
"Benarkah, kau mencintaiku?"
"Iya, aku mencintaimu!" Tunggu sebentar, ada yang salah disini. Jika Damian tidak sadarkan diri, lalu siapa yang berbicara barusan?
Grace mendongakkan kepala, pupil mata yang berkaca-kaca itu semakin bergetar hebat, tatkala melihat Damian membuka mata dan tersenyum tipis.
Plak! telapak tangan Grace mendarat sempurna di dada bidang Damian. Wanita itu kesal setelah di permainkan oleh Damian. Padahal Grace sudah sangat mengkhawatirkan keselamatannya, bahkan meninggalkan Xavier di dalam mobil sendiri.
"Xavier! di mana anak ku?" tanya Grace celingukan. Dengan ekspresi dongkolnya Grace mengedarkan pandangan ke seluruh lingkungan setempat. Saat melihat mobil Grace baru sadar sudah meninggalkan Xavier di kursi belakang.
Untung saja Grace membuka pintu mobil tadi, alhasil Xavier masih Tertidur nyenyak tanpa merasa sesak. "Dam, Xavier ada di mobil itu. Tolong kau gendong dia ya!" katanya meminta tolong.
Adam mengangguk paham, bergegas menghampiri mobil sang majikan. Seperti yang Grace perintahkan, Adam menggendong Xavier dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan anak kecil itu.
"Dan kau, ini tidak lucu. Bercandaan mu membuatku hampir terkena serangan jantung!" cecar Grace.Tidak lama setelah itu, Grace kembali menangis Tersedu-sedu. Antara senang dan marah tidak tahu apa yang dia rasakan sekarang. Yang jelas Grace sangat amat bersyukur karena tuhan masih memberikan kesempatan kedua untuk suaminya itu.
"Tapi berkat itu, aku mendengar pengakuan mu babe!" seakan tidak menyesali perbuatannya Damian malah menyahuti ucapan Grace dengan memperlihatkan ekspresi penuh kebanggaan.
"Lain kali, jika kau melakukan ini lagi. Aku pastikan aku sendiri yang akan membunuh mu!" sungut Grace. Masih kesal setelah di permainkan oleh Damian.
"Maafkan aku babe, tapi apa kau benar-benar takut kehilangan ku?" tanya Damian lagi dan lagi. Seolah masih belum percaya dengan pengakuan Grace beberapa saat yang lalu.
"Tentu saja, kau pikir aku bercanda? ayolah, kau ayah kandung Xavier. Kau mau dia jadi anak yatim dan membiarkan ku menjanda? tidak masalah, aku bisa menikah lagi setelah kau mati!" sungguh jawaban Grace ini sedikit menyakiti hati Damian. Bagaimanapun juga Damian berharap Grace tidak akan menikah lagi bahkan jika dia benar-benar mati hari ini.
"Aku hanya bercanda jangan di masukan kedalam hati!" seolah tahu apa yang Damian rasakan. Grace langsung menyahut, memberi penjelasan atas perkataannya itu.
"Ayo kita pergi ke rumah sakit sekarang. Luka mu harus segera diobati!" ajak Grace. Namun, Damian menepis tangannya dan menggelengkan kepala. Pertanda telah menolak ajakannya.
"Kita pulang saja, biarkan Lucas yang datang ke mansion!" ujar Damian. Kemudian, bangkit dari tempatnya terbaring dan berjalan santai masuk kedalam mobil.
Grace bergegas menyusul, entah kenapa hatinya merasa janggal. Damian seperti sedang mengacuhkannya kini. "Kau masih marah karena perkataan ku tadi?"
Grace duduk di kursi samping Damian. Lalu mengambil Xavier dari gendongan Adam dan memangku putra sulungnya itu. "Menurut mu?"
"Aku hanya bercanda, percayalah aku tidak akan menikah lagi setelah kau mati. Jadi jangan marah lagi ya!" bujuk Grace, menampakkan wajah memelas. Berharap Damian kasihan dan memaafkan kesalahannya.
"Ya, tapi beri aku satu ciuman. Setelah itu aku akan memaafkan mu!" lihat, Damian yang licik dan suka memanipulasi sudah kembali sekarang. Bahkan di saat dia terluka, Damian masih mencari keuntungan.
