Mr Billioneire Wife

Mr Billioneire Wife
John Emilius(Revisi)


__ADS_3

Pagi itu...


Sebuah mobil klasik bewarna hitam gelap melaju kencang, membelah jalanan kota New York. Seorang pria tua tersenyum lebar menampakkan gigi emasnya di sebelah kanan. Mendapati informasi Damian sudah menikah membuatnya senang. Kali ini, John berniat menemui Grace yang kebetulan keluar dan tidak di temani satu bodyguard pun.


John, adalah paman Damian dari pihak ibu. John sangat licik, serakah, dan penuh dengan tipu muslihat. Setiap pria itu datang mengunjungi Damian selalu membawa musibah.


Entah itu pembunuh bayaran, mencuci otak rekan bisnis Damian. Semua sudah pernah John coba, namun Damian masih bisa menahan serangan dan balik menyerang dua kali lipat lebih telak dan ganas.


Bahkan John juga menumbalkan adiknya Agatha agar menikah dengan Hans Wilson. Sayangnya, Agatha jatuh cinta pada Hans dan menyeleweng dari tujuan awal mereka.


"Berhenti!" teriak John kala melihat Grace berdiri di samping trotoar. Sebelum keluar, John lebih dulu memastikan foto Grace. Akan memalukan jika dia salah orang.


"Itu istri Damian kan? hahahaha kebetulan yang menyenangkan, biar aku menyapanya!" kata John pada asisten. Lalu membuka pintu mobil tuanya dan keluar dengan aura wibawa yang kuat.


"Nona, apa kau sedang menunggu seseorang?" tanya John basa-basi. Membuat Grace terperanjat kaget. Untungnya Grace tidak membawa Xavier hari ini.


"Aku tidak menunggu siapapun, tapi aku mencari taksi!" jawab Grace tidak acuh tak acuh. Semakin merasa tidak nyaman dengan tatapan nakal John.


"Jangan takut nona, aku paman Damian. Kakak dari Agatha dan Kanaya!" sahut John menjelaskan. Grace sempat tersenyum singkat untuk menghargai John. Entah kenapa, Grace masih merasa was-was dan tidak nyaman. Bisa jadi John orang asing yang mengaku-ngaku.


Lagi pula saat pesta ulang tahun Ara, Grace tidak melihat batang hidung pria ini. Dan Damian juga tidak pernah mengenalkan mereka.


Grace kembali melongok-kan kepala, sesekali melambaikan tangan. Berusaha menghentikan salah satu mobil taksi yang berlalu lalang. Begitu dapat, Grace bergegas pamit dan langsung masuk kedalam mobil. Menyuruh sopir agar segera melajukan mobil.


Tadinya Grace ingin bertemu dengan Rachel, tapi ternyata Rachel pergi berbulan madu. Sialnya Grace menolak tawaran sopir yang mau mengantarkannya kemarin, karena Grace pikir Rachel akan mengantarkannya pulang nanti.


"Untung saja aku aku berhasil meloloskan diri!"


...🦋🦋🦋🦋...


Lain halnya di perusahaan Wilson company, Damian sibuk memeriksa proposal. Getaran ponsel membuat fokus Damian pecah. Damian berdecak kesal, lalu menyahut handphonenya dengan kasar.


...John:...


...Istri mu sangat cantik, apa paman tercinta mu ini bisa mengambilnya?...


...Astaga aku ingin sekali mencicipi tubuhnya tadi....


Prang! begitu Damian selesai membaca pesan. Handphone menjadi korban pelampiasan kemarahan. Tanpa membuang-buang waktu lagi. Damian bergegas keluar dari ruang kerja dengan langkah panjang.


Aura hitam mengelilingi Damian membuat dua pegawai wanita yang di lewatinya bergidik ngeri. Tidak berani menatap tampang Damian yang menakutkan. Entah gerangan apa yang membuat bosnya itu marah. Auranya membunuhnya benar-benar terasa kuat dan mendominasi.

__ADS_1


Sangking takutnya pegawai itu lupa menghembuskan napas. Mereka masih diam di tempat dengan kepala sedikit tertunduk dan keringat dingin terus bercucuran keluar.


"Anda mau pergi kemana sir?" Adam yang tidak sengaja berpapasan langsung mengikuti dari belakang. Damian tidak mengindahkan pertanyaan Adam. Memilih terus melanjutkan langkah dengan raut muka marah.


Apa yang salah dengan mu sir?


"Sir, biar saya yang menyetir!" tawar Adam dengan suara tegas. Sedikit memaksa seolah tidak menerima penolakan. Damian menghembuskan napas panjang sebelum akhirnya mengangguk setuju.


Adam melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, tidak mempedulikan teguran-teguran yang berasal dari pengendara lain. Yang menjadi prioritasnya saat ini adalah keinginan Damian. Melihat bias ketakutan di wajah Damian membuatnya gelisah.


Adam memilih diam dan bertanya saat Damian sudah sedikit tenang. Sekarang, Damian duduk dengan kepala bersandar dan mata terpejam. Seolah-olah sedang merendam kemarahan yang berkobar hebat. Adam yakin, masalah kali ini menyangkut John.


Sampai di Mansion.


Damian berlari masuk kedalam. Mata abunya bergerilya kemana-mana mencari batang hidung Grace. Nihil, Grace tidak ada di lantai satu. Alhasil Damian berlari ke lantai dua dengan berteriak-teriak memanggil nama Grace berulang kali.


