Mr Billioneire Wife

Mr Billioneire Wife
Ngidam 2(Revisi)


__ADS_3

Malam itu...


Damian pulang membawa satu buket cokelat dan satu paper bag penuh berisi es krim kesukaan Grace. Berharap mendapatkan maaf dari wanitanya itu, Damian bermaksud mengejutkan Grace dengan memberikan hadiah.


Namun, siapa sangka justru Damian lah yang terkejut dengan perubahan sikap Grace. Melihat wanitanya duduk di ruang makan dengan mengenakan pakaian rapi dan berdandan apik. Membuat pria itu memancarkan bias kebingungan di wajah tampannya.


Jangan lupakan ruang makan yang sudah di dekorasi sedemikian rupa. Suasana romantis seolah berhasil di hidupkan karena adanya dekorasi itu.


"Kau sudah pulang Ef, aku menunggumu dari tadi!" Grace berjalan menghampiri. Mengambil buket coklat yang dibawa Damian seraya tersenyum senang.


"Wow, kau membawakan buket coklat untukku, romantis sekali suamiku ini!"puji Grace.


Mendadak pikirannya menghilang entah kemana. Damian mematung di tempat, dia tidak bisa mencerna semua perkataan Grace.


"Ayo kita makan, aku menyiapkan semua makanan kesukaanmu. Setelah itu kita berdansa!" terus mengoceh. Meskipun tidak di gubris oleh Damian.


Masih bingung dengan perangai Grace yang gampang berubah-ubah. Wanita memang sulit di mengerti. Tapi tidak masalah, yang penting Grace sudah tidak marah lagi.


Keduanya fokus pada makanan masing-masing. Keheningan menyelimuti, keduanya sama-sama merasa bersalah.


"Kau sudah selesai makan Ef?" Damian manggut-manggut dan mengambilnya tisu. Membersihkan bekas saos yang tertinggal disekitar mulutnya.


"Ayo kita berdansa, aku sudah menyiapkan lagu yang pas untuk menari!" ajak Grace lagi.


Patuh dan taat, Damian tidak berniat menolak ajakan Grace sama sekali. Sembari menunggu Grace memutar musik. Tangan kekarnya menarik dasi yang seperti mencekik lehernya.


Begitu Grace datang dan musik mulai mengalun indah. Damian merangkul pinggang Grace.


Mereka mulai bergerak mengikuti alunan lagu, semakin lama mereka semakin tenggelam dalam hanyutnya suasana. Mata abu Damian memandang dalam mata coklat Grace. Begitu juga sebaliknya Grace memandang mata Damian.


Seolah mereka menulusuri arti tatapan satu sama lain. Bahkan setelah musiknya berakhir Damian dan Grace masih berdansa di atas lantai marmer. Malam ini akan menjadi malam penuh arti untuk mereka berdua.


"Ef musiknya sudah selesai!" pergerakan mereka terhenti oleh suara lembut Grace.


" Kecantikan mu membuatku tidak bisa fokus Grace!" bisik Damian. Bulu kuduk Grace berdiri, darahnya berdesir kencang saat deru napas hangat Damian mengenai daun telinganya.

__ADS_1


"Hoek hoek hoek!" tiba-tiba Grace merasa mual, suasana yang tadinya romantis berubah menjadi mencengangkan karena wajah panik Damian.


"Parfum apa yang kau pakai Ef, kenapa baunya menyengat sekali?" ucap Grace seraya menutupi hidungnya. Damian menaikkan sebelah alisnya, ini parfum yang biasanya dia pakai. Bukankah Grace sangat menyukainya.


Tapi kenapa sekarang Grace malah mendorongnya dan berkata jika dia tidak suka dan bau parfum itu. "Ini parfum yang sama Grace. Bukankah kau menyukai aromanya?" tanya Damian bingung.


Grace hanya diam dan semakin menjauhkan diri dari tubuh Damian. "Aku tidak mau berdekatan denganmu, aku akan tidur di kamar tamu malam ini!" seru Grace, lalu pergi meninggalkan Damian yang masih mematung.


Sialan! bagaimana aku bisa hidup tanpa menyentuh dia. Ini semua gara-gara parfum murahan ini, aku akan menghancurkan perusahaannya jika perlu.


...🦋🦋🦋🦋...


Sejak kejadian semalam Damian menjadi suntuk bahkan malas melakukan pekerjaan apapun. Pikirannya selalu tertuju pada Grace. Pagi ini saat Damian ingin memeluk tubuh Grace, wanita itu langsung menjauh dan marah-marah.


