Mr Billioneire Wife

Mr Billioneire Wife
Hibur mommy mu sayang!(Revisi)


__ADS_3

"Lama tidak bertemu Grace!" ucap Alex dengan suara lembut. Lalu duduk di kursi kosong yang terletak di depan Grace. Grace tersenyum, tapi tidak berani menatap mata hitam mantan kekasihnya itu.


"Bagaimana kabar mu?"


"Seperti yang kau lihat aku baik-baik saja," jawab Grace lirih. Perasaan tidak nyaman mulai menyebar ke dalam hati.


"Jangan tegang Grace, aku hanya ingin menyapamu saja. Aku dengar kau sudah menikah dengan putra tunggal Hans Wilson. Apa kau bahagia dengan pernikahanmu?" ujar Alex, berusaha menghempas pergi kecanggungan yang terjadi.


"Ya aku sangat bahagia dengan pernikahan ku. Suami ku selalu ada di samping ku dalam suka maupun duka. Dia tidak pernah meninggalkan ku dalam situasi apapun." sindir Grace. Berharap Alex sadar dengan kelakuan bejatnya.


"Sebelumnya, aku minta maaf sudah menceraikan kakakmu. Tapi aku tidak bisa menerima wanita pembohong dan munafik sepertinya," jelas Alex, membela dirinya sendiri.


Grace tersenyum mengejek, "karena pembohong, ataukah karena dia bekas orang lain?"


"Aku akui Belle memang jahat, tapi apa kau tidak memikirkan bayi yang ada dalam kandungan Belle saat itu. Setidaknya ceraikan dia setelah bayinya lahir, kau bahkan tidak membantunya ketika wanita itu bersusah payah mencari pekerjaan demi menghidupi keluarga ku!" cecar Grace pedas.


Matanya sakit melihat wajah jelek Alex. Rasanya Grace mau muntah saat mendengar suara Alex. Belum lagi sikap Alex yang sok akrab membuat Grace merasa tidak nyaman.


Alex menggerakkan kursinya mendekat ke kursi Grace. "Jangan dekat-dekat aku tidak nyaman berada di dekat mu!" teriak Grace marah, membuat banyak pasang mata memperhatikan interaksi mereka.


Alex memperlihatkan wajah kecewanya, lalu kembali menjauh. "Baiklah, aku tidak akan mendekati mu, tapi dengarkan aku!"


"Katakan!" seru Grace datar. Ingin mendengar omong kosong apa yang akan di lontarkan pria tidak berperikemanusiaan ini. Alex tersenyum melihat Grace menetap dan menunggu perkataannya.


Tanpa permisi Alex menggenggam kedua tangan Grace, dan membuat wanita itu terkesima, "aku masih menunggumu Grace, hatiku tidak bisa berpaling darimu. Tidak bisakah kita kembali bersama seperti dulu," belum sempat Grace menjawab, Damian lebih dulu datang dan menepis tangan mereka.


"Apa-apaan ini!" teriaknya pada kedua orang itu, Grace menoleh menatap takut Damian. Sejak kapan pria itu ada disini, Grace harap Damian tidak salah paham kepadanya.


"Jadi ini suami mu Grace?" tanya Alex, seraya menatap Damian dengan pandangan mengejek.


"Ya dia suami ku, lebih tampan dari mu kan?" Grace balik mengejek. Damian dibuat senang dengan pembelaan wanitanya.


"Kau sudah memberitahukan pertemuan kita kan?"


"Alex, apa yang kau katakan?" tanya Grace, kaget mendengar Alex berbohong untuk memanas-manasi Damian.


"Oh, jadi kau bermain di belakang ku huh? ayo kita pulang, dan lihat bagaimana aku menghukum mu nanti!" Damian mencengkeram erat pergelangan tangan Grace, tidak memperdulikan rintihan yang keluar dari mulut wanitanya.


