
Sebelum pergi ke bandara, Grace mengambil Xavier. Ia sempat mendapat telepon dari Ellie, jika Xavier menangis tanpa henti. Alhasil mau tidak mau Grace harus membawa Xavier ke bandara untuk menjemput Belle.
Beruntungnya begitu sampai di sana Grace di pertemukan langsung dengan Belle. "Hai Grace, apa kabar mu?" tanya Belle sembari memberi pelukan lemah. Tidak ingin Abigail dan Xavier terjepit.
"Aku baik-baik saja, kau sendiri?"
"Seperti yang kau lihat, aku baik!"
"Aku akan mengantar mu ke apartemen. Ngomong-ngomong, apa kau yakin tidak ingin tinggal bersama kami?" tanya Grace memastikan. Tidak tega membiarkan Belle tinggal sendiri di kota ini. Apalagi Belle tidak pernah datang ke New York sebelumya.
"Aku yakin, lagi pula letak apartemen dekat dengan perusahaan. Dan apartemen itu cukup nyaman Grace!" jawab Belle dengan senyum mengembang.
"Terserah kau saja, tapi kalau kau butuh bantuan jangan lupa hubungi aku ya!" seru Grace dan Belle mengangguk tiga kali sebagai jawaban. Setelah itu mereka pun masuk kedalam mobil.
Sopir melajukan mobil dengan kecepatan sedang, Grace dan Belle memiliki banyak waktu untuk mengobrol santai sembari menunggu mobil mereka sampai.
"Grace!" panggil Belle ragu. Yang dipanggil reflek menoleh dan menaikkan sebelah alisnya bertanya.
"Ya?"
"Boleh aku menanyakan sesuatu?" ucap Belle masih dengan sorot mata ragu.
"Tentu, tanyakan saja tidak usah ragu kak!" jawab Grace meyakinkan. Belle terdiam dengan sangat lama, sebelum akhirnya terdengar helaan napas panjang dan Belle kembali membuka suara.
"Kemarin saat Steven menyusul mu kemari, apa terjadi sesuatu? Steven langsung pulang ke Spanyol begitu pergi dari mansion suami mu Grace!" kata Belle memberitahu. Grace dibuat terkejut, namun masih menormalisasikan raut mukanya.
"Apa Damian melakukan sesuatu?"
"Damian tidak melakukan apapun kak, aku yang sudah mengusir Steven pergi. Ini salah ku, seharusnya aku tidak menyuruh Steven pergi. Aku rasa Steven tersinggung dengan ucapan ku!" jawab Grace dengan suara lirih. Setiap nada dan tatapan matanya menyiratkan rasa bersalah.
"Dia bisa pergi tanpa melakukan apapun? bagaimana bisa? apa yang sudah kau lakukan Grace?" tanya Belle penasaran. Jika tidak mendapat jawaban dari saudara kembarnya, Belle bisa mendapat jawaban dari Grace bukan.
Karena itu Belle tidak menyia-nyiakan kesempatan, memilih mengais informasi sebanyak-banyaknya. Berharap bisa memikirkan solusi di akhir cerita nanti. Padahal baru beberapa tahun keluarga mereka berkumpul bersama dan sekarang sudah terpecah belah lagi. Konyol sekali.
"Aku bilang aku mencintai Damian, Steven percaya dan berpikir aku sudah menerima Damian!" jawab Grace sekenanya.
"Kau asal memberi pernyataan?" entah kenapa Belle kecewa mendengar Grace berpura-pura menerima Damian.
"Awalnya begitu, tapi sekarang aku sudah menerima Damian sepenuhnya. Dan masalah cinta atau tidak, aku masih belum bisa menjawabnya untuk saat ini. Jujur saja, aku belum pernah merasakan debaran apapun padanya!" menjawab dengan jawaban yang sebenarnya.
Terdengar miris, tapi berhasil membuat Belle diselimuti perasaan senang. Itu berarti rumah tangga Damian dan Grace sudah ada kemajuan. Meskipun tidak banyak tapi ini sudah lebih dari cukup untuk membenahi hubungan yang sudah retak.
