
Siang itu...
Jam menunjukkan pukul 12 Siang. Terlihat seorang wanita muda duduk dipojok ruangan seraya menghempaskan napas bosan berulang kali.
Wanita itu adalah Grace. Semenjak kejadian kemarin, Damian enggan melepaskan Grace dari pandangannya. Karena itu Damian selalu membawa Grace kemana-mana.
Tak lupa Xavier juga ikut terkena imbas. Ruangan yang tadinya bersih dan rapi. Kini sudah tidak berbentuk lagi, berbagai macam mainan kanak-kanak dan makanan ringan berserakan di lantai.
Tadinya Grace menolak mentah-mentah ajakan Damian, tapi karena Damian bilang ingin memindahkan kantornya ke rumah. Grace langsung menurut dan mengikuti semua keinginan Damian.
Grace melirik Damian lewat ekor mata. Kapan pekerjaan pria itu selesai, Grace lapar dia ingin memakan sesuatu sekarang. "Lihat dia, bahkan wajahnya tidak terlihat merasa bersalah!" gumam Grace di tengah-tengah kesibukannya mengawasi Xavier.
Anak kecil itu mulai bisa merangkak, sesekali berdiri dengan meja sebagai pegangan. "Di...Di...Di!" panggil Xavier. Entah sejak kapan anak itu berada di bawah kaki sang ayah.
"Kenapa sayang?" Damian menghentikan kegiatannya sejenak. Lalu menunduk kebawah. Melihat Xavier memeluk kakinya membuat Damian gemas. Segera pria itu menggendong Xavier agar duduk di pahanya.
"Kau bosan? apa kau sudah lapar?" beragam jenis pertanyaan Damian lemparkan. Tidak peduli apakah Xavier mengerti ataupun tidak. Yang jelas, Damian ingin memperlihatkan perhatiannya.
"Xavier tidak lapar, ibunya yang lapar!" cicit Grace dari arah sofa. Wajahnya memerah, ketara sekali wanita itu sedang menahan amarah. Damian mengulas senyum, lalu berdiri dari tempat duduk dan membawa Xavier ke arah Grace.
"Aku akan menyuruh Adam menyiapkan makanan untuk mu babe!" Damian mencolek dagu Grace, membuat wanita itu risih dan semakin kesal padanya.
"Aku tidak mau makan disini!" tolak Grace tegas.
"lalu?" tanya Damian. Menatap Grace sejenak untuk minta pendapat. Jika Grace tidak makan disini tidak masalah, Damian bisa mengajaknya makan di luar.
"Aku mau makan di kantin perusahaan, boleh ya!" pinta Grace dengan wajah memelas. Mengharapkan belas kasih Damian.
"Oke, sesuai permintaan mu nyonya Wilson. Kita makan di kantin perusahaan!" jawab Damian tanpa berpikir dua kali. Keinginan Grace adalah perintah baginya.
Ketiga orang itu menapakkan kakinya keluar dari ruangan CEO. Damian menggendong Xavier dengan menggunakan satu tangan. Satu tangannya yang menganggur ia gunakan untuk merengkuh pinggang ramping Grace.
Semua pasang mata tertuju pada keluarga kecil itu. Pasalnya baru pertama kali mereka melihat bosnya bersikap lembut dan menatap seseorang dengan tatapan meneduhkan. Tidak dengan tatapan tajam nan membunuh.
Hingga akhirnya mereka tiba di kantin perusahaan yang besar dan mewah. Makanan di sajikan secara prasmanan, semua pegawai bebas makan sepuas mungkin. Asal tidak menyisakan satu biji beras pun di piring mereka.
Damian dan Grace duduk di bangku pojok sesuai dari permintaan yang mulia raja. Padahal Grace ingin duduk di tengah-tengah pegawai. Namun, Damian menolak dan memilih duduk di pojok dengan alasan tidak ingin Grace menjadi pusat perhatian para karyawan muda.
Kecanggungan menyelimuti kantin perusahaan. Semua karyawan mendadak tidak berani mengeluarkan suara, bahkan mereka lupa cara untuk bernapas sangking tegangnya.
Beberapa karyawan yang baru datang menyapa mereka. Alih-alih mengindahkan, Damian malah mengabaikan dan memilih fokus pada wajah cantik Grace.
"Selamat siang Mr, Mrs!" Grace mengangguk sambil menerbitkan senyum tipis.