Sebelum menyusul sang tuan muda, Adam mendekati Alex. "Tuan, saya harap anda tidak pernah menemui nyonya muda kami lagi. Jika tidak saya pastikan hidup anda tidak akan tenang!" ancam Adam dengan tatapan tajam Alex saja sampai ketakutan melihat tatapan itu.


Damian mendorong tubuh Grace masuk kedalam mobil, kemarahan terlanjur menguasai dirinya sampai-sampai dia lupa jika Grace sedang mengandung.


"Ef, dengarkan penjelasan ku dulu." tutur Grace, mencoba melepaskan tangan Damian yang masih mencengkeramnya erat. Grace kesakitan karena cengkeraman itu.

__ADS_1


Damian menoleh sekilas, namun sedetik kemudian memalingkan wajahnya kembali. Grace meneteskan air matanya, sesekali meringis menahan sakit pada pergelangan tangannya.


Sepanjang perjalanan Grace merintih kesakitan, namun Damian tidak mempedulikan."Ef sakit hiks!" rengek Grace, dalam isak tangisnya. Bukannya melepaskan Damian malah mengambil sebatang rokok dan menyalakannya menggunakan pemantik api.


Asap rokok memenuhi mobil, Grace sempat batuk-batuk beberapa kali karena merasa sesak. "Ef aku sedang hamil, jika kau tidak ingin melepaskan cengkraman mu tidak papa. Setidaknya matikan rokok mu. Aku tidak kuat," gumam Grace dengan suara lirihnya.


Seketika Damian sadar, ia langsung membuang puntung rokoknya keluar dan mengendurkan cengkeramannya. Grace merasa sedikit nyaman dari pada sebelumnya, tak sadar Grace tertidur karena kelelahan menangis dan berteriak.


Cup! Damian mencium bibir Grace singkat, kemudian membawa Grace kedalaman pelukannya dan memeluknya erat.


Setibanya mereka di mansion, Damian menggendong Grace masuk ke dalam. Baru Damian menginjakkan kakinya di lantai 3, Grace terbangun dari tidurnya.


"Sudah bangun?" bisik Damian dengan suara berat. Grace sempat tercengang, namun mengingat perbuatan Damian waktu di mobil tadi membuat Grace kesal.


"Turunkan aku, kenapa kau bersikap manis setelah memarahi ku?" ketus Grace. Tetapi di acuhkan Damian.


Begitu masuk ke dalam kamar, tiba-tiba rasa mual datang menyerang Grace. Wanita itu memukul-mukul dada bidang Damian. "Turunkan aku dikamar mandi!" pintanya, lalu menutup mulutnya rapat-rapat dengan telapak tangan.


Begitu sampai di depan pintu kamar mandi, Grace berlari ke arah closet. Huek! Grace mengeluarkan semua isi perutnya.


Tidak tega melihat keadaan sang istri, Damian menghampiri wanita itu. "Jangan ke sini, Ef! Ini menjijikkan!" larang Grace.


Namun, bukan Damian namanya jika menurut begitu saja. Pria itu berdiri di samping Grace, menepuk-nepuk pelan punggung wanitanya. Sesekali Damian juga mengelap mulut Grace dengan menggunakan tisu.


"Tidak usah, aku sudah tidak papa Ef!" tolak Grace sembari menggelengkan kepala.


Damian menghempaskan napas panjang, lalu menggendong Grace keluar dari kamar mandi. "Aku akan menyuruh Ellie membuatkan mu teh!" Grace mengangguk, mengiyakan.


Dengan wajah datarnya, Damian keluar dari kamar. Meninggalkan Grace sendiri. Perasaan kesal tatkala mendapati sang istri berduaan di cafe tadi masih menyisakan perasaan kesal.


Grace menatap lalang kepergian Damian. Sadar, suaminya itu masih merajuk karena salah mengira kejadian di cafe tadi.


Yang bisa Grace lakukan sekarang adalah menunggu. Dia akan menjelaskan semuanya setelah Damian lebih tenang.


