
Pagi hari di kota London,
Tepatnya di mansion orang tua Grace. Steven sadar dari pingsannya. Pria berusia 28 tahun itu meringis.Tatkala merasakan sakit di area tengkuknya.
Steven duduk termenung, mencoba mengingat kilas balik kejadian semalam. Saat itu tenggorokannya kering, hendak mengambil minum. Namun, matanya tidak sengaja mendapati segerombolan orang berjalan mengendap-endap memeriksa seluruh ruang yang ada.
Damian, pria itu datang dan membawa Grace pergi. Seketika Steven berlari cepat, masuk ke dalam kamar adiknya. Berharap semua kejadian semalam hanya mimpi semata.
Kosong, harapannya pupus dalam sekejap. Grace benar-benar dibawa pergi oleh Damian. Dan apa ini? meraih amplop yang Damian tinggalkan di atas laci depan ranjang.
Satu black card tanpa limit jatuh, begitu Steven membuka amplop tersebut. Untuk apa Damian meninggal kartu tampa batas itu.
Sial, Damian menganggap ini sebagai bayaran karena sudah merawat Grace selama disini. Hei, apa Damian pikir kasih sayang Steven sama seperti barang dagangan. Ingin sekali Steven menghajar pria arogan itu.
Steven membuang black card tersebut ke dalam tempat sampah. Lalu berjalan keluar dari kamar Grace, memutuskan menemui Daniel dan Belle untuk berpamitan. Ya, Steven akan ada menyusul Grace ke New York dan membawanya pulang ke mansion ini.
...🦋🦋🦋🦋...
Bisikan-bisikan kerap kali terdengar di seluruh penjuru bangunan. Pagi ini, perusahaan yang di penuhi ratusan orang berjas rapi itu tengah di gemparkan sebuah berita menghebohkan. Dimana bos mereka yang terkenal dingin dan tidak mudah dekat dengan orang asing datang menggendong seorang anak kecil.
Damian memutuskan mengajak Xavier ke perusahaan. Masih ingin menghabiskan waktu bersama Xavier. Membuat momen baru, menggantikan momen-momen yang terlewat dulu.
Hot daddy itu berjalan santai di antara kerumunan pegawai yang berlalu lalang. Membiarkan mereka semua tahu, jika dirinya sudah memiliki anak. Pewaris yang akan menggantikan dirinya kelak.
"Duduk di sini dan temani dad bekerja!" meletakkan Xavier di kasur busa yang terletak tidak jauh dari meja pendek di depan sofa. Damian memindahkan dokumen dan benda elektroniknya ke meja pendek itu. Akan lebih mudah mengawasi Xavier dari sini.
Sedangkan Xavier, anak kecil itu sibuk memainkan robot yang memenuhi kasur. Sesekali bergumam kencang, kemudian menatap sang ayah dan menunjukkan mainannya. Menggemaskan.
"Sir, ini susu yang anda minta!" tanpa mengetuk ataupun menyapa. Adam datang dan memberikan sebotol susu untuk majikan juniornya.
"Berikan!" seru Damian memerintah. Matanya masih fokus pada dokumen yang di genggamnya. Adam berjalan mendekat, meletakkan botol susu itu di samping laptop.
Drtt! drtt! drtt! handphone milik Adam bergetar. Seseorang menelpon pria multitalenta itu. Adam meminta izin undur diri. Ellie menelpon, sudah pasti bukan masalah sepele.
__ADS_1
"Katakan!" perintah Adam begitu menjauh dari ruangan Damian.
Sedangkan Damian sendiri menyudahi kegiatannya dan menghampiri Xavier. "Minum susu mu dan cepat tumbuh menjadi pria tampan seperti daddy mu, boy!" mengangkat Xavier dan meletakkannya di atas pangkuan.
Damian menyodorkan botol susu itu ke dekat mulut Xavier. Membantu Xavier minum susu. Berulang kali kecapan Damian dengar. Tampaknya Xavier menikmati susu tersebut.
"Xavi, kau harus membantu dad membujuk mommy mu. Minta dia agar mau menerima kehadiran daddy di kehidupannya." Damian berceloteh. Tidak peduli apakah Xavier paham atau tidak. Yang jelas, Damian ingin menyerukan suara hatinya sekarang.
"Dad dad mom mom!" gumam Xavier setelah melepaskan silikon botol dari mulutnya. Gemas dengan tingkah Xavier, lantas Damian mendaratkan ciuman di pipi tembem itu.
