
Selesai berpamitan pada keluarga Damian dan Grace pulang dengan menaiki pesawat pribadi. Karena itu perjalanan mereka tidak cukup memakan waktu. Dan begitu sampai di New York, Damian langsung pergi ke ruang kerja.
Masih banyak dokumen-dokumen yang harus ia periksa untuk bahan rapat besok. Tok! tok! tok! "Bisa aku masuk?" mendengar suara Grace, Damian langsung beranjak dan membukakan pintu.
"Kenapa Grace? kau membutuhkan sesuatu?" tanya Damian heran. Pasalnya ini kali pertama Grace datang dengan membawa secangkir kopi.
"Tidak, aku hanya ingin mengantarkan kopi!" jawabnya diiringi tawa tegang.
"Masuklah!" perintah Damian sebelum akhirnya kembali duduk di kursi kerja.
"Apa masih lama?" tanya Grace basa-basi, tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana.
"Ya, kau tidurlah lebih dulu. Tidak usah menungguku." dengan pedenya Damian berkata seolah Grace membutuhkan kehadirannya.
"Tidak-tidak, aku akan menunggumu di sini!" Katanya seraya menghempaskan diri ke sofa panjang.
"Dimana Xavier?" tanya Damian.
"Tidur di kamar, Ellie sedang menjaganya sekarang!" jawabannya. Iseng-iseng mengambil buku secara acak untuk di baca. Menunggu Damian tanpa melakukan sesuatu mungkin bisa membuatnya mati kebosanan.
"Buku apa ini?" gumam Grace bertanya-tanya. Melihat sampul dan judul buku membuatnya tertarik untuk membaca.
"Cara mengetahui sifat seseorang dari golongan darah. Memang bisa tahu sampai sebanyak itu?" keheranan, ada rasa percaya dan juga tidak percaya. Buku dungu semacam ini tidak bisa di jadikan sebagai acuan.
"Ef!"
"Hmm!"
"Apa golongan darah mu?" tanyanya.
"AB!"
"Wah sangat keren, aku juga mau memiliki golongan darah AB." cibir Grace dengan wajah iri.
"Memangnya apa golongan darah mu?" Damian balik bertanya.
"O!"
"Lalu apa yang tertulis di situ?" tanya Damian yang kini sudah mendongakkan kepala. Memandang Grace dalam-dalam, tertarik dengan pembicaraan mereka.
"Yang tertulis di sini, orang yang memiliki golongan darah O biasanya cantik, pintar, bijaksana, dan baik hati!" jawab Grace. Damian memutar bola matanya jengah.
"Selain cantik semuanya salah Grace!" sarkas Damian pedas.
"Tapi itu yang tertulis di sini! sekarang kita cari golongan darah AB!" Kata grace seraya membolak-balikkan halaman buku, hingga akhirnya menemukan golongan darah AB di barisan paling bawah.
"Golongan darah AB sangat unik, buku ini bilang orang yang memiliki golongan darah ini terlihat keras di depan tapi lembut di dalam. Wah, ini sama persis dengan mu!" seru Grace senang.
"Ck, terserah kau saja. Aku sudah selesai, ayo kita tidur sekarang!" ajak Damian, kemudian beranjak dari tempat duduk dan menghampiri sang istri.
Tanpa aba-aba Damian menggendong Grace ala bridal style dan membawanya masuk kedalam kamar. Ya, kalian pasti sudah tahu apa yang terjadi setelah itu. Tentu saja Damian meminta jatah.
...🦋🦋🦋🦋...
__ADS_1
"Nona, anda mau kemana?" tanya seorang resepsionis tatkala melihat Grace berjalan melewatinya dengan langkah santai. Pagi ini, Damian bangun kesiangan karena itu dia langsung berangkat tanpa sarapan terlebih dulu.
"Aku mau ke lantai atas!" jawab Grace sopan.
Sesaat, resepsionis itu tampak memperhatikan penampilan Grace dari ke atas sampai ke bawah. Melihat Grace memakai busana sederhana membuatnya menyunggingkan senyum sinis. "Anda sudah membuat janji?"
