Mr Billioneire Wife

Mr Billioneire Wife
Penculik anak(Revisi)


__ADS_3

Pagi yang cerah mengiringi hari ini. Sinar mentari dengan hangat dan penuh kelembutan meresap dalam setubuh seorang wanita cantik yang mulai terbangun dari alam mimpi. Grace, wanita itu membuka matanya perlahan, lalu duduk bersadar pada kepala ranjang untuk mengumpulkan nyawa.


Rasa lelah menyebar ke seluruh tubuh. Semalam Damian menyeretnya masuk ke dalam kamar dan meminta jatah harian. Padahal jelas-jelas Grace menjanjikan jatah saat lukanya sudah sembuh.


Tok! tok! tok! bunyi ketukan pintu terdengar berulang kali. Dengan secepat kilat Grace meraih selimutnya kembali. Membalut diri dan menyuruh Ellie masuk ke dalam kamar.


Ellie membawa nampan berisi makanan. "Nyonya, tuan muda meminta saya membawa makanan ke kamar!" sontak Grace tersenyum tanpa sadar. Senang dengan kepedulian Damian.


"Terimakasih! ngomong-ngomong di mana Xavier?" tanya Grace. Merasa berdosa telah mengacuhkan buah hatinya.


Ini bukan pertama kali Grace menitipkan Xavier pada pelayan mansion. Tapi entah kenapa Grace merasa bersalah sudah menghabiskan waktu bersama suami dan mengabaikan anaknya sendiri.


"Tuan muda membawa putra anda jalan-jalan mengelilingi taman, nyonya!" jawab Ellie. Grace mengangguk paham, setelah ini dia bertekad tidak akan mengabaikan Xavier lagi. Tidak peduli jika Damian marah nanti.


"Terimakasih, kau bisa pergi sekarang!" Ellie mengangguk. Kemudian melangkah pergi meninggalkan Grace seorang diri.


Begitu pintu tertutup, Grace beranjak dari tempat tidur. Berusaha masuk ke dalam kamar mandi dengan langkah tertatih-tatih. Tubuhnya terasa lengket membuat ingin segera berendam di bathub.


...🦋🦋🦋🦋...


Keramaian terlihat di taman belakang Mansion. Melihat orang-orang dari perusahaan wedding organizer membuat Grace bertanya-tanya m Untuk apa mereka menghias taman belakang mansion. Apa Damian mengadakan pesta?


Ini masih pagi dan dekorasi sudah 50% jadi. Sepertinya mereka sedang terburu-buru menyelesaikan dekorasinya. Melihat Damian menggendong Xavier di tengah-tengah keramaian itu. Grace bergegas menghampiri.


"Luka mu baru saja di obati, berikan Xavier pada ku. Luka mu bisa terbuka lagi nanti!"


Damian menoleh, bibirnya menerbitkan senyum teduh. Lalu membiarkan Grace mengambil alih Xavier dari gendongannya. "Kenapa kau menyewa wedding organizer untuk mendekorasi taman Ef?" tanya Grace penasaran.


"Tentu saja untuk merayakan anniversary kita Grace." jawab Damian santai. Sontak mata Grace terbuka lebar, bibirnya sedikit terbuka. Grace di buat terkejut dengan jawaban Damian.


"Apa kau bercanda?"


"Apa kau melihat ku sedang melawak?"


Jadi Damian serius dengan perkataannya. Padahal baru semalam Grace setuju merayakan anniversary dan keesokan paginya Damian sudah menyiapkan dekorasi. Sial, tidak ada orang segila Damian di dunia ini.


"Tidakkah kau merasa ini terlalu cepat?"


"Bukankah lebih cepat lebih baik?" apa-apaan. Kenapa setiap pertanyaan Grace di jawab pertanyaannya juga oleh Damian. Seolah pria itu berusaha memojokkan Grace.


Damian ingin semua orang tahu bahwa Grace adalah istrinya. Terakhir kali Damian memperkenalkan Grace saat menghadiri pesta pernikahan rekan bisnis. Kali ini Damian ingin mengenalkan Grace secara resmi.


"Terserah, lagi pula keputusan mu tidak bisa di ganggu gugat bukan." tutur Grace malas. Damian tergelak kecil di iringi anggukan berulang kali. Setuju dengan ucapan Grace barusan.