Grace bilang dia benci dengan aroma tubuh Damian. Padahal parfum yang dipakai oleh Damian adalah parfum yang di pilih oleh Grace semalam.


"Dam buatkan aku kopi, kepalaku rasanya sakit sekali!" keluh Damian sekaligus curhat. Adam langsung berdiri dan menjalankan perintah.


Di dapur kantor, Adam menyeduh dua kopi, satu untuk bosnya dan satu untuk dirinya sendiri. Dia tidak boleh mengantuk dan capek, pekerjaannya masih menumpuk. Entah kapan dokumen sialan itu akan habis.


Kenapa banyak perusahaan yang berminat bekerja sama dengan Wilson crop. Proposal pengajuan tidak henti-hentinya berdatangan. Adam lelah memeriksa semuanya.


"Dam kenapa kau lama sekali!" teriak Damian didalam sana. Adam menghela napasnya panjang. Untung gaji dan bonus bulanannya tidak main-main, jika tidak Adam bersumpah akan membakar perusahaan ini.


"Ini sir!" Adam meletakkan segelas kopi di depan bosnya. Setelah itu dia kembali ketempat asalnya dan mulai memeriksa dokumen lagi.


"Sir ini harus anda tanda tangani, saya akan memeriksa yang lainnya!" Damian diam dan memandangi ponselnya. Dia berharap Grace menelfon.


"Sir!"


"Ck, aku sudah dengar. Kembali dan periksa dokumen itu. Kau mengganggu imajinasi ku saja!" dingin Damian seraya menyahut kasar dokumen di tangan Adam.


"Dam bagaimana dengan informasi orang yang bekerjasama sama dengan pamanku? apa kau sudah menemukan sesuatu?"


"Sir sepertinya paman anda benar-benar melindungi orang yang bekerja sama dengannya. Saya sedikit kesulitan meretas ataupun menggali indentitasnya!"

__ADS_1


"Mungkin sebentar lagi sepupu anda datang ke perusahaan ini. Anak buah saya bilang John mengirim putrinya kemari untuk melamar pekerjaan, sekaligus memata-matai anda!" senyuman dingin nampak terlihat di bibir seksi Damian.


Lucu sekali bahkan rencana pamannya belum terlaksana, tapi Adam sudah lebih dulu mengetahuinya. "Biarkan dia datang, aku ingin melihat aksi pelacur itu!"


...🦋🦋🦋🦋...


Drtt...drtt... drtt dering ponsel membuat Grace mengalihkan pandangannya dan menatap ponselnya terperanjat.


Rachel? kenapa dia menghubungiku!


"Hai re!"


"Grace my best friend forever, aku dengar kau terus menanyakan kepulangan ku. Apa kau merindukanku?" Grace menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Sebenarnya Grace menunggu Keenan. Tapi sudahlah dari pada Rachel terluka nanti lebih baik Grace mengiyakan saja.


"Ya, aku sangat merindukanmu Re, kenapa kau tidak pernah mengunjungi ku. Kau tahu Xavier merindukan ibu baptisnya!" kata Grace. Tidak sepenuhnya berbohong.


"Aku tidak bisa mengunjungi mu, karena aku sibuk. Jadi datanglah ke rumah Peter, aku membelikan mu banyak coklat nanti!" bujuk Rachel, tahu sahabatnya akan luluh saat mendengar kata coklat.


"Baiklah, ngomong-ngomong apa kau sudah pulang. Tapi pastikan saat aku sampai di rumah mu, Keenan juga ada di sana!"


"Kau ada perlu dengannya?"


"Iya, aku ingin menanyakan sesuatu padanya!"


"Okey aku akan menyuruh Peter untuk menahan asistennya saat kau datang!"


"Thanks Re, kalau begitu aku akan menutup teleponnya. Kau nikmati saja harimu bersama suami Psikopat mu itu!" terdengar gelak tawa diseberang sana.


"Sampai jumpa Grace!" sambungan telepon pun diakhiri oleh Grace.Wanita itu memperlihatkan senyum sejuta arti.


Akhirnya aku bisa menemui mu brengsek. Lihat bagaimana aku membunuhmu jika kau tidak mau bertanggung jawab atas Belle dan anaknya nanti!


TBC

__ADS_1


warning!


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius 🙏


__ADS_2