
Kebersamaan mereka tidak bertahan lama. Setelah Adam datang dan terus mengetuk pintu kamar. "Aku akan membuka pintu!"
Grace menyerahkan Xavier ke pangkuan Damian. Kemudian berdiri dan berjalan ke arah pintu.
Begitu pintu terbuka, Grace di suguhkan dengan pemandangan wajah gelisah Adam. "Selamat siang nyonya, apa saya bisa bicara dengan Mr Wilson?"
"Ya tentu, masuk saja ke dalam!" Grace membuka pintu kamarnya lebar-lebar. Membiarkan Adam mengikutinya dari belakang.
"Ada apa?" tanya Damian seraya menatap Adam dengan tatapan tidak suka. Merasa kesal karena Adam mengganggu waktunya bersama keluarga.
Mendengar nada bicara dan tatapan mata Damian, Adam bisa tahu pria itu sedang kesal. "Maaf mengganggu waktu anda Sir! tapi saya harus menyampaikan kabar ini!"
Damian menaikkan sebelah alisnya,"kabar apa?" tanyanya seraya menyuruh Grace mengambil alih Xavier. Melihat bias kegelisahan di mata Adam. Damian tahu, Adam membawa kabar buruk.
"Sir, gudang kita yang ada di kota Y terbakar. Seseorang telah membakar tempat itu dengan sengaja!" ucap Adam memberitahu.
Lantas Damian dan Grace membulatkan matanya lebar-lebar. Terkejut mendengar pemberitahuan Adam.
"Sialan! berani sekali mereka mencari masalah dengan ku!" geram Damian. Tangannya mengepal erat, menandakan bahwa Damian tengah menahan amarah.
"Ef, tenangkan diri mu." Grace mengusap punggung tangan Damian dengan lembut. Mencoba meredakan emosi suaminya.
"Apa ada korban jiwa dalam peristiwa itu?" tanya Damian.
"Tidak ada Sir, hanya saja beberapa pegawai terluka karena terkena reruntuhan kayu!" jawab Adam.
"Para pekerja berharap anda datang dan melihat tempat kejadian!" lanjut Adam. Grace diam mendengarkan.
"Tapi.."
"Pergilah Ef, sebagai seorang pemimpin kau tidak boleh egois. Lagi pula aku tidak akan pergi kemana-mana. Aku di sini, menunggu mu. Kita bisa menghabiskan waktu setelah kau pulang dari kota Y!" sanggah Grace. Meyakinkan Damian agar pergi bersama Adam.
"Ck, baiklah kalau begitu siapkan semuanya aku akan berkemas!" ucap Damian pasrah. Jika Grace yang meminta, sudah pasti Damian tidak bisa menolak.
__ADS_1
"Baik Sir, kalau begitu saya pamit undur diri!" Adam menundukkan kepalanya. Sebelum akhirnya menapakkan kakinya keluar dari kamar utama.
"Aku akan membantu mu berkemas!" ujar Grace. Meletakkan Xavier di atas karpet berbulu tebal. Membiarkan Xavier bermain sendiri.
"Apa kau yakin membiarkan aku pergi?" tanya Damian memastikan. Sangat paham bahwa dalam keadaan rentan seperti ini. Seorang wanita membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari suaminya.
"Tentu saja, kenapa aku harus keberatan?" tanya Grace santai. Seolah tidak terjadi apa-apa. Bahkan raut mukanya tidak menunjukkan tanda-tanda kesedihan sama sekali.
"Terserah!" entah kenapa Damian merasa Grace bisa hidup tanpanya. Berbanding terbalik dengan dirinya yang tidak bisa hidup tanpa kehadiran Grace.
...π¦π¦π¦π¦...
Selesai mengepak koper Damian, Grace memutuskan menunggu di lantai bawah. Grace menyuruh pelayan mansion menjaga Xavier. Sedangkan Grace sendiri duduk bersama Adam di ruang tamu.
Grace terus mengoceh tanpa henti. Namun sayangnya, Adam sama sekali tidak menanggapi. Hanya diam sesekali membuang muka ke arah lain.
