
Tiba di lobby kantor,
Damian menjadi pusat perhatian sebab dia datang bersama Xavier. Seluruh pasang mata tertuju pada tingkah menggemaskan bayi berusia satu tahun lebih itu.
Ingin sekali mereka menggendong dan mengajak anak menggemaskan itu bermain bersama, tapi melihat tatapan datar Damian. Mereka jadi mengurungkan niat.
"Kemari!" perintah Damian tiba-tiba. Lantas seluruh pegawai yang berada di lantai bawah bergegas berkumpul. Tidak tahu apa maksud Damian menyuruh mereka berkumpul, bahkan Adam sendiri juga tidak tahu.
"Aku ada rapat sampai satu jam ke depan. Jaga anakku sampai aku selesai. Jangan sampai Xavier kenapa-kenapa, jika tidak pekerjaan kalian yang akan menjadi taruhannya." Serunya seraya menyerahkan Xavier pada salah satu pegawai.
Tidak takut dengan ancaman Damian. Para pegawai perempuan berebutan menggendong Xavier. Karena tidak ingin menyakiti anak dari bos besarnya. Mereka berinisiatif menurunkan Xavier. Dan membiarkan anak itu memilih, mau ikut dengan siapa.
"Anak manis, kemari ikut kakak!"
"ikut kakak saja, sayang!"
"Jangan, ikut bibi saja!"
"Imut sekali, karung mana karung!"
"Ingin sekali aku menculik mu nak, tapi pasti kepalaku akan putus besok!"
Begitulah ocehan para karyawan wanita, tidak sadar jika bosnya masih berdiri disini dengan tatapan datar nan dingin. Mereka bermain seolah tidak ada pekerjaan yang harus mereka selesaikan.
Tidak menghiraukan ocehan tidak berguna dari para pegawai. Damian memilih masuk kedalam lift dan pergi ke ruangannya. Membiarkan mereka menggendong Xavier dan berfoto secara bergantian.
Selama Xavier senang kenapa tidak, yah Damian sengaja menitipkan Xavier pada pegawai yang bekerja dilantai pertama. Karena memang saat pertama kali dia membawa Xavier kemari. Banyak para pegawai yang ingin menggendong dan bermain dengannya.
"Sir, anda yakin menitipkan putra anda pada mereka?"
"Yah seperti yang kau lihat, tidak perlu khawatir, Dam. Aku yakin setelah mendengar peringatan ku, mereka tidak akan membuat kesalahan sedikit pun!" setelah itu Damian masuk ke ruangannya dengan santai. Meninggalkan Adam sendirian.
...π¦π¦π¦π¦...
Langit kemerahan membuat semua orang bahagia, pertanda jika waktu pulang telah tiba. Disinilah Damian berada, duduk bersandar seraya menunggu antrian yang lumayan panjang untuk membelikan pesanan sang istri. Tak tanggung-tanggung Damian, membelikan satu ember full berisi es krim dengan 3 varian rasa. Yaitu coklat, stroberi, dan vanilla.
Di teras depan Grace berjalan mondar-mandir menunggu kehadiran suami dan putranya. Entah apa yang membuat mereka tidak kunjung datang. Grace ingin segera menikmati es krim pesanannya.
Lelah, akhirnya Grace duduk sembari memainkan ponsel. Bibirnya terangkat tatkala melihat foto di akun sosial media milik salah satu pegawai. Dimana foto tersebut memperlihatkan kebahagiaan mereka bersama putra kesayangannya.
__ADS_1
Hingga akhirnya deru mesin terdengar semakin mendekat, decitan rem membuat Grace langsung berdiri menyambut kedatangan sang suami.
Adam keluar dari mobil, bergegas membuka pintu penumpang. Bisa dilihat Damian keluar dengan mencengkram lemah tangan mungil Xavier.
"Dam, ambilkan es krim milik istri ku!"
"Baik Sir!" mengambil ember es krim tersebut dan membawanya masuk kedalam mansion.
"Ah terimakasih, aku jadi makin cinta!" menghadiahkan sebuah ciuman mendadak di pipi. Hal itu Damian tidak bisa berkata-kata.
Grace mengambil pesanannya lalu berlari masuk kedalam mansion. Mengambil sendok, hendak menikmatinya dengan lahap.
