Mr Billioneire Wife

Mr Billioneire Wife
Fakta mengejutkan(Revisi)


__ADS_3

Grace membuka pintu kamar. Langkahnya terhenti kala melihat sebuket bunga mawar merah di atas sofa. Matanya menatap binar buket tersebut.


Bukan hanya buket saja. Ternyata 10 bungkus coklat kesukaannya juga ada di dalam paper bag yang terletak di samping buket. Siapa yang membeli semua ini, apa Damian.


Jangan harap setelah menerima sogokan menggiurkan, Grace bisa luluh begitu saja. "kau suka babe?" tangan kekar Damian melingkar di pinggang Grace.


"Aku tidak menyukainya," ketus Grace menggeser buket tersebut. Namun, tidak membuangnya karena sayang.


Gelak tawa Damian memecah tatkala melihat tingkah Grace."Sekarang duduk dan dengarkan aku!" menarik Grace ke pangkuannya. Masih setia memalingkan wajah. Namun, menunggu penjelasan Damian.


"Kau tahu wanita itu sepupu ku. Dia adalah putri paman John. Paman mengirimnya untuk memata-matai diriku. Aku sengaja menjebaknya dalam pesona ketampanan ku. Tapi bukan berarti aku memang menginginkan tubuhnya. Aku ingin membalikkan keadaan dan memanfaatkan Kelly untuk menggali informasi mengenai kejahatan paman."


"Lalu kenapa kau tidak mengelak saat dia mencium mu?"


"Dia tiba-tiba menyerang ku Grace. Mungkin dia melihatmu dari arah kejauhan. Sengaja mencium ku supaya kau meninggalkanku atas dasar perselingkuhan."


Pembicaraan terus berlanjut. Hari ini juga Damian harus berbaikan dengan Grace. Damian tidak betah tidur sendiri tanpa memeluk wanitanya.


"Saat makan malam di cafe, kau terlihat begitu mesra dengannya!" cibir Grace. Memutar bola matanya malas.


"Kami membicarakan rencana proyek baru di Italia. Aku tidak datang berdua saja. Ada beberapa klien juga di sana." sahut Damian serius.


"Maaf Grace, aku sudah menyakitimu tanpa sengaja!" lirih Damian seraya menunduk penuh rasa bersalah.


"Jangan menunduk honey, seharusnya aku yang minta maaf karena tidak mau mendengarkan penjelasan mu." Grace mengulurkan tangan. Memegang rahang tegas Damian.


"Seandainya aku tahu kau akan marah, aku tidak akan menerima Kelly!"


"Sudahlah, aku akan melupakan semuanya. Sekarang masakan aku makanan. Calon anak kita lapar!" tidak sia-sia Damian memelas tadi. Akhirnya Grace sudah kembali seperti semula.


"Baiklah, tapi sebelum itu mandi dulu. Aku akan menunggu dibawah!" Grace menepuk dahinya. Lupa jika dia masih mengenakan bikini.


Damian lega semua pertengkaran sudah terselesaikan hanya dengan saran sekertaris malang itu. Seandainya dia tau lebih cepat, mungkin tidur dikamar tamu tidak akan pernah dia lakukan.


Sekarang waktunya mengurus wanita sialan itu. Berani sekali dia membangun dinding antara Grace dan dirinya."Sepupu ku tercinta aku akan datang malam ini, tunggu dan lihat bagaimana aku akan membunuhmu!"


...🦋🦋🦋🦋...

__ADS_1


Angin berhembus kencang menerbangkan gorden kamar Damian dan Grace. Cuaca dingin membangunkan Damian dari tidurnya. Ia melambai ke wajah Grace memastikan wanita itu sudah tertidur.


Damian beranjak menutup jendela, menarik selimut menutupi Grace yang meringkuk kedinginan. Malam ini, Damian akan bersenang-senang.


"Sir!" sapa Adam seraya menunduk memberi hormat. Lalu, membuntuti bosnya dari belakang.


Damian berhenti di depan pintu besar. Lalu masuk dengan langkah pelan. Derap langkah Damian membuat Kelly gemetar ketakutan. Tubuhnya penuh luka Damian tidak punya hati. Apalagi Adam memasukkannya kedalam sel paling pojok itupun tanpa penerangan, Kelly dibuat gila oleh mereka berdua.


"Hai babe, kau merindukanku?" bengis Damian. Takut sudah pasti, ruangan gelap dengan pencahayaan minim membuat tempat ini terkesan horor. Kelly menggelengkan kepala, bergerak mundur takut dengan Damian.


"Jangan takut, bukankah kau ingin menghabiskan waktu bersama ku?"


"Tidak tidak pergilah, jangan dekati aku. Aku mohon maafkan aku kak," mohon Kelly. Tidak menyangka Damian sekejam ini.


"Ck...ck... kasihan, aku sudah memperingatkan mu bukan. Kau malah memperkeruh suasana dengan mencium bibirku. Apa aku harus menjahitnya juga?"


Damian mengambil pisau andalannya,"tajam sekali, aku rasa dia akan senang saat membuat gambar abstrak di wajah mu ini." Kelly menggelengkan kepala. Menangis dan terus memohon hanya dua hal itu yang bisa dia lakukan sekarang.


