
Satu jam beristirahat akhirnya Belle terbangun. Sesaat, Belle sempat merilekskan tubuhnya yang terasa sakit dan kaku. Barulah setelah merasa mendingan. Belle mengubah posisinya menjadi duduk.
Matanya ke sana kemari. Mencari keberadaan Keenan. Sepertinya pria itu tidak ada di tempat ini. Baguslah Belle bisa keluar dengan tenang.
Belle melilitkan selimut ke tubuhnya, lalu berjalan tertatih-tatih dan berhenti didepan cermin. Sesaat Belle mengamati tubuhnya yang dipenuhi tanda kemerahan.
Di atas meja rias, bertengger satu set pakaian lengkap. Belle mengambil paper bag tersebut karena Keenan merobek gaunnya. Padahal gaun itu Belle beli menggunakan uang tabungan.
Bisa jadi Belle menyesal datang ke kota ini. Seandainya ia tak menyerahkan Abigail waktu itu. Pasti semua ini tidak akan terjadi.
Setelah membersihkan tubuhnya Belle memakai baju yang Keenan siapkan. Lalu dia kembali ke aula pernikahan. Ia menyilakan rambutnya ke depan untuk menutupi bekas kepemilikan Keenan.
Sebenarnya Belle menyamarkan bekas ciuman itu dengan membubuhkan alas bedak. Tapi tetap saja bekas-bekas kemerahan itu masih terlihat samar.
Tak sadar kekesalannya itu membuat Keenan tertawa dari arah kejauhan. Keenan senang melihat wajah cantik Belle. Seolah tidak ada bosan-bosannya.
Plak! Peter menepuk pundak Keenan. Lalu menatap matanya lekat. "Aku sudah membawa pria itu ke tempat yang kau minta. Segera tuntaskan masalah ini!" serunya dengan suara lirih.
Ya Keenan meminta bantuan Peter untuk menculik Michael. Keenan berniat menjadikan pria itu sebagai tawanan untuk menekan Belle nanti.
"Sebentar tuan, wanita itu sedikit sulit di kendalikan. Saya sedang menunggu saat-saat yang tepat!" sahut Keenan tanpa mengalihkan perhatian.
"Cepatlah!" Peter mendelik, merasa usahanya tidak Keenan hargai. Keenan mengangguk paham, sebelum membawa Belle pergi sebaiknya Keenan meminta seseorang menjaga Abigail.
...🦋🦋🦋🦋...
Pesta pernikahan Ara dan Steven berjalan lancar. Tidak ada yang tahu Peter menculik Michel. Semua orang fokus pada acara. Dan Peter bersyukur akan hal itu.
Semua tamu undangan senang mendatangi acara pernikahan ini. Bagaimana tidak, mulai dari tempat, hidangan, dan sovenir terlihat mewah dan mahal.
Hans Wilson menyiapkan ribuan ponsel keluaran terbaru dan satu set pakaian bermerek sebagai sovenir. Di saat yang sama pula, Hans memperkenalkan Alessio sebagai cucunya yang sah. Tentu saja bukan hanya pengantin baru, Alessio juga mendapatkan banyak hadiah.
Sampai tibalah di penghujung acara, dimana pasangan pengantin baru akan melemparkan buket bunga. Siapapun yang mendapatkan bunga itu pasti akan segera menyusul mempelai yang berbahagia. Begitulah mitos yang mereka percaya.
Semua orang berdiri di dekat altar. Mayoritas para wanita yang berdesakan di sana. Sedangkan jauh di belakang mereka, Grace dan Rachel duduk sembari menikmati jus buahnya.
__ADS_1
"Siap semua?" tanya MC. Siap jawab semua wanita yang mengantri itu.
"Di hitungan ke tiga tolong lempar bunganya ya!" pinta MC tersebut pada Ara dan Steven.
Steven dan Ara mengangguk paham. Melihat ramainya orang yang mengantri membuat mereka tertawa.
"Satu.. dua.. tiga.. " Steven dan Ara melemparkan buket tersebut tinggi-tinggi. Semua orang menatap bunga yang terlempar tinggi itu.
Bruk!
Siapa yang menyangka Buket tersebut jatuh di pangkuan Grace. "Apa ini?" bertanya-tanya sembari memegang bunga itu.
Grace mendongak menatap para gadis yang menatapnya marah. Pandangannya terkunci pada sosok Damian. Pria itu tampak memelototinya sekarang. Karena takut, Grace langsung melemparkannya pada Rachel.