Sesaat karyawan tersebut sempat terpesona, tetapi dengan cekatan dia menyadarkan diri. Sadar posisi, disini masih ada Damian yang harus di lewatinya jika ingin bersanding menjadi dengan Grace.
Melihat karyawan itu lari terbirit-birit, Grace menolehkan kepala. Tatapannya terarah pada Damian kini. "Tersenyumlah sedikit. Lihat itu, mereka takut padamu Ef!" cibir Grace kesal. Suaranya terdengar menggema karena semua karyawan diam membisu.
Semua karyawan menatap Grace kagum. Wanita itu begitu berani membentak bos kejamnya. Lebih mengejutkan lagi, bosnya patuh dan mengulum senyum tipis seolah menuruti permintaan Grace.
Wah ini momen yang harus diabadikan!
Astaga senyumannya itu, aku ingin meninggal rasanya.
Astaga senyumannya membuatku basah,sialan!
Bos tampan sekali!
Kira-kira begitulah gumaman para karyawati tatkala mendapati adegan drama romansa di real life. Berbeda dengan para karyawan, mereka malam salah fokus pada kecantikan Grace. Tetapi saat tatapan tajam Damian mengarah pada mereka, reflek mereka menundukkan kepalanya serempak.
"Kau!" Damian menunjuk seorang koki.
"Ya tuan, apa ada yang bisa saya bantu?"
"Siapkan 2 steak sapi dengan kematangan tingkat medium dan juga pasta untuk kami. Jangan lupa buat bubur dan susu formula merek XX untuk Xavier!" pesan Damian, berbicara cepat membuat koki itu kewalahan mencatat.
__ADS_1
Grace sendiri terkejut mendengar pesanan Damian. Hello, ini bukan Mansion. Damian tidak bisa minta di buatkan ini itu dengan seenak hati. Dan dari mana koki itu mendapatkan susu formula, mereka harus pergi ke Mall terdekat untuk membelinya terlebih dulu.
"Tidak perlu memesan susu, mereka tidak mungkin menyediakan susu balita di sini!" Grace memutuskan membuka suara, tidak ingin menambahi beban pekerjaan koki perusahaan dengan meminta di buatkan susu untuk Xavier.
"Anda tidak perlu khawatir nona, kami sudah menyiapkan semuanya!" balas koki itu ramah. Merasa senang melihat kepedulian sang nona muda.
Lantas Grace pun tertawa canggung dan menganggukkan kepalanya tiga kali. Setelah itu dia merapatkan bibir membiarkan Damian saja yang bicara.
"Semua itu harus siap dalam waktu 15 menit. Pergilah!" koki tersebut mengangguk paham. Seolah sudah biasa di beri perintah semacam ini.
Hebatnya koki tersebut kembali dalam waktu kurang dari 15 menit. Semua hidangan siap dan sesuai dengan permintaan Damian. "Selamat menikmati tuan, nona!" setelah berkata demikian koki itupun memutuskan undur diri.Tidak ingin mengganggu waktu tuan dan nona mudanya lebih lama lagi.
Damian memotong steak-nya menjadi beberapa potongan kecil. Lalu menyerahkan piring tersebut pada istri tercintanya. "Makanlah yang ini, aku sudah memotongnya menjadi kecil-kecil!"
Perlakuan sederhana itu tanpa sadar membuat Grace menerbitkan senyum tipis. Terharu, entah kapan terakhir kali dia di perlakuan selembut ini oleh seorang pria.
"Apa pekerjaan mu masih banyak?" tanya Grace di sela-sela makannya. Damian tidak makan, ia sibuk menyuapi Xavier.
"Belum selesai, tapi aku menyuruh Adam Menghandle semuanya. Tinggal menghadiri rapat penting saja, setelah itu aku akan membawa kalian ke taman bermain dekat kantor. Kau tidak akan menolaknya kan?" tanya Damian memastikan.
"Tidak, aku siap mengikuti mu kemanapun kau pergi babe. Lagi pula kau tidak akan membiarkan aku menolak bukan!" tanya Grace malas. Damian tidak menjawab malah tergelak kecil, sesekali tangannya bergerak maju. Menyelipkan anak rambut Grace yang berterbangan ke sela-sela telinga.