"Kau memang anak daddy, boy!" bangga Damian. Tidak menyangka Xavier mulai bisa berbicara. Bahkan memanggilnya dengan sebutan ayah.
"Maaf mengganggu waktu anda sir. Saya harus menyampaikan informasi penting ini!" seru Adam merusak momen antara ayah dan anak.
"Katakan!" sarkas Damian kesal.
"Saya baru saja mendapat informasi dari mansion. Nona muda tidak mau makan dan. mencoba melawan!" seringai terbit dari sudut bibir Damian. wanita pemberontak ini rupanya sedang menantang dirinya.
...🦋🦋🦋🦋...
Sampai di mansion, Damian menyuruh Ellie mengasuh Xavier untuk sementara waktu. Damian akan menangani Grace sebentar dan kembali membawa Xavier nanti.
Damian berdiri tepat di depan pintu kamar. Sesaat helaan napas terdengar lelah. Begitu pintu terbuka Damian di suguhkan pemandangan menyedihkan.
Grace duduk bersandar di kepala ranjang sambil sembari melamun.
Damian berjalan dengan langkah mengambang, langsung memeluk Grace begitu sampai di ranjang. Grace tersentak kaget, namun tidak melawan. Membiarkan Damian memeluknya sampai puas.
"Kau mencoba memancing kemarahan ku huh?" bisik Damian di sela-sela pelukan itu. Grace menggelengkan kepala.
"Aku tidak berselera, semua ini tidak ada hubungannya dengan kemarahan mu. Berhenti menyangkut pautkan masalah makan dengan hal-hal tidak penting itu!" kata Grace, menjawab dengan wajah dan suara kurang mengenakkan.
"Kalau begitu makan sekarang. Aku akan menemani mu sampai menghabiskan makanan mu!" balas Damian. Duduk di samping dan menyadarkan kepalanya ke bahu Grace.
__ADS_1
"Dimana Xavier?" Grace bertanya.
"Ellie menidurkannya di kamar bawah!" jawab Damian. Membenahi posisi menjadi berbaring.
"Aku akan ke sana." baru saja Grace menyingkirkan selimut. Tiba-tiba tangan Damian menangkap selimut itu dan menariknya ke atas untuk menutupi tubuh Grace kembali.
"Makan dulu, aku tidak mau kau sakit dan membuat semua orang kesulitan nanti!"
"Sudah aku bilang, aku tidak berselera!" bentak Grace pada akhirnya. Muak mendengarkan perintah yang sama.
Hening, Damian memejamkan mata. Berusaha meredam amarah. Jangan sampai Damian bertindak kasar dan membuat Grace semakin takut padanya.
Beberapa menit kemudian, Ellie datang membawa nampan berisi makanan favorit Grace. Persis seperti permintaan Damian. "Silakan nona!" meletakkan nampan tersebut di atas ranjang.
"Aku bilang aku tidak ingin makan, apa kau tuli." perkataan kasar Grace membuat Damian maupun Ellie terperanjat kaget. Belum lagi suara nampan dan piring yang terjatuh karena tepisan Grace.
"Grace!" teriak Damian memperingati. Habis sudah kesabarannya. Ini sudah nampan ke tiga dan Grace menjatuhkan semuanya.
Damian melirik Ellie singkat, pergi dan lanjutkan tugas mu. Memerintah lewat lirikan tajam. Tidak ingin mengambil resiko, Ellie pun bergegas keluar dari kamar. Membiarkan Damian mengatasi Grace yang sepertinya mulai depresi.
Bruk! Damian mendorong Grace ke kepala ranjang. Mengurung wanita itu dengan kedua tangan kekarnya. "Sudah berapa kali aku memperingatkan, berhenti memberontak aku tidak segan menyakiti mu!"
Grace tidak bisa membalas. Air mata mulai membasahi pipi, tangannya bergetar hebat. Takut dengan sikap tegas Damian. "Maaf, aku akan makan. Aku mohon jangan sakiti aku."
Gumam Grace terbata-bata. Menyatukan tangan dan menatap Damian dengan tatapan memohon. Kasihan, tapi Damian melakukan ini untuk memberi Grace pelajaran.
"Bagus! sekarang makan dan jangan membuat ulah. Atau aku akan meniduri mu lagi!" ancam Damian membuat Grace mengangguk paksa. ?"
TBC
warning!
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. 🙏!!!!!!
__ADS_1