"Grace!"


"Grace! di mana kau?"


"Grace!"


Begitu panggilan ketiga terlontar, Grace berlari menghampiri dari arah kamar. "Aku di sini Ef!" sahut Grace dengan suara lirih. Damian langsung merengkuh tubuh rapuh itu dan memeluknya erat.


"Aku baik-baik saja Ef, aku mohon tenanglah!" Grace menuntun Damian untuk duduk di sofa terdekat. Mengambil segelas air dan menyerahkannya pada Damian.


"Minumlah!" Damian menerimanya dengan tangan bergetar. Kemudian, meneguk air itu hingga tandas tidak tersisa.


"Sekarang ceritakan, apa masalah mu Ef?" kata Grace sembari menyahut gelas Damian dan meletakkannya di atas meja samping. Damian terdiam, lalu menatap Grace dengan sangat lama.


"Katakan padaku, seseorang menemui mu kan?" tanya Damian, akhirnya membuka suara setelah terdiam beberapa saat.


Grace terdiam, mencoba mengingat apa hari ini dia menemui seseorang atau tidak. Seingatnya Grace ingin menemui Rachel tetapi tidak jadi karena Rachel pergi bulan madu. Lalu... pria tua itu. Apa yang di maksud Damian bapak-bapak mesum yang mengaku memiliki hubungan darah dengan Damian.


"Ya, seorang pria paruh baya datang menyapaku tadi. Tapi jangan khawatir, aku mengabaikannya dan bergegas pergi menjauh!" jawab Grace. Sedikit membuat perasaan Damian lebih tenang.


"Apa dia benar-benar pamanmu?" tanya Grace penasaran.


"Iya, dia paman ku!" jawab Damian singkat.


"Tapi kau harus menjauh darinya Grace!"

__ADS_1


"Kenapa?"


"Dia menginginkan harta keluarga kami Grace. Karena itu, dia ingin mencelakai ku yang merupakan ahli waris. Sekarang dia sudah melihat mu, aku yakin dia menargetkan mu kini!" Damian mulai berceloteh kemana-mana. Menyebutkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.


"Ini salahku seandainya aku tidak mengumumkan pernikahan kita, mungkin kau dan Xavier tidak akan terancam. Bagaimana jika dia mengincar kalian, aku tidak sanggup melihat kalian terluka."masih mengoceh tidak memberikan Grace kesempatan untuk membalas ucapannya.


Entah kenapa Grace merasa Damian terlihat lemah sekarang. Sekuat apapun seorang pria, mereka akan menjadi lemah jika dihadapkan dengan seorang wanita.


"Dengar! Damian yang kukenal bukan pria lemah. Aku yakin kau mampu melindungi kami. Sebesar apapun bahaya yang mengelilingi ku, aku tidak takut dan tetap berada di samping mu Ef!" Grace mengusap pelan rahang tegas milik Damian, matanya menatap dalam mata abu suaminya.


"Sekarang kau istirahat saja, aku akan membuatkan mu makanan!" Damian menggeleng, seraya mencengkeram lemah pergelangan tangan Grace.


"Aku tidak ingin makan apapun, aku hanya ingin dirimu!" Grace menghembuskan napasnya pasrah, lalu mengajak Damian masuk ke kamar.


Grace menyuruh Damian tidur di atas pahanya. Tangan lentiknya mengusap kepala Damian secara berulang-ulang dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Ef apa kau ingin memiliki anak kedua denganku!"


"Tentu saja! aku tidak akan berhenti sebelum memiliki anak perempuan!" jawab Damian setelah itu mengedipkan matanya nakal. Selama beberapa saat Damian sempat melupakan kekhawatiran yang menyelubungi hati.


Melihat betapa gemasnya Grace saat sedang merona membuatnya ingin menerkam wanita itu sekarang juga. "Kenapa kau menatap ku begitu?"


"Aku ingin memakan mu babe!" jawab Damian berterus terang. Grace semakin salah tingkah, entah kenapa hawa panas semakin menyelimuti kamar mereka.


"Tidak, aku harus melihat Xavier!"


"Aku hanya bercanda, jangan tinggalkan aku Grace. Kau tau aku takut melihat mu pergi dari sisi ku!" gumam Damian seraya menenggelamkan wajahnya di perut rata sang istri.


"Aku tidak akan kemana-mana, sekarang tutup mata mu." bisik Grace pelan. Lalu mendaratkan ciuman di pipi Damian.


Tidak lama setelah itu, Damian tertidur pulas. Grace bisa merasakan napas Damian mulai ringan. Dengan selembut mungkin Grace menggantikan pahanya dengan bantal agar Damian merasa lebih nyaman.


Grace berjalan pelan, meninggalkan kamar dan pergi menuju lantai bawah. "Ellie, bisakah kau menjaga Xavier? dia tertidur di kamar sebelah" Grace menghampiri Ellie. Lalu meminta bantuan.


"Dengan senang hati nyonya!" Grace berdecak malas, kini panggilan nyonya seperti membuatnya merasa tua.


Atas perintah Damian semua orang yang bekerja disini memanggilnya nyonya, dan lucunya Damian menyuruh mereka memanggil Grace nyonya dengan alasan telah menjadi seorang ibu. Panggilan nona sudah tidak cocok untuknya.


TBC


warning!

__ADS_1


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. 🙏!!!!!!


__ADS_2