Mr Billioneire Wife

Mr Billioneire Wife
Istriku (Revisi)


__ADS_3

Malam itu, Belle menanyakan keberadaan Michel pada semua. Tapi, semua orang malah memberitahu jika Michel juga mencarinya.


Sampai akhirnya Belle beristirahat sejenak. Malangnya dia, bukan hanya kehilangan Abigail sekarang Belle juga kehilangan Michel.


Keenan, pria itu pasti tahu sesuatu. Belle menyeka air matanya dan kembali masuk kedalam. Begitu sampai di ambang pintu. Belle menyapukan pandangannya. Melihat Keenan duduk santai di dekat Peter lantas dia datang menghampiri.


"Ikut aku!" ajak Belle kemudian menarik tangan Keenan tanpa mempedulikan tatapan yang di lontarkan semua orang.


Keenan masih membisu, sebenarnya dia tahu apa tujuan Belle membawanya keluar. Pasti menanyakan keberadaan Michel.


"Kau sudah tahukan tujuan ku membawa mu ke sini?" tatapannya mendatar. Belle muak berhadapan dengan Keenan.


"Aku tidak tahu!" jawab Keenan datar. Berpura-pura. "Ayolah, tidak usah berpura-pura di hadapan ku. Aku tahu betul apa dan bagaimana sifat mu itu!"


Bukannya marah Keenan malah tergelak. "Benarkah, kau mengenal siapa aku?" remeh Keenan.


"Ya kau bajingan licik yang suka memperdayai!" sarkas Belle. Keenan semakin mengencangkan tawanya.


Keenan suka dengan wanita pemarah dan bermulut pedas. "Terimakasih atas pujian mu babe!" Keenan meraih dagu Belle dan menciumnya singkat.


"Lancang!" Belle mendorong Keenan agar menjauh. Segera ia mengusap bibirnya dengan kencang. Belle jijik mendapat sentuhan Keenan.


"Ada apa dengan mu, kau tidak suka ku sentuh? padahal sebentar lagi kita resmi menjadi pasangan suami istri!" baru kali ini Keenan bicara panjang lebar.


"Aku tidak pernah menyetujui keinginan mu! Bukankah kau sendiri yang menolak untuk bertanggung jawab." seru Belle. Menatap Keenan dengan tatapan menantang.


"Aku tidak perlu persetujuan mu!" Keenan berucap santai seraya melangkahkan kakinya mendekati kursi stainless yang terletak di samping mereka.


"Kau tidak berhak memaksaku. Demi tuhan, berhentilah mengganggu hidup ku Kee!" sentak Belle. Sungguh, Belle capek menghadapi keegoisan Keenan.


"Sebelum kau mau menikah dengan ku, aku tidak akan berhenti menganggu mu, Elle!" Keenan berdiri dari tempat duduknya. Hendak meninggalkan Belle.


"Mau kemana kau!" tanya Belle, menghentikan langkah pria itu.


"Membawa mu menemui kekasih mu!" tanpa meminta izin, Keenan mencengkram pergelangan tangan Belle dan membawanya pergi.

__ADS_1


"Aku tidak mau, kau pasti menipu ku kan?" berusaha melepaskan cengkraman Keenan.


"Aku tidak menipu mu sayang. Ikut aku jika ingin sahabat mu itu selamat!" bisik Keenan, kemudian pergi tanpa menghiraukan jawaban Belle.


Mau tak mau Belle pun mengikuti dari belakang. Hatinya ingin menolak, namun ini berhubungan dengan keselamatan Michel.


Saat-saat seperti ini, Belle tidak boleh memikirkan dirinya sendiri. Apalagi Michel selalu mengutamakan dirinya. Sudah waktunya Belle membalas kebaikan Michel.


"Masuklah!" Keenan membukakan pintu. Belle mengangguk dan masuk kedalam mobil mahal milik Keenan.


"Ingat jika kau membohongi ku, aku akan menghabisi mu!" peringat Belle sebelum membuang muka ke arah jendela.


Pemandangan di luar lebih indah dah dan nyaman di pandang dari pada wajah tua Keenan. "Sudah ku bilang, aku tidak membohongi mu. Lihat ini!" menyodorkan ponsel pintarnya yang memperlihatkan keadaan Michel.


"Apa yang kau lakukan pada sahabat ku?" Belle merampas benda pipih itu dan menatap layar dengan tatapan khawatir.


Michel terlihat tidak berdaya dengan tangan dan kaki terikat. Beberapa luka memar terlihat memenuhi wajahnya.