Semua pegawai satu persatu mulai pergi meninggalkan kantin perusahaan. Melihat betapa mesranya pasangan tersebut membuat mereka iri. Karena itu mereka memutuskan pergi dan membiarkan kantin di kuasai oleh tuan dan nona mudanya.
...🦋🦋🦋🦋...
Rapat telah usai, sesuai janjinya. Damian mengajak Grace dan Xavier ke taman bermain terdekat. Sepi, ya Damian menyewa seluruh tempat ini untuk keluarganya saja sore ini.
Tidak ada pengunjung ataupun penjual. Suasana taman terlihat sangat tenang di mata Damian. Tapi tidak di mata Grace, entah kenapa wanita itu malah dibuat merinding.
Grace tidak suka tempat sepi, tetapi karena tidak ingin Damian kecewa. Grace memainkan beberapa wahana sendirian. Meninggalkan Damian dan Xavier yang tertidur dalam pelukan sang ayah. Bocah manis itu sepertinya kekenyangan karena makan banyak di kantin perusahaan tadi.
Sungguh tempat hiburan ini terkesan horor seperti di Film-film. Namun, Grace menikmati wahana permainan sampai lupa waktu. Sampai akhirnya langit bewarna keemasan, di tambah matahari lurus dengan batas cakrawala. Hari memasuki petang dan mereka memutuskan pulang ke Mansion.
Grace yang kesal pun menoleh kebelakang, " sebenarnya apa sih yang mengalihkan perhatian mu dari ku?" bibirnya membisu seketika. Tatkala melihat dua mobil hitam membuntuti mereka dari belakang.
Panik, perasaan gelisah mulai menyelubungi hati. Grace memeluk Xavier erat, wajahnya mulai pucat pasi. Wajar jika Grace ketakutan, Damian tidak membawa satupun bodyguard. Mungkinkah Damian bisa melawan mereka sendiri.
"Mereka membuntuti kita, sekarang kita harus bagaimana?" Tanya Grace panik. Damian tersenyum, lalu menggenggam telapak tangan Grace yang mulai terasa dingin.
"Tenang Grace, aku bisa mengatasi mereka!" seru Damian meyakinkan. Namun, tidak sama sekali menyingkirkan kekhawatiran yang menempati hati sang istri.
Belum sampai mereka di tempat tujuan, mendadak mobil mereka mogok di tengah-tengah perjalanan. "Sial, Adam lupa mengisi bahan bakar!" umpat Damian kesal.
Tidak mungkin mobil ini rusak, karena Damian baru saja membelinya beberapa hari yang lalu. Tidak mungkin pegawai dealer asal mengirim. Sudah pasti mereka memeriksa mobilnya sebelum di kirim ke alamat konsumen.
"Mobil kita kehabisan bensin Grace!" kata Damian sembari menunjuk indikator BBM yang berkedip-kedip. Grace semakin di buat panik, apalagi melihat Damian mengambil pistol dari dalam dasbor semakin membuatnya takut kehilangan Damian.
"Kau mau kemana?" Grace menahan pergelangan tangan Damian. "Aku harus mengatasi mereka Grace, cepat telepon Adam. Aku akan mengulur waktu. Kau dan Xavier harus selamat!" bisik Damian. Lalu mencium kening Grace lembut sebelum keluar dari mobil.
Dengan tangan gemetaran Grace mencari nomor telepon Adam. Begitu telepon tersambung Grace di buat terkejut saat melihat puluhan pria berbadan tambun keluar dan mengepung Damian.
"Kenapa dia tidak mengangkat?" teriak Grace kesal. Rasa takut, sedih, dan marah bercampur aduk menjadi satu.
"Apa paman ku yang mengirim kalian semua?" tanya Damian. Diam-diam menarik pelatuk, bersiap menembak mereka semua. "Siapa yang mengirim kami, anda tidak perlu tahu tuan."
Dor! dor! dor! dor! dor! dor! tanpa aba-aba Damian menembak ke arah sekumpulan pria berbadan tambun itu. Sebagian ada yang selamat dan sebagian ada yang tewas mengenaskan.
"Hei, kenapa kalian diam saja. Habisi dia!" perintah seorang pria berkepala botak. Sepertinya dia pemimpin mereka.
Damian berlari menjauh, tidak ingin Grace dan Xavier terluka karena tembakan-tembakan meleset. Damian sempat mengambil dua pistol dari pembunuh yang sudah tewas.