Grace mengernyitkan dahi, untuk bertemu dengan suaminya sendiri haruskah Grace membuat janji terlebih dulu. Ayolah, Grace hanya ingin mengantarkan makan siang karena itu dia tidak berdandan ataupun memakai pakaian mewah.
Belum sempat Grace menjawab tiba-tiba seorang wanita paruh bayah yang bekerja langsung di bawah pimpinan Damian datang dan memotong pembicaraan mereka.
"Maaf atas perilaku tidak sopan resepsionis baru kami. Mari saya antar anda sampai ke ruangan Mr Wilson nona!" tutur wanita itu, sesekali melayangkan tatapan tajam pada resepsionis lewat ekor mata.
"Suami ku ada di kantor?" tanya Grace.
"Ya nona. Mr Wilson sedang menunggu kedatangan anda!" seru wanita paruh bayah itu.
Suamiku? jadi wanita ini istri dari pemilik perusahaan. Dan dengan kurang ajarnya aku menyuruh membuat janji terlebih dulu. Tamat sudah riwayat ku! batin resepsionis itu.
"Ma-maafkan saya nona. Saya tidak tau anda istri Mr Wilson!" sesal resepsionis itu, lalu bertekuk lutut memohon ampun. Berharap Grace tidak marah dan memecatnya.
"Apa yang kau lakukan, berdirilah!" pekik Grace terkejut. Kala melihat wanita itu terus meraung meminta maaf.
"Aku tidak marah juga tidak kesal, jadi santai saja. Kau tidak akan di pecat hanya karena masalah kecil!" mencoba meyakinkan resepsionis itu. Semua pandangan tertuju pada mereka dan Grace mulai merasa tidak nyaman karenanya.
"Jangan menghalangi jalan nona muda. Kau sudah dengarkan, nona muda sudah memaafkan mu jadi menyingkir lah!" teriak pegawai yang menjemput Grace.
Tidak ingin menambah masalah, resepsionis itu bergegas bangkit dari bawah lantai. Membiarkan Grace berlalu melewatinya. "Anda memang wanita baik hati nona, terimakasih!" gumamnya sebelum akhirnya kembali ke ke meja resepsionis.
...🦋🦋🦋🦋...
"Terimakasih!" ucap Grace sebelum akhirnya masuk kedalam kantor Damian.
"Aku datang!" teriak Grace begitu melewati pintu. Damian dan Adam sama-sama terperanjat kaget kala mendengar teriakan cempreng Grace.
"Aku membawakan mu makan siang!" mengangkat rantang-nya tinggi-tinggi sebelum akhirnya duduk di sofa karena tahu Damian masih sibuk bekerja.
Awalnya Grace duduk diam di sofa itu, tapi lama-kelamaan Grace merubah posisinya menjadi berbaring. "Ef, apa kau masih lama?" sungut Grace kesal mulai bosan menunggu Damian.
"Sebentar lagi selesai Grace! kalau kau lelah makanlah bersama Adam terlebih dulu!" ucap Damian tanpa menolehkan kepala kearahnya.
"Jadi kau ingin mendekatkan aku dengan sekertaris mu? tapi kalau di pikir-pikir Adam juga tampan, aku tidak masalah jika harus makan berdua bersamanya!" ucap Grace bersemangat. Sebenarnya hanya untuk memancing Damian semata.
"Berhenti memancing ku Grace, kau tahu sendiri kan bagaimana kemarahan ku saat di landa rasa cemburu." Grace tidak menjawab melainkan tertawa konyol.
"Ngomong-ngomong, kau tinggal di mana Dam?" tanya Grace pada sekertaris sang suami.
"Grace!" panggil Damian dengan nada memperingatkan.
"Aku hanya bertanya, kenapa kau marah!" cibir Grace malas.
"Berhenti penasaran pada pria lain karena aku tidak menyukainya!"
Adam yang menjadi kambing hitam sepasang suami-istri itu hanya diam di tempat. Sesekali menghela napas panjang, mencoba bersabar.
