
Malam itu, Damian dan Grace akan menginap di kediaman Steven. Tidak memungkinkan bagi mereka kembali ke New York sekarang. Malam semakin larut, Grace sedang hamil.
Damian tidak mau mengambil resiko. Karena itu dia memilih menetap di kediaman musuh bebuyutannya yaitu Steven.
Seperti biasa Xavier tidur bersama neneknya. Meninggalkan Damian dan Grace sendiri. Agatha berharap pasangan itu bisa menghabiskan malam bersama berdua saja.
Itulah mengapa Damian Sangat senang akan kehadiran Agatha. Sebab wanita paruh baya itu memiliki kepekaan yang sangat kuat.
"Minum susu dan vitamin mu Grace!" ucap Damian memerintah. Membawa baki berisi segelas susu dan satu botol berisi vitamin.
Grace yang tadinya berbaring sembari memainkan handphone merubah posisinya menjadi duduk. Mengambil alih baki yang berada di genggaman tangan Damian.
"Terimakasih!" ujarnya dengan senyum tipis. Senang melihat Damian peduli meskipun mereka berada di tempat tinggal orang.
Grace menelan vitamin itu di susul dengan segelas air. Setelah beberapa saat, barulah Grace menegak susu buatan tangan Damian sendiri.
"Kemari!" Grace menepuk-nepuk kasur di sebelahnya yang masih kosong. Menyuruh Damian duduk di sana.
Dengan senang hati Damian menuruti permintaan Grace. Bukan hanya duduk, Damian malah berbaring dan menggunakan paha Grace sebagai bantalan nyaman.
"Menurut mu, akankah anak kedua ini mirip dengan ku juga?" tanya Damian lirih. Persis seperti gumamam kecil. Sebab wajah tampannya sudah tenggelam dalam hangatnya perut rata Grace kini.
"Menurut ku, anak kedua kita pasti mirip dengan ku Ef. Xavier duplikat mu, Tuhan harus adil. Anak ini harus Mirip dengan ibunya!" sahut Grace menjawab.
"Sebenarnya aku tidak peduli dia mirip dengan siapa nanti. Hanya saja, aku berharap anak-anak kita tidak menuruni sifat ku Grace."
Lantas Grace terdiam di tempat. Matanya berkedip-kedip, bingung dengan maksud ucapan Damian.
"Lalu kenapa jika anak-anak kita menuruti sifat mu Ef? kau tidak seburuk itu. Memang benar terkadang kau pemarah dan suka memaksa. Tapi sikap manis yang kau tunjukkan padaku seorang membuat ku merasa spesial Ef!"
"Benarkah?"
"Mm, aku menyukai semua yang berhubungan dengan dirimu. Dan bagian yang paling ku suka adalah hukuman mu!" bisik Grace tepat di telinga Damian. Lalu mendaratkan kecupan singkat di rambut hitam Damian.
"Nakal sekali kau, tapi aku suka!" cibir Damian cekikikan.
__ADS_1
Sesaat Damian sempat mendongakkan kepala. Namun, kepalanya kembali sembunyi di perut Grace. Mencari kenyamanan dan kehangatan.
"Mommy bilang bayi bisa menendang di dalam sini, tapi kenapa perutmu tidak bergerak sama sekali Grace?" tanya Damian polos. Sontak tawa Grace lepas begitu saja.
"Kita bisa merasakan tendangan calon anak kita setelah usia kandungan ku memasuki bulan keenam Ef. Bersabarlah! aku yakin kau akan bahagia setelah merasakan tendangan calon anak kita!" kata Grace setelahnya.
Dan yah Damian masih menunggu keajaiban itu terjadi. Di mana Damian bisa merawat Grace dengan kedua tangannya sendiri. Menuruti semua ngidam dan keinginan Grace.
"Meskipun aku tidak bisa menemani mu saat kau mengandung Xavier. Setidaknya aku bisa menemani mu di kehamilan mu yang kedua Grace!" ujar Damian.
Terdengar sedih nan menyayat hati. Mata yang terpejam kini terbuka, tergantikan dengan tatapan sayu penuh penyesalan.
Jelas saja semua perkataan Damian benar-benar menumbuhkan perasaan bersalah di hati Grace. Merasa menjadi wanita paling jahat karena sudah memisahkan anak dan ayahnya.
" Maafkan aku Ef, karena keegoisan ku kau tidak bisa merasakan pertumbuhan Xavier saat dia berada dalam kandunganku. Seandainya aku tidak lari waktu itu, mungkin kita akan bahagia dari dulu!" sendu Grace, matanya tersirat rasa penyesalan yang begitu mendalam.
Damian menarik langit-langit bibirnya, menampakkan senyumannya yang menawan. " Kenapa kau minta maaf sweetie, aku mengerti perasaan mu waktu itu. Kau pasti merasa tidak nyaman karena di paksa menikahi pria asing seperti ku!"
" Dan pria asing itu sekarang berubah menjadi pria paling aku cintai di dunia ini!" potong Grace, Damian dibuat terbang oleh ucapan manis bayi nakalnya.
" Tidak aku tidak malu, kenapa kau sok tahu sekali!" elak Damian, ia berusaha menutupi wajahnya yang memerah. Kenapa sekarang bayi nakalnya hobi sekali menggodanya.