Tak jauh berbeda dengan nasib sahabatnya, Rachel justru semakin parah. Tak tanggung-tanggung Peter menodongkan pistol kearahnya seolah bersiap membunuhnya kapan saja.
Rachel tersenyum konyol, kemudian melambaikan tangannya singkat dan melemparkan bunga tersebut ke arah sahabat suaminya yaitu Lucas.
Sedetik kemudian dua psikopat itu tampak kembali tenang. Masing-masing dari mereka menikmati wine sembari melanjutkan obrolan.
"Karena kakak belum menikah!" jawab Rachel jujur. Seketika amarah Lucas semakin besar.
"Kemari kau, aku akan menghajar mu!" serunya. Bersiap melemparkan buket tersebut ke arah Rachel.
"Tunggu!" Grace menghentikan pergerakan Lucas.
"Apa?" tanya Lucas garang.
"Sebelumnya kami minta maaf kak. Semua ini kami lakukan untuk menyelamatkan hidup kami sendiri!" seru Grace dengan suara dibuat-buat sedih.
"Apa hubungannya bunga dengan keselamatan?" Lucas melipat dahi, kebingungan.
"Lihat ke sana kak!" Lucas mengikuti arah jari Rachel. Matanya membulat saat melihat Damian dan Peter duduk santai dengan raut wajah datar.
"Jadi kalian takut pada mereka?" ejek Lucas. Secara serempak keduanya mengangguk. Mengiyakan. Lucas belum tahu betapa mengerikannya mereka saat sedang marah.
__ADS_1
"Kalau begitu aku maafkan!" Lucas membuang buket itu ke sembarang arah dan berjalan mendekati dua wanita itu
"Terimakasih kak!" seru Grace senang.
"Ya ya tidak masalah. Sekarang coba lihat ibu ku!" pinta Lucas. Rachel dan Grace saling melemparkan tatapan.
Hening sejenak, sebelum akhirnya kedua wanita itu mengiyakan permintaan Lucas. Mereka berdua menatap ibu Lucas yang berdiri dengan senyum mengembang.
"Lihat, gara-gara kalian ibu ku jadi salah paham. Aku yakin setelah ini dia akan membanjiri ku dengan foto-foto wanita. Dan menyuruh ku pergi berkencan!" curhat Lucas.
Bukannya ikut sedih Rachel dan Grace malah terbahak-bahak. Mereka menertawakan kehidupan Lucas yang malang. Pasti pria itu tertekan karena permintaan pernikahan.
"Kakak merasa terbebani dengan permintaan ibu kakak?" tanya Rachel. Lucas mengangguk singkat.
"Ya aku tertekan dengan permintaan ibuku sendiri!" serunya di iringi dengan tawa kecut.
"Mau aku kenalkan dengan teman sosmed ku?" Grace menawarkan Lucas kencan buta. Bukan Lucas saja korbannya. Tapi Adam juga termasuk.
"Tidak terima kasih, aku masih bisa menggunakan ketampanan ku untuk memikat para wanita. Kenapa kalian menjodohkan aku, seolah tidak ada wanita yang mau hidup bersama ku!" ketus Lucas kesal.
"Faktanya tidak ada yang mau hidup dengan mu kak. Jadi belajar sadar diri ya!" save Rachel.
"Berhentilah memanggil ku dengan sebutan kakak. Lihat kedua singa jantan itu tengah menatapku dengan tajam sekarang. Seolah aku adalah mangsa mereka!" Grace menganga, tertawa lucu. Hebat juga Lucas bisa tahu tanpa melihat kebelakang
"Dokter ganteng, bagaimana dengan panggilan itu" apa lagi ini. Lucas yakin mafia psikopat itu tengah mengarahkan senjatanya sekarang.
"Kalian ingin aku mati muda? tidak masalah persiapkan pemakaman ku dengan mewah. Aku merasa hidup ku sudah tidak lama lagi. Lihat ke sana!" menunjuk Peter yang siap menekan pelatuknya dengan tatapan tajam bak pisau.
"Eh aku tidak tahu kak, aku akan menyelamatkan mu!" tersenyum canggung, berdiri dari tempat duduk mendekati Peter dan mengajaknya pergi.
"Sayang, ayo temani aku makan!" ajak Rachel. Suaranya mengecil dan menggemaskan.
Kini tinggal Lucas dan Grace yang tersisa. Tentu saja kegiatan mereka diawasi sepasang mata Damian.
TBC
__ADS_1