Cup! mau tidak mau Grace pun menabrakkan bibirnya ke bibir Damian. Sebuah ciuman singkat Grace lakukan, demi kesenangan dan kepuasan sang suami. Lagi pula tidak ada salahnya bukan menyenangkan suami hanya dengan sebuah ciuman singkat.
"Senang?" tanya Grace malas. Dengan tidak tahu malunya Damian mengangguk-angguk seraya membuang muka keluar jendela. Percaya atau tidak, semburat kemerahan tengah memenuhi kedua pipinya sekarang.
Adam yang melihat interaksi keduanya hanya bisa menghela napas lelah. Ingin rasanya dia muntah setelah melihat keromantisan yang terjadi antara Damian dan Grace. Namun, Adam tidak bisa melayangkan protes karena sadar akan posisi.
Sabar Adam, sebentar lagi kau pasti memiliki kekasih! batinnya menghibur diri sendiri.
...🦋🦋🦋🦋...
Sampai di mansion, Lucas sudah ada di sana 15 menit sebelum mereka sampai. Lucas langsung membawa Damian ke kamar dan menangani luka tembak itu. Untungnya peluru tidak mengenai titik fatal Damian. Hanya mengenai bahu kirinya saja.
Selesai mengeluarkan peluru. Lucas membalut luka Damian dengan kasa. Sepanjang pengobatan dokter muda itu terus mengoceh, menceramahi Damian perihal masalah kesehatan. Dari caranya membalut luka, terlihat sekali kalau Lucas tidak ikhlas mengobati Damian.
"Aku mau berhenti jadi dokter pribadi mu!" ketus Lucas sembari merapikan peralatannya dengan kasar.
"Silahkan saja, tapi jangan salahkan aku setelah itu kau jadi gelandangan!" ucap Damian santai. Menggertak Lucas, tapi siapa sangka pria itu benar-benar merasa takut.
"Menyesal aku sudah mengenal mu!"
"Kapan luka ku sembuh?"
"Luka tembak membutuhkan waktu cukup lama. Mungkin sekitar satu minggu luka mu baru mengering!"
__ADS_1
"Selama itu?"
"Ya, kau keberatan? protes saja sama yang maha kuasa sana!" habis sudah kesabaran Lucas. Apa Damian pikir dia tuhan yang bisa langsung menyembuhkan luka manusia.
"Padahal aku ingin bermain bersama istri ku!"
Plak! tanpa ragu Lucas memukul kepala Damian. "Apa-apaan kau?" tanya Damian datar. Tangan kanannya mengusap bagian belakang kepalanya berulang kali. Pukulan Lucas menyisakan rasa sakit.
"Maaf-maaf, tangan ku reflek tadi!" Lucas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Melihat tatapan Damian membuatnya gugup.
"Lupakan, pergi saja sana. Melihat wajah jelek mu membuat mata ku sakit!" bukan hanya mengusir Damian juga menghina ketampanan seorang Lucas.
Dasar bedebah tidak tahu terimakasih, tau begitu aku suntik mati saja tadi. batin Lucas, melemparkan tatapan tajam ke arah Damian.
Lucas menyahut tas kerjanya dengan kasar. Menghentak-hentakkan kakinya di lantai marmer berharga ratusan juta dolar dan berakhir membanting pintu dengan kencang.
...🦋🦋🦋🦋...
Di lantai dasar, Grace berjalan mondar-mandir. Menunggu Lucas selesai mengobati Damian. Perasaan khawatir menyelimuti hati, melihat darah bercucuran keluar dari luka Damian membuat Grace takut kalau suaminya itu kenapa-kenapa.
Adam sendiri duduk santai di sofa ruang tengah. Sesekali menyesap kopi hitam manisnya seraya mengamati kegiatan istri bosnya itu.
Tap! tap! tap! suara pantofel Lucas menggema ke seluruh ruangan. Grace dan Adam melongokkan kepala, menatap ke arah tangga. Melihat Lucas berjalan sambil bersiul kecil membuat Adam kembali duduk santai tanpa rasa cemas sedikitpun. Sikap Lucas itu menunjukkan bahwa Damian baik-baik saja.
"Kak, apa suami ku baik-baik saja?" tanya Grace dengan wajah cemasnya. Lucas menatap Grace sejenak sebelum akhirnya membuang muka kearah lain. Melengos malas.