Dor! dor! dor! dor! aksi tembak menembak terjadi. Berulangkali Damian bersembunyi di balik pohon besar demi menghindar dari peluru yang melesat. Bahu kirinya sudah tergores oleh peluru, beruntungnya peluru tersebut tidak mengenai titik vital.
"Wah, seorang pebisnis kejam berubah menjadi seorang pengecut sekarang?" sinis pria itu. Berusaha memancing amarah pada diri Damian. Namun, Gagal karena Damian bukanlah orang bodoh yang mudah terpancing.
__ADS_1
Di sisi lain Grace masih berusaha menghubungi Adam. Ini sudah ketiga kalinya Adam tidak menjawab panggilan, "tuhan, bantulah kami. Jangan biarkan suami ku lenyap di tangan bandit-bandit itu!" rengek Grace. Berdoa pada sang maha kuasa.
Entah ini sebuah keajaiban atau hanya kebetulan semata, Di panggilan ke empat. Adam mengangkat teleponnya. "Selamat Sore nyonya, ada yang bisa saya bantu?"
"Ada musuh yang mengincar kami. Damian menyuruh ku untuk menghubungi mu!"
"Apa!!" pekik Adam di seberang sana.
"Kami membutuhkan bantuan mu. Aku mohon cepatlah datang, suami ku kewalahan melawan mereka!"
"Bisa kirim lokasi anda sekarang nyonya?"
"Aku akan mengirimnya sekarang!" setelah itu Grace mengakhiri sambungan dan mengirim titik lokasi keberadaannya sekarang.
Melihat keadaan Aman, Grace meletakkan Xavier di kursi penumpang. Dengan perasaan was-was Grace keluar dari mobil. Mengambil pistol yang tergeletak begitu saja di samping pembunuh yang sudah tewas.
Grace memberanikan diri untuk menyusul Damian. Saat melihat kumpulan pembunuh itu memukuli Damian, reflek Grace menembak ke arah mereka.
Dor! akh! dor! akh! dor! dor!
Grace tidak ahli dalam hal semacam ini. Tapi keberuntungan berpihak padanya. Tidak ada satupun peluru yang meleset dari sasaran. Beberapa membunuh tumbang ke bawah menyisakan satu, sepertinya pemimpin kelompok tersebut.
"Wanita sialan! aku akan melenyapkan mu!" pria itu mengangkat senjatanya ke arah Grace.
Namun, dengan cepat Damian menghentikannya dengan memukul kepalanya dari belakang. Pria berkepala botak itu tak hanya tinggal diam. Dia berusaha menembak Damian dengan sisa kesadaran yang dimiliki.
Dor!
"Ef!" teriak Grace tatkala mendapati suaminya tertembak. Grace memeriksa kesediaan peluru. Sisa satu, itu berarti Grace hanya memiliki satu kesempatan saja.
Dan tanpa ragu Grace menembak kepala pria itu. Membuatnya tewas dalam waktu beberapa detik. "Ef!" Grace berlari menghampiri Damian.
Berusaha membangunkan pria itu dari ketidaksadaran. Tak lama setelah itu Adam datang membawa puluhan bodyguard bersenjata lengkap. Terlambat, semuanya sudah berakhir. Damian sudah tertembak.
"Ef, kau tidak boleh meninggalkan aku!"
"Buka mata mu, Xavier dan aku masih membutuhkan mu!" teriak Grace seraya mengguncang kencang tubuh Damian. wajahnya sudah di penuhi dengan air mata, rasa sedih seakan-akan membuatnya menjadi tidak waras.
"Kau tidak boleh pergi Ef!" teriak Grace lagi dan lagi. Sayangnya semua teriakan itu tidak membuahkan hasil, wajah Damian semakin memucat dan matanya masih setia tertutup rapat.
"Aku mencintaimu Ef, kau dengar itu. Aku mencintaimu, jadi kau tidak boleh meninggalkan ku!"
"Aku mohon buka mata mu Ef!" Grace memeluk tubuh kekar Damian. Adam semakin di buat bersalah saat melihat adegan menyedihkan itu.
"Bukankah kau ingin mendengar pengakuan ku Ef? aku mohon buka mata mu. Jangan tinggalkan aku, Ef!"
TBC
warning!
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. 🙏
Bonus!
Hot daddy
bayi nakalnya Damian
Baby Xavier
__ADS_1