"Hanya memberinya sedikit pelajaran karena berani menyentuhmu!" seru Keenan diakhiri seringai menakutkan.


Tidak ada jawaban, Keenan fokus pada jalanan. Sesekali bibirnya terangkat membentuk bulan sabit yang indah.


...🦋🦋🦋🦋...


"Kita sudah sampai!" seru Keenan sembari melepaskan sabuk pengaman. Belle melihat ke luar. Dilihatnya sebuah bangunan tua berdiri kokoh di depannya.


"Masuklah, sahabat mu ada di dalam!" tak membuang-buang waktunya lagi. Belle segera keluar dari mobil dan berlari masuk.


Di sini puluhan bodyguard Keenan tempatkan. Keamanannya sangat ketat, tidak memungkinkan bagi mereka untuk melarikan diri.


Sampai di pusat bangunan, langkahnya terhenti. Matanya berkaca-kaca kala melihat Michel duduk dengan tubuh penuh memar.


"Michel!" teriak Belle kemudian berlari mendekat dan membuka ikatannya. Michel tersenyum melihat Belle baik-baik saja.


"Kau tak apa?" tanya Belle, mengusap lembut pipi Michel. Tak terasa air matanya jatuh, Belle merasa bersalah pada Michel. Semua ini salahnya, andai dia tak meminta Michel datang ke sini. Keenan tidak akan membuatnya menjadi sasaran empuk.

__ADS_1


"Aku tak apa Elle, berhentilah menangis!" menghapus air mata Belle dan memeluknya singkat.


"Berani sekali kalian berpelukan di hadapan ku!" suara Keenan merusak momen kebersamaan mereka.


Michel menoleh, "kau disini?" tanyanya bingung. "Apa jangan-jangan kau yang membawa ku ke sini?" tuduh Michel. Keenan tak menjawab, masih memperhatikan tangan Michel yang merangkul pundak Belle.


"Michel, maafkan aku. Seandainya aku tak memintamu menjadi pasangan ku. Pasti kau hidup tenang sekarang!"


"Apa yang kau katakan Elle, aku tidak menyesali apapun. Berada dekat dengan mu merupakan sebuah keberkahan bagi ku. Aku bahkan rela menjadikan nyawa ku sebagai bayaran atas pertemuan kita ini!"


Keduanya sempat terhanyut dalam suasana. Sebelum suara Keenan kembali terdengar.


"Hentikan drama kalian, tanda tangani ini!" Keenan menyodorkan dokumen pernikahan ke dekat Belle.


"Berapa kali aku bilang, aku tidak mau!" marah Belle Melemparkan dokumen itu ke sembarangan arah.


Melihat perilaku Belle, Keenan semakin marah dan mengeluarkan senjatanya. "Kau yakin masih mau menolak ku bahkan setelah aku melenyapkan kekasih mu?" Keenan menempelkan ujung pistolnya di dahi Michel.


Belle membulatkan matanya, dia menatap Michel sesaat sebelum akhirnya kembali berucap. "Oke, aku akan menandatangani dokumen itu!" putus Belle pada akhirnya.


"Elle!" panggil Michel dengan suara sendu.


"Tidak papa Michel, aku akan menikahi pria ini. Maafkan aku, sepertinya aku tidak bisa menerima cinta mu!" sarkas Belle. Mengambil dokumen yang dia buang tadi.


"Kau tahu?"


"Aku tidak sebodoh itu Michel, aku peka dengan perasaan mu. Tadinya aku ingin menerima lamaran mu. Tapi sepertinya itu mustahil, kita tidak bisa bersama!" seru Belle membuat Keenan kesal. Berani sekali wanita itu ingin menikah dengan pria lain.


"Sekali lagi maafkan aku Michel! aku harap hubungan kita masih bisa berlanjut meskipun hanya sebatas teman" Belle membubuhkan tanda tangan di atas kertas putih itu. Kini, dirinya resmi menjadi istri Keenan secara hukum.


Michel tersenyum tipis, "tidak usah minta maaf Elle. Kau berhak memutuskan pilihan mu. Meskipun kau menolak ku tidak masalah, hubungan kita masih tetap sama. Selamanya aku akan menemani mu sebagai teman!" Belle menoleh. Sempat terdiam sejenak kemudian tersenyum.


"Terimakasih, aku harap kau menemukan pasangan mu dalam waktu dekat!" Belle kembali memeluk Michel sebagai pelukan terakhir mereka. Belle yakin, setelah ini Keenan tidak akan membiarkannya menemui Michel.


TBC

__ADS_1


__ADS_2