"Tenang saja kakak ipar. Suami mu baik-baik saja. Bahkan sangat baik sampai-sampai ingin mengajak mu olahraga ranjang!" cibir Lucas. Tidak merasa sungkan mengatakan hal-hal memalukan semacam itu.
Grace sendiri seketika langsung menundukkan kepala. Semburat kemerahan tampak terlihat dari kedua pipi. Sangat manis, Grace terlihat seperti memakai blush on kini.
"Dokter, saya akan mengantar anda sampai ke depan sana!"Adam mengambil alih tas kerja Lucas. Mengangkat sebelah tangan, mempersilahkan Lucas untuk berjalan di depan.
"Jadi kau mengusir ku?" sungut Lucas. Adam tak menjawab, malah mengangkat bahunya tak acuh.
"Aku akan pulang, lain kali kita bisa minum kopi bersama. Sampai jumpa kakak ipar!" pamit Lucas dengan senyum lebarnya. Berbeda saat bicara dengan Damian dan Adam yang selalu Marah-marah.
"Sampai jumpa, terimakasih sudah membantu!" Grace membalas dengan mengucapkan terimakasih. Hal itu semakin membuat Lucas suka pada kakak iparnya. Sudah sopan tahu terimakasih pula. Sungguh spek idaman bukan.
"Mari dokter!"
"Sabar!" teriak Lucas sebal. Lalu melangkahkan kakinya melewati pintu utama dengan cepat. Seolah tidak tahan berada di mansion Damian.
Setelah memastikan mobil Lucas pergi menjauhi mansion. Adam kembali masuk ke dalam. Menghampiri Grace dan kembali duduk di sofa tadi.
"Dam, kenapa setelah melihat suami ku tertembak kau tidak merasa panik sama sekali?" tanya Grace membuka obrolan.
"Ini bukan kali pertama saya melihat tuan muda di serang nona. Tuan muda punya banyak musuh, Dia sudah sering tertembak!"jawab Adam sekenanya.
"Kalau dipikir-pikir hidupnya terlalu mengerikan ya. Menurut mu, bagaimana kalau aku meninggalkannya lagi. Kau setuju kan?" tanya Grace iseng. Tidak tahu pertanyaannya itu memancing emosi Adam.
"Saya sendiri yang akan melenyapkan anda jika anda nekat melakukan itu nyonya!" kata Adam serius. Cukup dua tahun saja Damian hidup seperti pecundang, tidak lagi. Adam tidak ingin Damian gila hanya karena di tinggal oleh seorang wanita.
"Kau itu menakutkan sekali, pantas saja tidak ada wanita yang mau denganmu. Apa jangan-jangan kau homo?" tuding Grace tanpa berpikir.
"Saya masih ada pekerjaan, permisi!" alih-alih menjawab, Adam malah pergi dan tidak menanggapi perkataan ngawur Grace.
Kesal di abaikan, Grace menenangkan kakinya ke udara. Seolah-olah dia sedang menendang Adam. "Ellie, tolong jaga Xavier ya. Aku akan pergi ke atas!"
"Baik nyonya!" Grace pun masuk ke dalam lift. Malas menaiki tangga. Kakinya bisa pegal nanti. Sedikit heran mengingat Lucas turun melewati tangga. Padahal kamar utama berada di lantai tiga. Kuat sekali Lucas.
...🦋🦋🦋🦋...
__ADS_1
Begitu Grace menginjakkan kakinya di lantai kamar. Aroma tembakau menyeruak masuk ke dalam indra penciuman. Kepulan asap rokok tampak memenuhi balkon kamar.
Damian berdiri di pinggiran pagar. Menatap hamparan taman sambil menikmati sebatang rokok. "Kau merokok?" suara cempreng Grace membuat Damian terperanjat kaget.
Dengan secepat kilat Damian membuang rokoknya ke asbak yang terletak di atas meja. Lalu menatap Grace dengan senyum sumringah, memperlihatkan deretan gigi rapinya.
"Aku butuh ketenangan Grace!" kata Damian setelah melihat wajah Grace tidak berubah. Masih datar di tambah dengan tatapan mengintimidasinya.