Beberapa saat kemudian, Ellie datang membawa teh herbal sesuai dengan permintaan tuan mudanya tadi. Melihat Grace melamun membuatnya merasa iba.


"Nyonya, bolehkah saya masuk?" suara Ellie terdengar dari ambang pintu. Di iringi 3 kali ketukan pintu.


Grace mengedipkan matanya beberapa kali, sebelum akhirnya mengusap wajahnya dengan kasar. Grace tersadar dari lamunannya, "masuk saja!"


Ellie mengangguk, lalu melangkah masuk melewati pintu. Di letakkannya nampan berisi segelas teh herbal itu di atas meja.


"Ini teh herbal anda, silahkan nyonya!" Ellie menyodorkan teh herbal itu. Grace menerimanya dengan senyum tipis, namun tidak berniat meminumnya.

__ADS_1


Melihat itu Ellie jadi sedikit kecewa. Namun, Ellie tidak bisa melayangkan protes. Membujuk merupakan hal yang harus dia lakukan sekarang.


"Nyonya, saya mohon minum teh herbal itu. Jika tidak suami anda akan memarahi saya nanti!" bujuk Ellie dengan wajah memelas.


Mujarab, dengan memakai nama Damian. Grace langsung terpengaruh dan meminum teh itu hingga tandas tidak tersisa. Setelah itu Grace menyuruh Ellie pergi untuk melanjutkan pekerjaannya di lantai dasar.


Grace melamun kembali sampai tidak sadar Damian berdiri di depan pintu seraya menggendong Xavier.


"Hibur mommy mu sayang!" bisik Damian,lalu menurunkan Xavier ke lantai. Menyuruh anak berusia satu tahun lebih itu berjalan menghampiri ibunya.


Ajaib, Xavier seolah mengerti perkataan Damian. Anak itu berjalan mendekati Grace walaupun dengan langkah sempoyongan.


"Mi mi!" Xavier memanggil ibunya seraya menarik-narik ujung dress yang di pakai Grace.


Grace terperanjat kaget mendapati Xavier berada di kakinya. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Ingin mencari orang yang membawa Xavier kemari.


Melihat Damian berdiri di ambang pintu membuat Grace terdiam di tempat. Memilih menggendong Xavier dan menciumnya hingga puas.


"Anak mommy sudah besar huh," puji Grace merasa senang melihat Xavier bisa berjalan dalam jarak yang cukup jauh.


"Kau masih marah Ef?" tanya Grace di sela-sela kesibukannya bermain dengan Xavier. Damian berjalan kearahnya, kemudian duduk di ranjang samping yang masih kosong.


"Tentu saja, kau tidak tahu betapa sakitnya hati ku saat melihat mu duduk berduaan dengan mantan kekasih mu!" sungut Damian.


"Maaf! aku tidak berniat berduaan bersama Alex di cafe tadi. Kami tidak sengaja bertemu di sana Ef, aku mohon percayalah padaku!" rayu Grace dengan mata berbinar kesedihan.


"Kau selalu bisa meluluhkan hati ku dengan tatapan mata mu Grace!" kata Damian lirih. Lalu mendaratkan kecupan di dahi wanitanya.


"Kau mencium ku?"


"Itu berarti kau sudah tidak marah kan?" tanya Grace dengan senyum merekah.


"Bagaimana aku bisa marah padamu dengan jangka waktu yang lama Grace. Aku sangat mencintaimu, aku tidak bisa menjauh ataupun mendiami mu!" mengusap kepala Grace dengan lembut.


"Terimakasih, asal kau tahu aku juga sangat mencintaimu Ef!" jawab Grace cepat.


Pertikaian antara pasangan suami istri itu telah berakhir. Damian dan Grace menghabiskan waktunya bersama Xavier hari itu. Kebahagiaan terpancar dari kedua mata mereka. Masing-masing merasa senang bisa menghabiskan waktu seharian penuh.


TBC


warning!


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius 🙏

__ADS_1


__ADS_2