang-buang waktu.
"Oh itu, sepertinya Keenan masih repot. Peter menyuruh pria malang itu menyingkirkan orang. Mungkin sebentar lagi dia datang untuk membuat laporan!" sahut Rachel santai.
Reflek Grace merangkul lengan Damian. Menatap ngeri ke arah Peter dan Rachel. Bagaimana bisa wanita itu bersikap santai seolah membunuh orang bukanlah kejahatan besar.
"Re, apa kau tidak waras? bagaimana bisa kau mengatakannya dengan santai. Dan lagi, apa kau tidak takut pada Peter?" tanya Grace ragu. Rachel mengangkat bahunya acuh.
"Aku sudah menikah dan aku harus terbiasa dengan kehidupan suami ku!" jawab Rachel tanpa merubah ekspresi.
"Oh ya, aku dengar Steven bertunangan dengan Ara. Apa itu benar?" mengalihkan pembicaraan. Berharap Grace nyaman berbincang-bincang bersamanya.
__ADS_1
Grace masih enggan mendongakkan kepala. Seolah dia melihat hantu di belakang Rachel. Karena penasaran, Rachel pun berbalik.
Bola matanya memutar kala mendapati Peter menatap Grace dengan tatapan tajam. Pantas saja wanita itu merasa tidak nyaman.
"Jangan menatap sahabat ku seperti itu, kau membuatnya takut!" tegur Rachel tegas.
"Tidak perlu takut Grace, dia memang seperti itu. Tapi bukankah Damian juga memiliki tatapan tajam. Kenapa kau masih takut?"
"Tidak Re, Ef menatapku dengan sorot mata penuh kelembutan dan kehangatan. Benarkan Ef?" Grace mendongak menatap suaminya.
"Tentu saja baby!" Damian mencari kesempatan dengan menciumi bibir dan seluruh bagian wajah Grace.
Peter membulatkan mata, tidak percayalah dengan apa yang di lihatnya barusan. Sepupu dinginnya ternyata bisa bersikap manis terhadap istrinya juga ternyata.
Tak lama kemudian pintu terbuka, menampilkan sesosok pria yang dicari oleh Grace.
"Keenan!"
Bonus
Keenan Demitrius
Belle Kayle Elard
cantik kan Belle, jangan dihujat gaes. Sebenarnya Belle cantik kok.
TBC
warning!
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius 🙏
__ADS_1