"Aku senang mendengar kau memutuskan menerima Damian. Melihat betapa mengerikannya dia saat membalas kami. Sudah pasti cinta dan kasih sayangnya tulus Grace!" tutur Belle.
"Ya, aku tahu itu dan aku merasa sangat bersyukur sudah di nikahi oleh Damian. Dia memperlakukan ku seperti ratu!" bangga Grace. Tidak sadar telah mengingatkan Belle akan ayah Abigail. Akankah pria itu juga memperlakukan dirinya seperti ratu nanti. Entahlah, Belle tidak yakin. Yang dia tahu, pria itu menganggapnya sebagai pelacur.
__ADS_1
"Jangan sedih kak, aku yakin suami mu juga akan memperlakukan mu seperti ratu nanti. Ngomong-ngomong, kau sudah mendapatkan kabar perihal keberadaan ayah biologis Abigail?" tanya Grace ragu. Namun, rasa penasarannya terlalu besar. Grace ingin tahu.
"Belum, sepertinya dia tidak menginginkan kehadiran ku Grace. Karena itu aku kesulitan dalam melakukan pencarian. Bahkan untuk mengetahui namanya saja seperti sudah mustahil bagi ku!" Belle meringis melontarkan jawaban yang menurutnya cukup ironi untuk di dengarkan.
Semakin lama rasa lelah dan sepi ini menggerogoti hati. Belle mulai memupuskan harapan, sudah tidak berharap terlalu banyak. Takut di hajar realita yang tak semanis ekspetasi.
Tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Namun, siap tidak siap Belle harus membesarkan Abigail seorang diri. Jika tidak berhasil menemukan ayah kandung putrinya. Lagi pula Belle tidak merasa terbebani, Abigail kebahagiannya hidupnya. Belle siap melakukan apapun untuk kebahagiaan putri semata wayangnya itu.
"Haruskah aku menikah lagi supaya Abigail memiliki orang tua lengkap?" kata Belle asal. Grace dibuat ternganga, tidak menyangka saja Belle memiliki pikiran untuk menikah dengan pria asing.
Asal Belle dan Abigail bahagia kenapa tidak. Grace dengan senang hati akan menyiapkan pesta pernikahan yang megah untuk kakaknya itu. Namun, yang menjadi masalah disini adakah seorang laki-laki yang mau menerima kehadiran Abigail dengan tulus.
"Kau bisa menikah dengan pria lain. Tetapi, apakah pria itu bisa menyayangi Abigail seperti putri kandungnya sendiri?" tanya Grace cemas. Pertanyaan tersebut berhasil menggoyahkan pikiran Belle. Wanita itu ragu kini untuk menikah dengan pria lain.
"Aku rasa kau harus bersabar sedikit lagi. Yakinlah, cepat atau lambat kau akan di pertemukan dengan ayah biologis Abigail. Aku juga akan meminta bantuan suami ku nanti, dia memiliki koneksi yang cukup besar. Mencari identitas seseorang sepertinya bukan hal yang sulit baginya." sahut Grace lagi.
"Terimakasih Grace, aku sangat berhutang budi pada mu. Bahkan setelah perbuatan buruk ku padamu. Kau masih mau membantu ku, entah dengan apa aku harus membalasnya Grace. Kau sangat baik dan aku malu dengan diri ku yang dulu!" kata Belle dengan mata berkaca-kaca.
"Kau kakak ku, jadi tidak usah berasa terbebani. Aku senang bisa meringankan beban mu kak, lagi pula masalah ini sudah lebih dari cukup untuk membuat mu jera. Sekarang, hidupmu harus di penuhi dengan kebahagiaan Kak!" setelah berkata demikian, Grace langsung merangkul pundak sang kakak.
"Mulai sekarang fokus saja pada pekerjaan mu kak. Biar Damian membantu mu mencari keberadaan ayah biologis Abigail!" Belle mengangguk senang, akhirnya setelah sekian lama dia bisa beristirahat dengan tenang.
"Sekali lagi aku ucapkan terimakasih Grace. Aku tidak akan melupakan bantuan mu ini!"