"Masuklah ke dalam mansion. Istirahat saja, aku akan mengawasi persiapan pesta. Berikan Xavier susu, dia belum makan apapun tadi!" ucap Damian.

__ADS_1


"Kenapa tidak bilang dari tadi. Bagaimana jika Xavier sakit nanti!" sungut Grace marah. Tidak suka dengan Damian yang mengabaikan kesehatan putranya.


"Maafkan aku Grace. Aku terlalu bersemangat menyiapkan pesta perayaan ini dan melupakan jadwal makan Xavier!" Grace baru mengungkapkan perasaannya saja Damian sudah melupakan keberadaan Xavier.


Apalagi nanti setelah pesta ini selesai. Jangan sampai pria itu menuntut jatah dan membuat Xavier terlatar. Grace ingin membesarkan Xavier dengan kedua tangannya sendiri. Jangan sampai Xavier lebih dekat dengan pengasuh dari pada dirinya yang merupakan ibu kandungnya sendiri.


"Kali ini aku memaafkan kecerobohan mu Ef. Tapi jangan sampai kejadian ini terulang lagi. Ingat, Xavier darah daging mu. Kau harus memperhatikan kesehatannya!" jelas Grace dan hanya diangguki Damian.


"Kau sudah minum obatkan?"


"Sudah!"


"Oke, kalau begitu aku pergi sekarang!" Grace melangkahkan kakinya menjauj dari taman. Masuk ke dalam mansion, dapur menjadi tempat pertama yang di tuju. Grace mau membuatkan Xavier bubur dan susu.


...🦋🦋🦋🦋...


Sedangkan di bandara kota.


Ara terlihat kebingungan mencari taksi. Damian bilang dia sudah mengirim seseorang untuk menjemputnya. Tapi sampai sekarang sopir itu masih belum datang.


Terpaksa, Ara duduk di kursi panjang yang terletak di depan bandara. Kedua orang tuanya sudah pergi sejak 20 menit yang lalu. Hendak mengunjungi teman lama sebelum datang ke rumah anaknya. Ya semalam Damian menghubungi keluarganya secara diam-diam. Menyuruh mereka datang untuk merayakan anniversary pernikahannya dengan Grace.


Ara memakai henset, mendengarkan musik pop sembari menunggu jemputan. Mata indahnya berkelana ke mana-mana, mengamati ratusan orang yang berlalu lalang.


Hingga akhirnya tatapannya menangkap sebuah objek menarik. Ara melihat seorang anak kecil bersembunyi di balik pot besar berisi tanaman pakis.


"Sayang, kenapa bersembunyi di sini? di mana orang tua mu?" tanya Ara pelan. Selalu mengulum senyum, tidak ingin anak itu semakin ketakutan.


"Kemari sayang, tidak usah takut. Aunty tidak akan menyakitimu!" bujuk Ara. Mengulurkan tangan, berharap anak kecil itu mau menggenggamnya.


Dan benar saja, tidak sampai 5 menit. Anak itu mendongakkan kepala. Menatap Ara intens, sebelum akhirnya menggengam tangan Ara dengan ragu. "Mommy!"


"Apa?" pekik Ara terkejut. Mendengar panggilan anak kecil itu membuatnya senang sekaligus kaget. Pasalnya Ara tidak mengenal orang tua anak kecil itu.


"Di mana ayah dan ibu mu nak?" tanya Ara lagi.


"Hiks... mommy! jangan tinggalkan Al! Al janji tidak akan nakal lagi!" jadi nama panggilannya Al.


Al memeluk erat tubuh Ara. Tidak membiarkan Ara lepas dari pelukannya. Karena kasihan, Ara pun menggendongnya. Sesekali menepuk-nepuk punggung Al. Berusaha menenangkannya.


"Daddy jahat, dia selalu memarahi ku saat aku menanyakan keberadaan mu. Dia bilang mommy ada di surga, tetapi aku telah menemukan mu disini. Itu berarti Daddy berbohong kan?" mendengar cerita Al, Ara semakin mengerti situasi apa yang di alami Alessio.