" Mana ada, lihat pipi mu memerah. Kau luluhkan dengan perkataan ku!" lagi-lagi Grace menggoda Damian. Dimata Grace sekarang, Damian persis dengan kucing jalanan yang galak. Manis tapi menakutkan!
" Berhentilah menggodaku, atau aku akan pergi dari sini!" seru Damian marah, dia tidak ingin image nya yang terkenal kejam dan menakutkan rusak di mata bayi nakalnya.
" Oke aku diam! karena sekarang aku sangat tergila-gila padamu, bahkan bisa dibilang aku tidak bisa hidup tanpa mu. maka nikmati kebersamaan kita honey, kau bebas melakukan apapun padaku!"
" Benarkah? untuk saat ini aku tidak ingin apa-apa, tapi kita lihat nanti!" gumam Damian, bibirnya menciumi perut Grace.
" Ehm Ef! dulu aku pernah meminta bantuanmu untuk mencari melacak keberadaan seseorang, apa kau menemukan informasi tentangnya?" Damian membeku, tidak tahu harus menjawab apa. Jujur saja Damian bukan hanya menemukan orang itu, tapi juga sangat mengenal orang itu. Saat Belle menikah, Damian lah yang mengirimkan foto pemerkosaan Belle pada Alex.
Damian sedikit ragu orang yang menghamili Belle mau bertanggung jawab dan menerima buah hatinya, mengingat sifat keras dan kejamnya pria itu.
" Sebenarnya aku sudah menemukannya baby, aku bahkan sangat mengenal orang itu. Tapi aku tidak yakin dia mau menerima Abigail dan Belle!" Grace membulatkan matanya.
__ADS_1
" Katakan padaku siapa dia?" tanya Grace mengebu-ngebu. Dia begitu penasaran orang brengsek mana yang tega meninggalkan kakaknya setelah merenggut mahkotanya.
" Dia adalah asisten Peter, Keenan Demitrius. Kalung yang ada ditangan Belle sebenarnya akan Keenan berikan pada ibu panti asuhan yang merawatnya. Tapi saat Keenan tiba di panti, dia baru tahu jika ibu panti sudah tiada satu tahun sebelum dia datang!" jelas Damian.
What asisten mafia itu yang menghamili kakakku, pantas saja Belle kesulitan mencari keberadaannya ternyata Keenan yang memperkosanya.
" Tunggu Ef, tadi kau bilang kau tidak yakin Keenan mau menerima kehadiran mereka, tapi kenapa Keenan meninggalkan cinderamata pada Belle?"
" Mungkin itu sebagai kenang-kenangan saja, setahuku Keenan tidak pernah menaruh hati pada semua wanita yang ditidurinya. Dia akan memberikan cindera mata sebagai imbalan!"
Apa berani sekali asisten sialan itu menyamakan harga diri Belle dengan satu buah kalung kecil. Hei Belle tidak serendah itu.
" Aku ingin bertemu dengannya honey, sebelum aku mengatakan semua ini pada Belle aku harus lebih dulu mendengarkan pendapatnya. Aku tidak ingin Belle terluka lagi akan penolakan Keenan!" Damian mengangguk mengerti.
" Baiklah aku akan mengantarmu nanti, tapi setelah mereka pulang dari acara bulan madunya!"
" Ngomong-ngomong apa kau tidak ingin pergi berbulan madu juga?" Grace mengernyit bingung, kenapa Damian baru menanyakan hal ini setelah mereka lama menikah.
Apa jangan-jangan bastard sialan itu tidak mau kalah dengan sepupu psycopat nya. " Honey, kenapa kau tiba-tiba mengajakku berbulan madu, apa kau tidak ingin kalah dari Peter?" Damian membisu seakan tidak suka bayi nakalnya membandingkan pria lain dengan dirinya.
" Tidak, aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama mu, berdua saja!" ketus Damian. Wajah masamnya menjelaskan semuanya, jika pria itu sedikit cemburu.
Astaga setiap hari kau menempel padaku, apa itu artinya jika bukan berduaan. Kau bahkan membuatkan kamar pribadi untuk Xavier. Aneh sekali kau.
" Tapi sayang kita bukan pengantin baru, dan juga kita sudah mempunyai anak. Bagaimana dengan Xavier, siapa yang akan merawatnya saat kita pergi nanti?"
" Mudah saja baby, kita tinggal menitipkan dia pada mommy. Pasti wanita paruh baya itu dengan senang hati menerimannya!" Grace menggaruk kepalanya, kenapa Damian selalu mempunyai solusi untuk setiap masalah. Yah walaupun kadang-kadang solusinya tidak masuk akal seperti melenyapkan orang.
" Kita bicarakan hal ini nanti, aku lelah dan mengantuk! bisakah sekarang kita tidur?" rengek Grace, berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.
" Baiklah kemarilah aku akan memelukmu mu?" sontak pipi Grace memerah, ia merapatkan tubuhnya ke arah Damian.
Aroma maskulin yang begitu candu membuat Grace nyaman, dan tidak membutuhkan waktu lama bagi Grace untuk tertidur.
Dengkuran halus mulai terdengar, Damian terkekeh dan semakin mengeratkan pelukannya. " Selamat malam my wife!" Damian mencium dahi bayi nakalnya. Malam ini mereka tidur dengan memberikan kehangatan satu sama lain.
__ADS_1
TBC