"Jangan makan terlalu banyak, tidak baik untuk kesehatan!" tegur Damian.
"Iya-iya!" balas Grace malas.
"Ellie! tolong bawakan beberapa cup plastik!" perintah Grace.
"Baik nyonya." berjalan ke arah dapur dan tidak lama setelah itu Ellie kembali dengan membawa sepuluh cup plastik.
"ini Nyonya!"
Menunjuk deretan pelayan yang berdiri di ujung sana. Pelayan-pelayan itu bertugas untuk melayaninya dan menjaga Xavier.
"Baik nyonya. Saya ucapkan terimakasih atas nama mereka semua!" Grace mengangguk singkat. Inilah yang membuat semua pelayan betah bekerja di sini. Grace sangat mudah bersosialisasi dan baik hati.
"Berikan Xavier pada ku, aku akan menyuapinya." pinta Grace pada Damian. Merentangkan kedua tangan, menunggu Damian menyerahkan Xavier.
"Hanya Xavier saja?" tanya Damian memastikan. Terlihat rasa iri yang ketara di kedua sorot matanya.
"Kau juga, duduklah di sebelah ku. Aku akan menyuapi mu juga!" cibir Grace malas. Selalu saja iri pada anak sendiri.
Sontak Damian mengulas senyum menawan. Duduk di sebelah Grace dan meletakkan Xavier di pangkuan istrinya itu.
Grace menyuapi Xavier dan Damian secara bergantian. Mereka terlihat menikmati setiap momen kebersamaan terbukti dari betapa kerasnya tawa Grace.
"Enak?" tanya Grace.
"Hm, tapi menurutku bibir mu lebih manis dan lembut dari es krim ini Grace!" Damian mengusap bibir Grace dengan ibu jarinya. Sontak semburat kemerahan mulai muncul di kedua pipinya.
__ADS_1
"Hentikan, kau membuatku salah tingkah!" kesal Grace seraya mengusap wajah. Berusaha menghilangkan semburat merah yang bertengger dikedua pipinya.
"Aku senang melihat wajah mu saat kau sedang malu. Bisa aku memakan mu sayang. Kau benar-benar membuatku gila!" menciumi Grace tanpa henti, bahkan Grace sendiri sampai merasa risih.
"Ayo ke kamar!" ajak Grace mulai menggoda Damian. Pria tergelak kecil lalu menyuruh Ellie menjaga Xavier.
Dan ya kalian pasti tahu apa yang mereka lakukan setelah itu. Pakaian mereka berserakan dilantai, mereka berbagi suhu, bertukar peluh. lenguhan demi lenguhan saling bertautan keduanya menikmati setiap sentuhan.
Sampai tengah malam, keduanya mengakhiri kegiatan panasnya. Berbaring nyaman dan mengatur napas.
"Seandainya aku melahirkan anak perempuan, kau ingin memberinya nama apa, Ef?" gumam Grace bertanya.
"Kau ingin aku yang memberi nama?"
"Tentu saja, karena kau ayahnya!"
Damian terdiam selama beberapa saat. Terlihat sedang memikirkan nama yang pantas untuk calon buah hati mereka.
"Sky Adriana Wilson, bagaimana?"
"Nama yang bagus, tapi kalau yang lahir laki-laki apa kau akan kecewa, Ef?" Damian tersenyum, menggeleng cepat.
"Tidak, aku akan membuatnya lagi sampai aku dapat anak perempuan."
"Astaga, kenapa kau terobsesi dengan anak perempuan sih. Aku sarankan jangan terlalu mengekangnya nanti jika kau tidak ingin putrimu menjadi gadis nakal dan liar."
"Lalu kenapa, aku berhak mengatur dan mengawasi putriku baby. Lihat Ara, dia tidak menjadi gadis nakal ataupun liar. Semua itu tergantung bagaimana cara kita mendidik mereka!"
"Yah kau benar! aku harap putri mu nanti tidak akan membenci mu karena kau terlalu mengekangnya!" sahut Grace membuat Damian tertawa kencang.
"Itu tidak akan terjadi Grace. Sebab di dunia ini tidak ada wanita yang tidak mencintai ku!"
"Percaya diri sekali kau!"
TBC
warning!
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap seriusπ
__ADS_1