"Mommy tidak akan meninggalkan mu sayang. Apa kau memiliki nomor daddy mu?" Al mengangguk x meminta Ara agar menurunkannya. Alessio mengeluarkan sebuah kartu nama. "Ini nomor daddy, mommy!" Ara menerimanya.


Belum sempat Ara menyimpan nomor itu. Sebuah mobil sport bewarna merah berhenti tepat di depannya m "Maaf atas keterlambatan saya nona!"

__ADS_1


Seorang pria paruh baya berpakaian full hitam. Turun dari mobil, membuka pintu penumpang dan mempersilahkan Ara masuk ke dalam. "Silahkan masuk nona!"


"Iya, tolong masukkan koper ku ke dalam bagasi ya m Terimakasih!" Ara kembali menggendong anak itu dan membawanya masuk kedalam mobil. Ara terpaksa membawa pulang Alessio, karena tidak tega meninggalkannya sendirian.


Melihat bagaimana tubuhnya bereaksi pada keramaian. Sepertinya Alessio tidak tahan berada di tempat umum. Semacam merasakan panik attack, tapi lebih para dari itu. Mungkin saja Alessio menderita Agora Phobia.


"Nama mu siapa sayang?"


"Alessio!"


"Wah nama yang bagus, lalu berapa umur mu?" tanya Ara lagi. Berusaha mengakrabkan diri dengan Alessio.


"Umur ku 7 tahun!"


"Alessio kesini dengan siapa?"


"Daddy!" setelah itu pembicaraan mereka terhenti karena sudah sampai di kediaman Damian. Ara menggandeng Alessio masuk ke dalam.


"Grace aku datang!" teriak Ara.


Grace kala itu sibuk menyuapi Xavier. Mendengar teriakkan Ara langsung terperanjat kaget dan menjatuhkan sendok. "Ara!" pekik Grace kesal. Namun, senang melihat adik iparnya datang dengan membawa koper. Pasti Damian mengundang seluruh keluarganya untuk menginap sampai beberapa hari ke depan.


Grace tidak bisa memeluk Ara karena sedang menggendong Xavier. Grace mempersilahkan Ara duduk di ruang tamu. Dan saat mereka berjalan beriringan, Grace di kejutkan oleh sosok anak kecil yang menggenggam erat kemeja Ara.


"Ara, anak siapa ini?" Grace menunjuk Al dengan dagu lancipnya. Entah kenapa, Grace merasa familiar dengan wajah anak itu.


"Dia Alessio, aku membawanya dari bandara!" Grace membulatkan mata, itu artinya Rachel membawa anak ini tanpa izin dari orang tuanya.


"Ara, kau sudah tidak waras? kenapa tidak menyerahkannya pada orang tuanya?"


"Inginnya begitu, tapi dia tersesat dan terpisah dari orang tuanya, Grace!" niat Ara tidaklah salah. Namun, perbuatan Ara ini bisa di artikan sebagai penculikan.


"Kenapa tidak kau beritahu keamanan bandara saja. Mereka bisa mengumumkan bahwa ada anak kecil yang terpisah dari orang tuanya, tidak harus kau yang membawanya pergi!" marah Grace, khawatir Ara di tutut atas kasus penculikan.


Ara menggaruk tengkuknya, "masalah Alessio takut pada keramaian. Bahkan untuk mendekatinya saja, aku memakai banyak cara."


"Tidak usah khawatir, aku memiliki nomor telepon ayahnya. Aku bisa menghubunginya nanti!" lanjut Ara, menjelaskan. Mengakhiri rasa khawatir Grace.


"Hai, siapa namamu nak?" Grace berjongkok, menyamakan tingginya dengan tinggi Alessio. Namun, anak kecil itu malah bersembunyi dibelakang Ara dan ganti mencengkeram kuat rok span yang dipakai Ara.


Sedih karena di abaikan, Grace mengerucutkan bibir. "Maafkan Alessio Grace, dia butuh waktu untuk beradaptasi dengan orang baru!"


"Aku mengerti, sekarang pergilah istirahat aku akan menyuruh Ellie menyiapkan makanan dan minuman untuk kalian." Ara mengangguk sebelum kembali menggendong Alessio dan membawanya masuk kedalam kamar tamu yang biasa Ara tempati.


TBC

__ADS_1


warning!


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. 🙏!!!!!!


__ADS_2