"Kak ampuni aku, kau ingin tahu tentang ayah ku bukan. Aku akan memberitahukan segalanya." memberikan penawaran yang cukup menarik untuk dipertimbangkan.


"Mm!" sok berfikir, tangannya memutar-mutar pisau lipat yang ada di genggamannya.


"Tapi sayangnya aku tidak tertarik. Aku lebih suka membuat karya di sekujur tubuh mu!" Kelly menunduk, harapannya dipatahkan oleh lanjutan kalimat Damian.


Perlahan Damian melangkah mendekat. Mencengkeram erat tulang pipi Kelly. rasa sakit itu tidak sebanding dengan rasa takutnya sekarang. "Aku harus memulainya dari mana, apa disini?" menggores pipi Kelly.


"Akh sakit!" pipinya berdenyut nyeri, cairan merah pekat mulai bercucuran keluar.


"Aku tidak suka teriakan mu." mengikatkan dua lembar kain ke mulut Kelly. Wanita itu terlihat menyedihkan, hanya bisa diam merasakan semua siksaan Damian tanpa bisa berteriak ataupun mengeluh.


Goresan demi goresan memenuhi tubuh Kelly. Namun, Damian tidak menghentikan kegilaannya. Ia begitu menikmati perbuatannya sampai tidak sadar sepupunya telah merenggang nyawa.


Damian senang membunuh secara perlahan. Mengingatkan mereka akan dosa-dosanya. Jerit tangis menjadi sebuah nada yang amat indah di telinganya. Psikopat memang. Tapi semua ini hanya Damian lakukan pada orang-orang jahat.


Tidak mungkin Damian membunuh tanpa sebab. "Lemah sekali, aku baru menyayat beberapa kali, tapi dia sudah tewas." melemparkan pisau miliknya ke sembarang arah.


"Dam bereskan, kirim jasadnya pada paman ku tercinta!" tuturnya sambil membersihkan darah yang menempel dikedua tangan dengan menggunakan sapu tangan. Damian berbalik, hendak meninggalkan ruang bawah tanah.

__ADS_1


Deg! mata abunya bertubrukan dengan netra cantik bewarna coklat yang sangat dia sukai


"Grace!"


Wanita itu terdiam di tempat. Menutup mulutnya rapat-rapat. Kakinya bergetar hebat. Bias ketakutan terpancar dari kedua matanya.


Grace tidak tahu isi ruangan ini, dia pikir ruangan ini adalah gudang tua yang sudah tidak digunakan. Faktanya ruangan ini sebuah neraka yang menjadi saksi bisu pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan suaminya.


Grace kira ancaman yang sering dilontarkan Damian hanya gertakan semata. Namun, setelah melihat kejadian barusan semuanya salah, Damian seorang psikopat dia adalah monster.


Perpisahan memang keputusan yang tepat. Grace harus segera melanjutkan prosedur pemerintah, supaya bisa lepas dari jeratan psikopat itu.


Perlahan Grace berbalik dan berlari sekencang mungkin. "Berhenti!" teriak Damian. Tak tinggal diam pria itu mengejar wanitanya.


Damian mencekal pergelangan tangan Grace. Menarik wanita itu kedalam pelukannya. Grace semakin gemetar, keringat dingin membasahi dahinya. Dia bisa melihat dan mencium aroma darah.


"Menjauh dariku, aku takut pada mu." mendorong kencang tubuh kekar Damian. Namun, tubuh Damian tidak geser sedikitpun.


Siapa yang tidak takut saat melihat Damian menorehkan goresan membentuk gambar abstrak dengan menggunakan pisau lipat. Apalagi melihat pria itu tersenyum tanpa merasa bersalah semakin membuat Grace ketakutan.


"Jangan takut Grace, aku suami mu. Aku tidak akan melukai mu!" jelas Damian. Grace tidak mau mendengar apapun. Pikirannya kosong, rasa takut mengambil alih akal sehatnya.


Grace menggigit tangan Damian. Dan melepaskan diri saat mendapat celah. Di raihnya pistol milik salah satu penjaga. Dengan sisa keberanian, Grace menodongkan pistol itu tepat ke arah dirinya sendiri.


"Aku bilang jangan mendekat atau aku akan melukai diriku sendiri."


Damian mengangkat tangannya, menyuruh anak buahnya untuk tidak ikut campur. Tetapi matanya melirik Adam. Meminta agar membantunya.


"Aku tidak menyangka, kau adalah suamiku. Aku tidak mau menghirup udara ditempat yang sama dengan iblis kejam seperti mu. Biarkan aku pergi, dan ceraikan aku." Damian menatap Grace datar.


Dengan langkah perlahan Damian mendekat. Secepat kilat Damian memelintir tangan Grace membuat wanita itu menjatuhkan pistolnya.


Dari belakang Adam langsung mengarahkan sapu tangan. Membekap hidung dan mulut nyonya mudanya sampai membuat wanita itu pingsan karena menghirup obat tidur.


Bruk! Grace jatuh kedalam pelukan Damian. Pria itu langsung menggendongnya ala bridal style dan membawanya keluar dari ruang bawah tanah.


Maafkan aku Grace, jangan tinggalkan aku sendiri. Aku membutuhkan mu dalam setiap nafasku!

__ADS_1


TBC


__ADS_2