"Minum obat mu, setelah itu pergi istirahat!" perintah Grace tegas m Wajah galaknya hampir menyamai ibu-ibu yang sedang memarahi putranya.
"Oke, tapi biarkan aku memeluk mu!" Damian melangkah mendekat, mengikis jarak yang tersisa. Satu tangannya merangkul pinggang Grace dan menahannya erat.
Damian mendekatkan wajahnya ke wajah Grace. sangat dekat sampai hidung mereka bersentuhan. Grace sendiri tidak menolak, memilih diam dan ikut menikmati setiap sentuhan Damian.
"Aku masih tidak menyangka kau jatuh cinta pada ku Grace!"
"Kalau tidak percaya yasudah. Aku juga tidak rugi kalau kau meragukan perasaan ku!" Grace merusak momen dengan mendorong Damian menjauh.
"Kalau begitu kau harus mengaku kalah Grace! hidup mu adalah milik ku sekarang!" bisik Damian, kembali mendekat dan memeluk Grace lagi.
"Ya aku mengaku kalah, aku jatuh ke dalam pesona mu. Sikap manis mu dan luluh pada cinta mu. Mulai sekarang hidup ku adalah milik mu, babe!" kata Grace dengan nada serius. Di akhiri ciuman singkat di bibir Damian.
"Kita akan menggelar pesta pernikahan nanti!"
"Tidak bisakah pesta pernikahan kita di ganti dengan anniversary saja?"
"Kenapa Grace, apa kau malu menikah dengan pria seperti ku?" tanya Damian. Wajahnya berkerut kesal, padahal dia sendiri yang menyimpulkan dia juga yang marah.
"Jangan asal menyimpulkan, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Kita menandatangani surat pernikahan dua tahun yang lalu. Bahkan kita sudah memiliki anak sekarang. Kita bukan pengantin baru lagi. Jadi tidak usah menggelar pesta pernikahan, cukup rayakan anniversary. Itu sudah membuat ku senang!" jelas Grace panjang lebar.
"Baiklah sesuai dengan permintaan mu nona."
"Jangan lupa undang Steven juga. Kakak ku harus tau bahwa kau dan aku adalah pasangan sempurna!" ucap Grace lagi mengedipkan sebelah mata. Menggoda Damian.
"Tentu!"
"Sekarang minum obat mu dan pergi istirahat. Aku mau melihat Xavier sebentar!" Grace baru berbalik dan Damian langsung menahan pergelangan tangannya.
"Babe, temani aku sebentar. Biarkan Ellie menjaga Xavier malam ini. Aku juga butuh perawatan mu!" seru Damian. Kali ini dia membuat wajah sok imut. Bukannya merasa gemas Grace malah tertawa lepas.
"Aku hanya pergi sebentar, kenapa kau manja sekali sih. Apa kau mau Xavier membenci ibunya karena lebih menghabiskan waktu bersama ayahnya dari pada dirinya!"
"Ayolah Grace, aku butuh energi dari mu. Lagi pula Xavier harus mengerti jika daddy dan mommy-Nya ini membutuhkan waktu untuk berduaan. Dia sudah besar sekarang, aku rasa Xavier juga menginginkan adik!"
Damian semakin menempeli Grace, seolah ada magnet yang membuatnya tidak bisa menjauhkan diri dari tubuh sang istri. "Jangan berpikiran yang aneh-aneh, Ef. Kau terluka dan harus istirahat total. Berbaringlah di atas ranjang, kalau tidak aku akan memotong aset berharga mu itu!"
"Kejam sekali kau!" gumam Damian. Menatap Grace dengan tatapan penuh harap.
"Baiklah, kita akan membuat adik untuk Xavier setelah kau sembuh nanti. Sekarang biarkan aku pergi melihat putra ku, aku akan segera kembali!" Grace luluh dengan tatapan mata Damian. Karena itu Grace memutuskan mengiyakan permintaan Damian.
"Bukan putra mu, tapi putra kita Grace!" koreksi Damian membenarkan. Lalu melepaskan cengkeramannya dan membiarkan Grace pergi.
"Cepatlah kembali! jika tidak, aku akan menyeret mu kembali!" seperti biasa Damian mengancam Grace.
"Iya-iya!"
TBC
warning!
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. 🙏!!!!!!
__ADS_1