__ADS_1
Setelah itu Grace terdiam kembali, tidak tahu harus mengobrol dengan siapa. Damian dan Adam sama-sama fokus pada lembaran-lembaran membosankan itu. "Ef, aku pulang saja yah. Aku bosan sekali menunggui mu!" rengek Grace meminta pulang.
"Aku sudah selesai, jangan pulang dulu. Ayo kita makan siang bersama!" ajak Damian seraya bangkit dari kursi. Reflek Grace memperlihatkan senyum sumringah.
"Ajak Adam sekalian!" pinta Grace membuat raut muka Damian berubah dalam sekejap.
Adam yang paham langsung menolak dan pamit undur diri. "Tidak usah nona, saya bisa makan siang di ruangan saya sendiri. Karena pekerjaan saya sudah selesai, saya pamit undur diri!" Adam membungkuk rendah sebelum akhirnya berlenggang pergi.
"Apa yang kau masak hari ini?" tanya Damian mengalihkan perhatian Grace.
"Seperti biasa, masakan rumahan yang sederhana. Ada Sandwich, kentang goreng, beef stew, sosis bakar, garlic bread, onion ring, dan untuk pencuci mulut aku memotong melon!" jelas Grace seraya membongkar rantang yang dia bawa.
Kau sudah makan?" tanya Damian.
"Sudah, aku makan SENDIRIAN tadi!" jawab Grace menekankan kalimat sendirian. Damian mengulum senyum lalu mengacak-acak rambut Grace gemas.
"Di mana Xavier?"
"Aku menitipkan Xavier pada Ellie!"
"Kenapa tidak mengajaknya Grace?" padahal Damian ingin makan bersama dengankeluarga kecilnya. Baru beberapa jam dia meninggalkan rumah dan kini sudah sangat merindukan Xavier.
"Cuaca sangat panas hari ini, aku tidak ingin Xavier demam karena terlalu lama di luar. Lagi pula sudah ada aku di sini, apa itu masih belum cukup?" sungut Grace kesal.
"Tidak-tidak kau sudah lebih dari cukup babe!" balas Damian cepat.
"Sekarang kita makan bersama ya, aku tidak bisa menghabiskan semua makanan ini sendiri. Kau harus membantu ku menghabiskannya!"
"Aku hanya membawa satu sendok!"
"Tidak masalah kita akan memakai satu sendok yang sama!" tutur Damian, menyeringai nakal. Padahal di dapur kantor terdapat banyak peralatan makan. Damian bisa saja meminta OB membawakan satu sendok lagi, tapi kesempatan tidak datang dua kali bukan.
"Kalau begitu suapi aku!" seru Grace, membuka mulutnya lebar-lebar menunggu Damian menyendok makanan. Damian menyuapi Grace dengan senang hati, tak lupa Damian juga menyuapi diri sendiri.
"Aku harus segera pergi ke bandara, pesawat kak Belle mungkin sudah sampai di bandara kota!" kata Grace setelah makanan tandas tak tersisa.
"Belle datang kesini?" tanya Damian.
"Iya, Belle bilang sebuah perusahaan desain perhiasan ingin menjadikannya desainer utama." Damian mengangguk paham. Rencananya berhasil ternyata.
"Aku tahu kau yang sudah membantu kak Belle kan?" tuding Grace.
"Setelah melalui banyak kesengsaraan, Belle pantas mendapatkan balasan Grace. Lagi pula kau sudah tidak bermasalah dengan keluarga mu kan!" jawab Damian datar.
"Aku semakin merasa beruntung menikah dengan mu Ef!" ucapnya, lalu mendarat ciuman di dahi Damian.
"Aku pergi dulu ya, bye!" Grace berlari keluar, meninggalkan Damian yang masih mematung di tempat.
Grace mencium ku lebih dulu, perlahan Damian menggerakkan tangannya mengusap bekas ciuman wanitanya. Tak lama setelah itu, Damian menarik bibirnya keatas membentuk sebuah senyuman tipis.
Dia menggemaskan!
TBC
__ADS_1
warning!
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. 🙏!!!!!!