Alhasil Belle perlu merapikan pakaian saja, setelah itu dia bisa mengobrol dengan Grace sampai puas. Sayangnya Grace pamit pulang begitu melihat langit mulai bewarna petang.
Mau tidak mau Belle membiarkan Grace pulang. Karena Damian mungkin sudah menunggu adiknya itu. Dan jangan lupakan Xavier yang terus merengek karena lapar.
Di apartemen itu tidak ada makanan yang bisa Belle suguhkan. Karena itu Belle semakin mendukung keputusan Grace untuk pulang ke mansion suaminya.
...🦋🦋🦋🦋...
Begitu sampai di Mansion, Damian menyuruh Grace pergi ke ruang makan. Pelayan mansion sudah menyiapkan makan malam, mereka harus makan sebelum semua hidangan dingin.
Grace sibuk menyuapi Xavier, sedangkan Damian sibuk menyuapi Grace. Tak lupa Damian juga menyuapi dirinya sendiri. "Ef!" panggil Grace seusai menelan suapan terakhir.
"Hm?"
"Apa aku bisa meminta bantuan mu?" tanya Grace ragu.
"Tentu, katakan apa masalah mu babe. Sebelum itu biarkan Ellie menidurkan Xavier didalam kamar!" merasa terpanggil, Ellie bergegas mendekat ke arah Grace. Dan menunggu sang majikan mengalihkan bayi itu ke tangannya.
"Maaf harus membuat mu repot!"
"Tidak masalah nona, ini sudah merupakan tugas saya!"
__ADS_1
Setelah Ellie pergi dari ruang makan, pembicaraan mereka kembali berlanjut. "Apa yang kau inginkan Grace?" tanya Damian seraya menggenggam tangan mungil Grace.
"Bisakah kau mencari tahu identitas seseorang?".
"Siapa yang ingin kau ketahui Grace. Apa dia seorang pria?" tuding Damian merasa curiga.
"Ya, dia seorang pria!" lantas tatapan Damian berubah tajam dan dingin. Siap menghabisi siapapun yang akan Grace sebutkan.
"Jangan salah paham Ef! aku ingin kau mencari tau identitas ayah biologis Abigail!" seketika amarah Damian mereda.
"Bukankah Belle sudah menikah dengan kekasihmu. Ralat, maksud ku mantan kekasih mu!!" tanya Damian. Sengaja menekankan kata mantan. Agar Grace marah.
"Jangan mulai Ef! aku sedang tidak ingin bertengkar!" cibir Grace kesal. Damian malah tertawa tanpa dosa.
"Sebutkan ciri-ciri pria yang menghamili Belle!" kata Damian seraya mengupas apel.
"Aku tidak tahu rupa pria itu, yang jelas dia meninggalkan sebuah liontin setelah meniduri kakak ku!"
"Aku tidak membawa liontin-nya tapi aku punya fotonya. Lihat ini!" Grace memperlihatkan layar ponselnya pada Damian.
Mata Damian terpaku pada gambar tersebut, seolah tahu siapa pemilik dari liontin itu. "Kirimkan gambar ini ke nomor ku!" Grace memijat pakal hidungnya, tidak tahu harus menjawab apa.
"Kenapa kau diam, jangan bilang kalau kau tidak memiliki nomorku!" Grace tersenyum konyol dan mengangguk sebagai jawaban.
"Berikan ponsel mu!" sungut Damian dengan raut muka tidak mengenakkan.
"Sebesar itukah kebencian mu padaku sampai-sampai nomor ku saja kau hapus dari kontak mu?" terus mengoceh tanpa henti. Sedangkan tangannya menekan nomor dengan kasar.
"Maaf, tapi itukan dulu. Sekarang aku sudah menerima mu. Jadi jangan marah lagi ya!" bujuk Grace dengan rayuan mautnya. Di akhiri dengan kecupan singkat di bibir Damian.
"Bagaimana bisa aku marah padamu Grace sedangkan rayuan mu selalu mempan padaku!"
"Aku akan memaafkan mu, tapi dengan satu syarat!"
"Apa itu?"
"Aku ingin kau memijat ku sampai aku tertidur!"
"Aku setuju!"
TBC
warning!
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. 🙏!!!!!!
__ADS_1