"Mengajak mu mengobrol hanya membuang-buang waktu berharga ku. Kau terbuat dari batu ya, kenapa tidak menanggapi semua perkataan ku? menyebalkan sekali." cecar Grace menghina.
"Apa kalian sudah selesai berdebat?" tanya Damian dari arah belakang. Entah sejak kapan pria itu berdiri kaku dengan wajah dinginnya di sana.
"Sejak kapan kau berdiri di sana Ef?" tanya Grace.
"Sejak kau mengoceh tanpa henti demi mencari perhatian Adam dan mengabaikan ku!" jawab Damian. Ketara sekali pria itu sedang cemburu.
Grace tertawa hambar, seraya menggaruk tengkuknya yang entah gatal atau tidak. "Maaf-maaf! ngomong-ngomong berapa hari kau akan tinggal di sana, Ef?" tanya Grace.
Bagi Grace semakin lama semakin baik. Berbagai macam rencana sudah Grace susun dengan rapi. Dia berniat menghabiskan waktunya di luar mansion setelah Damian pergi.
"Aku akan tinggal selama 2-3 hari, kau yakin tidak papa sendirian di sini?" tanya Damian membuat Grace berdecih.
Memangnya para maid dan penjaga bukan manusia. Hello rumah ini dipenuhi Manusia dungu. kenapa kau bilang aku sendirian. Pasti setelah ini kau akan memperketat penjagaan.
Grace menerbitkan senyum manisnya. Siapa sangka jauh di dalam lubuk hati, Grace terus merutuki kebodohan Damian.
__ADS_1
"Tentu saja Ef, kau pergi saja dengan tenang. Jangan khawatirkan aku, ingat! bawa hadiah yang banyak ya!" jawab Grace, lalu memeluk erat tubuh Damian.
Damian tersenyum lembut dan mengusap lembut kepala Grace. rasanya Damian tidak ingin meninggalkan Grace sendiri. Selain karena banyak musuh yang mengintai keluarganya. Grace pasti berniat melakukan hal-hal konyol, seperti diam-diam keluar dari mansion.
"Tentu saja, katakan saja apa yang kau mau. Aku akan membelikannya di sana nanti!" jawab Damian.
"Aku pergi, ingat! jangan sampai aku mendapat laporan dari bodyguard mengenai kenakalan mu. Aku tidak akan mengampuni jika kau melanggar aturan ku!" ancam Damian terdengar dingin dan sangat menakutkan.
"Yaya aku mengerti, sekarang pergilah. mendengar semua ocehan mu membuatku sakit kepala saja!" usir Grace secara terang-terangan.
Damian mengusap dadanya beberapa kali, di usia kehamilan Grace sekarang membuatnya banyak-banyak bersabar.
Ingin marah tapi Grace pasti menangis dan merajuk. Bisa-bisa jatah hariannya juga ikut terancam.
Cup cup cup cup! Damian mengecup semua bagian wajah Grace. "Aku akan sangat merindukan mu Grace!" seru Damian lirih hampir sama seperti gumamam.
Adam memutar bola matanya malas. Melihat reaksi Damian membuatnya kesal, ini baru tiga hari. Apalagi satu bulan, bisa-bisa Adam dibuat gila dengan tingkah abnormal Damian.
"Aku juga pasti sangat merindukanmu Ef!" balas Grace tulus, setelah itu mengantarkan Damian sampai halaman depan.
Grace mengamati kepergian suaminya dengan tatapan nanar. Ada sedikit ketidak relaan di dalam hati. Namun ini kewajiban Damian sebagai pemimpin perusahaan dan Grace bisa mengerti itu.
Setelah mobil Damian menghilang dari balik gerbang, barulah Grace masuk ke dalam. Grace duduk di ruang keluarga. Hendak membaca majalah.
"Ellie tolong buatkan aku jus mangga, tiba-tiba saja aku ingin minum itu." teriak Grace kencang.
"Baik!" pekiknya. Kemudian pergi ke dapur dan menyiapkan jus yang di minta Grace.
TBC
warning!
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap seriusπ
__ADS_1